
"Tante Mikey?" kejut Glen.
"Oh hai... kamu Glenca bukan? Temen nya Ayu yang pernah main ke rumah, apa kabar?" sapaan dan pertanyaan dari wanita di hadapan kami semua tidak di jawab oleh Glen. Ia hanya diam sambil memandangi wajah cantiknya. Memang, aku akui wanita yang di panggil tante Mikey oleh Glen cantik. Tapi untuk apa wajah cantiknya jika kelakuannya buruk. Aku yakin bahwa dialah yang sudah membunuh Ayu.
"Apa kau yang sudah membunuh Ayu?" tanyaku lantang. Takut? Pasti, tapi rasa kesal dan sedihku lebih dari rasa takut itu.
"Wawww berani sekali kamu... ah sebentar, bukannya.... kamu Risa ya?".
"Iya! Kenapa? Saya Risa!, ada masalah?" entah dari mana aku mendapatkan keberanian seperti ini.
"Asik! Targetku datang dengan sendirinya. Kau adalah tumbal ke seratus sembilanku, dan malam ini.... kau akan di persembahkan pada Nyi Arum. Ada pesan terakhir?" tanya nya dengan seringai jahat.
"Jika aku akan mati di sini, izinkan aku sebentar saja untuk menghirup udara sampai berhasil mengalahkan Nyi Arum" gumamku. Aku tidak tahu siapa Nyi Arum, tapi aku pernah dengar bahwa dia adalah jin jahat yang di sembah para manusia gelap mata yang menginginkan banyak harta. Nyi Arum pasti jin yang di sembah oleh tante Mikey. Aku harus mengalahkan jin tersebut, walaupun nyawa taruhan nya. Aku belum rela dengan kepergian Ayu.
Tiba-tiba tubuhku terasa seperti di tabrak sesuatu. Seperti angin, hawanya pun dingin.
"Aku akan membantumu kak" tiba-tiba ada sebuah suara muncul di pikiranku. Suara siapa itu? Batinku.
"Aku Anel, sahabat adikmu. Sekarang... kita lawan dulu Nyi Arum, nanti akan aku jelaskan apa yang belum kau pahami" sahut Anel di pikiranku.
"Kau merasuki ku?" tanyaku.
"Iya".
"Lalu kenapa aku masih memiliki kesadaran, aku juga masih bisa mengontrol tubuhku?" tanyaku heran, masih membatin. Membiarkan Anel menjawab di pikiranku.
"Aku hanya mengambil tujuh puluh persen kesadaranmu. Jangan banyak bertanya dulu kak, waktu kita tidak banyak. Detik terus bergerak, kita harus hancurkan altar itu sebelum bulan purnama" ucap Anel.
"Baiklah. Tapi aku bingung harus melakukan apa".
"Kalau begitu, kakak diam saja. Izinkan aku untuk mengendalikan tubuhmu sebanyak sembilan puluh persen".
"Baiklah, aku mengizinkannya" setelah itu, aku merasa lemas. Tapi masih bisa bergerak.
Aku merasakan mulutku bergerak. Sekarang, Anel sedang mengendalikan tubuhku. Aku hanya diam saja hingga mendapatkan perintah darinya.
"Kak Zara, kakak tolong sama temen-temen yang lain cegat tante Mikey dan ambil kalung yang di pakai olehnya" ucap Anel. Kenapa dia bisa tahu nama teman-temanku dan juga nama tante Mikey?.
"Kak Risa, tolong fokus dulu. Jangan banyak memikirkan hal-hal yang tidak penting. Nanti otakku jadi ikut terganggu dan tidak konsentrasi" ucap Anel tiba-tiba.
"Iya... iya maaf".
Zara dan yang lain langsung mencegat tante Mikey saat aku berlari menuju altar. Aku harus secepatnya menghancurkan altar ini.
"Beraninya kau!!" pekik tante Mikey.
"Ayo kak Risa!!" ucapan semangat dari Anel membuatku bertambah yakin bahwa ini memang adalah hal yang benar untuk di lakukan.
Setelah masuk ke ruangan yang di jadikan altar oleh tante Mikey. Aku segera menghancurkan barang-barang penting yang di tunjuk oleh Anel.
"Hancurkan cermin itu!" titah Anel. Aku melihat sebuah cermin besar berbentuk sedikit elips dengan ukiran rumit dari kayu di sisinya. Aku berjalan menghampiri cermin tersebut. Saat aku akan menjatuhkannya untuk membuatnya pecah, sesosok makhluk tinggi besar dengan bulu hitam lebatnya dan mata merah menyala keluar dari cermin tersebut.
"Bahaya!! Kita harus minta bantuan, kekuatanku dan kekuatan kakak saja tidak akan cukup untuk menandingin kekuatannya" ucap Anel gelisah. Karena dia sedang menyatu sedang tubuhku. Aku jadi ikut merasakan kegelisahan yang di rasakan oleh Anel.
"Kita harus minta bantuan siapa?" tanyaku.
"Adam dan Wisnu".
Aku mengangguk, berjalan mundur dengan perlahan supaya makhluk di depanku kini tidak mengejarku.
Namun saat aku sudah berada di ambang pintu, sebuah sinar keunguan keluar dari tangan makhluk tersebut dan menarikku hingga kakiku terangkat beberapa meter dari lantai. Aku di cekik olehnya. Ini membuat kesadaranku perlahan menghilang.
"A-dam!" aku berusaha untuk berteriak dan memanggil nama Adam. Berharap bahwa dia akan datang bersama Wisnu dan membantuku.
Aku mulai menangis karena cekikan yang di buat oleh makhluk ini begitu kuat terasa.
"Kak, aku akan melepaskan tiga puluh kesadaran kakak yang sudah aku kuasai. Ini mungkin akan sedikit pusing, kakak tenang ya. Ini juga akan menambah sedikit energi supaya kakak bisa bertahan" ucap Anel. Setelah ucapannya itu, kepalaku terasa berdenyut.
"Kakak sekarang coba panggil Adam".
"Adam!" suaraku tercekat di tambah lagi isak tangisku.
Di ambang pintu aku melihat dua orang berbadan tinggi sedang berdiri di sana. Tentunya dengan mata tajam dan tatapan dinginnya.
"Lo nggak papa?" tanya Adam.
"Dasar bod*h! Udah tahu jatuh setinggi itu, pakai tanya lagi" sentakku kesal. Sudah punggung sakit, ini anak banyak tanya lagi.
"Ngegas!".
"Ayo kita hancurin kalung ini selagi Wisnu masing mampu melawan makhluk tersebut, nanti aku bilang sama Zara untuk membantunya" ucap Adam.
"Kenapa harus kita, emang nya kamu tidak bisa?!" tanyaku masih dengan nada lumayan tinggi.
"Biasa aja kali nggak usah ngegas mulu. Gw udah coba ngancurin kalung ini sendiri, terus bareng Ais tapi gagal, bareng Glen juga gagal, bareng Zara juga gagal, bareng Reyyan juga gagal, bareng Reza apalagi, bahkan bareng Wisnu, bukannya bisa malah dia kelempar. Nggak ada dari mereka yang bisa ngancurin kalung ini, gw inget kalo gw belum coba ngancurin kalung ini bareng lo. Siapa tahu bisa" ucapnya sedikit meninggi saat kalimat pertama.
"Kenapa Wisnu bisa kelempar?" tanyaku heran.
"Karena Wisnu energi nya kuat, energi nya nggak cocok buat pegang kalung itu" sahut Adam.
"Kenapa bisa begitu?" tanyaku lagi.
"Wisnu itu energinya panas. Udah lah bisa nggak si lo itu nggak usah banyak tanya. Kasian Wisnu, energinya udah ke buang banyak. Kita harus bertindak cepat, ayo coba ancurin kalung nya tapi bukan di sini" ucap Adam kemudian menggandeng tangan ku dan membawa ku keluar.
"Ra! Tolong bantu Wisnu" ucap Adam masih dengan menggandeng tanganku.
"Jangan ambil kesempatan di dalam kesempitan yah!" sarkasku sambil berusaha menarik tanganku dari gandengannya.
"Apaan sih!? Siapa juga yang ngambil kesempatan di dalam kesempitan" balas Adam.
"Ya kamu lah, masa aku" sahutku kesal.
"Berisik! Nggak usah ribut dulu, ini bukan waktunya untuk ribut-ribut mesra" selah Zara. Ia kemudian berlari ke ruang altar. Semoga energi mereka cukup untuk mengalahkan si makhluk seram itu.
"Sini" Adam menarik tanganku dan menyuruhku untuk ikut memegang sebuah guci yang akan di lemparkan pada kalung tersebut supaya pecah.
"Yahhh.. sayang banget ini guci nya. Dia bagus lhoh bentuk dan warnanya" ucapku menatap sedih pada sebuah guci berwarna coklat berbentuk bulat untuk dasarnya dengan hiasan bunga tulip di sisi nya.
"Sama guci aja lo sayang, sedangkan gw enggak" celetuk Adam.
"Siapa yang bilang kalo aku nggak sayang sama kamu?" tanyaku.
"Gw"
"Eh... emang nya lo sayang gw?" tanya Adam dengan wajah penuh harap.
"Sayang... tapi sebagai sahabat, hahaha" sahutku lalu tertawa palsu.
"Udah lah kenapa malah bahas itu sih. Sekarang kita kan harus hancurin kalung ini. Mumpung tante Mikey.... ehh kenapa tuh sama tante Mikey?" tanyaku pada teman-teman yang sedang memandangi tante Mikey.
"Tadi aku pukul pake guci. Habis kesel sih, dia gerak-gerak terus, kirain kita yang pegang enggak cape apa" sahut Ais yang sedang memainkan jari-jari lentik tante Mikey.
Aku menggeleng mendengar kelakuan Ais. Dia memang bar-bar, tidak segan melakukan tindak kenakalan bahkan sampai membuat orang masuk rumah sakit jika dia di buat kesal.
"Aku nggak mau lebih lama lagi tanganku di pegang sama kamu. Sebaiknya sekarang kita hancurin kalung ini" ucapku berdalih. Berada di dekat Adam membuat jantungku selalu berdetak lebih cepat. Rasanya seperti selesai maraton, aku tidak menyukai hal itu.
Adam tidak menjawab, ia hanya mengencangkan pegangannya dan bersiap untuk melemparkan guci ini.
"Satu...."
"Dua...."
Bersambung...
Sekali lagi author ingatkan, cerita ini hanya fiksi belaka. Mungkin nanti akan ada beberapa kejadian yang nyata terjadi. Tolong untuk bijak dalam membaca, jika tidak suka boleh di skip.
Oh ya... nanti nya Risa akan menggunakan dua kata penolakan yang berbeda, yaitu : nggak dan tidak. Jika ada dari pembaca yang merasa kurang atau tidak nyaman dengan hal ini. Kalian boleh komen aja mau yang mana.
Risa memang seperti itu ya, dia suka berganti-ganti bahasa, kadang baku, kadang tidak. Itu sifatnya.
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka. Walaupun sisa bunga mekar dan vote senin lalu, tak apa yang penting ada semangat dari pembaca untuk author update dan kegiatan Risa, wkwk. Thank you😉.
Jum'at kemarin tidak sempat update karena ada urusan sekolah, maaf ya. Jadi update malam ini, ada delapan bab, untuk yang jum'at kemarin dan minggu ini. Insyaallah author akan memulai update dua hari sekali, setiap update ada 4 bab.