INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Boneka dari Adam (Season 1)



Sampai dirumah, adzan maghrib berkumandang. Teman-teman aku suruh untuk mampir sebentar sampai adzan maghrib selesai.


"Cuma sampai adzan maghrib selesai doang nih?" tanya Glen dengan memanjangkan kata 'nih'.


"Ya terserah, mau nginep juga boleh. Tapi kalau yang laki-laki sebaiknya pulang sebelum pukul delapan" sahutku mempercepat ucapan saat Reza sudah membuka mulut. Ais yang melihat Reza masih membuka mulut segera menyuapkan roti bolu dalam potongan besar.


"Kapan-kapan aja deh nginepnya" ujar Zara dianggukan yang lain, aku pun mengangguk.


Seleai adzan maghrib, tepatnya pada pukul setengah tujuh. Glen dan yang lain pamit pulang, mereka akan menjemputku nanti pukul delapan. Aku membereskan makanan ringan sebagai hidangan yang tadi aku sajikan untuk menemani cakap-cakap sekilas dan membawanya masuk kerumah. Aku berpesan pada nenek, jika teman-teman datang tolong dibangunkan.


.


.


.


.


.


.


Aku pergi berganti baju tanpa mandi. Cardigan rajut lengan panjang dan celana kulot putih panjang serta tas dan bandana dari Adam menjadi outfitku malam ini.


Aku keluar bersamaan dengan datangnya kak Ang. Ia bertanya akan kemana aku.


"Pasar malem".


"Owh... ya udah sana, pulang nya jangan malam-malam" aku mengangguk dan masuk ke mobil.


.


.


.


.


.


Dipasar malam kali ini, aku merasa sangat senang karena bersama sahabat dan juga mbak Sekar. Berbagai jenis permainan mulai dari bianglala, kora-kora, galeon, komedi putar, kereta api mini dan lain-lain ada disini. Berbagai jenis mainan anak-anak, makanan dan sovenir juga turut meramaikan pasar malam.


Setelah membeli tiket, aku langsung menuju pada wahana komedi putar. Komedi putar adalah wahana yang diputar menggunakan mesin dengan musik yang mengiringi. Tempat duduk nya pun dibuat menyerupai hewan.


Aku bersorak senang bisa menaiki wahana ini lagi. Aku jadi terpikir Gisa. Katanya sebelum Gisa hilang aku dan dia sedang berada dipasar malam.


Setelah puas menaiki komedi putar, aku turun dengan kepala yang terasa lumayan pusing.


"Pusing banget?" tanya Adam yang menyanggah aku supaya tidak terjatuh.


"Enggak".


"Main Galeon yuk" ajakku pada Adam. Tanpa menunggu jawabannya, aku menarik tangannya menuju tempat dimana wahana Galeon berdiri. Wahana ini mirip dengan buaian atau ayunan, namun bentuknya seperti kapal bajak laut yang diberi lampu hias. Aku menarik Adam untuk masuk karena wahana akan segera dimainkan.


"Coba aku" Adam merampas bola yang hendak aku lemparkan untuk yang keempat kalinya. Ia mencoba melemparkan bola tersebut. Dan hasilnya.... berhasil.


"Ini hadiahnya" ucap wanita penjaga permainan sambil memberikan sebuah boneka.



"Makasih" ucap Adam pada wanita penjaga permainan lalu menyerahkan boneka tersebut padakku.


"Buat kamu" ucapnya. Aku menerimanya dengan senang.


"Makasih. Naik biang lala yuk" aku segera menarik tangan Adam menuju pintu masuk wahana biang lala. Wahana yang paling aku sukai.


Dari atas sana aku bisa melihat pemandangan pasar malam dan sekitarnya serta juga riuh suara orang-orang. Saat sudah berada dipintu masuk, Adam menghentikkan langkahnya membuatku jadi ikut berhenti.


"Kenapa?".


"Aku takut" sahut Adam sambil memperhatikan biang lala yang berukuran sangat besar itu.


"Nggak usah takut, ada aku" aku menarik tangannya lagi. Setelah mendapat bangku, aku dan Adam duduk berdampingan, menikmati hembusan angin malam dan kelap-kelip lampu yang menerangi pasar malam ini. Tiba-tiba saja biang lala berhenti bergerak. Adam langsung panik. Ekspresi datar dan dinginnya sudah tak lagi ada, digantikan dengan paniknya dia saat biang lala belum kunjung bergerak.


"Gimana ni Ris?".


"Enggak papa kok, ini emang biasa begini, bentar lagi baik" sesuai ucapanku, beberapa menit setelah berhenti, biang lala sedikit tergoyang dan bergerak lagi. Panik di wajah Adam lantas hilang digantikan senyum yang merekah.


"Tau aja kamu".


"Udah sering aku naik beginian dan udah sering juga ngalamin hal tadi. Pertama kali ngerasain si takut, panik banget sama kaya kamu tadi. Kata ibu, pasar alam dipusat kota emang suka begitu, sekarang udah biasa" ceritaku sedikit sambil menikmati angin yang menerpa lembut wajahku.


Setelah puas menaiki biang lala. Aku menghampiri teman-teman dan mengajaknya masuk kerumah hantu.


"Takut lah" rengek Lala.


"Takut kenapa? Lo kan nggak bisa lihat hantu?" tanya Glen.


"Iya si, tapi kan nanti didalam juga ada hantunya walaupun bohongan".


"Cemen amat si lo".


"Bukan cemen, cuma takut aja. Dulu pernah ke rumah hantu, gw ketemu tuyul yang kelopak matanya merah" ucap Lala.


"Kalau lo takut, ya udah nggak usah ikut" geram Glen.


"Tapi aku pengin ikut".


"Ya udah ayo" Glen memiting kepala Lala dan membawa Lala menuju rumah hantu.


Bersambung...


Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.


Terima kasih.