INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Risa kenapa? (Season1)



Happy Reading...!!!


"Bapak pernah denger omongan orang-orang yang katanya ada sebuah rumah yang penghuninya adalah manusia indigo dengan nama team-nya Indigo Team. Bapak ngerasa beruntung sekali bisa memiliki penumpang dari anggota indigo team." terangnya membuat kami semua terperangah. Jadi, sudah banyak orang yang tau kalau aku dan teman-teman itu adalah manusia indigo.


"Bapak dulunya itu supir pribadi Tuan muda keluarga Charles, tapi berhenti karena waktu itu istri bapak mau lahiran anak yang ke-4." curhatnya sambil terus fokus mengemudi. Tuan muda keluarga Charles? Bukannya keluarga Charles itu adalah keluarga yang terkenal karena kesuksesannya dalam bidang properti?.


Aku menatap pak supir tersebut yang usianya mungkin sudah menginjak lima puluh tahun. Di usia yang sudah di bilang tua ini kenapa dia masih bekerja ya? Di mana anak-anaknya?.


"Maaf, Pak kalau boleh saya tahu... Anak-anak bapak sekarang kemana ya?" tanyaku lumayan ragu. Aku takut salah tanya.


Dia tersenyum sambil menatapku sekilas lalu fokus kembali menyetir "Anak bapak yang pertama sudah menikah dan sekarang dia tinggal di kota sebelah bersama istri dan anaknya. Kadang-kadang dia mengirimi bapak uang untuk keperluan sehari-hari keluarga di sini sedangkan anak bapak yang kedua.. Dia itu orangnya pemalas dan tidak suka bekerja. Dia kerjanya hanya mabuk-mabukan dan selalu pulang malam dan anak bapak yang ketiga dia baru duduk di bangku SMP, ia sifatnya sama dengan kakak pertamanya saat berusia sama dengannya. Membantu bapak mencari rumput untuk makan sapi." aku mengangguk-anggukan kepalaku


"Bapak punya sapi?" sergah Ais.


"Punya, tiga ekor, dulu di belikan oleh anak bapak yang pertama. Aslinya ada empat tapi yang satu buat kurban di idul adha tahun lalu." sahutnya. Wahhhh bapak ini baik sekali ya.. Dia mau berkurban dengan seekor sapi. Aku jadi ingin berkurban juga jika aku punya kambing ataupun sapi.


Tak terasa sudah lama kami berbincang-bincang dengan bapak supir ini. Beliau orangnya asik membuat kerongkonganku sampai kering karena terlalu banyak berbicara. Hingga tanpa terasa, mobil taksi berhenti di depan pagar hitam markas IT. Ais, Glen, serta Zara turun terlebih dahulu untuk membantuku turun. Bapak supir tersebut juga ikut turun untuk membukakan pintu.


Aku lalu mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan dan menyerahkannya kepada bapak supir taksi ini. Ia sempat kebingungan ketika melihat jumlah uang yang kuberikan dan aku sudah dapat menebaknya. Ia bergegas untuk mengambil kembaliannya di kondisinya yang masih bingung.


"Ambil saja kembaliannya, Pak." ucapku membuatnya segera mendongakkan kepalanya, menatapku dengan penuh pertanyaan. Aku mengangguk membuatnya mengucapkan terima kasih berkali-kali. Senangnya aku ketika dapat membuat senyum merekah di bibir orang yang sudah bekerja lelah mencari penumpang seharian untuk menafkahi keluarganya.


Aku melihat satu mobil taksi yang di naiki teman lelakiku berhenti di belakang mobil taksi yang kunaiki. Kulihat Reyyan membayar ongkos taksi tersebut dan menghampiriku bersama yang lain. Kedua supir taksi itupun masuk kedalam mobilnya masing-masing dan melaju pergi.


"Itu tadi bapak supirnya enak banget tahu diajak ngobrol sampe pengin minum. Ada yang punya minum gak?" tanyaku menatap wajah mereka satu persatu.


"Nih." Adam menyodorkan sebotol po*** sw**t untukku, aku menerimanya dengan senang dan akan meminumnya. Aku terkejut ketika tahu bahwa botol tersebut masih tersegel rapi, belum terbuka? Belum di minum dong. Aku jadi merasa tak enak.


"Minum saja." ujar Adam ketika tahu keresahanku.


"Ummm makasih." aku membukanya hingga terdengar suara 'klek' ketika segel tersebut patah. Aku lalu meminumnya hingga tersisa setengah.


"Lo haus apa laper Ris?" tanya Reyyan seraya geleng-geleng kepala menatapku.


"Haus lah, orang gw minum kalau gw makan baru laper!" sahutku dan terkesiap ketika sadar bahwa gaya bahasaku sudah berbeda.


"Nggak tahu." aku menggeleng.


"Kamu itu aneh Ris, kadang suka pake gw-elo kadang suka pake aku-kamu." ujar Ais heran sama herannya dengan diriku sendiri. Aku suka tidak sadar ketika mengucapkan gaya bahasa gw-elo. Padahal gaya bahasaku yang asli itu aku-kamu.


"Udahlah cuma gara-gara gaya bahasa doang diheranin, ga bahaya juga, 'kan?" Wisnu melerai dengan wajah datarnya. Huh...


"Iya si. Oh, ya, Rey, kamu kasih alasan apa buat orang rumahku lagi pas nganter motor nggak sama pemiliknya?" tanyaku penasaran.


"Gue cuma bilang kalau kita mau main ke rumah gue pakai mobil dan lo nggak mau motor lo di tinggal."


"Wah! Manthap!"


Pov Author.


Merekapun memasuki markas dan pergi beristirahat di kamarnya masing-masing, sedangkan Glen, Ais, dan Rey malah pergi ke halaman belakang dan membicarakan tentang keanehan yang belum lama terjadi pada Risa.


"Kalian setuju nggak kalau Risa punya kepribadian ganda?" kata Glen.


"Setuju si, tapi apa coba yang menyebabkan Risa mempunyai dua kepribadian ganda?" sahut Ais.


"Mungkin dia merindukkan keluarga dekatnya yang sudah lama tak ia jumpai, kepribadian keluarga dekatnya tersebut lalu melekat pada Risa." ujar Reyyan.


"Neneknya? Mana mungkin, neneknya, 'kan sekarang ada di rumahnya, juga mana iya sih nenek-nenek pake bahasa gw-elo." monolog Ais.


"Bisa aja si, orang bahasa gw-elo juga udah ada sejak zaman film Indro, Dono, Kasino."


"Ah udahlah, lupain aja, besok kita pikirin lagi kalau itu membawa dampak buruk bagi Risa sendiri atau orang di sekitarnya. Main game aja, yuk." ajak Ais. Glen dan Rey hanya mengangguk dan mengikuti ke mana Ais pergi.


Pov End Author.


Bersambung...