INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Dua kak Bay beda alam (Season 1)



Aku mendengar suara deru mesin mobil kak Anggres ketika sedang membicarakan kakek penjual arum manis tadi. Kak Anggres njemput? Tumben banget.


Aku berbalik dan ternyata benar itu memang mobil kak Anggres. Ia kemudian keluar dan menghampiriku. Tapi tunggu...mobil siapa yang di belakang? Apa temannya?. Orang yang di dalam mobil tersebut keluar dan nampaklah dua pemuda yang seumuran dengan kakakku. Yang satu aku kenal, tapi...untuk yang satunya...siapa dia? Temannya kak Anggres juga kah?.


"Udah pulang dek?" tanya kak Anggres ketika dirinya sudah tiba di hadapan kami semua.


"Udah. Itu mobil siapa? Dan yang di sampingnya kak Bay siapa?".


"Itu namanya kak Anji. Temennya kakak juga." ucapnya sambil menunjuk pemuda yang di sebutkan namanya "yuk pulang...katanya udah selesai sekolah" ajaknya kemudian. Kak Anji? Aku baru pernah mendengar namanya dan juga melihatnya. Jika dia teman kak Anggres, tapi kenapa ketika teman-teman kakak main ke rumah...aku tak melihatnya?? Atau dia punya jurus untuk menyerupai sesuatu, makannya aku tak melihat kehadirannya?? Tapi itu tak mungkin si. Ahh...bodo lah, biar nanti ku tanyakan saja pada kakak.


"Nanti anterin temen-temen aku dulu ya kak?" kak Anggres mengangguk. Kak Anggres kemudian berjalan menuju mobil di susul aku, Zara, Ais, Glen serta Raihan yang masih memeluk arum manis miliknya.


"Kalian kenapa turun?" tanya kak Anggres ketika melihat kedua temannya keluar mobil.


"Kita mau beli cilok" sahut kak Anji.


"Di mana ada penjual cilok?" tanya kakakku. Kak Anji kemudian menunjuk ke salah satu penjual jajanan.


"Ya udah buruan!" kak Anji dan kak Bay kemudian berjalan ke penjual cilok. Selesai membeli mereka kembali lagi dan memberikan kami satu persatu cilok yang sudah di bungkus plastik dengan campuran bumbu kacang dan kecap.


"Makasih" ujarku, setelah itu aku dan ke empat kawanku serta kak Anggres masuk ke mobilnya sedangkan dua temannya masuk ke mobil yang di tumpanginya tadi.


Kak Anggres melajukan mobilnya menuju rumah Ais dan Glen terlebih dahulu sebelum ke rumah Zara. Setelah Ais dan Glen turun, kak Anggres kembali melanjutkan mobilnya menuju rumah Zara.


"Nanti aku mau main ke rumah kamu? Boleh?" tanya Zara setelah dirinya turun dari mobil.


"Boleh dong" dia mengangguk dan berterima kasih lalu permisi masuk ke rumah.


"Ke alfamaret dulu kak" ujarku di anggukan kak Anggres. Aku ingin membeli berbagai macam cemilan, minuman serta buah-buahan.


Setelah sampai di alfamaret, aku segera turun dan masuk ke dalamnya untuk membeli apa yang aku inginkan. Alfamaret di kota ini memang menyediakan buah-buahan di dalamnya. Aku paling suka buah jambu kristal di sini, karena jambu kristal yang di jual di sini masih segar dan besar-besar. Selesai membeli tujuanku datang ke alfamaret, aku keluar dan masuk ke mobil.


Setelah sampai rumah aku bergegas pergi ke dapur untuk menaruh belanjaanku dan pergi ke kamar untuk mandi. Selesai mandi..aku pergi ke ruang tamu dan melihat kak Anggres bersama dua temannya sedang duduk santai. Aku menghampiri mereka dan ikut bergabung sambil menunggu ke datangan Zara.


"Lagi pada ngapain nih?" tanyaku setelah duduk lalu merampas cemilan yang di pegang kak Anggres.


"Lagi main bola basket" sahut kak Anggres.


"Ahh kakak bisa aja nglawaknya".


Aku menatap dua teman kakaku yang juga menatapku. Aku terkesiap ketika melihat pocong kak Bay sedang melompat di depan pintu masuk, aku berlari menghampirinya tanpa menaruh cemilan yang ku rampas. Kak Bay ada dua?. Aku menarik pocong kak Bay dan membawanya duduk di sampingku.


"Siapa Ris?" tanya kak Anggres sambil menggeser duduknya menjauh dariku.


"Pocong kak Bay".


"Ini kak Bay kok ada dua? Maksudnya gimana?" tanyaku berbisik mendekat pada kak Anggres yang malah semakin menjauhiku.


"Kalau di deketin jangan ngejauhin!" sentakku akhirnya, kesal juga dengan tingkahnya.


"Pocongnya ikut geser nggak?" tanyanya. Aku menggeleng.


"Udah sini..." aku menarik lengan kak Anggres untuk duduk di dekatku.


"Ini maksudnya gimana?? Kok kak Bay ada dua?" tanyaku berbisik.


"Kakak juga nggak tau. Tadi kakak ke rumahnya kak Bay, dan liat kak Bay ada di kamarnya. Jangan-jangan itu kembarannya kak Bay" sahut kak Anggres ikut berbisik.


"Khem...khem...ada dua manusia lhoh disini. Masa di anggurin gitu aja" aku menengok dan melihat kak Anji sedang menatap kakaku kesal. Tapi tatapannya kian berubah ketika sadar akan tatapanku.


"Awas lo macem-macem sama adek gw. Kalo lo sampe macem-macem sama adek gw. Dengan kedua tangan gw sendiri, gw bakal bunuh lo" kak Anggres terlihat tidak suka ketika kak Anji menatapku beberapa waktu. Ada apa??.


"Iya...iya...".


"Kalian ngebisikin apa si?" tanya kak Anji.


"Kepo!" balas kak Anggres.


Aku tak memperdulikan mereka berdua, aku hanya menatap ke arah kak Bay dan meminta pergelangan tangannya. Aku ingin mengecek nadinya. Apakah masih terasa atau tidak. Masih terasa kok. Aku kemudian melakukan hal yang sama pada leher sampingnya. Hasilnya pun sama, berarti kak Bay temannya kak Anggres masih hidup. Terus siapa kak Bay yang udah jadi pocong.


"Diam!! Nggak usah ribut!!" leraiku saat kak Anggres dan kak Anji malah terlibat adu mulut.


Tok...tok...tok...


"Assalamualaikum!! Risa!! Ini aku....Zara!!" pekik Zara dari luar sambil terus mengetuk pintu. Aku berjalan menuju pintu dan membukanya. Aku lalu menyuruh Zara masuk dan duduk di sampingku sedangkan kak Anggres aku suruh pindah untuk duduk di samping kak Bay temannya.


"Ehh Ris itu siapa?" tanya Zara sambil menunjuk pocong kak Bay dan juga kak Bay teman kakaku.


"Yang duduk di deket kak Anggres namanya kak Bay, dia temennya kak Anggres. Masih hidup si dia. Tapi....kalo yang di sampingku ini...dia udah beda alam sama kita, namanya juga Bay" terangku.


"Wajahnya mirip" aku mengangguk mendengar ucapan Zara.


"Ehh tadi di sekolah kamu liat Lala nggak?" tanyaku.


"Liat".


"Dia pulang sama siapa?" tanyaku lagi.


"Mamanya" aku mengangguk. Ku kira dia hilang. Syukurlah jika dia sudah pulang sama mamanya.


"Tapi katanya dia mau ke sini ntar abis maghrib. Mau nginep" aku mengangguk.


"Kamu nginep juga?" ia menggeleng.


"Ntar abis maghrib pulang".


"Mereka itu kembar terpisah atau bagaimana si?" tanya Zara sambil menunjuk dua kak Bay beda alam.


"Nggak tau".


"Kak Bay itu sedih tanpa alasan Ris. Kakak bawa ke sini karena siapa tau kak Bay temen kakak ada hubungannya sama pocong kak Bay" ujar kak Anggres.


"Ehh Ris itu apa?" tanya Zara sambil menunjuk ke arah leher pocong kak Bay ketika aku melihat arah kemana ia menunjuk. Kalung liontin?? Sejak kapan kalung itu di lehernya??.


Zara berjalan ke arah pocong kak Bay dan menyentuh kalung tersebut. Tiba-tiba tubuhnya seperti terkejut dan matanya tertutup sambil terus memegang kalung yang di leher pocong kak Bay. Setelah beberapa waktu matanya terpejam, akhirnya dia membuka matanya dengan tubuh seperti jiwa yang baru memasuki raganya. Seperti tersentak. Apa dia baru dari masa lalu pocong kak Bay dengan menyentuh benda tertentu??.


"Ra!? Kamu ga papa kan Ra?!" tanyaku panik ketika tubuhnya hampir jatuh.


"Nggak....nggak papa" ia kemudian berjalan perlahan ke sampingku lalu duduk.


"Kak tolong ambilin minum!!" titahku pada kak Anggres. Kak Anggres kemudian berjalan menuju dapur mengambilkan minum untuk Zara. Setelah ia kembali, ia menyodorkan segelas air putih padakku. Aku kemudian membantu Zara untuk meminumnya.


"Pocong kak Bay meninggal karena di bunuh oleh seseorang. Aku nggak terlalu liat jelas siapa orangnya karena dia mengenakan jubah. Kejadian yang aku liat singkat banget" jelas Zara. Pocong kak Bay meninggal karena di bunuh?? Tapi jika di bunuh...kenapa tubuhnya terkafani? Sedangkan biasanya...pembunuh akan membiarkan korbannya mati tergeletak?.


Bersambung...


Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.