
Sepulang sekolah aku bersama mbak Rahma pergi ke ruangan dimana pak Agus (guru IPA) berada. Ku ketuk pintu berkali-kali sebagai tanda aku meminta izin untuk masuk.
Senyap. Hening. Tidak ada sahutan.
Ku coba lagi. Hasil yang sama.
"Dulu waktu saya main ke sini, saya pernah dikasih tahu sama suami saya kalau dia suka berada di ruang IPA tadi, dimana kamu bertemu saya" ujar mbak Rahma disaat aku sibuk mengetuk pintu dan memanggil nama pak Agus.
"Dek! Cari siapa?" tanya seseorang dibelakangku.
"Oh pak, saya cari pak Agus, bapak tahu tidak dimana dia sekarang?" tanyaku sopan.
"Owh... pak Agus, tadi saya lihat dia diruang IPA".
"Ngapain dia disana pak kalau boleh tahu?".
"Saya tidak tahu pastinya si, hanya saja dia sering kesana dan menatapi tengkorak yang ada dilemari kaca" mataku membola lalu menatap mbak Rahma.
"Sering pak?".
"Iya dek, sering banget".
"Ya udah pak kalau begitu, terima kasih informasinya. Saya pergi dulu, mari pak" aku mengangguk sopan sambil tersenyum lalu pergi menuju ruang IPA bersama mbak Rahma.
Sesampainya didepan pintu ruang IPA, aku lumayan merasa ragu untuk mengetuk. Aku menatap mbak Rahma sekilas sebelum mulai mengetuk.
"Lama banget si" mbak Rahma dengan wajah datar menggerakan tangannya untuk membuka pintu. Saat pintu terbuka, pak Agus terkesiap dan memandangku yang juga memandangnya.
"Se-selamat siang pak" sapaku kaku sambil menggoyang-goyangkan tangan ke kanan dan ke kiri.
"Siang, kamu siapa ya? Dan ada perlu apa?".
"Sa-saya Risa pak, saya mau ketemu bapak mau mempertemukan bapak dengan mbak Rahma".
"Risa indigo itu ya?" aku mengangguk.
"Rahma istri saya?" aku mengangguk lagi.
"Istri saya sudah meninggal, apa sekarang dia sedang ada disekitar sini?" tanya pak Agus sambil menyisir seluruh sudut ruangan dengan pandangannya.
"Mbak Rahma ada disamping saya pak, bapak mau lihat?" pak Agus mengangguk. Aku mengangkat tangan berniat ingin memegang tangan pak Agus supaya bisa mempertemukan dia dengan istrinya.
"Eh.." aku memandang jarak antara aku dan pak Agus yang lumayan jauh. Aku ada diambang pintu, sedangkan dia ada didekat lemari kaca yang menyimpan tengkorak mbak Rahma.
"Lupa pak" ucapku malu seraya berjalan menghampiri pak Agus diikuti mbak Rahma.
"Aduh!" aku terperanjat mendengar rintihan mbak Rahma. Aku menghampirinya dan membantunya berdiri.
"Kenapa mbak?" tanyaku panik.
"Nabrak meja".
"Hati-hati mbak, kalau jalan lihat-lihat" ucapku menasehati.
"Salah meja nya, kenapa dia disitu, saya jalannya udah bener kok" elaknya sambil mengusap lututnya yang tertutupi dress merah.
"Kan mbak nabrak meja, bukan meja yang nabrak mbak".
"Tetep aja salah meja nya".
"Ini kan ruang disekolah mbak, umum nya ya ada meja nya. Kalau nggak ada meja nya jadi nya lapangan sepak bola" kesalku.
"Ris! Kenapa kamu marah-marah disitu? Kamu lagi marah sama arwah istri saya?" aku mengangguk.
"Iya pak, istri bapak ngelak gak mau ngaku dia nabrak meja. Nyalahin meja nya, padahal dia juga bilang kalau dia nabrak meja".
"Sabar ya Ris, istri saya memang begitu, gak mau ngalah" pak Agus berjalan menghampiri kami berdua dan memintaku untuk mempertemukan dirinya dengan mbak Rahma yang masih marah-marah dengan meja yang ditabraknya.
"Mbak! Ini saya mau nemuin mbak sama suami mbak, jangan marah-marah mulu napa, ntar cepet tua lhoh" ucapku.
"Bodo amat!".
"Hih! Nyebelin banget si" aku memegang tangan pak Agus dan berkonsentrasi.
"Rahma" pak Agus langsung memeluk istrinya dengan linangan air mata.
"Kamu jahat mas! Kamu tega ambil jasad aku! Kamu jahat mas" mbak Rahma tidak membalas pelukan pak Agus, ia hanya menangis tersedu-sedu.
"Tetep mas! Tetep! Kamu tetep jahat! Teganya kamu.. teganya kamu memakai jasad istri kamu sendiri. Amel kan punya tengkorak palsu di kamarnya".
"Amel juga lagi butuh tengkorak itu untuk tugasnya Ma.. maafin aku Ma".
"Huh... aku maafin kamu mas, marah-marah sama kamu nggak bakal ada guna nya, aku hanya minta sekarang kamu makamkan jasad aku dengan baik" tangis mbak Rahma mulai mereda.
"Iya Ma, iya, aku janji. Siang ini juga aku akan makamkan jasad kamu, maaf Ma" pak Agus kembali memeluk mbak Rahma, mbak Rahma kini membalasnya dengan senyum lega.
"Amel kan sudah bekerja, tengkorak palsu miliknya pasti sudah tidak lagi ia butuhkan. Kamu coba tanya pada nya apa boleh tengkorak tersebut dibeli oleh mas untuk menjadi ganti tengkorak itu" pak Agus mengangguk. Pertemuan berakhir, kini pak Agus mengajakku untuk ikut dengannya ke rumah.
Waktu perjalanan yang ditempuh sekitar setengah jam. Aku sibuk bercengkrama dengan mbak Rahma walaupun sempat bertengkar kecil karena masalah meja di ruang IPA tadi.
Sesampainya dirumah, pak Agus langsung menghampiri anaknya dan membahas semuanya.
"Ibu.. ibu ada disini pak? Dimana pak? Aku pengin ketemu" ucap anak pak Agus.
"Iya nak, ibu ada disini. Ini namanya Risa, murid didik bapak disekolah, ia yang bisa mempertemukan kamu dengan ibu" sahut pak Agus sambil memperkenalkanku.
"Hai! Namaku Amel, aku ingin bertemu dengan ibu, apa bisa?" aku mengangguk lalu memegang tangannya. Ia seketika menangis lalu memeluk ibunya. Ia meminta maaf atas kesalahannya selama ini dari ia dilahirkan sampai ia bisa bekerja, ia juga minta maaf belum bisa membahagiakan wanita yang sudah melahirkan dirinya dengan bertaruh nyawa.
"Nggak papa nak, nggak papa. Ibu denger kamu kerja di kantor aja udah seneng. Kamu do'a in ibu yah, biar ibu tenang. Walau ibu nggak ada disisi kamu, tapi ibu ada di hati kamu" mbak Rahma menunjuk dimana letak hati manusia. Kak Amel tersenyum, ia kembali memeluk ibunya dan berjanji akan selalu mendo'akan dirinya.
"Kamu ikut bapak makamin jasad ibu ya?" kak Amel mengangguk. Ia memasuki rumah dan keluar sudah dengan memegang plastik panjang besar yang berisi tengkorak palsu. Kami berempat memasuki mobil yang langsung dipacu menuju sekolah. Sesampainya disekolah, pak Agus segera berlari menuju ruang kepala sekolah, pak Ridwan dan menjelaskan semuanya.
"Astaga Agus!!".
"Maafin saya pak, saya terima kalau bapak mecat saya. Saya akan bertanggung jawab" ucap pak Agus.
"Sudahlah Agus, saya tidak akan memecatmu asal kamu mau bertanggung jawab. Risa! Bisa saya bertemu dengan istrinya pak Agus?" aku mengangguk lemah. Tenagaku sudah hampir habis, apalagi aku belum makan siang. Aku menghampiri pak Ridwan dengan tubuh yang sudah sempoyongan.
"Ris! Ris! Kamu kenapa?" tanya semuanya panik.
"Hehe, biasa pak, kak, mbak. Kalau keseringan mempertemukan makhlus halus sama manusia jadi pusing, lelah, badannya juga sakit-sakit. Saya belum makan siang soalnya, tapi nggak papa kok, saya masih bisa melakukan pertemuan sekali lagi" aku segera memegang tangan pak Ridwan. Ia segera menghampiri mbak Rahma dan meminta maaf.
"Maafin saya mbak, saya telat tahu bahwa tengkorak yang disimpan di ruang IPA ternyata jasad nya mbak Rahma sampai buat mbak tidak tenang".
"Nggak papa, saya maafin".
Pertemuan berakhir. Pak Ridwan membawa tengkorak palsu milik kak Amel ke ruang IPA dan meletakkannya di dalam lemari kaca menggantikkan posisi tengkorak mbak Rahma.
Selesai itu, kami berlima memasuki mobil yang dipacu pak Agus menuju pemakaman yang dulu menjadi tempat dimakamkannya almarhumah mbak Rahma.
"Saya sudah tenang sekarang, terima kasih ya Ris atas bantuannya. Saya pergi dulu".
"Sama-sama mbak Rahma" sahutku sambil memandangi kepergiannya.
"Kamu tenang disana ya Ma.. aku dan Amel akan sering-sering kesini" ucap pak Agus disamping nisan almarhumah istrinya. Kak Amel juga mengusap nisan tersebut sambil tersenyum dibalik air matanya.
"Mari pulang" ajak pak Ridwan.
.
.
.
.
.
"Tengkorak milik Amel nggak usah bapak bayar, itu Amel kasih, Amel ikhlas" ucap kak Amel didepan gerbang sekolahku.
"Makasih, makasih ya nak" ucap pak Agus.
"Iya pak sama-sama, kalau begitu Amel pergi dulu, ada janji sama temen" kak Amel berpamitan pada aku dan pak Agus lalu memasuki mobilnya yang langsung melaju pergi. Pak Ridwan sudah berpamitan dengan Amel terlebih dahulu dan kembali ke ruangannya karena katanya ada beberapa hal yang harus diselesaikan.
"Terima kasih bantuannya ya Ris" aku mengangguk.
"Saya pulang dulu kalau begitu pak, permisi" aku pergi menuju halte bus. Menunggu bus sambil memainkan handpone.
Bersambung...
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.
Terima kasih.