
Adam membungkuk dan memetik bunga matahari yang tumbuh ditanah. Ia lalu menghadapkan dirinya padaku dan memasangkan bunga tersebut diatas telinga.
"Apaan sih Dam, geli aku" aku mengambil bunga matahari tadi yang sudah menyelip diatas telinga dan memegangnya.
"Yee elu, nggak ada romantis-romantis nya si" keluhnya datar.
"Bodo amat! Aku nggak terlalu suka yang romantis-romantis, tadi telinga aku rasanya geli banget tahu".
"Dasar!".
Kami berdua duduk disebuah bangku panjang yang hanya memuat kiranya tiga orang, menghadap ke taman yang sangat asri dan menyejukan walaupun berada di lingkup rumah sakit.
"Balik ke kamar yuk, aku mau mandi" ajakku setelah lumayan lama berada ditempat.
"Yuk".
Kami berdua berjalan beriringan seperti saat keluar dari kamar tadi hingga duduk di bangku taman. Banyak orang lewat dan berbisik-bisik.
"Cewe nya perhatian banget"
"Iya, cocok banget ya mereka. Cowonya ganteng, ceweknya cantik. Cowonya sakit, cewenya ngeperhatiin. Sampe begitunya... jadi pengin punya cowok gitu juga deh"
"Ho'oh bener".
"Ngehalu aja lu, lu punya cowok yang lagi sakit karena jadi korban tabrak lari bukannya dirawat malah diputusin" sarkas lelaki disampingnya yang membuat perempuan disampingnya tertawa cekikikan sedangkan perempuan yang bilang menginginkan lelaki seperti Adam tersenyum kecut dan juga kesal.
"Mereka bilang kita cocok Ris" aku berdehem.
"Kok cuma hem doang si?".
"Ya harus bilang apa?".
"Ya bilang, iya cocok apa gimana gitu" aku berhenti membuat Adam juga ikut berhenti selangkah lebih maju didepanku.
"Aku jadi inget sama Meme" aku melanjutkan jalan sambil menceritakkan tentang Meme dan ceritanya, termasuk saat aku menjawab bahwa aku adalah kekasih Adam.
"Kalau seandainya lo jadi kekasih gw beneran gimana?" aku tersentak lalu menunduk. Pikiranku melayang tidak jelas, entah kenapa setiap aku membahas tentang cinta dan kasih sayang. Pikiran negatif lah yang lebih dulu masuk ke otak.
"Lo kenapa? Belum siap ya?".
"Nggak usah di jawab, kayaknya dugaan gw bener" Adam menggandeng tanganku sambil kembali berjalan. Satu tangan yang lain memegang gantungan infus.
"Gw tahu, sulit bagi lo buat nerima gw dengan semua yang sudah terjadi, tapi gw bakal berusaha untuk bisa ngedapetin lo dan ngeyakinin lo bahwa nama lo lah yang sekarang terpaku di hati gw yang paling dalam" didalam hatiku ada rasa ingin sedikit tertawa saat ia mengucapkan bahwa namaku lah yang terpaku di hatinya yang paling dalam.
"Drama kamu" kekehku.
"Gw nggak drama, gw serius" Adam berdiri didepanku dan memandangku serius. Sikapnya yang terlalu serius sebelum ini bisa saja kan membuatnya gampang serius walaupun menyimpan kebohongan didalamnya. Entahlah, kenapa otakku yang terus-terus negatif thinking.
"Badanku sudah lengket, ingin segera mandi. Jalan lah yang cepat" ucapku lalu melepas genggamannya.
"Jalan!" Adam tidak bergeming.
"Jalan! Aku bilang jalan, ya jalan!" bentakku kesal. Aku tidak tahu kenapa aku seperti ini.
"Gw minta maaf".
"Nggak usah minta maaf, bukan salah kamu. Sekarang aku minta kamu jalan" sahutku datar.
Kami berdua melanjutkan jalan dengan diam, kecangguan terjadi karena ucapanku. Adam pasti tidak ingin lagi berbicara denganku karena kesal dengan sikap bod*hku ini.
Sesampainya di ruang rawat Adam, aku membantunya untuk berbaring di bed sedangkan aku pergi mandi. Selesai mandi aku pergi keluar untuk mencari warung dan makan.
"Sendirian aja neng?" aku menoleh, melihat seseorang berbadan kekar dengan rambut gondrong dan juga celananya yang sobek di beberapa bagian. Ia mengenakan tiga kalung perak dari yang besar, sedang hingga kecil. Dari gaya pakaiannya, ia bukan orang yang baik.
Aku melihat sekeliling, para pengunjung yang ada di warung ini semuanya terdiam dan memandangku kasihan atau apa itu aku tidak tahu. Mereka sedikit menjaga jarak dengan kondisiku saat ini. Saat aku menoleh ke pak penjual, ia juga memberikan reaksi yang sama. Sial!.
"Iya, sendirian. Kenapa?" tanyaku datar.
"Datar amat si neng, senyum dikit napa. Nanti cantiknya ilang lhoh, main yuk sama abang" ajak nya ganjen.
"Maaf, cantik-ku hanya akan aku tunjukkan di hadapan lelakiku dan juga keluarga serta kawan-kawan" sahutku masih datar. Lama-lama kesal dan mual juga berada didekatnya. Jika aku disuruh untuk memilih berada didekat Meme atau lelaki ini, jawabanku saat ini adalah berada di dekat Meme.
"Belagu lu ya" ia menarik tanganku kasar dan menyuruhku berdiri.
"Lepas!" ucap seseorang. Aku menoleh ke sumber suara, pemilik suara tersebut adalah Adam dengan wajah dingin dan datarnya. Ini anak lagi, dia kan masih sakit. Malah kelayapan.
"Siapa lu?" tanya lelaki ganjen tadi.
"Gw lelakinya, kenapa? Ada masalah?".
Kejadian ini terulang lagi, di mana salah satu dari aku atau Adam berbohong untuk membaik-kan situasi.
"Owhh.... lu cowoknya? Ganteng juga si lo, cewek lu juga cantik. Tapi maaf, dia sekarang punya gw" sombong lelaki ini. Aku menarik tanganku dan berjalan mundur sedikit menjauh.
"Gak secepat itu" lelaki tadi terlihat kesal saat Adam tersenyum smirk. Ia melayangkan pukulan yang berhasil mengenai pipi Adam.
Adam membalasnya, tapi gerakannya lebih mengambil strategi daripada menyerang terus menerus. Lelaki tadi sudah mulai melemah karena diserang bagian vital nya oleh Adam.
Saat lelaki tadi akan memberikan tendangan pada Adam yang sedang menatapku. Aku segera berlari dan berdiri di hadapannya, akhirnya.. akulah yang kena tendangan tersebut. Darah segar langsung keluar dari mulutku. Tidak banyak, tapi tendangan tadi cukup menyakitkan dan juga kuat. Aku sampai terdorong ke belakang.
"Sial!" umpat lelaki tersebut dan berlalu pergi. Dasar lelaki tidak bertanggung jawab, sukanya cari masalah.
"Sini gw bantu" Adam memegang bahuku dan membawaku duduk.
"Kamu kan lagi sakit, kok kelayapan si?" tanyaku sambil mengelap bibirku.
"Gw ngerasa gw dipanggil sama lo, firasat gw juga nggak baik tentang lo. Akhirnya gw mutusin buat cari lo, dan bener aja tentang apa yang gw rasain. Lo lagi dalam bahaya".
"Pipi kamu nggak papa tadi?".
"Nggak papa, palingan luka sedikit. Lo sanggup jalan nggak? Kalo nggak sanggup gw gendong aja, lo harus diperiksa sama dokter" aku menggeleng.
"Kayaknya enggak".
"Ya udah gw gendong aja" Adam memutar tubuh dan memintaku untuk menaiki punggungnya. Aduh! Mana ramai banget ini, malu lah aku.
"Eumm... pak! Pesenan saya sudah di buat belum?" tanyaku sebelum digendong oleh Adam.
"Sudah neng".
"Mana pak?" bapak tersebut menghampiriku dan menyerahkan sebuah plastik yang berisi pesananku. Aku menyerahkan uangnya dan berterima kasih lalu pamit pergi dengan menaiki punggung Adam.
"Hati-hati neng!".
"Iya pak!".
Setelah sampai di lobi rumah sakit. Adam langsung meminta pertolongan pada suster yang berjaga. Aku segera diturunkan dan duduk di atas kursi roda yang lalu didorong oleh suster ke ruang pemeriksaan. Adam juga diperiksa diruangan yang berbeda.
"Makasih mbak, kalau begitu saya pamit dulu. Permisi" aku keluar ruangan setelah dianggukan suster tersebut.
Didepan pintu, aku bertemu dengan Adam yang sepertinya juga sudah selesai pemeriksaan.
"Udah?" tanya nya.
"Udah, kamu udah?" ia mengangguk.
"Ya udah, balik ke kamar yuk. Kamu masih sakit".
Aku berjalan dengan menahan sakit di perut sambil memapah Adam yang mulai sempoyongan.
Sesampainya diruangannya, aku segera membaringkan Adam di bed sedangkan aku duduk di sofa.
"Perut lo sakit banget?" tanya Adam.
"Udah mendingan, tadi pas baru ditendang sakit banget. Makasih yah udah nolongin aku" Adam berdehem, ia juga mengucapkan terima kasih.
Malamnya ibu dan yang lain datang seperti biasa untuk mengecek kondisiku dan juga Adam. Ibu saat melihat obat untuk meredakan rasa sakit di perutku setelah di tendang tadi siang langsung panik dan mencecarku berbagai macam pertanyaan.
"Aduh... bu, jangan tanyain Risa terus dong, Risa kan jadi bingung mau jawab nya kapan" keluhku.
"Oh ya sudah, sekarang jawab" aku menjelaskan kejadian tadi siang secara singkat, padat dan jelas.
"Lelaki sialan! Awas saja kalau sampai ketemu, ibu ulek-ulek sampai jadi adeknya plangton" kesal ibu sambil memeragakan kegiatan mengulek sambal di tangannya.
"Udah bu, sabar aja. Yang penting Risa nggak papa kan? Risa masih bisa ketemu ibu sama yang lain" ucapku menenangkan. Malam semakin larut, ibu dan yang lain pamit pulang. Hanya tersisa aku dan Adam yang masih bercakap-cakap sebentar.
"Aku udah nggak betah lama-lama disini Dam" gumamku.
"Sama".
Wung....
Suara korden yang berhembus tertiup angin membuat udara masuk kedalamnya. Kenapa bisa jendela terbuka di waktu malam seperti ini?. Aku yakin bahwa aku sudah menguncinya tadi. Aku berjalan menghampiri jendela dan menutup korden yang masih menari-nari dengan cepatnya karena tiupan angin.
Jderr...!! Jder...!!
Suara sambaran petir mulai terdengar setelah aku menutup jendela. Langit yang mulanya bertaburkan bintang dan cahaya bulan kini sudah hilang tertutup awan mendung.
Aku mengabaikannya. Perubahan cuaca memang bisa terjadi kapan saja dan secepat itu. Aku menghampiri Adam dan duduk dikursi. Adam belum terlelap, katanya ia ingin menemaniku sampai aku tertidur.
Lampu diruangan mulai mati-nyala seirama dengan sambaran petir diluar. Korden tadi juga menari-nari lagi walaupun jendelanya masih tertutup. Karena ketakutan, aku secara reflek memegang tangan Adam.
Saat lampu menyala sebentar, sebuah bayangan tanpa kepala muncul sekitar tiga meter dari kami berdua, setelah itu lampu mati. Lampu kembali menyala, bayangan tersebut sudah semakin jelas bentukannya, jaraknya hanya sekitar dua meter dari aku dan Adam. Seperti tadi, lampu kembali mati, saat lampu menyala lagi. Sosok tanpa kepala tersebut sudah dalam jarak satu meter dari kami berdua. Aku semakin mempererat genggamanku pada tangan Adam.
Tuk..
Aku merasa sebuah benda menabrak kaki bed dan juga kaki ku. Saat lampu menyala, aku melihat benda tersebut. Betapa terkejutnya aku saat melihat benda tadi adalah sebuah kelapa yang berekspresi seperti orang kebingungan. Matanya berwarna merah terang. Aku berusaha untuk berteriak, namun mulutku seakan terkunci dan menjadi kelu.
"Kepalaku di mana?" ucap sosok badan tanpa kepala tadi. Suaranya dari badannya, padahal mulutnya ada di kepalanya.
"Mas, mbak, kepala lo ada di bawah bed nih" ucap Adam. Aku menatapnya tajam. Aku sudah ketakutan setengah mati. Mau menutup mata, tapi mataku seperti di sanggah oleh sesuatu. Jika di tutup, maka akan terasa lebih menjadi-jadi.
Sosok tersebut yang hanya berupa badan menunduk dan menggapai benda berbentuk bulat dengan indra penglihatan dan sebagainya lalu memasangkannya di atas lehernya. Sosok tersebut memiliki bulu yang sangat lebat dan juga berwarna hitam. Kuku-kukunya panjang dan runcing. Tingginya mungkin sekitar dua meter.
Saat sosok tersebut sibuk dengan kepalanya. Aku menaikan kaki ku dan menekuknya. Lututku menyentuh bibirku yang gemetaran tidak karuan.
Kepalanya sudah terpasang sempurna, matanya memandang kami berdua. Tapi tak lama setelah itu, kepalanya terlepas kembali dari badan dan terjatuh menggelinding. Sosok tersebut mengambil lagi kepalanya dan memasangkannya lagi seperti semula.
Aku berteriak kencang dan beranjak naik ke atas bed. Karena ketakutan, aku menarik selimut yang di pakai Adam untuk menyelimuti tubuhku hingga menutupi kepala.
"Lhoh wajah saya mana ya? Kok bulu semua" ucap sosok tersebut.
"Mas pasangnya udah bener, cuma nyentuh nya aja yang salah. Coba sentuh yang bagian depan" ucap Adam sedikit terkekeh.
"Owh iya udah ada, makasih yah. Maaf tadi saya nakutin pacar kamu, saya butuh temen si mas" ucap sosok tersebut.
"Ya udah cari".
"Saya penginnya sama kalian, kalian itu bau darahnya berbeda gitu, auranya juga kuat banget".
"Ya sudah, kenalan dulu mas. Nama saya Adam, kalo cewek ini namanya Risa".
"Owhh... nama saya Gege, itu bukan pacar kamu?".
"Belum mas, lagi usaha" pipiku seketika merona mendengar ucapannya.
"Semangat ya, jangan keras-keras kalo mau ndapetin hati perempuan, sekeras-kerasnya hati perempuan, hatinya pasti memiliki kelembutan" ucap Gege.
"Jiahh.... mas Gege, sesuai banget dah omongan sama namanya" Adam tertawa kecil.
"Risa masih takut ya lihat saya? Apa perlu saya berubah dulu jadi cowok ganteng biar dia nggak takut" tanya Gege.
"Ehhh.... jangan jangan! Nanti dia malah kesemsem sama mas, berubah aja jadi cewek culun. Coba deh, bisa nggak?" tanya Adam.
"Bisa, nih ya".
"Ris lihat mas Gege deh" aku membuka sedikit selimut yang menutupi kepalaku dan melongok ke arah makhluk berbulu hitam tinggi besar tadi yang sudah berubah menjadi perempuan culun berkacamata dan rambutnya yang di kepang dua.
"Ka-kalo ke-ketemu sa-saya pe-penampila-lannya ka-kaya manusia a-aja ya" pintaku gagap. Udah deh, penyakit gagap ku pasti langsung kumat jika bertemu dengan makhluk mengerikan. Tapi jika aku sudah terbiasa dengan mas Gege, pasti mau bagaimana pun wujudnya, aku akan bersikap biasa saja.
"Ok".
"Kalian tahu tidak?" aku dan Adam menggeleng serempak membuat mas Gege mendengus kesal.
"Umm.. sebentar, ini kan mas Gege nya lagi berubah jadi perempuan. Kalo dipanggilnya mas kan kurang cocok, gimana kalo saya panggilnya mbak aja?" mbak Gege mengangguk.
"Lanjut!" ucap Adam.
"Kalian tahu tidak kalau hanya makhluk-makhluk tertentu yang bisa mendekati kalian?" aku dan Adam menggeleng lagi.
"Kalau begitu... berarti mbak Gege termasuk makhluk yang beruntung karena bisa dekat dengan kami" ucap Adam.
"Yup betul sekali, sebenarnya saya dikirim oleh seseorang untuk menjaga kalian berdua, karena kalian berdua adalah pemilik batu suci".
"Maksudnya?" tanyaku dan Adam bersamaan.
Bersambung...
Ehh... gimana nih? Adam dan Risa pemilik batu suci? Lah, batu suci itu apa? Si Gege ini sebenarnya dikirim sama siapa si? Temukan jawabannya di bab berikutnya ya.
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.
Terima kasih.