
Perjalanan di mulai, tak lupa basmallah untuk meminta perlindungan supaya selamat sampai tujuan. Aku dan Zara terdiam, tapi kondisi di mobil ini cukup ramai karena suara Ais, Glen, Lala serta tiga poci yang tak kalah cerewetnya. Bahkan pocong kak Bay pun sama berisiknya.
"Aku jadi inget sama kakek. Kira-kira gimana ya kondisinya sekarang?" ujar Ais. Aku menoleh ke belakang dan menatap Ais yang sedang menatap pemandangan luar.
"Kamu yakin itu kakek kamu?" tanyaku.
"Yakin banget".
"Eh Ais! Lo ada foto kakek lo nggak?" tanya Glen.
"Ada nih" Ais menyodorkan hpnya pada Glen yang langsung mengambilnya dan menjejerkan hp tersebut dengan hp nya.
"Eh iya mirip" Glen menyerahkan dua hp yang di pegangnya padaku. Aku menerimanya kemudian duduk pada posisi semula sambil menjejerkan dua hp tersebut dan mulai memperhatikan dua foto dalam dua layar hp yang sedang ku pegang.
Memang mirip sih. Ciri-cirinya juga sama persis, cuma kalau yang di hp Ais. Foto kakeknya sedikit lebih muda sedangkan foto di hp Glen, sedikit lebih tua.
"Ini foto kapan Ais?" tanyaku tanpa melepas pandangan dari dua foto tersebut.
"Dua tahun yang lalu, satu bulan sebelum kakek hilang" sahut Ais lesu.
"Maksudnya gimana?".
"Kakek udah dua tahun hilang, dan foto itu di ambil satu bulan sebelum kakek hilang".
"Lama juga ya? Dua tahun, kalau dari tah* lalatnya sih... nggak beda, cuma kalau foto di hp Ais masih kaya muda di masa tua. Aduh... gimana ya jelasinnya, pokoknya beda aja gitu, di hp Ais foto kakek ini lebih muda dan seger, beda banget kaya yang di hp nya Glen, ini rada kusam dan lusuh" terangku.
"Emang gitu ya... bukan faktor hp gw yang kentang" sergah Glen. Aku tahu bahwa dia pasti akan mengucapkannya.
"Iya aku juga tahu".
"Ya udah kamu tenang dulu ya. Nanti perlahan-lahan kita selidikin masalah kakek kamu. Kalau semua masalah saat ini sudah teratasi, sabar ya" ujarku lalu mengembalikan dua hp yang ku pegang pada pemiliknya.
"Iya" sahut Ais sambil menerima hp nya.
"Eh tahu nggak?? Ternyata... cowok yang kemarin gw pinjem hp nya itu, salah satu cowok yang bantuin lewat energi, saat Risa melakukan pertemuan antara keluarganya almarhum Ranres dengan almarhum sendiri" aku menyelis, menatap Glen dari ujung netraku.
"Anaknya cerita ya?" terkaku.
"He'em. Tapi, rada o'on sih tuh bocah walaupun asik di ajak ngobrol".
"Awas ntar kesemsem lho" seloroh Zara tiba-tiba, membuat Glen langsung tersedak setelahnya. Lagi-lagi aku menoleh ke belakang, Ais sedang membantu Glen yang bagian hidungnya memerah, Lala juga menepuk-nepuk pundak Glen hingga Glen berteriak.
"Pelan aja dong, nggak usah ngegas!".
"Biar cepet sembuh" sahut Lala santai tanpa ada ekspresi bersalah dan malah mengulangi kesalahannya.
"Cari mati ni bocah" Glen menyelis tajam ke arah Lala yang langsung menepuk pelan pundak Glen sambil cengengesan tak jelas.
Tiba-tiba, tubuhku terdorong sedikit ke depan. Aku melihat mobil kak Ang juga berhenti beberapa cm dari mobil Zara.
Ting...
Aku mengambil tas ku yang diletakkan di dashboard mobil. Aku mencari hp-ku lalu membaca pesan yang terkirim oleh Adam. Dia lagi.
"Ada razia polisi".
Aku menatap Zara yang sedang menatapku juga.
"Ada razia polisi" ujarku menyampaikan pesan yang dikirim oleh Adam tanpa ada satu kata yang terlewat.
"Razia?" gumamnya. Aku mengangguk sambil menarik hp-ku kembali dan meminta air minum.
Lala mengambil sebuah botol p***** s*** lalu menyerahkannya kepadaku. Aku menerimanya dan menenggak botol tersebut hingga isinya tinggal setengah.
"Ahhhh... mantap. Makasih ya La" gumamku kemudian berterima kasih dan mengelap bibirku.
"Sama-sama".
Aku menatap jendela mobil disamping Zara yang diketuk oleh salah satu petugas kepolisian. Zara menurunkan jendela mobilnya dan menatap pak polisi dihadapannya yang sedang menatap kedalam mobil.
"Boleh turun dulu?" tanyanya pada kami semua yang didalam mobil. Kami mengangguk lalu turun. Pak polisi tersebut kemudian menggeledah isi mobil sampai kebagasi.
"Supirnya masih muda sekali tampaknya. Umur berapa?" tanya pak polisi tadi setelah memastikan isi mobil.
"Delapan belas tahun" sahut Zara.
"Ada SIM, STNK, sama KTP?" tanya pak polisi itu lagi. Wajahnya lumayan gagah, badannya tegap, dengan topi ala polisi yang melekat dikepalanya.
Zara mengangguk kemudian pergi kemobil sebentar dan kembali lagi sambil menyerahkan tiga barang yang diminta pak polisi.
"Baik. Semuanya lengkap, anda boleh melanjutkan perjalanan" kami semua mengangguk dan kembali masuk ke mobil.
"Gimana?" tanya Glen.
"Gimana apanya?" tanyaku bingung.
"Pak polisi tadi. Menurut kalian ganteng nggak?".
"Lumayan" sahut ku, Zara, Ais, dan Lala bersamaan.
"Iya sih emang" ujar Glen kemudian tergelak.
Hihihihihihi.
"Wuaaaaaaa suara kuntilanak mana tuh?" pekik Ais, Glen dan Lala bersamaan.
"Kuntilanak di hp-ku" sahutku santai. Padahal tadi sempet deg-deg an. Aku kira ada mbak kun, ternyata nada dering hp sendiri.
Aku mengambil benda pipih tersebut hingga nampak nama ibu di layar hp-ku. Aku menarik gagang telfon yang berwarna hijau ke atas.
"Load speaker!" titah Zara yang langsung saja aku turuti. Aku kemudian memencet tombol load speaker dan memegang hp-ku agak ke tengah supaya yang lain bisa mendengarnya.
Ibu Mawar
🔊"Assalamualaikum, halo nak. Kamu dimana?".
Risa
🔊"Waalaikumsalam. Lagi diperjalanan bu, mau ke komplek Daun Ijo".
Ibu Mawar
🔊"Komplek Daun Ijo?".
Risa
🔊"Iya bu, kenapa?".
Ibu Mawar
🔊"Hati-hati jika sudah sampai dikomplek itu ya nak".
Risa
🔊"Iya bu pasti".
Risa
🔊"Ada hal penting ya bu? Tumben telfon".
Ibu Mawar
Ibu menjeda sebentar ceritanya. Dari cara dia bernafas, dia seperti orang yang habis terkejut dan bingung. Ada apa ya?.
Ibu Mawar
🔊"Si kurir ngiyain aja dan langsung pergi. Karena ibu sama ayah penasaran isi paket besar tersebut, akhirnya kita buka".
Risa
🔊"Apa isinya bu?".
Ibu Mawar
🔊"Sebuah manekin berukuran besar dan panjang dengan kondisi tubuh yang sangat mengerikan. Sebuah benda layaknya organ tubuh manusia, berceceran disamping manekin tersebut. Dua bola matanya pun sudah hilang, begitu pula dengan jari manekin tersebut. Diwajahnya ada sekitar lima sayatan, dilehernya ada sekitar tiga tusukan, dan dibagian perutnya..... di jahit. Di atasnya ada sebuah kertas yang terlipat. Ketika ibu buka, tertulis "cepat bantu Ayu atau nasibnya akan seperti manekin ini" ibu terkejut dan langsung melempar kertas tersebut".
Ibu Mawar
🔊"Abis itu pandangan ibu buram, meninggalkan hitam yang ada. Saat ibu buka mata, kata ayah ibu pingsan".
Ibu Mawar
🔊"Maaf ya nak, ibu sudah buka paket tersebut".
Aku terdiam, bingung akan mengatakan apa. Seketika otakku ambyar dan berfikiran yang tidak-tidak dengan Ayu.
Ibu Mawar
🔊"Nak!".
Risa
🔊"E... eh... i... iya bu... kenapa?".
Ibu Mawar
🔊"Ibu sama ayah minta maaf karena sudah membuka paket tersebut tanpa seizin kalian".
Risa
🔊"Nggak papa bu. Sekarang ibu dimana?".
Ibu Mawar
🔊"Diruang tamu rumah Indigo Team nak, nggak papa kan?".
Risa
🔊"Nggak papa bu. Sebaiknya ibu, ayah sama nenek pulang aja sekarang, untuk jalan-jalan dipending aja dulu. Dan untuk paket tersebut, sebaiknya ibu tinggal diruang keluarga".
Ibu Mawar
🔊"Iya nak. Kalau begitu, ibu matiin dulu telfonnya. Assalamualaikum".
Risa
🔊"Waalaikumsalam".
Setelah itu, telfon pun mati. Ku tarik kembali hp-ku dengan pikiran yang sudah berkecamuk tidak jelas. Aku memutuskan untuk bertanya pada ibu via chat tentang kondisi nenek. Disela-sela pikiranku tentang Ayu, tiba-tiba otakku memikirkan nenek.,
Risa
💬"Assalamualaikum. Bu, mau tanya. Apa nenek lihat manekin tersebut?".
Tak lama setelah pesanku terkirim. Pesan tersebut langsung dibalas oleh ibu.
Ibu Mawar
💬"Iya nak, nenek lihat".
Ibu Mawar
💬"Tapi sekarang nenek baik-baik saja".
Risa
💬"Syukurlah kalo gitu. Pasal manekin tersebut, jangan ibu pikirin ya"
Ibu Mawar
💬"Iya nak".
Risa
💬"Ya udah, assalamualaikum".
Ibu Mawar
💬"Waalaikumsalam".
"Sepertinya, orang yang mengirim manekin tersebut adalah orang yang dekat dengan Ayu" ujar Zara.
"Mungkin saja. Kita harus bertindak cepat, tapi... jika kita dikirimi lagi manekin seperti itu. Manekin beberapa hari yang lalu itu maksudnya apa?" sahutku.
"Apa mungkin jika manekin beberapa hari yang lalu adalah gambaran nasib adiknya Ayu dan manekin yang sekarang adalah gambaran nasibnya Ayu. Aku pernah sekali main ke rumah Ayu, dan ketemu anak kecil yang kata Ayu itu adik tirinya. Ayahnya nikah lagi, sama wanita yang sekarang jadi ibunya" sergah Glen.
"Mungkin-mungkin saja tuh" sahutku.
"Ahhhh otakku pusing ngurusin semua ini. Kenapa sih aku harus punya kelebihan seperti ini" keluhku sambil menengadahkan kepalaku.
Ya, inilah aku. Walaupun sudah bisa menerima kelebihanku, tapi terkadang aku mengeluh ketika banyaknya kasus yang harus diselesaikan. Kenapa tidak polisi saja yang menerima ini semua??.
"Risa.... bukankah aku sudah sering bilang sama kamu. Apapun yang ditakdirkan tuhan, pasti menjadi yang terbaik untuk kita. Kamu udah janji kan sama kita-kita, kalau kamu nggak bakal ngeluh lagi tentang kelebihan kamu. Tapi, ternyata kamu ngecewain kita dengan melanggar janji yang sudah kamu buat. Kita ada sama kamu, kita bakal selalu sama kamu. Susah senang kita bareng. Jangan ngeluh lagi ya?, disini. Bukan hanya kamu yang memiliki kelebihan melelahkan seperti ini, melihat makhluk tak kasat mata dan membantu mereka yang terkadang harus dengan bertaruh nyawa" ujar Zara menasehati. Aku benar-benar nyaman dengan Zara, ketika sifat ke ibuannya sudah keluar.
Aku termenung. Aku... melanggar janjiku?.
"Tapi...."
"Nggak ada tapi-tapian. Hidup itu memang tempatnya lelah, masih ada banyak orang yang rintangan hidupnya lebih melelahkan daripada kita. Kebutuhan ekonomi kita tercukupi, seharusnya kita bersyukur dengan semua ini. Apalagi ketika kita, menjadi salah satu manusia yang ditakdirkan untuk menerima kelebihan spesial ini. Itu berarti kita kuat dengan cara kita sendiri. Mengeluh, tidak akan menghilangkan rintangan" sergah Zara.
"Hikss... makasih... makasih buat kalian semua yang selalu ada disisi Risa, menemani Risa dalam susah dan juga senang. Makasih juga buat Lala, kamu mau nerima Risa jadi temen Lala dengan banyak kekurangan dan kelebihan pada diri Risa" akhirnya air mataku lolos. Mendengar setiap kata yang diucapkan oleh Zara.
"Selagi masih diberi kesempatan untuk bernafas. Jangan mengeluh, ayo tebas semua rintangan yang membuat kita lemah" ujar Glen, Ais, dan Lala bersamaan. Aku mengangguk.
"Terus bagaimana ini?" tanyaku.
"Kita selesaikan satu-satu masalah ini" sahut Zara.
"Ngomong-ngomong ini masih jauh nggak?" tanya Ais.
"Masih nih, ada sekitar tiga jam lagi" sahut Zara.
"Buset".
Aku harus semangat. Jangan mengeluh lagi. Mengeluh tidak ada gunanya.
Bersambung...
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.