INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Manfaat buah Simili (Season 2)



Happy Reading...


Di rumah ibu Mawar. Arjana sedang duduk berhadapan dengan kak Ang namun beda sofa.


"Silahkan di minum teh nya, Ar. Btw, ada apa nih dateng?" tanya kak Ang, sesaat setelah menyodorkan minuman buatan ibu.


"Iya kak, makasih. Kalau Ar boleh tahu, kakak sejak kapan punya adik?".


"Udah lama kok" kak Ang menghembuskan nafasnya, lalu melanjutkan berucap "dia adik angkat kakak, dari panti asuhan".


"Owh.... adik angkat, siapa namanya kak?".


"Arisa Intan, itu nama aslinya, lalu dipakaikan marga keluarga kami, Pratama. Jadilah namanya Arisa Intan Pratama. Kalau mau lihat wajahnya, di samping buplet kan ada meja kecil, terus kamu ambil buku yang paling kecil bersampul beludru, warna merah" Ar mengangguk kemudian berjalan menuju ruang keluarga, di mana buplet dan meja kecil yang terdapat album khusus Risa, mulai dari dia kecil sampai besar.


Ar lalu membawanya menuju ruang tamu, dan kembali duduk berhadapan dengan kak Ang yang mengatakan untuk buka bukunya dan amati setiap fotonya.


"Cantik" batin Ar.


Beberapa menit berlalu, Ar sudah selesai mengamati foto-foto perkembangan adik angkat kak Ang itu. Saat berada awal-awal membuka album tadi, ada satu foto yang membuat ia terkekeh. Foto di mana Risa yang baru berusia beberapa tahun, belum sampai delapan tahun. Berdiri tersenyum lebar yang menampakkan deretan giginya yang tidak full. Beberapanya copot karena masa pertumbuhan gigi.


Ar lalu meletakannya di atas meja dengan hati-hati dan menatap kak Ang yang tersenyum.


"Cantik 'kan? Kira-kira sudah pernah bertemu atau belum?".


"Iya, cantik memang, tapi kayaknya tomboy juga ya" kak Ang mengangguk dan menaikkan kedua alisnya seraya tersenyum menunggu jawaban kedua.


"Kalau ketemu.... kayaknya belum" kak Ang akhirnya ber-oh ria seraya mengangguk berkali-kali.


"Oh iya kak, waktu ada segerombolan pocong datang ke sini, itu ternyata salah alamat".


"Maksudnya?" tanya kak Ang meminta penjelasan lebih.


"Jadi, malam itu ada seorang wanita yang melakukan percobaan teror pocong. Tapi, dia tidak mendapatkan alamat yang akan ia teror pocong secara akurat, jadinya nyasar deh".


"Kamu tahu dari siapa?" kak Ang mulai menaruh curiga.


"Tetangga ada yang bisik-bisik, katanya waktu malam itu ada perempuan di rumahnya yang melakukan ritual seperti itu. Selesai ritual, ia digrebek dan di introgasi. Ternyata emang dia".


"Jadi kamu denger dari tetangga, terus kamu gabungin ke peristiwa di rumah aku waktu itu?" Ar mengangguk membenarkan.


"Bisa aja itu dari orang lain yang memang neror kan? Bukan dari dia" Ar kini menggeleng.


"Sebelum aku usir mereka, aku sempet tanyain mereka berasal dari mana. Jawabannya... pengin tahu gak?" kelakar Ar.


"Pengin lah!" kak Ang mulai menaikkan nada bicaranya ketika mendapat bercandaan dari Ar disaat waktu yang kurang atau tidak tepat.


"Kasih tahu gak yah.....? Hahahaha...."


"Ar! Nggak lucu!".


"Lucu kok".


"Kata siapa?".


"Kata aku barusan, kok pakai nanya lagi".


"Ish! Udah buruan kasih tahu jawaban pocong teror waktu itu apa?!" desak kak Ang.


"Bu Indra, suaminya pak Indra itu lhoh, yang punya playground".


"Playground Seru?" Ar mengangguk.


"Itu bukannya playground berhantu ya?" Ar mengendikan bahunya.


"Kakak tahu berhantu dari mana?".


"Denger, temen kakak pernah lewat depan playground itu jam sebelas malam abis ngerjain tugas di rumah temennya, terus dia lihat permainan disana gerak-gerak sendiri, gak ada orang".


"Owh.... ke sana yuk kak?" ajak Ar semangat.


"Nggak ah".


"Takut ya....?" lagi-lagi Ang diledek.


"Enggak!".


"Bohong" sangkal Ar.


"Seriusan enggak takut, cuma males aja".


"Ih! Bohong!".


"Enggak!".


"Ayuk kak lah, lumayan kan bisa main-main di sana juga, pasti rame kok nggak sepi, ini kan hari libur" rayu Ar dengan matanya yang di kedipkan berkali-kali. Ang berpikir sebentar, benar juga apa yang dikatakan Ar, hari ini kan hari libur, siang pula. Begitu pikirnya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk ikut ke playgroud Seru bersama Ar. Sesampainya di sana, memang playground tersebut sedang ramai pengunjung, mayoritas anak-anak bersama ibu-bapaknya.


***


"Kalian Zara, Adam, dan Wisnu, temannya Risa ya?" Zara sebagai perwakilan menjawab, mengangguk.


"Kalian cari buah Simili ya?" Zara mengangguk lagi.


"Kalian pasti ketemu King The Dark?" Zara mengangguk untuk kesekian kali. Rasa jengahnya mengangguk berkali-kali mulai merasuk.


"Dan, kami disuruh untuk pergi ke air terjun ini dan meminta pertolongan, nyai. Sesuai dengan mantra yang Dark ajarkan" sergah Wisnu. Wanita di hadapan mereka pun mengangguk lalu pergi ke air terjun yang menutupi goa tersebut, membukanya sedikit layaknya membuka gorden rumah untuk mengintip siapa yang berada di luar.


"Mereka berkeliaran di luar sana. Bahaya kalau kalian sampai keluar, sebaiknya kalian pergi dari sini, ada kemungkinan mereka masuk ke sini" ujarnya.


"Gimana caranya kita pergi dari sini?" tanya mereka bertiga.


"Lewat jalur bawah, gih.. waktu kalian tidak banyak".


"Nyai ngusir kita ya?" tanya Zara.


"Tidak ngusir, hanya saja saya menyuruh kalian untuk pergi dari sini demi keselamatan bersama, mereka itu suka kalap" ujar nyai seraya menatap daerah luar.


"Baiklah, kalau begitu kami permisi. Ngomong-ngomong pintu mana yang harus kami masuki?".


***


Di sebuah goa, yang bentukkannya tidak jauh berbeda dengan goa yang di tempati oleh nyai yang Zara, Adam, dan Wisnu temui. Terdapat stalaktit dan stalakmit di sekitar mereka. Hanya saja di goa ini, menjadi saksi bisu perjuangan para korban keganasan monyet hutan Lereng. Darah mengucur deras membasahi tanahnya, rintihan menahan sakit belum kunjung usai terdengar, air mata pun seolah ingin selalu membasahi pipi mereka dan membuat mata dan hidung memerah.


"Kenapa... Zara, Adam, sama Wisnu lama banget ya baliknya?" gumam Chalis seraya menahan rasa sakit yang masih mendera.


"Kamu kok lama banget sih" batin Risa yang sudah mulai khawatir. Lukanya dan luka Vinula sudah mulai membaik, namun tidak dengan Chalis, lukanya malah semakin memarah. Jika Zara, Adam, dan Wisnu telat datang, mungkin Chalis tidak akan bisa di selamatkan. Dan sekarang.... berharap apa? Mereka bertiga, sang penolong Chalis juga sedang sama-sama bahayanya, buah yang mereka pegang menjadi sumber petaka bagi mereka bertiga.


"Apa ada masalah sama mereka, Vi?" tanya Glen.


"Saya tidak tahu, jika saya tahu pun.. saya ragu untuk mengatakannya, saya takut malah akan menambah rasa cemas kalian".


"Memang apa masalahnya?" tanya Risa.


"Saya tidak tahu ini benar atau tidak, saya tidak tahu kepastiannya, tapi.... sepertinya mereka bertiga sedang dalam incaran manusia serakah yang suka pergi ke air terjun Mawar untuk mengambil buah Simili".


"Bahaya dong..." sergah Ais.


"Eummm...." Vinula tak lagi mampu untuk menjawab. Ia takut jika ia menjawab 'mereka bisa dalam bahaya, jika mereka sampai bertemu dengan orang-orang tersebut', maka reaksi yang ditujukan teman-temannya adalah reaksi yang paling ia hindari.


Tak lama berselang, suara sapaan dari orang yang mereka tunggu-tunggu terdengar menggema di goa tersebut. Mereka lalu menoleh dan senyum lega langsung terbit dengan cepatnya. Mereka bertiga lalu menyerahkan buah Simili kepada Vinula.


"Gimana kondisi kamu?" tanya Adam yang kini sedang berjongkok di depan Risa.


"Buruk, saat kamu belum tersenyum di depanku. Tapi, kini sudah membaik" Adam lalu tersenyum semanis mungkin dan hendak memeluk Risa, namun deheman dari teman-temannya dan Risa yang bergerak mundur membuatnya menghentikan niatnya.


"Hayo... mau ngapain? Sadar kondisi bos..." ujar Reza.


"Berisik lo!" ya! Reza mendapatkan sentakan dan tatapan tajam dari Adam. Yuhuhh.... nyali Reza langsung mengempis.


"Galak bener si lo? Perasaan udah ada pawangnya" untuk kedua kalinya, karena ucapannya itu ia mendapatkan tatapan tajam dari Adam.


Satu jam kemudian... kondisi Chalis semakin membaik, banyak perkembangan sejak ramuan yang di buat oleh Vinula dari buah Simili.


"Kita lanjutkan jalan, kondisi gue sudah semakin membaik" ujar Chalis seraya berdiri dengan bantuan Ais dan Glen di kedua sisinya.


"Jangan di paksain, Lis. Kalau emang belum bisa jalan, kita disini aja dulu buat sementara" sahut Risa.


"Gue enggak apa-apa kok, udah baikkan. Lagian kan juga ada Ais sama Glen yang setia dua puluh empat jam buat gue, kalau nungguin gue pulih, bakal lama, gue juga udah ngerasa bosen di tempat ini. Kita harus bergegas, bukan?" Risa terlihat berfikir dengan apa yang barusan Chalis ucapkan. Memang benar, bahwa mereka harus bergegas, tapi dia khawatit dengan kondisi sahabatnya itu.


Seperti paham dengan apa yang sedang di pikirkan oleh Risa, Chalis menghampirinya dengan tertatih-tatih tanpa dibantu Ais dan Glen. Ia usap pundak Risa hingga membuat sang empunya pundak menoleh.


"Gue baik-baik aja, beneran.. kalau gue ingkar omongan gue, lo sabet gue sama rotan".


"Ihhh... kok aku jadi kayak jahat, sih?" rajuk Risa.


"Ini beneran enggak apa-apa, kan?" Chalis mengangguk yakin, lalu memutar badannya.


"Fisik gue mungkin udah membaik, tapi mental gue terluka.. kalau sahabat gue sedih karena gue" ucap Chalis lembut.


"Eum.... ya udah deh".


Pluk...


Bersambung...


Baca cerpen terbaru dari Author yuk, judulnya 'Dia Idolaku'.


Thank You All...


❣️❣️❣️❣️