INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Jalan Temawang (Season 1)



Sesampainya dirumah. Aku dikejutkan dengan kehadiran team indigo kecuali Adam pastinya. Mereka duduk santai diruang tamu sambil menikmati camilan. Mereka semua seketika menoleh saat mendengar salamku.


"Kalian kok nggak bilang kalau mau main?" aku berjalan memasuki rumah setelah berdiri termangu diambang pintu. Tidak biasanya mereka datang tanpa memberi kabar.


"Bilang kok, sama ibu kamu, hehe" kekeh Ais. Ia berdiri lalu menarik tanganku dan mendudukanku disampingnya. Ia menghadapku lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Ia lalu tersenyum lebar.


"Kenapa?" tanyaku heran.


"Ternyata kakek-kakek penjual arum manis yang waktu itu, bukan kakek aku. Beberapa waktu yang lalu aku sempat ketemu sama dia, lalu aku.. hehe.. paksa itu kakek buat ikut kerumah. Lalu si kakek tes DNA sama ibu, karena kakek aku itu ayahnya ibu. Ternyata... hasilnya ibu aku bukan anaknya si kakek. Berarti itu bukan kakek aku, dan aku bukan cucunya" tuturnya.


"Owh... terus gimana sekarang kabarnya kakek kamu?" Ais menunduk.


"Hemm... belum ada kabar" aku usap punggungnya seraya tersenyum. Ais lalu mendongak dan ikut tersenyum.


"Gimana kalau kita lakukan pencarian ke panti jompo? Siapa tahu ada kakeknya Ais disana" usul Reza.


"Bener tuh" timpal yang lain, termasuk aku. Ais pun berfikir sebentar lalu mengangguk.


"Glen?" aku menoleh ke tempat Glen duduk. Ia sedang termenung seraya menyangga dagu dengan telapak tangan kanannya. Apa dia...


"Glen!" sentak Lala.


"Ah! Apa-apa?!" Glen langsung geligapan memandang wajah kami satu persatu. Ia kemudian terkekeh pelan lalu menunduk.


"Hemm... aku jadi kangen sama Rayhan, gimana ya kabarnya?" gumamnya.


"Dia pasti udah bahagia dialam sana Glen" ujar Lala seraya menepuk pundak Glen hingga terdengar suara tepukan yang cukup keras.


"Sakit beg*!" bentak Glen yang justru membuat Lala terkekeh.


"Kita langsung lakukan pencariannya mulai besok senin setelah pulang sekolah gimana?" ujar Zara. Kami semua saling pandang sebentar, khususnya pada Ais. Setelah ia mengangguk, kami menetapkan bahwa mulai senin besok setelah pulang kami akan melakukan pencarian ke panti jompo yang ada dikota ini dan juga kota tetangga. Wisnu langsung memberi kabar tersebut pada Adam.


"Oh iya.." aku menceritakkan kejadian dirumah Adam tadi, bermula dari Riskha yang menangis sampai informasi dari kyai Mur.


"Lo tenang aja Ris, kita akan selalu ada disisi lo, menemani, dan menjaga lo dari segala mara bahaya" ujar Rey.


"Yah... aku berharap itu memang benar-benar terjadi, terima kasih.." mereka semua mengangguk.


.


.


.


.


.


Hari demi hari berlalu, pencarian dari panti jompo ke panti jompo yang lain, dari didalam kota sampai ke luar kota terus aku dan team indigo lakukan. Tak ada kata lelah untuk membantu Ais menemukan kakeknya.


"Ini udah semua panti jompo kita datangi, kita cek, tapi belum ada hasilnya. Gimana yah?" keluh Ais seraya mengusap keringat yang membasahi wajahnya. Walaupun kami menaiki mobil yang AC nya dinyalakan. Tapi, udara siang ini memang sangat panas. Aku bahkan sudah habis dua botol minuman dingin, karena terik matahari siang ini juga membuat tenggorokanku kering. Begitupun dengan yang lain. Hanya saja, tak ada dari kami yang mengeluh lelah.


"Ada.. satu lagi.. pantai jompo-"


"Panti bukan pantai" sergah Glen, membuat ucapan Wisnu terhenti.


"Oh ya, maaf-maaf, panas banget.. jadi gagal fokus, mataharinya lagi marah kali ya.. ok gw lanjut, ada satu lagi panti jompo yang belum kita jamah, letaknya ada dijalan Temawang" lanjut Wisnu.


"Lo pikir matahari bisa marah?" sahut Rey.


"Mungkin aja" jawab Wisnu.


"Bentar-bentar, bukannya jalan Temawang itu deket ya dari sini? Kita kan udah puter-puter didaerah ini sampai beberapa kali, kok kamu baru kasih tahu?" heranku.


"Ganjil, ada yang aneh. Aku udah sering pergi ke jalan Temawang, dan nggak pernah denger atau lihat ada panti jompo disana" ucap Zara.


"Benar" timpal Glen.


"Tapi, digoogle maps ada panti jomponya. Nggak kurang dari dua kilometer dari sini" Reza ikut menunjukkan layar hp-nya yang juga ada salah satu nama panti jompo dijalan Temawang.


"Coba kalian cek google maps dihp masing-masing" titahku seraya membuka hp dan pergi ke google maps.


"Gw nggak ada, nggak ada nama panti jompo Terang dijalan Temawang digoogle maps gw" celetuk Adam. Aku mengernyit. Karena apa yang aku dengar juga terjadi digoogle maps ku.


"Sama, aku juga nggak ada" timpalku.


"Aku ada" ucap Ais, Glen, Zara, dan Rey bersamaan.


"Coba aja kesana" seloroh Reza.


"Kita nggak bisa seenaknya main pergi ke tempat itu, sudah jelas dari awal saja ada keganjilan. Masa hanya digoogle mapsku dan google maps Adam yang tidak ada tulisan panti jompo Terang dijalan Temawang" sahutku.


"Aku khawatir itu ulah makhluk halus" lanjutnya singkat.


"Tapi, bagaimana jika kakeknya Ais ada disana?" tanya Rey.


"Emm.... gimana ya.... aku cuma takut kalau kita kenapa-napa disana, kita kan juga nggak tahu pasti kakeknya Ais ada disana atau enggak" sahutku.


"Bismillah, coba aja yuk" ajak Zara seraya menarik tanganku untuk berdiri.


Aku diam dengan pikiran berkecamuk menuruti kemana Zara menarik tanganku. Perjalanan tidak memakan waktu yang berarti. Setelah sampai dijalan Temawang. Kami semua turun.


"Mas!" panggil Glen pada seorang pemuda gagah yang sedang berdiri tidak jauh dari kami.


"Ada yang bisa saya bantu?" Glen mengangguk.


"Kami mau tanya, dijalan ini apa ada panti jompo Terang?" tanya Zara.


"Panti jompo Terang?" Zara mengangguk.


"Tidak ada mas, mbak. Dijalan ini tidak berdiri panti jompo, jadi tidak ada panti jompo Terang" mataku membulat bersama yang lain. Benar! Ada yang ganjil! Ada yang tidak beres!.


"Tapi, digoogle maps saya ada panti jompo itu mas" Reza menunjukkan layar hpnya pada pemuda tersebut. Pemuda tersebut menerima hp Reza dan menelisiknya.


"Yang mana mas?" Reza terlihat mengernyit. Ia menghampiri pemuda tersebut dan menunjukkan disalah satu daerah layar hpnya yang aku yakini bahwa disitulah tertulis nama panti jompo Terang.


"Nggak ada mas" ucap pemuda tersebut seraya memberikan hp Reza pada pemiliknya.


"Buta lo? Masa nggak lihat tulisan panti jompo Terang, padahal udah gw Zoom" ceplos Reza dengan wajah polos seraya menggaruk tengkuknya.


"Saya sering jadi kelinci lhoh mas, makan wortel setiap hari, walaupun hanya satu buah wortel, setidaknya dalam satu hari saya selalu mengonsumsi sayuran orens panjang itu mas. Masa saya buta" sahut si pemuda dengan lancarnya tanpa ada kata-kata yang meninggi. Sepertinya ia tidak terbawa emosi dengan ucapan Reza yang main keluar.


"Terus kenapa lo nggak lihat? Ris, Glen, Ai, La, Ra, Nu, Rey, Dam, coba deh lihat. Ada kan?" kami yang merasa terpanggil untuk melihat layar hp Reza mengangguk.


"Berarti lo beneran buta" ceplos Reza lagi.


"Masa iya buta pilih-pilih, orang kata-kata yang lain juga masih bisa saya lihat, saya juga bisa lihat mas yang ganteng-ganteng dan mbak yang cantik-cantik" Reza menggaruk lagi tengkuknya.


"Weh... bantuin dong... gw ketarik ini".


Bersambung...


Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka. Bunga dan kopi dari kalian sangat membantu keberhasilan Author.


Terima kasih.