
Tiba-tiba Reza berteriak seraya melambai-lambaikan tangannya. Tangannya yang memegang hp terjulur seolah ditarik oleh sesuatu. Ia berjalan cepat untuk mengimbangi pergerakan tangannya yang mengarah entah kemana. Kami semua dan pemuda tadi berlari mengikuti langkah Reza yang semakin cepat.
Orang-orang disekitar kami masih fokus dengan kegiatannya masing-masing. Seolah apa yang sedang terjadi pada Reza dan kami adalah angin lalu atau bahkan kaca transparan yang tidak terlihat.
Hingga akhirnya, Reza berhenti didepan sebuah gerbang tinggi berwarna putih tulang karena menabrak gerbang tersebut yang dibeberapa bagian, catnya sudah mengelupas membuat terlihat jelas pagar tersebut yang ternyata sudah berkarat.
"Akhhh... hidung gw, jidat gw, wajah gw" keluh Reza seraya mengusap wajahnya. Tangan kirinya yang masih memegang hp memasuki celah pagar tersebut. Dan seperti tadi, tangan kiri Reza seolah ditarik oleh sesuatu.
"Akh... sakit.. bantuin gw dong, malah diem aja!" kesalnya.
Glen, Ais, dan Lala berlari menghampiri Reza dan menarik tubuhnya. Namun usaha mereka sia-sia, tubuh Reza masih menemplek ke pagar tersebut karena tangan kirinya yang memaksa masuk sedangkan pagarnya tidak mau terbuka. Aku menatap Wisnu. Bukannya digoogle maps nya juga ada nama panti jompo Terang? Bahkan dia yang pertama kali memberi tahu.
"Digoogle maps kamu masih ada nama panti jompo Terang nya?" tanyaku.
Wisnu menilik hp nya lalu menatapku.
"Masih".
"Kok nggak ketarik kaya Reza" heran Zara.
"Lo pengin gw ketarik kaya Reza?" Zara menggeleng.
"Aneh aja"
"Iya si".
"Wuaaaa.... sakit... aduh... perih banget ini.. woy tangan! Lo bisa diem nggak sih!? Sakit tahu badan gw! Lo mau buat badan gw lecet-lecet ya!" gerutu Reza tiada habisnya saat tubuhnya terseret setelah gerbang berhasil terbuka karena dorongan tubuhnya yang bergerak mengikuti tangan kirinya.
"Coba lo lepas hp itu!" teriak Rey.
"Kalau bisa udah gw lakuin dari tadi!" balas Reza.
Tangan kirinya berhenti bergerak membuat Reza juga berhenti bergerak. Kini ia terbaring menatap langit seraya merintih juga menghembuskan nafas lega. Tiba-tiba, hp Reza terlepas dari cengkraman tangannya dan mengambang diudara. Sebuah makhluk seperti hologram. Maksudku transparan, samar-samar, tidak terlalu jelas. Keluar dari hp Reza dan melayang diudara. Saat ia bergerak turun, hp Reza pun mengikuti pergerakannya.
"Maafkan saya, saya harus cepat memberi tahu kalian bahwa ada manusia tua yang terjebak dipanti jompo ini" ucap makhluk hologram tersebut.
"Siapa lo?" tanya Reza disela-sela usahanya menahan sakit. Makhluk hologram menoleh kearah Reza yang terbaring lemas.
"Maafkan aku, aku Cyntya, anak dari pemilik panti jompo ini. Nanti aku jelaskan, yang terpenting adalah.. cepat bantu manusia tua didalam panti jompo ini. Keluarkan dia sebelum malam" ujar makhluk hologram yang mengaku sebagai Cyntya. Apa aku harus memanggilnya Cyntya? Sepertinya... makhluk hologram lebih cocok untuknya. Ah.. aku jadi merasa seperti dejavu.
"Sekali lagi maafkan aku, mari aku bantu berdiri" Cyntya mengulurkan tangannya. Reza akan menerimanya namun dengan cepat Ais berlari menghampiri mereka dan menarik tangan Reza hingga ia dapat berdiri dengan bantuan Ais. Cyntya dengan pergerakan kaku menarik kembali uluran tangannya.
"Bimbing kami memasuki panti jompo ini" ujar Adam. Cyntya tidak merespon, ia hanya terdiam memandang Adam.
"Apa kau menyukai kekasihku?" tanyaku lembut.
Cyntya lagi-lagi bergerak kaku. Ia mengerjap beberapa kali lalu menatapku.
"O-owh.. ma-maaf, dia kekasihmu?" aku mengangguk. Tak apa lah berbohong. Aku hanya merasa tidak suka saja bila ada yang menatap Adam seperti itu, apalagi makhluk hologram seperti Cyntya. Tak sadar diri kah dia? Ouch..! Maafkan aku, aku kalap.. mungkin rasa cemburu membuatku naik emosi. Apa.. tunggu dulu.. cemburu?.
"Maafkan aku" aku menatap Cyntya datar.
"Bimbing kami memasuki panti jompo ini" ujarku menirukan kalimat Adam. Cyntya mengangguk lalu mengajak kami masuk. Sebelumnya, ia mengambil hp Reza dan menyerahkannya. Namun, lagi-lagi dengan cepat Ais menarik hp tersebut saat Reza akan mengambilnya.
Cyntya nampaknya tersenyum kecut. Ia lalu mengajak kami masuk.
"Ayo.. masuk" aku dan yang lain dengan langkah pelan mulai memasuki panti jompo ini.
Debu dan sarang laba-laba dimana-mana. Sebuah kursi goyang bergerak tidak beraturan secara tiba-tiba. Gorden juga tersingkap dan bergerak seolah ditiup angin atau ada yang baru saja memainkannya. Terdengar suara 'tuk tuk tuk' disatu demi satu anak tangga kayu yang tak jauh dari kami. Namun, aku tak melihat adanya makhluk halus yang bergerak disini kecuali Cyntya. Walaupun aku merasakan sesak saat pertama kali menginjakkan kaki disini.
"Kita harus cepat" Cyntya melayang cepat entah kemana. Kami hanya bisa mengikutinya. Ia tiba-tiba berhenti didepan daun pintu kayu yang nampak lapuk.
"Kenapa berhenti?" tanya Adam.
"Disini, manusia tua itu disekap disini, aku tidak bisa masuk, ada pelindung yang tidak bisa aku tembus" sahut Cyntya.
"Lalu, kami karus apa?" tanya Zara.
"Dobrak pintu ini".
Aku menatap Rey, Adam, dan Wisnu. Mereka langsung berdiri didepan daun pintu kayu lapuk tersebut dan siap-siap untuk mendobrak.
"Kok susah?" gumam Rey.
Cyntya menarik tanganku dan menyuruh Rey serta Wisnu mundur. Adam masih menempelkan tubuhnya didaun pintu tersebut.
"Sentuhlah daun pintu tersebut bersamaan, saya merasakan aliran energi yang sangat kuat didarah kalian berdua" aku dan Adam saling berpandangan lalu mencoba melakukan apa yang barusan diucapkan Cyntya.
Pintu terbuka. Terjatuh lebih tepatnya. Engsel yang membuat pintu berdiri terlepas dengan mudahnya. Aku dan Adam saling pandang.
"Tuh kan benar, ayo masuk" Cyntya melewati kami dan melenggang masuk.
"Tadi katanya nggak bisa masuk karena ada pelindung, sekarang kok bisa?" tanyaku bersamaan dengan yang lain, menatap Cyntya penuh tanda tanya.
"Pelindungnya ikutan roboh waktu pintu kebuka, energi yang kalian alirkan mampu membuka pelindung tersebut".
"Ayolah... apa kalian ingin menjadi manusia kejam karena gagal menyelamatkan manusia tua didalam sana".
Kami mengikuti langkahnya. Hanya sebuah ruangan kosong tanpa benda apapun didalamnya. Sebuah pintu berdiri kokoh didepan kami semua. Aku dan Adam melakukan hal yang sama. Ok, lagi-lagi hanya sebuah ruangan kosong tanpa benda yang menghiasinya.
Aku dan Adam membuka pintu yang ada dihadapan kami lagi untuk yang ketiga kalianya. Ok! Aku mulai kesal. Aku merasa seperti dipermainkan.
"Apa ayahmu yang membuat denahnya Cyn?" tanyaku menahan kesal. Aku hampir pingsan karena tiba-tiba merasa lemas setelah membuka tiga pintu.
"Iya".
"Sial! Apa-apaan ini? Apa ayahmu ingin membuat orang yang masuk kedalamnya kesal?!" sentak Reza.
"Memang seperti ini, ruangan-ruangan kosong ini kan biasanya berisi manusia-manusia tua. Tapi, berhubung penghuninya meninggal semua, jadi kosong deh nih ruangan".
"Sepertinya ini pintu terakhir, coba buka".
Aku dan Adam menghembuskan nafas sebentar, lalu menarik nafas dan menempelkan telapak tangan kanan bersamaan didaun pintu. Dan hal yang sama terjadi, pintu terjatuh setelag engsel pintu tersebut terlepas.
Bersambung...
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka. Bunga dan kopi dari kalian sangat membantu keberhasilan Author.
Terima kasih.