
Happy Reading…!!!
"Risa apa yang kamu lakukan?!" pekik Ibu sambil berusaha menyadarkan Ayah dengan minyak kayu putih yang di oleskan di bawah hidung Ayah.
Aku menatap Cinta lalu beralih ke Ibu "Abisnya Ayah nyebelin."
"Ya tapi cara kamu kasih paham ke Ayah itu salah Risa, jangan ulangi lagi." ucapnya dan aku mengangguk sambil meminta maaf.
Beberapa menit kemudian Ayah tersadar dari pingsannya dan memutar matanya melihat keadaan sekeliling lalu berhenti padaku.
"Kamu sudah gila, ya?" aku hanya mampu menggeleng pasrah.
"Itu siapa tadi?" tanya Ayah.
"Temen Risa."
"Serem banget sih mukanya." gumam Ayah membuat Cinta yang masih berada di antara kami menyentuh wajahnya.
"Ayah jangan ngomong begitu dong, kasian tau Cintanya dia jadi insecure dan malu sama kondisi dirinya." ujarku. Ayah acuh tak acuh dengan ucapanku.
"Sabar ya, Cinn." Cinta mengangguk, ia lalu pergi dan biasanya akan bermain di belakang rumah.
"Makannya kalo anak ngomong itu di dengerin." ucapku.
"Kata siapa gak dengerin orang kuping Ayah aja nggak tuli." sahutnya membuatku bertambah jengkel, aku lalu mengajak Ais dan Glen masuk ke kamar.
Di kamar aku memanggil kembali Cinta karena Ais dan Glen merasa penasaran dengan tragedi yang menimpanya hingga meninggal.
"Wuaaaaaa!!!!" tiba-tiba aku mendengar suara teriakan dari Cinta yang langsung terjun dari balkon kamarku. Sepertinya dia belum bisa mengendalikan dengan benar remnya, padahal sudah lebih dari satu bulan menjadi hantu. Mungkin harus di sekolahkan.
"Kenapa dia, Ris?" tanya Ais.
"Ntah." aku mengendikan bahu.
Cinta lalu kembali lagi ke kamarku dengan menembus pintu balkon dan dengan sigap aku menahannya ketika ia hampir mengalami kejadian serupa namun kali ini ia hampir saja menabrak dua sahabatku.
"Hati-hati Cin." ucapku, ia mengangguk sambil mengelus dadanya. Deg-degan kah? Emangnya arwah masih bisa merasakan jantung berdegup kencang?
"Kenapa Cin?" tanyaku penasaran.
"Lagi ngecek, takut remuk." sahutnya hingga membuatku, Ais, serta Glen sama-sama terperangah dengan ucapannya. "Tadi, 'kan nabrak tanah, siapa tahu aja..." sambungnya. Aku menggeleng lalu menyuruh ketiganya untuk duduk.
Ais dan Glen lalu duduk di bibir kasur sedangkan Cinta?tentunya di atas meja belajarku. Dia sangat suka duduk di situ. Aku jadi takut jika suatu saat nanti, meja belajarku rusak karena terus di dudukinya.
"Memangnya kenapa?" tanyanya balik.
"Aku takut jika suatu saat nanti meja belajarku rusak karena terus kamu duduki."
"Aku, 'kan arwah bukan jiwa yang menempati raganya, aku itu semacam kapas yang sangat ringan. Jadi.. Jika meja belajarmu terus-terusan kududuki tak apalah. Bobotku saat menjadi manusia aja hanya tiga puluh lima kilo." terangnya.
"Mereka siapa?" tanya Cinta sambil menunjuk Ais dan Glen.
"Yang ini namanya Aisyah Raina panggil aja Ais, kalau yang ini namanya Glenca Virana panggil aja Glen. Mereka salah dua dari tujuh sahabatku." ujarku sambil menunjuk dan menyebutkan nama lengkap serta nama panggilan Ais dan Glen.
"Salah dua? Memangnya kamu mengerjakan berapa soal?" tanyanya dengan wajah sok polos. Mukanya benar-benar menjengkelkan.
"Seratus!" sahutku jengkel. Aku lalu memberi isyarat kepada Ais dan Glen jika mereka ingin bertanya sedangkan aku mulai mengaktifkan komputer dan bermain mobil balap.
Pov Glen.
"Nama lengkap kamu siapa?" tanya Ais.
"Udah Cinta Sama Sayang Tiba-Tiba Di Ghosting Terus Pergi Pagi Harinya Mati Di Rel Kereta Api." sahutnya datar.
"Woiiii temenku tanya serius bukan lagi main-main!" pekik Risa dan ketika kutengok, kulihat wajahnya sangat kesal dengan makhluk di atas meja belajar ini.
"Glen gantian kamu lah, cape aku ngomong sama dia." pinta Ais, aku mengernyit lalu menoleh kearah Cinta yang sedang menjulingkan matanya serta menjulurkan lidah lalu tertawa setelahnya.
"Cinta!!! Serius!!!" pekik Risa tiba-tiba seolah tahu yang Cinta lakukan.
"Mau tanya apa kamu manusia?" tanyanya sambil menatapku.
"Ba-bagaimana ca-caramu meninggal?" tanyaku gugup. Sungguh tiba-tiba aku merasakan seluruh tubuhku terasa panas. Ini adalah hal yang biasa kurasakan ketika sedang dalam kondisi gugup, seluruh tubuh akan terasa panas sedangkan ujung-ujung jari tangan serta kakiku terasa dingin. Entah apa yang menyebabkan aku gugup.
"Bukannya tadi Kak Risa sudah bilang, bahwa aku meninggal karena menjadi korban tabrak lari." sahutnya cuek. Apa dia hanya akan menjadi manis ketika berhadapan dengan Risa?.
"Lebih jelasnya." pintaku, ia menatapku serius lalu berkata.
"Aku akan menceritakan sebelum, saat dan sesudah kejadian, dengarkan baik-baik! Karena aku tak akan mengulangi hal ini." ucapnya, aku mengangguk. Kulihat Ais dan Risa mulai memfokuskan dirinya menatap Cinta dan memasang baik-baik pendengarannya. Apa Cinta belum pernah sekali pun menceritakkan secara lengkap kepada Risa tentang sebelum, saat, dan sesudah kejadian?.
Pov end Glen.
Bersambung...