INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Kisah di sini (Season 2)



"Maaf, Kak suster. Sa-saya panggil Zara, Zara teman saya" Risa menunjuk Zara sebagai penjelasan.


"Owh... Kirain saya yang dipanggil, ya udah, ya. Saya pamit dulu" Zahra lalu mengesot dan menembus pintu ruangan.


"Kalian lama banget si ke kamar mandinya, ngapain aja?" tanya Zara dengan kesal.


"Maaf, ya, Ra, jadi buat kamu nunggu lama. Tadi matanya Glen kelilipin bulu mata" sahut Risa. Zara mengangguk.


"Gue pulang aja lah, udah sehat kok, males gue disini. Serem pula" rengek Glen.


"Enggakkk.. Kamu tuh belum sehat" sahut Risa seraya menyeret Glen untuk duduk di bed.


"Makan buah, yah? Jeruk, anggur, atau apel?" Glen menggeleng.


"Enggak nafsu lah".


"Ihhhh... Katanya pengin pulang, udah gak betah disini, makan buah biar cepet sehat tapi gak mau, terus gimana maunya?" Risa menaruh lagi buah apel yang sudah dipegangnya.


"Itu buah apel boleh aku makan gak, ya?" tanya Zara.


"Boleh, dek. Di makan saja kalau mau, biar sehat" sahut seorang Suster.


"Beneran, Sus?".


"Iyaa.. Silakan di makan" Zara pun dengan senang mengambil buah apel di keranjang buah di atas nakas dan pergi ke wastafel untuk mencucinya, setelah dicuci ia pun memakannya.


"Terima kasih, Sus".


"Sama-sama".


"Pasien di cek dulu, ya, perkembangannya? Membaik atau memburuk" kata Suster, name tag nya tertulis Tera. A.


Beberapa menit kemudian setelah di cek, suster mengatakan bahwa kondisi Glen lumayan membaik, namun belum diperbolehkan pulang.


"Rawat di rumah aja, ya, Sus? Nggak usah di sini, serem sus, gak kuat" rengek Glen lagi.


"Serem gimana? Emang alat suntiknya sama alat-alat lain pada hidup? Saya sama suster dan dokter yang merawat emang galak, ya, makannya jadi serem?".


"Bu-bukan itu, sus" Glen tergagap bingung akan menjelaskan apa.


"Terus apa? Apa... Disini banyak hantunya?" kerongkongan Glen terasa tercekat mendengar penuturan suster tersebut.


"Adek bisa lihat hantu?" Suster Tera bertanya dengan menggebu-gebu, wajahnya nampak semangat menantikan jawaban Glen.


"Enggak, saya-".


"Kalau bohong dosa" kalimat itu terbesit di hatinya.


"Disini ada hantu?" tanya Suster Tera.


"Ya, ada, di balik kaca jendela ruangan ini" sahut Zara.


"Apa kamu bisa melihat pergelangan tangannya? Apa disitu terdapat sebuah gelang? Berwarna hitam dan memiliki ukiran nama saya diatas sebuah benda logam berbentuk persegi panjang kecil?" cecar Suster Tera menggebu-gebu.


"Ya, ada gelang dengan nama suster di pergelangan tangannya, dia sedang melihat ke arah kita" Zara mengatakannya dengan eskpresi datar.


"Hmm... Dia terus melihat ke arah, Suster."


"Seperti ada yang ingin dia sampaikan" gumam Risa, namun masih bisa di dengar oleh ketiga orang disekitarnya. Zara dan Glen ikut melihat ke arah hantu tersebut selama beberapa detik.


"Ya, benar, wajahnya menggambarkan ia ingin berkata."


Suster Tera tiba-tiba meneteskan air mata, ada perasaan sedih dan kecewa dalam hatinya yang terus hadir menghantui.


"Dia... Adik saya yang bisu sejak lahir, namanya Gera, kekurangannya itu membuatnya dibedakan dan dijauhi oleh teman-temannya hingga ia depresi dan mengurung diri di kamar selama berhari-hari, hari ketiga dia mengurung diri, saya mendobrak paksa pintu kamarnya, dan melihat dia sudah tergeletak dengan darah yang keluar dari kepalanya. Sayapun membawanya ke rumah sakit, hingga beberapa hari kemudian ia meninggal karena alat yang membantunya memiliki daya terlepas dari tubuhnya. Itu semua karena keteledoran saya! Saya gagal menjaganya!" suster Tera bercerita dengan derai air mata hingga suaranya terdengar begitu menyayat hati, apalagi ia juga menyalahkan dirinya sendiri.


Zara mengiringnya duduk.


Langkah pelan dari balkon kamar mengarah pada suster Tera, kaki itu kemudian teridam di dekat Suster Tera, ia berdiri di dekatnya dan tak lama kemudian cairan dari matanya keluar. Dia terlihat seperti menangis.


"Kamu boleh meminjam tubuhku, Gera" gumam Risa seraya menunduk. Tak lama kemudian ia seperti kehilangan kesadaran, tangannya bergerak bukan dari kuasanya, ia mengambil buku dan pulpen di laci meja kecil di samping bed Glen dan menulis sesuatu disana diiringi derai air mata, cairan bening dari hidungnya juga turut mengalir.


"Terima kasih Kakak sudah menyayangi, Gera. Terima kasih Kakak selalu ada untuk, Gera. Maafkan Gera, Gera menyusahkan Kakak karena kekurangan Gera. Gera bahagia kalau Kakak bahagia, jangan terus salahkan diri Kakak sendiri, bukan Kakak yang salah, ada orang yang melepas selang infus di tubuh Gera" tangan Risa kemudian menepuk pundak Suster Tera dan menunjukkan tulisannya, beberapa detik Suster Tera membacanya, saat membaca akhir kalimat panjang yang ditulis Gera, ia tercengang dan menatap Risa.


"Gera?" Risa mengangguk.


"Siapa orang yang sudah melepas selang infusmu, Sayang?".


"Gera tidak tahu siapa, tapi Gera mendengar suara Mama".


"Mama?".


"Ya, Gera mendengar suara Mama yang berkata 'enyahlah duluan Gera, Kakakmu si Tera akan menyusul di kemudian hari. Dengan itu.. Aku bisa mengambil alih semua harta warisan keluarga kalian, hahahahaha'".


"Tidak saya sangka, ternyata Mama sangat jahat" gumam Suster Tera.


"Sebaiknya Kakak berhati-hati, jangan lagi menyalahkan diri Kakak, Gera pergi dulu, Gera sudah lega sekarang" Gera memeluk Kakaknya sebentar kemudian keluar dari tubuh Risa.


Setelah itu buku dan pulpen yang dipegang Risa terjatuh bersamaan dengan tubuhnya, Zara mengambil tisu terlebih dahulu untuk mengelap air mata dan ingus yang membasahi wajah dan leher Risa lalu membaringkanya ke sofa.


"Eum.. Maaf saya sudah merepotkan kalian, terima kasih banyak atas bantuannya, ucapkan juga pada dia" Suster Tera menunjuk Risa "Terima kasih dan salam dari saya, saya pamit dulu".


"Iya, sama-sama. Hati-hati, Kak" sahut Zara.


"Iya".


"Ada, ya, Ra, orang yang jahat kayak gitu, pengin nguasain harta warisan anaknya" Zara hanya diam tidak menanggapi, ia menatap wajah Risa beberapa detik seraya menunggu kesadarannya.


...----------------...


Di rumah Chalis.


"Kek, Yah, Lala pamit dulu, ya? Mau ke rumah sakit jenguk temen" Chalis mencium punggung tangan Kakek dan Ayahnya secara bergantian.


"Hati-hati, ya?" ingat Kakek, Chalis mengangguk lalu meminta supirnya untuk menyiapkan mobil. Setelah mobil siap, ia segera pergi menuju rumah sakit sesuai informasi yang Glen berikan padanya.


Seraya duduk santai di bangku tengah, Chalis juga memakai headseat nya untuk mendengarkan lagu-lagu kesukaannya. Tapi, tiba-tiba mobil berhenti mendadak hingga Chalis terdorong ke depan dan sedikit kesal.


"Ma-maaf, Non, tadi saya lihat ada kucing hitam lewat. Makanya saya ngerem mendadak, saya cek dulu, ya, Non" Chalis berdehem sambil mengangguk.


Beberapa detik kemudian supirnya kembali masuk ke mobil dengan ekspresi heran dan khawatir


"Gimana, Pak? Ada kucingnya?" supirnya itu menggeleng.


"Nggak ada apa-apa, Non".


"Udah pergi kali, ya? Ya udah, Pak, lanjut jalan aja, keburu malam" pak supir mengangguk.


Baru beberapa detik melaju, mobilnya kembali berhenti mendadak.


"No-Non, sa-saya.. Ce-cek dulu, ya?" Chalis menghela nafas kemudian mengangguk.


"Non.. Ban mobilnya, bocor, sebelah kanan, depan sama belakang" kata pak supir.


"Waduh.. Gimana nih? Ada ban serep ga, Pak?".


"Ada si, Non, tapi saya ga bisa gantinya".


"Yahhh... Aku juga ga bisa".


Tin! Tin!


Bunyi klakson dan sorot lampu kuning yang berkelap-kelip dari dua motor tertangkap oleh pendengaran dan penglihatan Chalis beserta supirnya, tak disangka, ternyata dua motor tadi berhenti di depan mobilnya. Chalis berfikir bahwa itu adalah sekelompok begal, sedangkan supirnya berfikir bahwa pengendara dua motor tadi berhenti untuk menolong mereka.


"Permisi, Pak? Ada apa dengan mobilnya?" tanya salah satu dari pengendara motor tersebut.


"Ban sebalah kanan, depan sama belakangnya bocor" sahut supir Chalis.


"Ada ban serep sama peralatan ganti ban?" supir Chalis mengangguk.


"Bisa diambilkan ban serep sama peralatan ganti ban nya, Pak? Siapa tahu saya bisa coba bantu" supir Chalis lagi-lagi hanya mengangguk dan menuruti perintah lelaki tersebut.


Chalis yang sudah melepas headseatnya dengan jelas mendengar ucapan lelaki itu, negatif thinking lagi-lagi menerjang otaknya, ia berfikir bahwa laki-laki tersebut sedang menghipnotis supirnya. Ia pun mengambil tongkat bisbol dan keluar dari mobil secara perlahan.


"Kamu penjahat, ya?! Kamu lagi ngehipnotis supir saya, kan!? Buat ambilin ban serepnya terus kamu bawa lari. Ya, kan?! Ngaku kamu!" tuduh Chalis. Saat lelaki itu menoleh, betapa terkejutnya dia. Aler! Lelaki paling cuek di sekolahnya lah yang ternyata ia tuduh tidak-tidak.


"Ka-Kak Aler!?".


Bersambung...


Guyss.. Maaf up lama, lagi sibuk banget, maaf juga kalau bab ini pendek. Besok di revisi kalau sempet, mata author udah sepet banget ini. Selamat malam semua!!❣️