
Happy Reading...
Hari ini kegiatan MOS hari kedua dilaksanakan selama beberapa jam dilanjut istirahat dan pulang. Satu hari lagi maka kegiatan MOS akan selesai. Venile seperti biasa dengan genitnya berusaha mendekati Adam.
"Kak, makan siang bareng yuk?" Adam hanya diam tidak menanggapi, bukan sombong, tapi malas.
"Dia diem, berarti enggak mau. Dia juga mau makan siang sama kita, lo pergi aja sana" usir Rey.
"Apaan sih, kak? Dari kemarin sewot mulu deh, gue nggak bakal mau pergi sebelum Adam nerima ajakan makan siang gue, huhh...".
"Kalau dia nggak mau gimana? Jangan maksa orang dong! Orang dia mau makan siang bareng kita, lo jadi adek kelas nyebelin banget sih? Contoh temen-temen lu, nggak keganjenan sama cowok orang!" sergah Glen.
"What?! Cowok orang?! Sejak kapan dia punya kekasih? Mana kekasihnya? Kaya apa sih rupanya?".
Chalis dan Air bergegas mendorong Risa untuk maju ke depan. Venile langsung mengernyit.
"Dia? Cantik juga enggak, cantikan gue ke mana-mana. Kalau beneran dia kekasihnya, kok kak Adam mau sih sama dia?" Venile memanyunkan bibirnya.
"Adam itu suka sama orang bukan dari wajahnya doang, tapi juga dari hatinya! Kalau sama lo! Dihh... Gue aja cringe, apalagi Adam. Ngotak dong, gue akuin sih lo itu cantik, saking cantiknya sampai otaknya ngelag!" ujar Reza.
"Dihh..!! Apaan sih kalian?!".
"Kak, jadi mau nggak makan siang bareng?" tanya Venile seraya menatap penuh harap pada Adam.
"Mau" sahut Adam. Teman-temannya membulatkan mata dan menganga lebar, tak terkecuali Risa, sedangkan Venile tersenyum lebar merasa menang dan senang.
"Tapi sama mereka" Adam menatap Rey, Reza, Wisnu, Glen, Ais, Chalis, Zara, dan Risa bergantian. Kemudian menggandeng tangan Risa dengan menyelipkan jari-jarinya di antara jari-jari Risa dan melenggang pergi.
"Gue udah laper!" seru Adam yang sontak membuat teman-temannya mengikuti langkahnya, sedangkan Venile lagi-lagi hanya bisa memanyunkan bibirnya kesal dan menghentak-hentakkan kakinya. Indri dan Redy hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Buat menang itu emang nggak mudah, apalagi dia udah suka plus cinta sama wanita yang cantik banget menurut gue, terus sifatnya dewasa lagi kayaknya, nggak kaya elo, hahahahaha" Redy langsung mendapat jitakan dari Indri dan tatapan tajam dari Venile.
"Kesel gue sumpah!" dumel Venile.
"Udahlah jangan marah-marah, makan es krim aja yuk di kedai depan sana" Redy menggandeng kedua lengan sahabatnya dan mengajaknya pergi menuju kedai es krim depan sekolah.
Sesampainya di kedai, mereka bertiga bergegas mencari tempat duduk. Kondisi cuaca hari ini yang sangat terik membuat kebanyakan murid atau orang memilih untuk bersantai di kedai sembari menikmati hidangannya, tak terkecuali Venile, Indri, dan Redy.
"Mbak! Es krim jumbo spesial satu ya!" seru Redy, mbak pelayan tersebut segera mengangguk dan pergi ke belakang untuk menyiapkan pesanan pelanggannya.
"Lo kok cuma pesen satu, Red?" tanya Indri.
"Emang mau berapa?".
"Tiga lah, kita kan bertiga!".
"Barengan aja lah, cukup kok buat bertiga" Redy mengambil koran yang ada didekatnya sebagai alat pengganti kipas, sekelabat Indri melihat tulisan di koran tersebut yang tertulis dalam warna tebal dan huruf besar.
"Santet" gumamnya.
"Eh, In! Liatin apa?!" sentak Venile.
"Enggak-enggak liat apa-apa".
Pesanan Redy pun datang membuat Venile dan Indri membolakan kedua matanya. Betapa tidak? Sebuah mangkuk berukuran besar dengan isi es krim dan toping berbagai warna, bentuk, dan rasa.
"Seriusan segini? Kalau nggak habis gimana?" seru Indri.
"Habis kok, tenang aja. Gue kan pecinta es krim" sahut Redy.
Mereka bertiga pun menyantap es krim tersebut bersamaan dengan diselingi beberapa candaan yang dilemparkan ketiganya hingga menggugah tawa. Hingga tersisa sedikit sekali es krim, suara riuh membuat ketiganya menghentikan aksi makannya.
"Ganggu aja deh tuh suara" dumel Redy.
"Ada apa sih?" tanya Venile.
"Samperin yuk" ajak Indri. Mereka bertiga pun pergi menuju tempat keramaian berada, berusaha menuju ke paling depan supaya bisa melihat apa yang sedang mereka kerubungi.
"Iyyuuuhhhh.... Es krim yang gue makan rasanya mau gue keluarin, keluar yuk keluar" seru Redy. Ia pun bergegas meninggalkan kedua temannya yang justru tertarik untuk mengambil foto seonggok tubuh yang terkapar dengan luka di seluruh tubuhnya, yang paling parah adalah bagian kaki, tangan, dan perut. Ketiganya mengalami luka sobek yang sangat dalam hingga tulangnya terlihat menyapa para manusia yang menjadikan seonggok tubuh tersebut tontonan. Bisa dipastikan bahwa tubuh tersebut sudah meninggal, entah kenapa bisa ia menjadi seperti itu.
Setelah Venile dan Indri mendapatkan apa yang mereka inginkan, yaitu memotret mayat tersebut, mereka keluar dan menjumpai Redy sedang muntah-muntah dengan didampingi salah seorang pelayan kedai yang juga seperti mengurut leher Redy secara perlahan. Venile dan Indri saling tatap sebentar kemudian menghampiri Redy.
"Red.." sapa Indri.
Redy menoleh dengan wajah layunya.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Venile.
Redy menggeleng, "Badan gue lemes banget, kepala gue pusing, dan perut gue enek".
"Aduhhh... Maaf ya, gue nggak tahu kalau bakal kaya gini kejadiannya" ucap keduanya, Redy menggeleng kembali.
"Kalian nggak salah".
"Iya, dek. Sama-sama, kakak pergi dulu ya, ini minya kayu putihnya dipakai saja" mbak pelayan tersebut memberikan sebotol kecil minyak kayu putih yang dipegangnya pada Indri yang siap menerimanya kemudian pamit pergi.
"Kita pulang aja, ya" Redy mengangguk.
"Tapi tunggu sebentar, gue telepon supir gue dulu" Redy mengangguk lagi. Setelah supir Venile datang, mereka bertiga bergegas pulang. Sepulangnya mereka, team Indigo datang menuju pusat keramaian. Polisi dan ambulans belum ada yang sampai ke tkp.
"Gimana kalau dia minta tolong sama kita? Gue udah bilang kan nggak usah ke sini" ucap Chalis.
"Penasaran" sahut Risa.
Darah segar yang langsung mengeluarkan bau amis mengalir hingga membasahi sepatu yang Risa kenakan. Ia menoleh ke bawah dan melihat sepatunya yang sudah terkena sedikit noda darah.
"Perasaan nggak enak, ada apa ya?" tanyanya pada teman-temannya. Glen sontak menarik lengan Risa menjauh lalu mendongakkan wajahnya, Risa sontak menjerit hingga membuat sorot pasang demi pasang mata yang mulanya mengamati mayat tadi, kini mengarah pada Risa.
"Maaf semua, teman saya takut sama darah, dia tidak sengaja liat darah mayatnya. Maaf sekali lagi semua" ucap Zara.
Orang-orang tadi pun kembali mengamati mayat tersebut seraya kembali berbisik-bisik.
"Sungguh kasihan nasibnya, meninggal dengan cara yang sangat mengenaskan".
"Iya benar, semoga keluarganya ta'bah ya".
"Kira-kira kenapa ya dia bisa seperti ini?".
Kira-kira seperti itulah bisik-bisikan mereka hingga membuat team Indigo risih dan memutuskan untuk pergi dengan diikuti jiwa tanpa raga yang dilihat kondisinya sangat mengenaskan.
"Om, ngapain ngikutin kami? Perlu bantuan" tanya Zara yang langsung mendapat respon anggukan pelan, lemah, dan kaku dari jiwa tanpa raga tersebut, yang tak lain raganya adalah mayat tadi. Kepolisian kini sudah mulai mendatangi tkp, orang-orang yang tadi mengamati mayat tersebut diminta bubar, sedangkan mayatnya sudah dibawa ke rumah sakit untuk diotopsi.
"Bantu apa?" tanya Zara lagi.
"Saya... Mau… Kasih… Boneka… Ini… Ke… Anak… Saya…" Ais tiba-tiba menarik nafas sepanjang-panjangnya dan mengehembuskannya perlahan.
"Kenapa, Aia?" tanya Chalis.
"Sesak nafas gue denger dia ngomong".
Arwah mayat tadi menunjuk sebuah boneka beruang berwarna biru yang masih terbungkus rapi dalam kantong plastik didekat salah seorang polisi.
"Anak bapak rumahnya mana?".
"Desa Aman".
"Busyeettt... Jauh bener, Om? Bisa-bisanya om ke sini gimana?".
"Saya... Cari uang... Buat keluarga... Anak saya… Juga kepengin boneka… Waktu saya mau pulang… Saya kecelakaan… Ditabrak, terus keseret truk".
"Om namanya siapa?" tanya Risa.
"Rizki".
"Jangan... Panggil om... Saya baru tiga puluh... Sembilan tahun... Panggil saja kak" Risa, Ais, Chalis, dan Glen mengernyit. Pikir mereka, tiga puluh sembilan tahun mau dipanggil kak? Terasa aneh.
"Atau... Kalau enggak... Dipanggil sayang aja" arwah tersebut mengedip-ngedipkan matanya dan mengerucutkan bibirnya genit.
Secara reflek, Adam menarik Risa untuk lebih dekat dengannya, begitupun dengan yang lain. Wisnu menarik Zara, Rey menarik Glen, dan Reza menarik Ais. Sebentar! Chalis! Dia berteriak didalam hatinya.
"Gue sama siapa???" dalam hatinya ia menjerit kesal.
"Tuh mas-".
"Gue sama dia" tanpa pikir panjang lagi, Chalis menarik lengan seorang pemuda yang berjalan didekatnya hingga mereka berjarak sangat dekat.
"Yahhhh... Nggak kebagian".
"Arjana!".
Bersambung...
Thank You All....
❣️❣️❣️❣️
Catatan:
Diberitahukan kepada seluruh pembaca novel 'Indigo Team', bahwa jadwal up akhir-akhir ini sangat belum terkendali karena terhalang keperluan dan kepentingan didalam dunia nyata. Mohon bersabar menunggu up, jika sudah tidak sabar/mulai bosen dengan alur ceritanya yang mungkin terlalu bertele-tele dan itu-itu saja. Author tidak memaksa kalian semua untuk tetap membaca novel ini.
Jangan lupa dukungan kalian yang senantiasa menambah imun tubuh author karena semangat dalam up novel ini dan berusaha memaksimalkan penulisan dan alurnya (semoga saja bisa ya, wkwk). Vote hari senin kemarin bila belum diberikan ke novel lain, daripada lapuk mending di kasih ke sini aja. Nggak ngasih nggak apa-apa, daripada ngasih tapi nggak ikhlas, wkwk, bercanda, jangan baper ya...
Ya pokoknya seperti itu, maacih❣️🌹