INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Tengkorak diruang IPA (Season 1)



Author mau ngepantun sebentar nih. Bikinan sendiri lhoh, wkwk.


Ada tukang cilok bunyinya tot tot tot


Si Neneng cuma jawab o


jangan lupa Vote


Ini hari senin lhoo


Bagus nggak? Bagus nggak? Jangan lupa vote nya yah...


Selamat membaca...


.


.


.


.


.


Pagi ini berjalan seperti biasanya, mandi dan sarapan. Hanya saja, aku merasa lebih semangat setelah memakai bandana pemberian Adam malam kemarin.


"Gimana dinner nya kemarin Ris?" tanya nenek tanpa memandangku. Ia sibuk mengolesi roti tawar miliknya.


"Ya... gitu aja nek, hanya... Adam lebih hangat daripada saat didepan kawan-kawan" sahutku sambil mengingat kembali dinner kemarin malam.


"Tiw... tiw... jangan-jangan..." kak Ang sengaja tidak melanjutkan ucapannya untuk meledekku. Aku sudah dapat menebak apa yang akan diucapkan olehnya.


"Enggak kak, untuk saat ini Risa masih fokus sama pendidikan" senyum jahil kak Ang lantas sirna tergantikan oleh datarnya tembok. Aku tertawa didalam hati melihat ekspresinya. Rasakan lah pembalasanku.


"Bagus itu, walaupun nenek, ayah, ibu dan kak Ang tidak melarang kamu berpacaran. Tapi sebaiknya fokuskan dulu pendidikan, supaya bisa buat keluarga bahagia dan mengharumkan nama sekolah kamu, baru berpacaran. Jika jodoh, enggak kemana" nasihat nenek.


"Iya nek" sahutku dengan senyum manis.


"Senyum lo pahit, gak usah senyum gitu" sarkas kak Ang.


"Suka-suka lah, udah ya nek, kak, Risa berangkat dulu. Assalamualaikum" aku menyalami tangan mereka berdua dan pergi keluar rumah.


"Itu bandana baru ya Ris?" tanya nenek sambil menunjuk bandana yang melekat dikepalaku.


"Iya nek, dari Adam" aku segera berlalu meninggalkan nenek sebelum ia menggodaku atau mencecar pertanyaan yang lain.


"Mau kakak anterin?" tanya kak Ang.


"Boleh deh" aku mendahului dirinya dan masuk ke mobil.


Sesampainya disekolah, aku turun setelah berpamitan pada kakakku itu. Aku masuk ke kelas bersamaan dengan Glen dan Ais yang entah datang dari mana.


"Hari ini nggak ada tugas kan?" tanya Glen.


"Enggak" sahutku dan Ais kompak.


"Ciee... kompor".


"Kompak! Bukan kompor" sentakku dan Ais bersama.


"Ciee... kompor lagi".


"Emang susah ngomong sama otak miring, ke kelas aja yuk Ris buruan" Ais menarik tanganku sedangkan di belakang sana, Glen menggerutu tidak jelas sambil berjalan menghentak-hentakkan kakinya megikuti kami.


"Bentar lagi ulangan kenaikan kelas ya?" ucap Ais sesampainya kita dikelas dan duduk dibangku masing-masing.


"Iya nih, gak kerasa udah mau kelas sebelas aja" sahutku.


"Heh! Lo itu kurang ajar banget ya Ai, ninggalin gw sendiri. Lo juga Ris, kok mau si ditarik sama barbie kw ini? Heran dah gw" ucap Glen mulai marah-marah sambil menunjuki Ais.


"Maksud kamu yang barbie kw ituaku?" tanya Ais sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Iya lah! Siapa lagi! Masa gw! Ya nggak mungkin lah!" sahut Glen ngegas.


"Santai aja Glen.. nggak usah marah-marah, kamu mau kita reka adegan dengan aku yang tarik tangan kamu terus Ais menggerutu sambil jalan menghentak-hentakkan kakinya" tawarku sambil memainkan alis dengan mengangkat turunkan berkali-kali.


"Enggak perlu!" sahut Glen ngegas lagi lalu pergi duduk.


"Ris, emang aku mirip barbie ya?" tanya Ais yang membuat mengernyit tak paham.


"Maksudnya?".


"Ya barbie, tadi kan Glen bilang kalo aku itu barbie kw, kalau kw kan enggak sama kaya yang asli tapi memiliki kemiripan. Emangnya aku mirip barbie?".


"Enggak" sahutku tegas sambil menggeleng dua kali.


"Tuh Glen! Aku tuh enggak mirip barbie, jadi jangan sembarangan ngomong ya!" bentak Ais.


"Bodo amat!" sarkas Glen.


Tak lama, Zara, Adam, Wisnu, Rey dan Reza datang berurutan dan menyapa kami semua khususnya aku, Ais, dan Glen.


"Kenapa sama mereka?" tanya Zara.


"Biasalah" aku menceritakkan kejadian tadi.


"Dasar bocah! Gitu aja diributin" gumam Zara yang sepertinya terdengar oleh telinga Ais dan Glen.


"Apa lo bilang?!".


Ucap Ais dan Glen bersamaan dengan logatnya masing-masing serta mata yang dibuat setajam silet. Zara menunduk lalu mendongak dengan senyum miring dan mata yang memang asli tajam, setajam lidah jika sudah berbicara. Menatap Ais dan Glen yang langsung terkesiap dan berbicara untuk mencairkan suasana.


"Hahahaha!" tawaku menggelegar.


"Ada apa? Kaya lucu banget" tanya Adam disampingku. Saat aku menoleh, aku melihatnya sedang menyanggah dagu dengan tangan kanan dan tersenyum padaku. Jarak pandang antara aku dan Adam kini tidak lebih dari sejengkal tangan.


Deg...


Deg...


Deg...


Sejak kapan aku mendengar lagu "Suka Suka Kamu". Moment ini terulang lagi. Nafasku tercekat, hembusan nafasnya yang teratur dapat aku rasakan. Waktu seolah berhenti disekeliling kami berdua. Tatapan mata tajamnya yang biasanya membuat orang tak berani menatapnya malah seolah menjadi candu tersendiri untukku, untuk aku terus menatapnya dan mengubah tatapan mata tersebut menjadi lebih hangat pada siapapun. Walaupun aku tak tahu, aku bisa atau tidak.


Saat aku tersadar, aku langsung beranjak berdiri dan menatap kaget Adam, ia masih setia dalam posisinya.


"Cieee... cieee" seru anak kelas. Pipiku langsung merona mendengar ucapan mereka. Entahlah, hanya sekedar ucapan cie.. cie.. saja pipiku sudah memerah tak karuan, jantungku juga terpacu lebih cepat seolah baru selesai maraton atau bertemu dengan hantu yang menyeramkan.


"La!" seru Adam saat melihat Lala di ambang pintu.


"Oy! Kenapa?" tanya nya menghampiri Adam.


"Gw duduk sini ya, samping Risa" Lala mengangguk lalu pindah duduk ke tempat duduk Adam. Adam mengambil tasnya dan duduk disampingku. Bu Eri masuk ke kelas dan menegur Adam.


"Kenapa kamu duduk disitu?".


"Saya kurang jelas melihat penjelasan di papan tulis, apa bu guru lupa bahwa pelajaran bahasa inggris saya selalu mendapatkan nilai diatas delapan puluh. Saya hanya ingin memperbaiki nilai saya saja bu" sahut Adam santai, bahkan terkesan datar.


"Owh... betul betul, eh...?".


"Maksud saya dibawah delapan puluh".


"Baiklah, kamu memang benar, kamu sudah pindah dan dapat dengan jelas melihat pelajaran saya. Nanti akan ada ulangan harian bahasa inggris, siapkan buku khusus dan pulpen. Adam! Jika nanti nilaimu masih <80, bu guru hukum" Adam mengangguk. Bu Eri mulai menuliskan soal dan dengan cepat Adam salin.


Setengah jam kemudian..


"Sudah selesai mencatat semuanya?" tanya Bu Eri.


"Sudah bu".


"Waktunya satu jam tiga puluh menit, soal dua puluh lima. Soal tentang pelajaran yang kemarin dibahas, jangan berisik. Kerjakan sekarang" kami semua mulai mengerjakan hingga batas waktu yang ditentukan.


"Yang sudah selesai, angkat tangan, kumpulkan dan istirahat" ucap Bu Eri.


Selesai aku mengerjakan, aku angkat tangan dan mengumpulkan ulangan harian tersebut lalu pergi keluar untuk istirahat. Aku pergi jalan-jalan mengelilingi sekolah dan keluar masuk ruangan untuk melihat isi-isi nya.


Diruang IPA aku melihat tengkorak manusia yang ditaruh dilemari kaca. Aku menghampirinya dan memandangnya penuh seksama, saat aku geser posisi, aku melihat sekilas seorang wanita yang memakai drees merah terang dan bandana senada sedang berdiri disamping tengkorak yang tadi aku liat.


Aku terkesiap saat sadar dengan penampakan yang aku lihat, saat aku menengok lagi untuk memastikan. Wanita tadi sudah tidak ada ditempatnya.


"Mungkin perasaanku aja kali ya" gumamku. Aku memutuskan untuk keluar ruangan dan pergi ke kantin, saat aku sudah didekat pintu aku menoleh lagi ke lemari kaca tadi. Wanita tadi ada lagi, penampakannya sama persis dengan yang sekilas aku lihat tadi. Aku menggeleng berkali-kali untuk memastikan. Selesai menggeleng, aku menatap lemari itu lagi. Dia hilang lagi. Aku menghela nafas berat lalu berbalik.


Aku terkejut melihat wanita yang tadi ada dilemari kini sudah berdiri didepanku.


"Mbak?" sapaku mencoba untuk tak takut.


"Tolong... bantu saya" aku menghelas nafas lagi.


"Mbak namanya siapa?".


"Rahma".


"Bantuin apa mbak Rahma?".


"Makamkan jasad saya dengan layak, saya tidak ingin jasad saya menjadi tontonan".


"Tontonan gimana maksudnya mbak? Terus jasad mbak ada dimana?" tanyaku mengernyit.


"Tengkorak itu, tengkorak itu jasad saya. Tolong... makamkan saya".


"Lah kok bisa jasad mbak Rahma ada disini?".


"Bisa, karena dibawa oleh guru IPA kamu".


"Astaga!".


"Guru IPA kamu suami saya" mataku membola tak percaya.


"Beneran?".


"Iya".


"Tolong saya... makamkan saya dengan layak lalu pertemukan saya dengan suami saya".


"Saya coba mbak ya, sepulang sekolah nanti" mbak Rahma mengangguk senang. Aku mengatakan padanya untuk ikut saja denganku. Jadi aku pergi ke kantin bersama mbak Rahma.


Bersambung...


Alasannya guru IPA nya Risa bawa jasad mbak Rahma kenapa ya?.


Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.


Terima kasih.