
Sebuah kursi goyang yang diduduki seorang kakek tua bergerak pelan, disisinya berdiri makhluk-makhluk semacam genderuwo.
"Kakek!" teriak Ais.
"Aisyah..." lirih kakeh tersebut.
"Lepaskan kakek itu genderuwo jelek!" teriak Reza.
"Ho.. ho.. ho.. kau lebih jelek dariku" balas salah satu genderuwo yang berdiri disisi kakek Ais.
"Cih! Tak sadar diri!" olok Rey.
"Bagaimana cara mengalahkan mereka Cyn?" tanyaku panik.
"Tarik kabel itu" Cyntya menunjuk ke salah satu stop kontak yang tertancap kabel berwarna hitam. Saat ditelisik lebih jauh, kabel-kabel tersebut mengarah pada sekumpulan genderuwo yang berada disisi kakek Ais. Aku segera berlari menghampiri stop kontak tersebut dan menarik kabelnya dengan perlindungan yang Adam buat.
"Wuh.. wuh.. wuh.. tak akan semudah itu kalian pergi dari sini, kalian harus mendo'akan kami dahulu dengan ikhlas supaya kami bisa tenang dan mengeluarkan kalian dari dunia kami" ucap seorang nenek tua yang berjalan muncul keluar dari kegelapan.
"Kami akan melakukannya" sahut Wisnu. Ia memberi perintah pada kami semua untuk duduk bersila dan berdo' a dengan khusyuk dan ikhlas untuk mengantarkan arwah-arwah para kakek dan nenek dipanti jompo ini.
Beberapa menit kemudian. Aku buka mata dan melihat sedang duduk bersila didepan halaman sebuah bangunan yang sudah roboh bersama tema-teman.
Mereka perlahan-lahan mulai membuka mata dan mengamati keadaan sekitar. Cyntya mendekati kami dan berterima kasih.
"Namaku Cyntya Ningsih, aku adalah anak tunggal pendiri panti jompo Terang. Panti jompo ini roboh karena kondisi tiang penyangganya yang sudah lapuk hingga menimpa dan menewaskan penghuninya. Ayahku depresi setelah kejadian itu, korban-korban bergelimpangan dengan sejumlah luka dan juga darah. Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk bunuh diri, sedangkan aku.. aku meninggal karena menjadi salah satu korban yang tertimpa puing-puing bangunan panti jompo ini. Nenek-nenek tadi, adalah ketuanya kakek dan nenek tua dipanti jompo ini" jelas Cyntya.
"Jadi sebenarnya panti jompo Terang ini ada atau tidak?" tanya Glen.
"Ada".
"Tanyakan saja sendiri padanya. Aku pergi dulu, terima kasih.. maafkan aku, aku tadi membawa masuk kalian ke dimensi lain.." Cyntya kemudian menghilang.
"Apa selama ini kakek Ais berada dibekas panti jompo terang ya"
Batinku.
"Heh! Pemuda pembohong! Katakan yang sejujurnya! Kenapa tadi kamu berkata bahwa panti jompo Terang itu tidak ada?! Hah?! Cepat katakan!" sentak Glen.
"Darimana kalian tahu bahwa panti jompo Terang itu ada?" tanya pemuda tersebut.
"Apa aku harus memberitahukannya? Apa itu penting? Seharusnya kamu sudah tahu itu!".
"Maafkan saya... maafkan saya... saya terpaksa melakukan itu atas perintah rt dan rw setempat. Dulu, setelah robohnya panti jompo ini, ada warga yang kerasukan. Kami hanya takut, jika orang takut melewati jalan ini karena peristiwa itu. Ketika ada orang bertanya, bangunan apa yang roboh itu.. kami akan menjawab bahwa itu bekas sebuah rumah pengusaha kaya yang baik hati" tuturnya.
"Arwah-arwah dipanti jompo ini sudah tenang, sebaiknya kalian tidak berbohong tentang ini" ujar Wisnu.
"Iya, maafkan saya. Saya akan memberitahukannya pada rt dan rw setempat. Terima kasih, kalau begitu saya pamit pergi dulu" kami mengangguk melepas kepergian pemuda gagah yang bahkan belum kami ketahui namanya.
"Kek...!!" Ais memeluk kakeknya senang. Sang kakek juga tersenyum lebar, tapi sayangnya tubuhnya sangat kurus. Seperti kekurangan gizi. Kami cepat-cepat pulang dan membawa kakek Ais ke rumah sakit. Ais langsung memberitahukan hal ini pada kedua orang tuanya da rumah sakit yang memeriksa kakek. Mereka bertiga sangat senang kakek Ais ditemukan.
Setelah kegiatan melelahkan siang yang sudah berganti sore ini. Kami pamit pulang. Ada banyak kata terima kasih dari Ais dan kedua orang tuanya atas bantuan kami. Aku dan yang lain hanya bisa mengangguk seraya tersenyum. Dari ini juga, aku jadi tahu.. bahwa ada bangunan panti jompo yang sempat berdiri dijalan Temawang. Akan aku ceritakan hal ini pada ayah, ibu, dan kak Ang dirumah nanti.
Bersambung...
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka. Bunga dan kopi dari kalian sangat membantu keberhasilan Author.
Terima kasih.