INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Gelang couple (Season 1)



Aku mengerjap kemudian melakukan peregangan dan merenung untuk menyadarkan diri. Ini mobilnya kenapa tidak gerak ya?. Setelah nyawaku terkumpul, aku turun dari mobil untuk mencari di mana yang lain, kenapa aku di tinggalkan sendiri di mobil?. Bagaimana jika mobilnya melaju sendiri ke jalan raya dan tiba-tiba ada truk atau kendaraan lain yang menabrak mobil ini?.


"Hei!... kenapa aku di tinggalkan sendiri di mobil?!" tanyaku kesal pada teman-temanku yang sedang asik berbicara di depan sebuah toko dengan banner yang di pasang tinggi di depan toko tersebut. Banner itu bertuliskan 'Toko oleh-oleh dan cindera mata". Lah... ini lagi, tadi kan aku juga sudah berpesan pada Zara jika ada toko oleh-oleh apapun itu suruh bangunkan aku dari tidur.


"Tadi Reyyan, Adam, aku sama yang lain udah coba bangunin kamu. Tapi susah banget, kamunya nggak bangun-bangun. Ya udah deh akhirnya kita biarin kamu buat bangun sendiri. Kalau seandainya kamu nggak bangun, aku niatnya mau beliin oleh-oleh yang sama kaya aku daripada nggak di beliin" sahut Zara.


"Owh..."


Aku menghampiri Zara dan ikut bergabung untuk memilih makanan dan cindera mata yang niatnya ingin aku jadikan oleh-oleh untuk orang di rumah.


Setelah puas memilih makanan dan cindera mata yang menurutku cocok untuk oleh-oleh. Aku pergi ke kasir dan membayar total belanjaanku.


"Kalian belum selesai juga?" tanyaku saat melihat Ais dan Glen masih sibuk memilih makanan yang di sediakan.


"Sebentar lagi" sahut Glen tanpa mengalihkan pandangannya dari makanan serba coklat di hadapannya.


"Baiklah, aku tunggu kalian di depan ya?" Ais dan Glen mengangguk.


Aku berlalu pergi, berniat ingin duduk dengan Zara. Tapi langkahku terhenti saat dua pergelangan tanganku dipegang dari belakang. Aku menoleh ke belakang dan saat itu juga pegangan tadi lepas.


"Reyyan, Adam?" gumamku heran saat melihat mereka berdiri berdampingan layaknya pasangan menikah yang sedang menyalami tamunya.


"Gw mau kasih ini ke elo" ujar Reyyan kemudian menyodorkan sebuah kalung perak dengan bandul bulan sabit berwarna senada dengan kalung tersebut.


Aku menerima kalung tersebut dengan hati yang amat senang. Bagaimana tidak? Kalung ini... kalung ini indah sekali menurutku dan kalung ini adalah benda yang di berikan oleh sahabatku sendiri.


"Dalam rangka apa ini?" tanyaku sambil mengamati kalung pemberian Reyyan.


"Nggak dalam rangka apa-apa, cuma pengen aja kasih lo sesuatu. Pakai yah supaya lo inget terus sama gw, kalo gitu gw pergi dulu. Mau pilih makanan".


"Makasih ya Rey, aku seneng banget sama pemberian kamu!" pekikku lumayan kencang saat Reyyan mulai berjalan menjauh dariku. Rey hanya mengacungkan ibu jarinya tanpa balik posisi dan menatapku.


"Kamu..."


"Ini... gelang yang gw pesan sendiri buat orang yang spesial. Dengan adanya dan di pakainya gelang ini, gw berharap. Kalau lo bisa terus semangat kalau nggak ada kata semangat dari gw, dan terus inget sama gw kalau seandainya gw jauh dari lo" Adam memberikan sebuah kotak kecil berwarna merah. Saat dibuka ternyata didalamnya berisi sebuah gelang tali berwarna hitam dengan sebuah lonceng kecil yang persis dengan punya doraemon namun hanya setengah dan satu lingkaran di sisi lain. Waw!!.... gelang yang simple namun indah.


"Kenapa loncengnya hanya setengah?" tanyaku heran sambil terus mengagumi keindahannya. Dia indah dalam simplenya dia dibuat.


"Karena setengahnya lagi ada di gw" sahut Adam sambil menunjukkan pergelangan tangan kirinya yang juga memakai gelang sama seperti yang di kotak merah ini.


"Couple?" Adam mengangguk. Kupu-kupu didalam hatiku lagi-lagi berterbangan kemana-mana.


"Hanya kita berdua?" tanyaku memastikan.


"Tentunya".


"Gw pakaikan ya?" tawar Adam yang langsung saja aku anggukan. Aku menyerahkan kotak tersebut pada Adam yang langsung menerimanya dan mengambil gelang didalam kotak merah tersebut lalu memasangkannya dipergelangan kiriku.


"Terima kasih. Aku sangat senang" ujarku tulus. Rasa senang dan bahagia langsung menjalar begitu saja ke seluruh tubuh ini.


"Sama-sama, pakai terus ya. Dan jaga dia, jangan sampai hilang" aku mengangguk lalu memeluknya.


Ehh... apa... memeluk? Aku terkesiap dan dengan cepat langsung melepas pelukanku. Ini spontan, ya spontan! Mana mungkin aku dengan sengaja melakukannya. Aku begitu senang dengan gelang yang diberikan olehnya sampai kebablasan.


Suasana menjadi canggung karena ulah bod*hku ini.


"Aku... aku pergi dulu" ujarku cepat. Saat aku berbalik dan akan melangkah pergi, tiba-tiba tanganku ditahan oleh Adam. Adam menarik tanganku dan membawa tubuh ini ke dalam pelukannya.


"Sebentar saja... sebentar saja seperti ini. Pelukan lo hangat, sama seperti pelukan ibu gw. Gw merindukannya dan sekarang gw merasakannya, sebentar saja..." isak tangis terdengar di telingaku. Adam menangis?. Aku mengangkat tanganku perlahan berniat untuk membalas pelukannya.


Beberapa menit berlalu. Adam melepaskan pelukannya begitupun aku.


"Lebih baik?" Adam mengangguk.


"Makasih" aku mengangguk.


"Yahhh.... baju aku basah nih kena ingus sama air mata kamu, hahaha" tawaku. Apa ini akan membuatnya tersenyum.


Deg...


'Bibir ku terbungkam


Melihat senyummu'.


Jika kalian tahu potongan lirik diatas. Maka itu yang aku rasakan. Jarang sekali aku melihat senyum manis Adam. Fenomena langka!!.


"Da-Dam ja-jangan se-senyum gi-gi-gitu do-dong" ucapku gagap. Bahkan sesuatu yang terasa kental dan lengket kini sudah mengalir dari hidungku. Hidungku... aku mimisan saat melihat senyum manis Adam, wuaaaa!!!.


Adam merubah ekspresinya. Dia menatapku khawatir saat melihatku mimisan. Dia segera mencekal dua bahuku dan membawaku duduk. Ia juga mengambil tisu lalu mengelap mimisanku secara perlahan.


Wuaaaa..... jangan lagi. Ini bahkan lebih seram daripada melihat mbak kun di toilet sekolah kemarin!!. Kenapa? Karena mimisanku akan bertambah parah jika ditatap dalam oleh Adam seperti ini. Dia mengelap mimisanku sambil menatapku lama.


"Gw ambil tisu lagi" Adam pergi kemudian kembali lagi dengan tisu ditangannya.


"Kenapa lo bisa mimisan?" tanyanya sambil menyerahkan lembar demi lembar tisu sesuai perintahku.


"Ka-karena kamu".


"Kenapa gw?".


"Ta-tadi kamu se-senyumnya manis banget" ucapku malu.


"Kalau gw senyum gitu lagi gimana?".


"Ja-jangan nanti yang ada aku keringat dingin terus pingsan" Adam tertawa.


"Ada-ada aja lo Ris"


"Gw pergi dulu ya. Oh... gelang itu, jangan dilepas ya. Kalau lo lepas, berarti lo udah nggak sayang lagi sama gw" Adam kemudian pergi entah kemana. Aku menatap gelang indah yang kini sudah melekat di pergelangan tangan kiriku.


"Aku pasti akan selalu memakainya dan juga menjaganya agar tetap bersinar" gumamku. Hingga sebuah sentakan mengejutkanku dari lamunan indah ini.


"Ris! Ayo masuk mobil. Udah mau berangkat ini" ucap Glen.


"Ok" aku membereskan barang belanjaanku dan juga bekas tisu untuk mengelap mimisan tadi dan membuangnya ke tempat sampah setelah mencucinya dengan air mengalir sedangkan tisu yang masih bersih aku bawa pulang.


"Gelang dari siapa tuh Ris?" tanya Ais yang kini sudah berpindah tempat dan duduk disampingku. Adam juga dengan nyamannya duduk di sebelah kananku. Tunggu.... sebelah kanan? Apa dia selalu duduk di sebelah kananku? Jika begitu.... berarti tadi aku bersender pada Adam. Oh my god!!.


"Ge-gelang?" sahutku gagap. Bagaimana jika aku menjabawa gelang ini dari Adam. Bagaimana reaksi mereka.


"Iya gelang, gelang di pergelangan tangan kiri lo. Bagus juga gelangnya, tapi.... kok loncengnya cuma setengah?" kamu heran ya Ais? Sama, aku juga, tapi tadi sebelum tahu bahwa setengahnya lagi ada di pergelangan tangan kirinya Adam. Aduhh!! Makin bingung aja nih mau jawab gimana. Kalau aku bilang secara langsung 'gelang ini couple sama Adam, setengah loncengnya ada di gelang Adam'. Pasti bakal di ledek habis-habisan aku sama mereka bertiga apalagi Glen, jika Zara... dia pasti lebih suka berbicara empat mata dan senyum penuh arti padaku.


"Ris kok kamu diem sih? Aku kan tanya" aku terkesiap.


Tiba-tiba sebuah tangan terulur dan diam di samping tanganku yang mengenakan gelang. Tangan tersebut menyatukan lonceng setengahnya dengan lonceng di gelang milikku.


"Hah?" Aia tertegun tak percaya membuat Glen menoleh ke belakang.


"Ada apa? Ada apa?" heboh Glen.


"Co-couple?" gagap Ais sambil menunjuk dua gelang yang loncengnya bersatu.


Aku menoleh ke Adam yang mengangguk tanpa berucap menjawab pertanyaan Ais.


"Serius lo Ris, couple sama tembok kulkas macam dia?" tegas Glen sedangkan aku hanya meringis bingung akan menjawab apa.


"Serius, memangnya kenapa?" balas Adam dengan tatapan dinginnya.


"Ya.... aneh aja gitu. Tingkah lo lama-lama aneh banget sumpah Dam sama Risa, lo kayak lebih perhatian aja sama dia, tingkah lo juga kayak lebih hangat dan sweet" heran Glen.


"Gw.... gw... cuma nggak mau kalau Risa lo jadiin penggantinya Gisa. Maksud gw, gw nggak mau kalau sayang lo sama Risa itu karena ngeliat Risa sebagai Gisa" aku tertegun. Kenapa dia bisa berfikiran seperti itu? Tapi... itu ada benarnya juga, lah... bagaimana jika memang benar? Secara kan Adam dulunya sahabatan dengan Gisa, Gisa sudah tiada. Sedangkan Gisa adikku, berarti kan ada kemiripan antara aku dan Gisa. Wahhh... parah sih ini. Mulai saat ini, aku harus hati-hati dengan tingkah Adam padaku. Aku yakin sekali bahwa Adam memang melihatku sebagai Gisa dan juga Risa.


"Maksud lo apa ngomong gitu?" tegas Adam.


"Katanya lo dulu sahabatan sama Gisa, adiknya Risa. Mereka itu kakak adik, sedangkan sekarang. Gisa udah meninggal. Berarti ada kemungkinan kalo lo! Liat Risa sebagai Gisa. Lo sayang sama Risa karena lo juga masih sayang sama Gisa, lo berharap kalo lo ngelakuin sesuatu yang hangat dan manis pada Risa, lo bakal ngerasain adanya Gisa di diri Risa. Intinya, sayang lo sama Risa itu untuk memunculkan Gisa di dalam diri Risa" terang Glen. Lagi-lagi aku tertegun, bahkan Ais, Zara dan juga Adam sama tertegunnya.


"Gw sayang sama Risa itu wajar, karena kita sahabat. Gw ngalkuin hal-hal yang hangat dan manis itu bukan untuk memunculkan Gisa di diri Risa. Besarnya gw sayang sama Risa, itu sama besarnya gw sayang sama Gisa dan juga Anel. Sama juga kaya lo, Zara, dan Ais. Gw sayang kalian semua, dan besarnya sayang gw itu sama".


"Gak mungkin!" bantah Glen.


"Apanya yang nggak mungkin?".


"Lo. Sayang. Sama. Risa. Nggak. Tulus" ucap Glen dengan menjeda setiap katanya.


"Terserah lo lah".


Ya tuhan!! Rasanya aku ingin menangis dan berteriak sekarang juga.


"Hikss..."


Aku tak dapat menahannya. Alasan aku menangis pun aku tidak tahu. Aku bingung sekarang.


"Ris, lo kenapa?" tanya Adam khawatir sambil memegang bahuku.


"Jangan.... jangan sentuh aku. Zara! Berhenti dulu, aku mau duduk di depan. Glen, kamu mau pindah kan?" Glen mengangguk, Zara pun menghentikan laju kendaraannya. Setelah kendaraan berhenti, dengan isak tangis yang masih keluar. Aku bertukar tempat dengan Glen.


Zara kembali melajukan mobilnya. Kami semua saling terdiam. Di kursi tengah, sepertinya Ais yang duduk di bagian tengah untuk memberi jarak antara Adam dan Glen sedangkan dirinya asik mendengarkan musik dengan headseat ku.


Bersambung...


Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka🤗.