
Adam hari ini sudah diperbolehkan sekolah. Sekolahku berjalan seperti biasanya. Lala kini sudah lebih ceria, mata pandanya juga sudah hilang. Ia lebih semangat menjalani hidupnya. Anggana juga masih sehat. Aku sering membawanya ke markas. Tapi ia juga sering mengeong saat melihat kamar mandi, padahal ia sering kesana untuk bak atau bab. Lala pasti mengajarkan Anggana untuk bak atau bab di kamar mandi.
"Ini kucing aneh banget yah, dia suka ke kamar mandi tapi setiap kali ke kamar mandi pasti ngeong. Kalo kita kan, kalo kiranya tempat itu nggak bikin nyaman pasti kita hindari atau bagaimana gitu, lah ini.." ucap Reza geleng-geleng kepala. Sehari, Anggana bisa ke kamar mandi sampai lima kali. Tapi ngeongannya akan berhenti setelah setengah jam.
"Kita harus cepet-cepet selesain masalah makhluk di kamar mandi nih, kalo setiap hari Anggana di bawa ke sini terus setiap dia ke kamar mandi ngeong. Bisa-bisa gendang telinga gw pecah berkeping-keping, mana ngeongannya serem lagi" sahut Glen sambil mengelus daun telinganya.
"Aduh!" kami semua terkesiap dan menoleh ke belakang.
"Raihan?" tanyaku terkejut melihat lemet putih ini berjalan layaknya ulet keket. Setelah sampai di dekatku, aku membantunya berdiri.
"Kenapa-kenapa? Coba cerita" tanyaku layaknya ibu-ibu yang menanyai anaknya ketika menangis sepulang bermain.
"Aku dibentak setan kamar mandi, lagi pas lari malah jatuh kesrimpet kaki" keluhnya.
"Kasian".
Ngeong.... grrr.. ngeong...
Ekor Anggana mengembang membuat tampak lebih besar dan gemuk. Ia menatap awas pada Raihan. Raihan yang sudah membuat Anggana menggeram bukannya merasa bersalah atau bagaimana malah menggoyang-goyangkan bok*ngnya meledek Anggana. Ia melompat cepat membuat Anggana mengikutinya.
"Wuaaa... tolong!.. tolong! Ini kucing jahat banget sama aku" pekik Raihan.
"Rasain lo! Makannya nggak usah sok-sok an sama Anggana, dia tuh kucing spesial" ucap Glen.
Aku mendengus lalu mengambil Anggana dari kepala Raihan yang sudah menyentuh lantai.
"Jangan nakal ya Ga! Dia temen aku" ucapku pada Anggana.
Ngeong... grrr..
Anggana kembali menggeram saat Raihan meledeknya dengan menggoyang-goyangkan ikatan kepalanya. Aku yang kesal dengan cepat menendang kaki Raihan hingga dirinya terjatuh.
"Buju buset! Suara apaan tuh" kaget Lala. Ia yang sedang asik bermain handpone seketika terkesiap saat Raihan terjatuh.
"Telinga kamu peka juga La, kelamaan main sama kita ya jangan-jangan" ucap Ais sedikit terkekeh.
"Suara apaan si?" tanya Lala.
"Raihan si pocong jatuh tadi" sahut Ais lalu tertawa.
"Owh..."
"Lhoh?".
"Apa?" Lala mengernyit.
"Kamu nggak takut?" tanyaku bersama yang lain serempak, bahkan Zara, Adam dan Wisnu pun ikut bertanya.
"Udah biasa, kalo main sama kalian aku udah nyiapin mental dan fisik dulu" sahut Lala dengan santainya.
"Wahhh... suka nih gw sama orang kaya Lala, baik-baik ya La" ucap Reza.
"Coba komunikasi sama hantu kamar mandi yuk" ajak Zara.
"Ngeri aku, auranya nggak enak banget" sahutku bergidik sambil mengelus bulu hitam Anggana.
"Ya udah, Dam temenin aku yuk" ucap Zara yang membuat mataku segera membola. Aku beranjak dan menarik tangan Zara, membawanya menuju kamar mandi untuk mencoba berkomunikasi dengan hantu kamar mandi.
"Giliran Adam aja".
"Mbak!" sapa Zara.
"Ra! Ha-hantunya a-ad disam-samping kamu" ucapku gagap sambil menunduk setelah sekilas tadi melihat penampakan hantu kamar mandi.
"Owh... iya, mbak... boleh bicara?" tanya Zara pelan.
"Mau bicara tentang apa?" tanya hantu tersebut.
"Saya dan kawan-kawan niatnya mau bantuin mbak".
"Bener?".
"Bener" sahut Zara yakin.
Aku mendongak sedikit, hantu tersebut sudah merubah tatapannya menjadi lebih hangat, auranya pun sudah lebih baik.
Zara mengajak hantu tersebut untuk duduk di kursi halaman belakang.
"Mbak, saya boleh tahu nama mbak siapa?" tanya Zara.
"Zena".
"Owh... baiklah Mbak Zena, mbak meninggal karena apa?".
"Yang saya ingat, sebelum saya meninggal. Saya berada di sebuah pabrik kosong bekas pembuatan rokok. Saya diikat di sebuah kursi, di tengah-tengah pabrik tersebut. Saat saya sedang berusaha untuk membebaskan diri... saya lihat ada seorang lelaki... yang mendekat ke arah saya, ia tersenyum, lalu melecehkan saya hingga saya kehilangan keperawanan saya yang sudah saya jaga selama ini.."
"...Setelah puas melakukan aksinya, ia mengarahkan sebilah pisau pada perut saya lalu menusuknya. Kesadaran saya perlahan hilang" jelas mbak Zena dengan intonasi datar. Suara datarnya terdengar berbeda dari suara datar manusia, ia lebih menyeramkan dan membuat pendengarnya ikut merasakan apa yang ia rasakan saat itu, termasuk aku.
"Pelecehan dan pembunuhan, pelaku bisa mendapat hukuman ganda" ucapku.
"Mbak tahu siapa orang tersebut?" tanya Zara.
"Saya tahu dia siapa, dia kakak saya. Kakak tiri saya lebih tepatnya, dari awal memang dia sudah berkelakuan tidak baik pada saya" sahut mbak Zena masih dengan intonasi datar.
"Dasar lelaki brengs*k!" umpat mbak Zena yang langsung membuat auranya kembali tidak enak dirasa.
"Mbak! Mbak tenang ya, kita akan coba bantu tangkap pelakunya" ucap Zara mulai khawatir.
"Lelaki seperti dia tidak pantas ada di dunia!!" teriak mbak Zena tinggi bersamaan dengan angin yang memporak-porandakan halaman belakang. Ia terbang di tengah-tengah taman bersama dengan petir yang menyambar dan awan hitam yang mulai muncul. Setelah itu mbak Zena hilang entah kemana digantikan dengan hujan deras.
"Sepertinya ia benar-benar marah dengan kakak tirinya, lelaki seperti dia memang tidak bisa dimaafkan dan dibilang manusia, sudah melecehkan, di bunuh pula" ucap Zara sambil menatap taman yang sudah porak-poranda.
"Kita harus cepat bantu mbak Zena, kasian dia, tidak bisa melanjutkan kehidupannya di alam selanjutnya jika masih menaruh dendam pada kakak tirinya" sahutku sembari membenari pot yang belum rusak di tempat semula.
"Astagfirullah!! Ini kenapa taman nya jadi kaya kapal pecah" ucap Ais histeris. Ia berlari menuju pohon bunga mawar kesayangannya. Ia tersenyum lega saat melihat pohon kesayangannya masih baik-baik saja, hanya pot nya saja yang sudah pecah.
"Amarah dan rasa dendam didalam dirinya dapat membahayakan yang lain" gumam Wisnu.
"Kita harus cepat selidiki masalah ini, sepertinya dia sudah benar-benar murka dengan kelakuan sang pelaku. Bahaya jika dibiarkan, bisa-bisa bukan hanya sesamanya atau kita yang celaka, tapi manusia dan arwah yang tak tahu apapun yang ikut kena imbasnya" sahut Adam. Aku dan yang lain mengangguk setuju dan memutuskan untuk membereskan taman.
Bersambung...
Siapa yang bisa bantu tenangin mbak Zena nih? Dukung Risa dkk supaya bisa cepat tangkap pelakunya yah...
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.
Terima kasih.