
Happy Reading...
"Apa?" Vinula memalingkan wajah dari pemandangan di depannya.
"Bagaimana kata raja? Apa Hanar boleh tinggal disini?".
"Owh.. iya, maaf ya nyai Risa. Hanar harus ditempat tinggalkan di rumah khusus arwah".
"Kenapa begitu?" tanya Chalis.
"Eum.. katanya supaya tidak mengganggu kenyamanan dan kegiatan kalian, juga supaya dia bisa kenal teman baru".
"Apa... nyai marah? Jika nyai menolak hal ini, saya akan membicarakannya lagi dengan raja" ujar Vinula ragu.
"Oh.. tidak-tidak, tidak apa-apa, mungkin memang sebaiknya begitu" Vinula mendesah dan mengangguk lega.
"Siap-siap yuk" ajak Ais yang langsung mendapat anggukan dari yang lain.
Selesai bersiap-siap, mereka bergegas pergi ke aula desa bersama Vinula, tentunya.. dengan pakaian yang sudah Vinula sarankan.
Pagelaran sebentar lagi dimulai, para pengunjung dengan teratur mulai menduduki kursinya masing-masing, sesuai dengan nomor urut yang didapat.
"Wahhh... aku dapet nomor lima, di depan dong berarti" ucap Risa.
"Aku enam" sahut Zara.
"Gue tujuh" sahut Glen.
"Gue delapan" sahut Chalis.
"Aku sembilan" sahut Ais.
"Bagaiman dengan kalian?" tanya Risa seraya menatap kawan laki-lakinya. Jawaban dari Rey, Reza, Adam, dan Wisnu adalah angka satu, dua, tiga, dan empat.
"Kita duduk dibarisan paling depan nih?" tanya Glen sesaat setelah menatap bangku dengan nomor yang didapatkan olehnya dan juga teman-temannya. Yang lain menjadi ikut memandang bangku. Sebuah keberuntungan mendapat bangku barisan depan.
"Auh.."
Chalis mengeluh seraya memegangi pundaknya, ia sudah jatuh terduduk di atas tanah. Seorang lelaki berjubah hitam berdiri tidak jauh dari Chalis terduduk. Ia menoleh sedikit. Hatinya tergerak untuk membantu Chalis berdiri.
"Jatuhkan kuncinya" sebuah suara di otaknya muncul seketika. Sang penerima mengangguk walaupun di hatinya penuh pertanyaan. Ia kemudian berbalik dan membantu Chalis berdiri seraya menjatuhkan kunci yang sudah ada digenggamannya.
"Anda tidak apa-apa?" tanya lelaki berjubah tersebut.
"A-aku tidak apa-apa, terima kasih bantuannya, lain kali.. jalanlah dengan hati-hati" sahut Chalis yang langsung mendapat anggukan dari lawan bicaranya.
"Jika memang tidak ada luka serius, saya pamit undur diri?".
"Oh iya, silahkan" lelaki berjubah tersebut kemudian pergi.
"Itu apa?" tanya Zara seraya menunjuk kunci yang tadi dijatuhkan oleh lelaki yang menabrak Chalis.
Chalis ikut menoleh ke tempat yang ditunjuk Zara, tangannya bergerak mengambil benda tersebut lalu mengamatinya.
"Kunci?" gumamnya.
"Para hadirin sekalian, pagelaran tarian daerah Indonesia akan segera dimulai, mohon untuk menduduki kursi masing-masing dengan teratur. Selamat menikmati acara pagelaran, semoga berkenan. Selamat siang" suara mc jin perempuan cantik yang memakai busana jawa terdengar menggelegar. Perhatian team indigo teralih ke suara tersebut, Chalis memutuskan untuk menyimpan kuncinya dan bersama yang lain menghampiri kursinya masing-masing dan duduk dengan tenang disana.
Tarian mulai dari tari Seudati yang berasal dari Aceh Darussalam hingga tari Lawung Agung yang berasal dari Yogyakarta ditampilkan berturut-turut, tidak hanya itu, masih banyak lagi tarian daerah yang ditampilkan secara bergantian. Sebuah hologram yang menampilkan rumah adat beserta asal daerahnya juga dihadirkan. Lagu-lagunya pun tak kalah turut serta meramaikan pagelaran. Walaupun memakai waktu sampai malam hari, tidak ada raut lelah ataupun bosan yang dipancarkan para pengunjung. Sorak ramai mereka menjadi penyemangat bagi para penari dan kru pagelaran untuk membuat pagelaran kali ini sangat meriah.
"Aduh... apa itu lehernya nggak sengklek ya, aksesoris kepalanya gede banget" gumam Ais ngeri saat melihat aksesoris kepala yang dikenakan salah satu anggota pagelaran. Aksesoris kepala tersebut adalah suntiang, yang berasal dari adat Minang atau Padang. Bentuknya berlapis-lapis dan pemasangannya cukup rumit. Suntiang gadang tradisional setidaknya tersusun atas sebelas lapisan bunga, emas, dan alumunium. Beratnya bisa mencapai lima sampai enam kilogram. Sorot mata kagum nampak jelas di para pengunjung.
Beberapa jam berlalu. Pagelaran pun sudah selesai dilaksanakan, sebelum pulang mereka memutuskan untuk membeli suvenir yang dijajakan. Setelah puas, mereka pun pulang bersama Vinula yang selalu setia menemani. Hari yang indah membuat mereka lelah, bulan pun seolah sudah siap memberikan nyanyian terindahnya. Berbaring di atas kasur setelah mandi dan makan malam seraya saling berkirim pesan di grup Indigo, adalah kegiatan mereka sekarang. Vinula, telah pergi bersama Hanar menuju rumah khusus para arwah.
Risa : "Lis, apa ada yang aneh dengan kuncinya?".
Chalis : "Bentar, aku cek dulu".
Beberapa detik setelah itu.
Chalis : "Ada nih, gulungan kertas kecil banget. Buka nggak?".
Adam : "Coba buka".
Chalis : "Hutan Lereng".
Zara : "Itu bukannya hutan yang dilarang untuk dimasuki ya?".
Risa : "Iya".
Glen : "Apa itu semacam petunjuk? Mungkin kuncinya ada di dalam hutan terlarang itu?".
Risa : "Jika memang benar, kuncinya ada di dalam hutan itu. Lalu.. bagaimana cara kita masuk ke dalamnya, aku nggak mau kita celaka".
Zara : "Kita izin dulu sama Vinula".
...----------------...
Keesokan harinya. Risa dan yang lain menceritakkan tentang kunci tersebut dan kalimat yang terdapat di dalamnya.
"Apa kita bisa masuk?" tanya Glen.
"Sebenarnya bisa, tapi.. di dalam hutan itu banyak hewan yang berbahaya, sangat berbahaya malahan. Biasanya, jika ada keperluan mendesak, yang mengharuskan orang memasuki hutan tersebut, mereka akan diberikan sebuah kalung dan waktu".
"Berapa lama waktunya?" tanya Adam.
"Tiga hari".
"Lalu.. kalung yang dimaksud, kalung yang seperti apa?" tanya Ais.
"Saya bicara sama raja dulu ya?" mereka bersembilan mengangguk, melepas kepergian Vinula untuk bertemu sang raja.
Di tempat Vinula berada. Apa yang tadi dikatakan oleh team Indigo, ia katakan pada sang raja. Raja, nampaknya berfikir sebentar.
"Saya khawatir raja, bila ada korban lagi".
"Saya juga khawatir, Vinula. Tapi, sepertinya keperluan mereka memang terdesak. Saya juga merasakan aura kuat yang dipancarkan oleh mereka bersembilan, terutama pada Risa dan Adam. Lakukan apa yang biasanya dilakukan saat ada orang yang ingin memasuki hutan itu, Vinula" Vinula mengangguk ragu. Sudah banyak korban yang keluar dari hutan tersebut dengan kondisi tubuh seperti zombie lalu meninggal.
"Semoga kalian selamat" gumam Vinula seraya menyiapkan kalung untuk team Indigo.
"Hah? Satu setengah hari? Apa ini gila!? Kapan berubah?!" gumam Vinula kaget. Ia lalu berlari menghampiri raja dengan membawa kalung yang terdapat jumlah waktu di bagian bandulnya.
"Ada apa Vinula?" tanya raja penasaran.
"Raja... huh... kenapa... waktunya.. berubah..?" Vinula menunjukkan bandul kalung tersebut. Raja pun ikut kaget.
"Kenapa bisa berubah?" gumamnya. Vinula menggeleng.
"Tidak tahu raja, saya tadi melihat sudah seperti itu".
"Ini setengahnya dari waktu yang biasanya" gumam raja.
"Sepertinya... ini tantangan untuk mereka, mereka memang bukan manusia biasa, tapi istimewa" gumamnya lagi.
"I-istimewa?".
"Iya, istimewa. Mereka memang dikirim untuk kesini, untuk memasuki hutan tersebut dengan waktu yang sedikit. Tak apa, jelaskan saja pada mereka. Mereka pasti mau menerima" raja memberikan kalung tersebut kembali pada Vinula. Vinula menerimanya seraya mengangguk lalu pamit pergi.
Di vila.
"Kenapa lama sekali?" gumam Ais.
Vinula datang dengan tergesa-gesa. Ia segera menceritakkan apa yang dikatakan oleh raja lalu memberikan kalungnya.
"Satu setengah hari?" gumam Wisnu.
Mereka akhirnya bersiap dan akan pergi esok hari.
Bersambung...
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka. Bunga dan kopi dari kalian sangat membantu keberhasilan Author.
Thank You All...
❣️❣️❣️❣️