INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Kiriman (Season 1)



Happy Reading…!!!


Tujuh menit berkendara akhirnya aku sampai juga di depan sebuah rumah minimalis satu lantai dengan pagar hitam bergambar singa. Aku lalu turun untuk membuka pagar tersebut dan menuntun motorku untuk masuk kedalam halaman. Setelah motor masuk aku menutup pagar dan menguncinya lalu pergi masuk kedalam rumah.


"Wahhhhh dah rame aja nih." aku melihat Glen, Aisyah, Azahra, Reyyan, Wisnu, Reza, dan juga Adam di ruang kumpul. Di rumah minimalis ini hanya tersedia empat kamar yang satu biliknya dapat menampung dua orang. Dua kamar mandi, ruang main game, dan ruang kumpul. Halaman depan dan belakang kebanyakan ditanami bunga dan pohon hias, seperti bunga anggrek, mawar, melati, bugenvil, sedap malam, lily, dan kamboja, serta beberapa palem, lidah mertua, dan agave untuk di teras depan dan belakang.


"Ada apa nih? Tumben banget si unyu Risa ikut-ikutan?" tanyaku sembari menusuk kedua pipiku dengan jari telunjuk kedua tanganku.


"Kita dapet kiriman." sahut Glen. Aku seketika terkejut ketika melihat kondisi wajahnya yang seperti mayat kedinginan. Tapi sepertinya dia lebih keketakutan daripada kedinginan.


"Kiriman macam apa?" tanyaku sambil menilik wajah mereka satu persatu.


"Nih." Reza menyodorkan sebuah kotak kehadapanku. Aku lalu membukanya dan terkejut bukan main ketika melihatnya. Apa-apaan ini?.


"Siapa yang ngirimin kita beginian?" tanyaku. Didalam kotak tersebut aku melihat sebuah boneka yang sangat mirip seperti manusia atau bisa disebut manekin kecil dengan cairan berwarna merah dimana-mana, pipinya tersayat, kedua matanya bahkan sudah tidak ada ditempatnya, membuat cairan merah tersebut langsung mengucur dari sana. Kaki kanannya tertekuk kearah berlawanan, perut manekin kecil tersebut juga sudah terbelah dan dapat kulihat didalamnya ada banyak cacing-cacing kecil yang menyapa ketika aku melihatnya.


Aku lalu menilik lebih dalam dan mengubah posisi manekin kecil tersebut, hingga akhirnya aku menemukan secarik kertas dibalik manekin kecil dengan cairan merah kental dibeberapa bagian kertasnya. Aku mencium cairan dikertas yang kuambil tadi. Seketika aku mengernyit sangat dan memundurkan kertas tersebut dari hidungku ketika cairan merah dan kental tersebut bukanlah tares merah seperti perkiraanku melainkan....


"Dari baunya, ini darah manusia." mereka semua tertegun tak percaya ketika mendengar ucapanku.


"Darah manusia?" tegas Zara menatapku yang langsung menganggukan kepala.


"Bagaimana bisa?" tanya Ais. Aku mengendikkan bahu karna memang belum tahu apa maksudnya ini.


"Apa ini sebagai tanda buat kita?" terka Reyyan. Aku mengangguk setuju.


"Bisa jadi... Kalian ingat nggak waktu dua tahun yang lalu. Saat kita juga dapet kiriman kaya gini dari ojek online?" tanyaku memutar kembali memori tiga tahun yang lalu, mereka semua melirikkan bola matanya keatas berusaha mengingat kejadian dua tahun yang lalu dan ketika mereka sudah ingat mereka kembali menatapku dan mengangguk setuju.


"Inget?" tegasku dan mereka kembali mengangguk.


"Saat itu kita juga dapet kiriman kaya gini yang membedakkanya cuma bentuk manekinnya aja yang dulu itu besar sedangkan yang sekarang kecil dan beberapa hari kemudian kita dapet kabar kalo Nindi tewas. Dan kalian inget juga kan bagaimana caranya dia tewas?" mereka kembali mengangguk "Cara Nindi tewas benar-benar persis kaya boneka manekin yang dikirim dulu." lanjutku.


"Jika ini memang tanda buat kita sama kayak kejadian dua tahun lalu, ada dua kemungkinan. Kemungkinan yang pertama adalah salah satu dari kita yang mengalami nasib sama seperti boneka manekin tersebut atau malah salah satu teman kita yang mengalaminya." ujar Adam. Aku kembali mengangguk setuju. ucapannya memang ada benarnya. Tiba-tiba terbesit nama Ayu didalam otakku.


"Ayu!"


"Kenapa dengan Ayu?" tanya Reza.


"Aku kemarin denger cerita dari Ayu, kalo dia denger suara teriakan seperti orang kesakitan di ruang bawah tanah. Dan disaat ia pergi keruang bawah tanah ia melihat banyak penampakkan menyeramkan disana, mereka seolah-olah berusaha untuk keluar dari sana tapi tak bisa. Ia mendengar suara tersebut sudah lebih dari dua minggu lamanya." terangku membuat mereka semua terperangah.


"Berapa banyak penampakkan yang dilihat Ayu?" tanya Wisnu.


"Ngomong juga lo bro." Reza menepuk bahu Wisnu membuat Wisnu menatap tajam namun datar kearah Reza yang tentu saja langsung membuat Reza mengalihkan pandangannya.


"Tak terhitung katanya." sahutku.


"Secara logika itu gak mungkin, ada begitu banyak orang dilantai bawah tanah dengan jangka waktu selama itu. Dari situ, bisa di ambil kesimpulan bahwa mereka adalah arwah yang terkunci didalam sana, mereka tidak bisa keluar karena dibelenggu oleh seseorang atau mereka sudah terikat disana." tambah Wisnu.


"Kok lo keliatan kayak yakin gitu?" tanya Rey.


"Berdasarkan pengalaman."


"Bisa jadi."


"Tapi sebaiknya kita selidiki dulu masalah ini, jangan main menerka seperti itu. Walaupun ada banyak kemungkinan bahwa mereka adalah tumbal." sahut Adam membuat kita semua mengangguk setuju.


"Terus langkah selanjutnya apa?" tanyaku.


"Mengintai" sahut Adam.


"Mengintai apa?" tanyaku, membuatnya menatap jengah kearahku.


"Mengintai kondisi terkini tentang Ayu." geram Adam sedangkan aku hanya cengengesan melihatnya seperti itu. Dia makin ganteng kalau lagi marah, jadi suka.


"Caranya?" tanya Glen, Adam lalu menilik kearah Glen dan melihat Azahra sedang menatap kosong kedepan. Akupun mengikuti arah gerakan mata Adam dan langsung berusaha menyadarkan Azahra.


"Ra! Sadar Ra!"aku menggoyangkan tubuh Azahra yang mulai bertingkah laku aneh.


"Khihihihihihi."


Ini yang aku takutkan ketika Azahra sudah memandang kosong. Dia itu gampang sekali ketempelan.


"Mbak? Mas?" sapaku sembari memegang pundaknya dan saat itu juga kepalaku terasa begitu pusing.


"Ayu." ucapnya dengan suara lembut dan rendah.


"Ayu? Ayu siapa?" tanyaku. Ia pun menoleh kearahku.


"Temanmu."


"Ada apa dengan Ayu?"


"Bahaya.. Ayu.. Bahaya.. Mati.. Tumbal.. Bunda.. Sakit.. Khihihihi.. Kasian." ia menaik turunkan suaranya lalu tertawa dan melembutkan suaranya sembari menatapku. Aku langsung ngeri ketika ditatapnya begitu.


Aku hanya terdiam sembari berusaha mencerna apa yang dikatakannya tadi, saat aku akan bertanya lagi tiba-tiba tubuh Azahra lemas dan ia jatuh pingsan saat itu juga. Untungnya Reyyan dengan sigap menahan kepala Azahra hingga tidak mengenai lantai.


"Rey tolong kamu bawa Zara ke kamar dulu, ya." pintaku dan ia hanya mengangguk sambil berusaha mencari posisi tepat untuk menggendong Zara. Setelah itu ia lalu membawa Zara ke kamar.


"Apa, ya maksud dari ucapan sosok tadi?" tanya Reza. Aku hanya terdiam, begitupun yang lain. Tak ada yang menjawab karna kita pun sama bingungnya.


Krukkkkk...


Perutku berbunyi memecah keheningan, semua yang sama-sama seruangan denganku menatapku bersamaan.


"Laper, Za beli makanan sana." titahku, Reza menengadahkan tangannya meminta uang kepadaku. Aku lalu memberikan selembar uang seratus ribuan kepadanya dan memintanya untuk membelikan tujuh bungkus bubur ayam spesial. Reza lalu pergi untuk membeli nasi goreng.


Sekitar dua puluh menit lamanya akhirnya Reza kembali dengan membawakan pesananku. Kamipun menikmati bubur ayam spesial tersebut.


Bersambung...