INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Kedai ice cream



Setibanya di salah satu kedai makanan, Wisnu dan tim nya segera turun dan memesan menu yang disajikan. Mereka memesan cukup banyak makanan, setelah makanan siap mereka segera menyantapnya sambil berbincang.


"Kamu yang di rumah sakit itu, 'kan?" seorang lelaki menghampiri Ais dengan senyumnya.


"Eh hai." Ais bergegas berdiri dengan senyum mengembang.


"Hai, kamu sama siapa?" lelaki itu menatap satu persatu Wisnu dan tim nya yang menatapnya dingin, tidak ada sama sekali wajah ramah yang mereka tampakkan, Ais menoleh dan menatapnya tajam, namun ekspresi dingin yang teman-temannya tunjukkan tidak berubah. Lelaki yang berdiri di dekat Ais pun mengernyit, namun ia segera menutupi itu dengan mengajak Ais berbicara sebentar berdua.


"Gue merasakan aura negatif dari lelaki itu, apa kalian juga merasakannya?" tanya Rey bertahan dengan ekspresinya.


"Gue juga merasakan itu.. Bahkan dari pertama gue melihatnya di rumah sakit. Sebelum gue melihatnya, gue mencium bau kemenyan. Beberapa saat setelah Ais menatap lelaki itu... Dia berubah, menjadi seperti sekarang." sahut Chalis.


"Ais memang rentan terkena hal seperti itu." Glen ikut angkat bicara.


"Eit eit eit, apa kalian tidak terbilang terlalu mudah menyimpulkan?" Reza menatap Chalis dan Glen bergantian "Bisa saja dia memang menyukai lelaki itu dari pandangan pertama, bukan karena hal gaib." perlahan suaranya melemah seperti sebuah bisikan, kepalanya menunduk merenungi itu semua, mulutnya memang berkata demikian tapi tidak dengan hatinya.


"Jangan bohongi hati lo dengan ngomong kayak gitu, Za! Gue tahu hati lo ngomong yang sebaliknya, coba lo liat Ais baik-baik.. Dia bukan Ais seperti yang sebelumnya. Dia emang ramah, gampang bergaul, tapi enggak sama laki-laki apalagi yang baru dikenalnya, bahkan gue yakin Ais belum tahu siapa nama laki-laki itu." spontan Rey berdiri seraya menunjuk Reza bersama dengan nada bicaranya yang meninggi.


"Rey tenang, ini di tempat umum." Glen berdiri dan mendorong pundak Rey memintanya duduk, ia memberi kode supaya Rey melanjutkan makannya.


"Bisa kita bicarakan besok di markas. Kita perlu pendapat Risa, Adam, dan Zara."


Glen pun ikut melanjutkan makannya, ia ingin segera pulang dan mengistirahatkan tubuhnya di atas kasur. Selang beberapa menit, Ais kembali dan duduk di samping Glen, ia melanjutkan makan sambil senyum-senyum.


...----------------...


"Ini minyak kayu putih nya." Adam menyerahkan sebuah botol berwarna hijau pada Risa yang segera menerimanya, setelah botol itu dibuka Risa mendekatkan mulut botol ke bawah hidung Zara dengan perasaan harap-harap cemas.


"Eummm... Panas.." Risa tersenyum dan menarik botol yang dipegangnya.


"Ini minum." Adam menyerahkan sebotol air minum pada Zara, dibantu Risa ia meminumnya.


"Hidungku kok panas, ya." Zara mengeluh seraya mengusap hidungnya.


"Ma-maaf, tadi kayaknya mulut botol minyak kayu putih yang aku pegang nempel ke hidung kamu terus ke tuang sedikit." Zara melihat botol yang berada digenggaman tangan kanan Risa, dia berdehem dan mengangguk.


"Masih laper." Adam menyodorkan satu kresek putih berlogo yang dipegangnya pada Zara, Zara membukanya dan terkejut isinya hanya roti.


"Lima bungkus makanan cuma roti?!"


"Bingung mau beli apa, kalau mau jajan beli sendiri lah." Adam putar jalan dan duduk di kursi kemudi.


"Kamu mau beli apa? Aku beliin."


"Pilihanmu pasti enak." Risa tersenyum lalu mengangguk, ia kemudian turun dan masuk minimarket.


"Aku ambil dua aja yang aku suka, yang tiga buat kamu sama Risa aja siapa tahu dia mau. Makasih." Zara menaruh plastik putih tersebut di pangkuan Adam.


"Roti, 'kan baik buat orang sakit." gumam Adam.


"Aku nggak sakit, ya, kamu tuh yang sakit. Sakit jiwa!"


"Kalau gue sakit jiwa dah masuk rsj, baka, tapi sekarang gue ada di depan lo." Adam membuka plastik yang berada dipangkuannya dan mengambil salah satu dari roti yang tersisa, ia buka bungkusnya lalu memakannya dengan tenang.


"Sakit jiwamu itu yang nggak terlihat."


"Masa sih?"


"Misi sih!" Zara menirukan ucapan Adam dengan memajukkan bibirnya.


"Bibir lebih maju dari hidung mampus lo."


Brak


Zara menendang bagian belakang kursi kemudi hingga Adam terdorong sedikit ke depan.


...----------------...


Siang ini Risa dan tim nya berkumpul di markas, masih membahas hal yang terjadi pada Ais. Risa, Adam, dan Zara memberikan berbagai tanggapan, satu diantaranya setuju apa yang dikatakan teman-temanya sedangkan yang lain mengambil jalan tengah, belum menyimpulkan tapi juga merasa yang dikatakan temannya benar. Zara dan Adam memutuskan untuk menunggu perkembangan, buruk atau wajar, dalam jangka waktu dua puluh empat jam jika banyak kejanggalan yang terjadi pada Ais, mereka baru bertindak.


"Sekarang Ais di mana?" tanya Risa.


"Mungkin di rumah, kami ke sini tanpa memberitahunya." sahut Rey.


"Kita ke rumahnya yuk? Ajak jalan."


"Boleh."


...----------------...


"Hai, Tris!" Ais tersenyum lebar menampakkan deretan gigi rapihnya, menatap seorang lelaki yang belum lama ia kenal.


"Hai, Ai.. Kamu cantik banget pakai hody sama rok plisket warna hitam gitu." Ais menunduk dan tersenyum malu "Kita mau ke mana hari ini?" Tristan namanya, laki-laki yang membuat hati Ais menggebu-gebu, ia tersenyum menatap Ais yang memeluk lengan dan bersender di pundaknya, terlihat seperti pasangan yang sangat romantis dan harmonis.


"Kemanapun asal sama kamu.."


"Kamu mau pergi sama aku nggak? Ke tempat yang sangaaaaaaaaat jauh."


"Sejauh itu?" Tristan mengangguk "Asal berdua denganmu. Hahaha..."


"Kita ke kedai ice cream langgananku, mau?" Ais mengangguk, langkahnya pelan mengimbangi langkah Tristan menuju mobil yang terpakir tak jauh dari tempat mereka.


...----------------...


"Ais nya belum pulang loh, Glen." ibu Ais berkata jujur, wajahnya juga nampak cemas.


"Belum pulang? Ke mana, ya, dia?" gumam Glen bertanya-tanya.


"Eh, tapi waktu Ais mau berangkat sekolah, tante lihat dia masukkin hody sama rok plisket hitam ke tas-nya. Tadi malam juga dia terlihat seperti kurang selera makan, sering melamun dan pandangannya nampak kosong, ia seperti gelisah, waktu tante ajak bicara dia membantah. Aneh sekali dia malam ini, apa kalian tahu yang terjadi sama dia? Tante harap dia baik-baik saja."


"Tidak mungkin kami mengatakan hal yang kami pikirkan beberapa waktu ini."


Kalimat itu seketika menghampiri benak Risa dan tim nya.


"Di sekolah Ais pun seperti itu, tante, kami akan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi, kami mohon tante jangan gelisah, kalau begitu kami pamit undur diri. Assalamu'alaikum.." Risa dan tim nya segera pergi setelah Glen menyelesaikan ucapannya.


"Kemungkinan ketemu cowok kemarin ga si?" di dalam mobil Chalis mencoba mengungkapkan isi pikirannya.


"Ah iya benar! Tapi di mana mereka bertemu." Risa menatap ke luar jendela, mengamati sepanjang perjalanan yang tidak tahu arahnya, sedangkan Glen sibuk melakukan panggilan pada nomer Ais yang terus menolak.


"Oh da*n!" umpatan Glen membuat semua temannya serentak menolah.


"Gue udah coba hubungin nomer Ais berkali-kali, tapi dia selalu ngenolak panggilan gue." Glen menerangkan.


"Paaanas... Rasa suuuka... Maaaanis..." Risa bergumam, namun cukup keras untuk didengar teman-temannya "Taman... Ice cream. Mungkin ga si?" Risa tiba-tiba meminta pendapat, ia tatap wajah teman-temannya yang nampak lucu dan polos. Risa mendengus tawa dan terkekeh.


"Apaan?!" Risa sontak memundurkan tubuhnya hingga menabrak pelan pintu mobil ketika teman-temannya tanya tapi ngegas.


"Gini loh, ini, 'kan cuaca panas, Ais lagi suka-sukaan, rasanya, 'kan pasti manis. Mereka kemungkinan ketemuan di taman yang biasanya memberikan kesan romansa, taman yang isinya bunga-bunga, pohon, sama lampu taman, 'kan manis, karena hal itu mereka jadi ke kedai ice cream untuk melepaskan dahaga juga biar hubungan mereka makin romantis sama manis gitu." Risa menjelaskan namun terdengar random dan membingungkan, teman-temannya menggeleng dengan alis sedikit tertekuk.


"Aduh kok aku jadi mumet sih." Risa menunduk sembari memegangi kepalanya yang terasa berdentum, ia merasa otaknya sedang berjalan di labirin yang entah di mana cahaya pintu keluarnya.


"Intinya tempat yang manis gitu lah ih sebel kok malah jadi aku yang mumet sendiri sih." Risa mendengus seperti seekor kerbau yang memacu kakinya ketika melihat kain merah, hal yang biasanya terjadi di kartun-kartun.


"Coba keliling ke kedai ice cream, Dam." pintanya kemudian.


"Kalau ada apotek, mampir dulu bisa kali, ya? Sakit kepala sebelah, sensitif cahaya dan suara. Mungkin ini migren. Haduh aku kena migren.."


Bersambung...