INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Jambak-jambakan (Season 1)



Happy Reading…!!!


Glen menoleh lalu mengangguk.


"Kenapa?" tanyaku. Kakak menggeleng.


"Cih! Gak mau cerita." decihku kesal sambil menggeret bangku di samping Ibu.


"Ok lah ok lah." sahutnya dengan mengikuti nada bicara Jarjit Singh.


"Bay itu temen kelas Kakak." ucapnya. Aku dan Glen sama-sama terperangah.


"Kalau dia beneran meninggal, kenapa Kakak gak tau ya kabar meninggalnya Bay, juga, 'kan kemarin Kakak masih ketemu sama dia di taman kota masa kemarin juga dia meninggal."


"Itu bisa-bisa aja, siapa tahu yang ketemu Kakak kemarin arwahnya Kak Bay atau mungkin setelah kalian ketemuan, Kak Bay kecelakaan sampai meninggal." sahutku berspekulasi. Spekulasiku itu mungkin-mungkin saja, 'kan?


"Kamu ini Ris kalau ngomong suka ceplas-ceplos aja." sergah Ibu, aku hanya membalasnya dengan cengiran.


Aku melihat Ais dan Nenek dari dapur dan berjalan kearah kami, nenek lalu menyuruh kami semua untuk makan. Selesai makan, Kak Anggres mengantarkan Ais dan Glen kerumah mereka yang kebetulan bersebelahan.


"Kita tungguin, ya?!" seruku semangat.


"Enggak usah lah, kamu berangkat duluan aja. Nungguin kami kelamaan, Kak Ang juga mau kuliah, 'kan? Kita nanti di anter orang tua atau pesen taksi online aja." sahut Ais.


"Beneran nih? Tadi, 'kan aku bilangnya Kak Ang anter kita bareng, kita tungguin aja nggak papa kok."


"Jangan keras kepala, Ris, kamu berangkat duluan aja."


"Hmm... Ya udah deh, takut ngamuk situnya. Bye, ditunggu di sekolah, ya?!"


"Ayo Kak." Kak Anggres lalu melajukan lagi kendaraannya menuju sekolah yang jaraknya sudah tidak terlalu jauh dari rumah Ais dan Glen.


"Makasih, mcuah." ucapku lalu mencium pipi kanan Kak Ang. Kak Anggres nampak tersenyum, aku lalu turun dan berjalan masuk menuju aula ketika mobil kak Anggres sudah tak dapat lagi kulihat.


Ditengah-tengah jalanku menuju aula, aku melihat ketua geng meresahkan siswa siswi sekolah sedang berjambak-jambakan dengan salah satu teman kelasku. Aku berlari cepat kearah mereka dan melerai pertikaian yang mereka lakukan.


"Udah!! Udah!! Udah!! Stooooop!!!!" pekikku kencang. Seketika mereka berdua langsung berhenti jambak-jambakan dan menatapku.


"Dia duluan cari gara-gara sama gw." adu Ghisella--ketua geng tersebut sambil menunjuk lawan jambak-jambakannya tadi. Ketua serta anggota geng resah ini memang takut padaku dan anggota IT yang lain. Eum... Lebih tepatnya bukan takut, tapi lebih ketidak mau cari gara-gara atau memilih mundur, itu semua di karenakan kejadian waktu SMP.


Geng tersebut pasti akan menstandarkan suaranya ketika berhadapan denganku ataupun anggota IT yang lain. Aku lebih suka memanggilnya geng Resah karena suka meresahkan, toh mereka tidak mempermasalahkan hal itu. Tidak pernah kusangka, tidak pernah kuduga, dan tidak pernah kuharapkan akan kembali satu sekolah dengan geng resah ini. Rasanya pengin pindah sekolah aja.


"Engga!! Kata siapa gw duluan!! Orang dia aja yang baperan!!" sergah Lala--teman kelasku yang sangat aktif dan usil, dia suka sekali menggoda atau mengejek geng Resah hingga geng tersebut marah.


"Tadi gw, 'kan cuma bilang make up-nya tebelnya udah kayak boneka mampang, terus tiba-tiba dia njambak gw. Ya gw gak terima lah, terus gw bales ehhh.. Dia malah nambah njambaknya." tambah Lala. Aku menggeleng. Ini sebenarnya mah salahnya dia sendiri. Tapi kalo diliat-liat emang bener si ini ketua gengnya make upannya udah persis boneka mampang di jalan. Aku terkekeh melihat dandanan Ghisella yang sudah sangat mirip boneka mampang ditambah lagi rambutnya yang acak-acakan.


"Kenapa lo ketawa?" tanya Sella, itu adalah panggilanku untuknya padahal semua orang termasuk anggota IT yang lain memanggilnya Ghisel.


"Sella.. Sella.." aku menggeleng sambil menahan tawa "Bener apa yang Lala omong, kamu itu emang udah persis boneka mampang apalagi rambut kamu acak-acakan gitu, hahahaha." sambungku dan saat itu juga aku meledakkan tawaku melihat wajah kesalnya.


"Udah.. Udah.. Mendingan sekarang kamu sama kamu kekamar mandi rapihin rambut, biar gak malu nanti pas upacara, hahahaha." ucapku sambil menunjuk Lala dan Shella.


"Mendingan lo ikut Lala aja kekamar mandi, takutnya nanti ada perang sekolah kesembilan belas." bisik salah satu anggota geng Resah kepadaku, aku menatapnya dan mengangguk lalu membawa Lala kekamar mandi. Di saat aku menariknya iapun masih sempat-sempatnya menggoda Shella dengan menjulurkan lidahnya. Aku mengetahuinya karena aku menyeretnya dengan menghadap belakang membuatku jadi berjalan mundur.


"Awas aja lo, kalo gak ada Intan udah mati lo di tangan gw!!" pekik Shella. Intan, adalah panggilannya untukku. Aaa... Istimewa sekali sih kita, pakai ada panggilan khusus segala.


"Uchhhh takut." lanjutnya meledek sambil kembali menjulurkan lidahnya. Aku berhenti hingga Lala menabrakku lalu berbalik menatapku.


"Ehh.. Risa.. Kenapa berhenti?" tanyanya. Aku menggeleng.


"Seru ya?" tanyaku.


"Banget."


Aku dengan kesal menariknya kekamar mandi hingga menjadi pusat perhatian siswa siswi yang kulewati.


"Dadah Ghisel!! Nanti kita berantem lagi yaa!!" pekik Lala sambil berjalan cepat mengimbangi langkahku sesekali ia terjatuh karena tidak fokus.


"LALA!!!" pekik Shella.


Bersambung...