
Happy Reading...
Semakin didekati, semakin terlihat jelas pula pendaran cahaya yang tadi di lihat oleh mata Adam. Sebuah cahaya dari tiga warna yang berpadu membentum gradasi indah tak terucap, maksudnya.. begitu sulit untuk diucapkan bagaimana jadi gradasinya dan keindahannya ketika berputar mengelilingi sebuah mawar kecil dan melati yang lebih kecil di bawahnya.
"Temen-temen!" seru Adam bermaksud menggundang teman-temannya, mereka yang merasa di panggil pun menoleh, saling tatap sebentar sebelum akhirnya menghampiri Adam yang sudah berjongkok di depan pusaran gradasi tiga warna itu.
"Wah.... Indah sekali..." ucap Ais dan Chalis penuh takjub.
"Lo ngundang kita cuma buat liat gradasi warna merah, putih, sama hitam doang, Dam? Waktu kita tinggal beberapa detik lagi!" kesal Glen. Apa dia sedang datang bulan? Emosinya seolah tak terkontrol dan dia selalu membentak selagi ia merasa kurang atau tidak suka dengan kelakuan orang di sekitarnya.
"Bener, Dam. Waktu kita cuma tinggal beberapa detik lagi!" timpal Reza.
Adam tidak menyahut, ia merasa seperti menangkap sebuah benda berbentuk kunci dengan warna hitam lalu gradasi merah darah di bawahnya. Ia lalu mengulurkan tangannya perlahan bermaksud mengambil benda tersebut, setelah benda tersebut berada digenggamannya, mawar-mawar diruangan tersebut hilang. Adam pun semakin yakin, bahwa benda yang sedang dipegangnya adalah sebuah kunci untuk membuka pintu menuju ruangan ketiga, ruang cermin.
Ceklek..
Pintu terbuka, pendaran cahaya menarik manusia yang berada di ruangan kedua masuk ke dalamnya.
Dip!
Dalam satu kedipan mata, mereka bersepuluh sudah berada di dalam ruangan yang penuh dengan kaca berbentuk persegi panjang di mana-mana. Genangan air setinggi mata kaki juga ikut hadir di ruangan ketiga ini.
"Khuaahhh..." tengkorak yang bergerak seraya membawa ember berisi kelopak mawar berkeliling mencari target.
"Kuncinya ada di jantung tengkorak itu!" seru Ais yang kemudian langsung dibekap oleh Zara. Terlambat! Tengkorak berjalan tersebut menoleh ke arah mereka dan berlari menghampri, sontak saja mereka bersepuluh langsung berlari tunggang langgang menghindari tengkorak tersebut.
"Kita cari rencana!" seru Rey.
"Gue nggak mau lari-lari terus, capek oyy" lanjutnya seraya mengusap peluh di wajahnya.
"Lah, ya sama, onel!!" Ais, Chalis, dan Glen ngegas.
"Kalau gini, gue jadi keingetan sama kartun upin & ipin. Waktu mereka pergi ke kampung durian terapung dan masuk ke rumah sesat kalau nggak salah yah? Gue udah rada lupa, di ruangan ke berapa, mereka juga dapat rintangan serupa. Tengkoraknya mati karena disiram balik sama isi di ember yang dia bawa, waktu itu mereka kan juga pakai mei mei buat umpan. Gimana kalau kita sekarang lakuin hal itu? Kita pakai salah satu dari kita buat umpan, terus kita ambil alih embernya dan siram tengkoraknya, siapa tahu mati" ujar Wisnu panjang lebar. Momen langka!.
Bukannya memberi komentar, teman-temannya malah diam melongo menatap wajah Wisnu yang tampan dan tegas. Eitss...!! Bukan..!! Bukan karena itu teman-temannya memandangi wajah Wisnu!! Tapi, karena mereka sedang syok dengan ucapan Wisnu yang panjang lebar. Kecuali, Adam dan Zara.
"Oiii....!!!" satu gentakan dari Wisnu membuat teman-temannya langsung tersadar.
"Gimana?" mereka langsung mengangguk dengan wajah cengo.
"Okh, disini kita pakai Vinula untuk umpannya!".
"Lhoh? Eh? Kenapa saya tuan Wisnu?".
"Karena kamu roh, kamu nggak bakal kenapa-napa karena kamu jiwa, bukan raga".
"Mau ya?" Wisnu mulai merayu.
"Eumm... Tuan, apa anda yakin ini tidak berbahaya?" keraguan mulai menguasi perasaan Vinula. Ia takut jika rencana ini malah membahayakan nyawa semuanya. Nyawanya? Tak lagi ia pedulikan.
"Awali dengan do'a".
Rencana pun dimulai, Vinula menjadi umpan dengan berdiri di depan cermin yang dekat dengan tengkorak berjalan lalu menghilang dari tempatnya ketika akan dilempari isi dari ember yang dibawa oleh lawannya. Temannya yang siap siaga di belakang segera mengambil ember yang isinya belum tumpah semua dan menyiramkannya ke tubuh tengkorak tersebut. Seperti kapas yang tersiram air, tengkorak berjalan tersebut langsung lemes tak berdaya. Menyiut.. menyiut lagi... dan blup! Menghilang! Meninggalkan sebuah kunci berwarna biru.
Zara mengambil kuncinya dan membuka pintu. Ruangan lagi! Tapi, tidak ada tanda-tanda rintangan ataupun gangguan. Beberapa meter di depan mereka, ada sebuah kotak mirip peti harta karun di film kartun.
"Apa kalian melihat kotak?" Ora mulai beraksi membuat sebagian team Indigo kesal bukan main.
"Dibelakangmu, Ora!" sahut Ais, Chalis, Glen, dan Risa bersama.
"Di mana?".
"Belakangmu!!!".
"Baiklah, dibelakangku!" Ora berbalik.
"Coba ambil, Ra!" seru Glen.
Zara mencoba, namun gagal. Yang lain pun menjadi penasaran dan mencoba, hasilnya pun sama dengan Zara. Gagal!! Bahkan Adam dan Risa pun gagal mengambilnya. Bagaimana bisa?.
"Tuan dan Nyonya, bagaimana kalau kalian coba angkat bersama. Bukankah kalian tadi bilang, rasanya sangat berat saat mengangkat kunci itu sendirian? Saya pernah dengar, seperti ini "Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, artinya.. Sesuatu yang berat akan terasa ringan bila dikerjakan bersama-sama". Mungkin saja mengangkat kunci itu juga memakai pribahasa tersebut" usul Vinula. Team Indigo berfikir sebentar, masuk akal sih. Mereka pun akhirnya mencoba, dan hasilnya... Kunci tersebut terangkat!. Kunci tersebut lalu mengitari team Indigo, punggung tangan kanan mereka bersembilan tiba-tiba terasa panas, namun hanya dalam hitungan detik. Setelah itu, saat mereka melihat punggung tangan mereka, tergambar sebuah mawar dua warna, yakni merah dan putih, tersusun lagi-lagi seperti bendera Indonesia.
"Simbol?".
Mereka lalu berjalan keluar dari goa tersebut, tentunya melalui jalan keluar sesuai jalan yang tergambar di peta.
...----------------...
Semak belukar menjadi pusat perhatian mereka kini, berada di dalam sebuah lorong miring goa yang di jalan keluarnya tertutupi daun-daun panjang terjulur ke bawah.
"Kalau buka itu kita nggak akan masuk ke zaman yang aneh-aneh kan? Misal kayak zaman dinosaurus atau zaman penjajahan?" celetuk Chalis.
"Ngeri kalau sampai kejadian" lanjutnya seraya bergidik.
"Dicoba yuk" ajak Risa, jujur saja, ia penasaran.
"Bahaya nih kalau Risa udah penasaran" gumam Glen.
Risa berjalan terlebih dahulu, sesekali menengok ke belakang untuk mengajak teman-temannya. Sesampainya di depan gorden daun hijau tersebut, Risa lalu membukanya, membelahnya menjadi dua bagian lalu mengeluarkan sedikit kepalanya untuk menengok keadaan di luar.
"Aman" gumamnya. Teman-temannya yang juga penasaran memutuskan untuk menghampiri Risa, mereka ikut melongok ke luar. Sebuah gerbang di sisi kiri?.
"Apa itu gerbang saat kita masuk ke hutan ini?" tanya Ais.
"Mungkin" sahut Risa.
"Coba keluar yuk? Kok gue jadi penasaran gini" ucap Glen.
"Kamu dulu ya? Nanti kalau kamu udah pastiin kondisinya baik-baik aja, kita ikut" sahut Chalis.
"Ish...".
Risa tanpa memperdulikan ucapan teman-temannya, pergi keluar dan menghampiri gerbang. Ia melakukan hal yang sama saat membuka gorden daun untuk mengecek kondisi di luar.
"Jalan?".
Ia keluar diikuti teman-temannya. Mereka kini berdiri di depan sebuah gapura bertuliskan 'Selamat Datang di Desa Mati'. Di kedua sisi mereka terdapat banyak tas besar dan kecil serta dibelakang mereka terdapat beberapa mobil.
"Kita langsung keluar..?" gumam Ais.
"Kok gue sedih gini sih?" ucap Chalis. Ia berlari memeluk Vinula, mungkin untuk yang ke terakhir kalinya.
"Sepertinya urusan kalian sudah beres disini, selamat tinggal, semoga kita bisa bertemu kembali. Hati-hati di jalan ya..?" team Indigo melangkahkan kakinya memasuki mobil yang kemudian dilajukan menuju jalan pulang.
...----------------...
Di sebuah rumah yang terletak dipedalaman hutan. Dua orang gadis bersama seorang remaja laki-laki dan sepasang suami-istri duduk melingkar di atas sebuah tikar yang ditengahnya terdapat sebuah wadah berisi air yang dapat melihat apapun yang kita ucapkan di depannya.
"Mereka sudah mendapatkan kunci itu, kini tinggal kalian yang beraksi" ujar seorang wanita, ibunda ketiga anaknya, dua orang gadis dan seorang remaja laki-laki tadi. Suaminya yang duduk di sampingnya hanya terdiam seraya memperhatikan kaca air di depannya.
"Hati-hati".
Bersambung...
Baca cerpen terbaru author yuk, 'Dia Idolaku'
Thank You All...
❣️❣️❣️❣️