
Happy Reading...
Sapaan itu membuat Risa dkk yang sedang lumayan melamun tersentak, bahkan Reza sampai tercebur ke air. Kesannya lebay, sapaan lembut saja membuat dia sampai tercebur atau memang dianya saja yang kagetan.
Bunda Nami dan bunda Ila datang bersama Ligo. Mereka bertiga berdiri seraya mengernyit tipis.
"Kaget?" tanya bunda Nami. Tidak ada yang menjawab, tapi bunda Nami yakin bahwa diam mereka adalah jawaban 'iya' dari pertanyaannya.
"Bunda.. Kok bisa ada disini?" tanya Risa.
"Bunda terpanggil".
"Kalian sedang dalam bahaya, ada jiwa yang memaksa kalian untuk membantunya. Jika kalian gagal, kalian akan ikut bersamanya" ucap Ligo tiba-tiba, wajahnya nampak serius.
"Jiwa yang memaksa kami? Siapa jiwa itu?" tanya Chalis.
"Kalian pernah bermimpi? Di mimpi itu kalian melihat anak kecil yang berdiri di depan kuali, kuali yang ada di gudang pengolahan kentang?" Risa dkk mengangguk serempak menjawab pertanyaan bunda Nami.
"Apa dia jiwa itu?" tanya Rey, bunda Nami mengangguk.
"Dia meminta kalian untuk membantunya menemukan pembunuhnya".
"Siapa pembunuhnya?" tanya Glen.
"Itu si kami tidak tahu, oh iya.. Bukannya Zara bisa lihat masa lalu dengan menyentuh sesuatu kan?" Zara mengangguk.
"Coba kamu pakai kekuatan itu".
"Energi disana kuat banget, Ratu. Kami kemarin kesana dan mencoba berkomunikasi, tapi saat dia bilang buat kami untuk membantunya mencarikan pembunuhnya, kami langsung terpelanting karena energi yang dia keluarkan waktu itu bertentangan dengan energi kami" jelas Zara.
"Gitu ya... Terus gimana ya?".
"Bagaimana kalau kami nanti yang coba berkomunikasi, lalu kalian mencoba mencari sesuatu yang dapat Zara liat masa lalunya?" usul bunda Ila.
...----------------...
Malamnya, pukul sembilan lima belas. Risa dkk sedang duduk-duduk santai seraya menunggu bunda Nami, bunda Ila, dan Ligo datang.
"Eh.. Lis, lo utang cerita sama kita" Rey memulai percakapan.
"Yang waktu itu?" Chalis nampak tidak bersemangat menceritakannya.
"Iya".
"Harus ya gue cerita?" Rey mengangguk.
"Waktu itu gue liat lampu gudang nyala, karena penasaran akhirnya gue samperin ke sana. Sampai disana tiba-tiba lampunya mati, terus gue... Liat anak kecil serem banget, wujudnya kayak yang di mimpi kita. Dia bilang 'Mama... Jahat!' tapi sambil nunjuk gue. Gue takut plus bingung waktu itu. Akhirnya gue cari cara buat keluar dari sana, syukurnya gue bisa keluar".
"Mama jahat?" Chalis mengangguk.
"Lo mamanya?" Chalis mengernyit lalu memanyunkan bibirnya.
"Otak dipake ya beg*!"
"Sehhh... Kok ngegas? Terus maksudnya dia nunjuk lo sambil bilang mama jahat maksudnya apa?" Chalis mengendikan kedua bahunya.
"Mungkin mamanya dia" celetuk Zara.
Bunda Nami, bunda Ila, dan kak Ligo datang tiba-tiba saat Chalis akan berucap, mereka membawa Risa dkk pergi menuju gudang pengolahan kentang.
"Maaf mengganggumu, kami ingin berbicara denganmu, tolong... Keluarlah" setelah kalimat itu keluar dari mulut bunda Nami, angin tiba-tiba berhembus kencang, kuali di depan mereka mengeluarkan asap panas dan air yang muncul tiba-tiba disana bergejolak hebat, tumpukan kayu dibawahnya pun menyala.
"Kalian ingin berbicara apa denganku?" tanya anak kecil tersebut, ia keluar dari kuali dengan cara merangkak. Disisi lain, saat bunda Nami, bunda Ila, dan kak Ligo merekrut sementara fokus anak kecil tersebut, Risa dkk berusaha mencari sesuatu barang yang nampak mencolok di ruangan tersebut.
Akhirnya, Risa melihat sebuah kalung berliontin biru yang terletak dibawah rak yang berisi banyak pisau. Ia kemudian mengambilnya dan membawanya ke teman-temannya berada.
"Coba kamu lihat ada masa lalu apa yang terekam di kalung ini nanti setelah kita balik dari sini" ujar Risa lalu menyerahkan kalung tersebut kepada Zara yang sigap menerimanya lalu mengantonginya.
"Aku harus menemukan pembunuhku, ia harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah ia lakukan padaku, berani berbuat.. Maka harus berani bertanggung jawab. Namun, aku tidak bisa keluar dari gudang ini, aku tidak bisa mencari informasi tentangnya. Tolong.. Bantu aku, maka aku akan tenang dan tidak mengganggu lagi" ucap anak kecil tersebut.
"Mama.. Mama.. Mama jahat!" Rio, nama anak kecil tersebut. Ia kembali membentak Chalis hingga ia tersentak.
"Mama.. Jahat.." Rio kemudian hilang entah ke mana.
"Kita pergi dari sini" ajak bunda Ila.
...----------------...
Siang harinya setelah makan siang, Risa dkk memutuskan untuk pulang. Setelah sampai di rumah masing-masing, mereka pun beristirahat.
...----------------...
"Jangan.. Jangan ambil kunci itu! Kembalikan...!!" Risa tersentak dan mengubah posisinya menjadi duduk. Ia mengusap wajahnya yang basah karena keringat.
"Apa benar itu hanya mimpi? Kenapa terasa sangat nyata?" gumam Risa, ia kemudian menatap meja kecil disamping ranjangnya lalu menghampirinya, ia mengambil teko di atas meja tersebut lalu menuangkan isinya ke dalam gelas hingga terisi separuh yang kemudian Risa minum hingga habis.
"Kunci itu dalam bahaya, tapi juga nyawa kami semua".
...----------------...
Subuh, pukul empat empat empat. Chalis terbangun karena merasa lapar. Di depan kamar kedua orang tuanya, ia mendengar suara mamanya yang mengigau. Papanya sedang pergi keluar kota, kakeknya sedang pergi ke masjid menunaikan sholat subuh berjamaah.
"Pergi, Rio! Jangan ganggu mama! Pergi! Pergi, Rio!" Chalis mengernyit mendengar nama Rio, ia kemudian membuka pintu kamar kedua orang tuanya dan menyadarkan mamanya. Setelah mamanya sadar, ia langsung memeluk Chalis seraya menangis. Setelah mamanya tenang, ia pergi ke dapur untuk memasak makanan.
...----------------...
Sore hari, di markas Indigo Team. Mereka sedang berkumpul membahas tentang apa yanh terjadi pada Risa daa Chalis. Keduanya sama-sama dilimbung rasa khawatir, takut, cemas, dan teman-temannya yang membuat mereka bergetar sedari tadi.
"Kalian tenang dulu, semua pasti ada jalannya kok. Kalau untuk masalah Risa, yang tentang kunci batu suci itu bersama bukunya, gimana kalau kita beli brankas keamanan ganda? Terus kalau untuk masalah Chalis, kamu jangan gegabah, perhatiin aja mama kamu kayak biasa" ucap Zara. Solusi terbaik memang terkadang bisa muncul dari seorang Zara.
"Kalau dia curiga?" tanya Chalis.
"Eumm.. Ya kamu jangan sampai buat dia curiga, gelagat kamu jangan seolah-olah sedang mengintimidasi".
"Gue nggak yakin gue bisa, Ra".
"Di coba dulu.."
Chalis pun memutuskan untuk pulang, tanpa ikut kawan-kawannya membeli brankas.
...----------------...
Di dalam kamarnya, Chalis berbaring memikirkan kiranya apa yang akan terjadi di masa depan. Apa yang akan terjadi dengan dirinya, ayahnya, kakeknya, jika mamanya memang benar jahat dan yang sudah membunuh Rio.
"Aku anak pembunuh? Hahahaha... Nggak mungkin! Aku nggak mungkin anak pembunuh! Huhuhuhu... Aku nggak mungkin anak pembunuh! Kalau memang aku anak pembunuh, kenapa harus aku? Kenapa harus pembunuh? Bukan anak presiden atau menteri? Mengerikan!" racau Chalis.
"Ngeong..." Anggana menghampirinya lalu melingkar di atas perutnya. Mood Chalis seketika membaik, ia mengelus bulu kucing tersebut kemudian tidur bersamanya.
Sedangkan di dalam kamar mama Chalis, ia terbangun karena mimpi yang mengerikan. Hal yang paling dibencinya ketika bermimpi mengerikan adalah tidak bisa menghindar dari apa yang mengejar. Dan itu kini ia alami, dikejar sosok Rio yang berjalan terseok-seok namun seolah lebih cepat dari larinya. Badan dan wajahnya melepuh, mengeluarkan darah dan nanah.
"Mama harus bertanggung jawab...".
"Mama nggak mau masuk penjara! Pergi kamu!".
"Gimana ini? Aku nggak mau masuk penjara! Aku nggak mau jadi narapidana? Gimana sama Chalis? Sama kakek dan papa?" mama Chalis mulai memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi bila ia masuk penjara. Ketakutannya bila semua orang menjauhinya karena kelakuannya di masa lalu.
"BERTANGGUNG JAWABLAH!!!!".
"Wuaaaaaaaa.....".
Bersambung...
Baca cerpen author yuk 'Dia Idolaku'.
Thank You All...
❣️❣️❣️❣️