INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Ranres (Season 1)



Happy Reading…!!!


Sore datang, matahari perlahan sudah mulai tenggelam, membuat cahaya kuning keemasan berpadu dengan langit biru menciptakan suasana menenangkan. Aku meminta antar pulang pada teman lelakiku yang mau.


"Makasih dah anterin, ga mau mampir dulu?" tanyaku pada Wisnu.


Dia menggeleng "Lain kali aja, males kesorean di jalan" aku mengangguk, ia lalu melajukan mobilnya pergi, mungkin karena deru mesin mobil, kedua orang tuaku keluar dan menanyakan siapa yang mengantarku.


"Wisnu, Bu, Yah."


"Owhh.. Dia, kok nggak di suruh masuk dulu?"


"Tadi udah Risa tawarin, tapi dianya bilang lain kali aja males kesorean di jalan."


"Eh Risa, nanti abis maghrib Ibu minta tolong beliin tepung, sama nanti apa yang Ibu catet di warung, ya?" aku mengangguk dan bergegas mandi.


Setelah sholat maghrib, aku melajukan sepeda motor scupyku perlahan, menikmati setiap desiran lembut angin yang menerpa membuat helaian rambutku melambai-lambai.


Sesampainya di toko yang di tuju dan membeli semua keperluan yang Ibu tulis, aku melajukan kuda besiku pulang. Di tengah perjalanan pulang aku melihat anak kecil sedang duduk di bawah rindangnya pohon jati sambil menekukan lututnya dan menenggelamkan wajahnya kedalamnya, ia melipat tangannya diatas lututnya.


Aku menghentikkan laju sepeda motorku dan memarkirkannya di tepi jalan supaya tidak menghalangi para pengguna jalan yang lain. Aku menghampiri anak kecil tersebut, tanpa ada rasa curiga sedikit pun terhadapnya. Yang ada dipikiranku kini hanyalah kenapa dia bisa ada disini. Kudengar isak tangis dari anak kecil tersebut dan gumaman seperti memanggil Ibunya


Aku menepuk pundaknya membuatnya terkesiap dan seketika melihatku yang merunduk menatapnya. Aku lalu berjongkok dihadapannya. Dia datar sekali dan wajahnya pun pucat, seluruh pakaiannya basah. Aku melihat sebuah bendungan di bawah sana ketika aku memutar kepalaku.


"Dek, kok malem-malem ada di sini? Orang tuanya mana?" tanyaku lembut.


"Kak.. Aku mau pulang, aku takut disini. Aku mau ketemu Ibu sama Bapak. Mereka lagi nyariin aku kak.. Anter aku pulang." rengeknya sambil menitikan kembali air matanya, ia lalu menoleh kearah bendungan tersebut. Kenapa, ya dengan bendungan tersebut?.


"Anter aku pulang, Kak..."


"Iya ayo Kakak anter kamu pulang. Rumah kamu dimana? Kok pakaian kamu bisa basah kuyup begini?" tanyaku namun dia hanya menatap kearah bendungan tersebut.


"Rumah aku di jalan Kenanga, komplek pertama nomor empat puluh lima." ujarnya tiba-tiba setelah lama tak berbicara.


Aku terkesiap ketika aku dan dia ternyata sejalan. Dan.. Komplek pertama.. Nomor empat puluh lima? Itu bukannya rumahnya pak Sulaiman, ya? Apa jangan-jangan dia anaknya pak Sulaiman?


"Owhhh kebetulan dek kita searah, ya udah, yuk Kakak anter kamu pulang, kasian kamu nanti sakit pakaian kamu udah basah kuyup begini soalnya." aku menggandengnya dan menyuruhnya untuk naik kemotorku. Setelah dia naik akupun ikut naik, menyalakan mesin motorku dan melajukannya menuju tempat tujuan.


"Kamu anaknya pak Sulaiman ya?" terkaku sambil tetap fokus menatap jalan.


"Iya, Kak." sahutnya. Nah, 'kan benar, walaupun komplek kami berbeda, tapi aku tahu karena ibunya itu adalah salah satu teman arisan Ibuku dan katanya pak Sulaiman itu punya anak kecil yang baru masuk sd.


Aku pernah ikut di bawa sama Ibu lagi pas dia ada acara arisan dan di kenalkan pada teman-temannya. Mereka pun mulai membicarakanku dan mengatakan bahwa mereka akan menikahkanku dengan anak laki-lakinya bahkan istrinya pak sulaiman pun berujar jika saja anaknya seumur denganku, dia pasti akan menikahkanku dengan anaknya dan dengan mudahnya ibu menyahut 'itu bisa diatur' sambil tertawa.


"Kamu namanya kalo enggak salah.. Aduh siapa ya?" aku menggaruk tengkuku sambil berfikir siapa namanya. Argghh pelupa sekali aku ini.


"Ranres, Kak." sahutnya.


"Nah iya, Ranres!" seruku.


Kami terdiam dan akhirnya sampai di depan rumah pak Sulaiman. Di depan rumahnya aku melihat banyak sekali suara orang dan sandal-sandal yang ada di depan pintu masuk. Ada acara apa, ya? Arisan, kah? Tapi, masa arisan malam-malam.


"Tunggu bentar, ya, Dek! Jangan pergi kemana-mana, awas kalo pergi Kakak getak kamu." pintaku dan ia hanya mengangguk sambil mengayun-ayunkan kakinya menabrak samping tubuh motorku.


Aku menggeleng melihat tingkahnya. Tak apalah, yang penting nggak penyok. Aku mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Seruan jawaban salam dari orang-orang yang berada didalam rumah dapat kudengar dengan jelas. Aku melihat sekilas kearah Ranres untuk memastikan bahwa dia tak pergi.


"Wa'alaikumsalam, ehh kamu bukannya anaknya bu Mawar, ya?" seorang wanita yang usianya mungkin hampir sama dengan Ibuku, menyahut salamku sambil berjalan keluar. Ia lalu terkesiap ketika tahu bahwa aku adalah anaknya bu Mawar (nama ibukku). Aku segera mengambil tangannya dan menciumnya.


"Iya bu, nama saya Risa." ia mempersilahkanku untuk duduk di bangku yang tersedia di teras rumah ini. Aku menuruti perintahnya. Ia izin pergi sebentar untuk membuatkanku teh, aku sudah menolaknya akan tetapi dia malah memaksa hingga akhrinya aku mengiyakannya saja. Ia pergi kedalam dan aku kembali melihat di atas jok motorku, apakah di sana masih ada Ranres atau tidak. Dan ternyata dia masih duduk disana sambil mengayunkan kakinya.


Kulihat Ibunya Ranres sudah kembali dan menyajikanku segelas teh manis. Dia menyuruhku untuk meminumnya dan mengatakkan bahwa teh tersebut masih panas. Aku menghiraukannya dan meminumnya secara perlahan supaya lidahku tidak melepuh.


"Apa yang membawamu datang kesini nak Risa?" tanyanya. Suaranya sedikit serak, hidungnya merah, matanya sembab dan sedikit berwarna merah. Ia mengusap berkali-kali wajahnya ketika menyadari tatapanku. Apa dia habis menangis? Atau sedang menangis dan menahannya ketika di hadapanku?.


"Ibu nangis?" tanyaku iba, entah kenapa aku dapat merasaka kesedihan yang dia rasakan.


"Hehe.." ia hanya terkekeh. Seharusnya aku tak perlu menanyakan hal tersebut karena itu hanya akan membuatnya bingung saat akan menjawabnya.


"Owhhh emm.. Risa datang kesini mau mengantarkan anak ibu, Ranres." ia terkejut dan membelalakan matanya lebar-lebar.


"Huhuhuhuhu" dia malah menangis tersedu-sedu ketika aku mengangguk. Tiba-tiba dari dalam rumah keluar seorang wanita yang sepertinya lebih tua dua tahun dariku menatapku kesal sambil menenangkan ibunya.


"Bu! Tenang, Bu, Ibu kenapa lagi?" wanita itu mengusap-usap kedua pundak ibunya.


"Kamu siapa hah?! Kenapa kamu sampai buat ibu aku nangis-nangis begini?!" tanyanya lumayan memekik sehingga membuat seorang bapak dari dalam ruangan berlari keluar untuk melihat kejadian saat ini.


"An.. Anu.. Mbak.. Jangan marah-marah dulu dong mbak, saya mau jelasin ini." ucapku membuatnya bungkan namun masih menatapku kesal.


"Ada apa ini, Nduk?" tanya bapak yang keluar dari ruang tamu kepada mbak-mbak yang membentakku tadi. Sepertinya dia adalah bapaknya Ranres dan mbak ini.


"Ini lho pak dia dateng-dateng malah buat ibu nangis." adunya. Nyubit aja enggak mbak-mbak, orang dia tiba-tiba nangis. Aku melihat Ranres duduk di atas jok motorku sambil menatap sedih ibunya.


"Nduk maafkan anak saya ini ya, kamu siapa ya? Dan apa yang membawamu datang kemari?" tanyanya lembut. Aku mengangguk.


"Ga papa, Pak, nama saya Risa anaknya bu Mawar. Saya datang kesini mau mengantarkan Ranres." mbak-mbak yang membentakku tadi dan bapak ini langsung melempar pandang dan menatapku lagi.


"Ada apa, ya, Pak?" tanyaku.


"Kamu Arisa Intan Pratama, gadis indigo?" tanyanya aku mengangguk lemah sambil meringis.


"Pak." mbak tersebut langsung melihat bapak yang disampingnya dan meluruhkan air matanya.


"Nak.. Sebenarnya anak saya Ranres sudah hilang tiga hari yang lalu." ujar bapak tersebut. Bagaikan tersambar petir di siang hari aku merasakan degup jantungku menjadi lebih kencang, aku lalu menatap Ranres dan melihatnya sudah tak seperti saat tadi. Bentuknya kini sudah menyeramkan. Bola matanya sudah hilang satu, dan darah mengalir dimana-mana.


"Ta.. Tapi.. Ranres ada di atas jok motor saya, Pak, itu yang scupy hitam." aku menunjuk jok motorku, mbak, ibu, serta bapak Ranres langsung mengikuti arah gerakan tanganku.


"Nggak ada apa-apa, Nak." ujar bapak Ranres. Aku langsung jatuh menekuk lututku di atas lantai teras ini. Air mataku langsung menetes seketika, entah apa yang membuatku menangis.


Mbak yang tadi membentakku, beranjak untuk membantuku berdiri dan di dudukan di kursi. Ia memintaku untuk menceritakkan semuanya dan dengan perlahan aku menarik nafasku lalu menceritakannya sambil mengeluarkan nafasku perlahan-lahan.


"Hikss.. Mbak sebelumnya mau minta maaf sama sikap mbak tadi." ujarnya dan aku mengangguk.


"Risa paham mbak."


"Kalau bisa.. Saya ingin melihat wujud arwah adik saya Ris sebelum dia benar-benar pergi dari dunia ini." pintanya. Aku memikirkan sebentar bagaimana caranya supaya dia dapat melihat adiknya. Aku lalu berfikir untuk melakukan cara yang dulu pernah aku lakukan bersama Zara. Aku melihat sekeliling yang sudah mulai ramai orang-orang yang penasaran. Di antara ramainya orang-orang ini, aku melihat lima pemuda yang sepertinya seusia denganku juga sedang memandang kearah kami. Aku memanggil mereka berlima, setelah mendengar panggilanku mereka berlima lantas berjalan kearahku dan bertanya.


"Ada apa ya?" tanya salah satu pemuda.


"Apa kalian dalam kondisi selesai berwudhu?" tanyaku balik membuat mereka semua mengernyit namun tetap menyahut pertanyaanku.


"Iya, kenapa?"


"Jadi begini. Saya itu ingin mempertemukan keluarga Ranres dengan arwah Ranres. Tapi.. Untuk mempertemukan makhluk dua alam, saya membutuhkan lima puluh persen energi dari manusia yang dalam keadaan suci. Tapi.. Energi suci yang dapat saya serap hanya dari lawan jenis, karena saya perempuan jadi saya membutuhkan energi suci laki-laki. Kebetulan kondisi kalian sedang dalam kondisi suci. Jadi.. Apakah kalian mau membantu saya mempertemukan Ranres dengan keluarganya?" tanyaku sambil menilik satu demi satu wajah mereka. Mereka terdiam sebentar sambil saling pandang, setelah beberapa waktu mereka berlima mengangguk serentak.


Aku lalu menyuruh mbaknya Ranres, Ibu serta Bapaknya untuk menumpuk tangan mereka di udara. Nantinya aku akan memegang puncak kepala Ranres dan juga ikut menumpukkan tanganku diatas tumpukkan tangan mereka bertiga dengan energi yang mengaliri dari kelima pemuda suci tadi. Ranres tiba-tiba sudah berada di sampingku. Akan tetapi ia agak menjaga jarak dengan kelima pemuda suci yang kini sudah duduk melingkar. Aku menyuruh mereka berlima untuk saling berpegangan.


"Res! Make over dulu lah wujud kamu, jangan begitu.. Mgeri akunya." pintaku membuatnya segera menampakkan wujudnya saat aku baru pertama kali melihatnya. Ampun dah, belum pernah liat nih bocah, sekalinya liat malah udah jadi arwah.


Saat semuanya sudah siap, aku mulai berkonsentrasi untuk menghubungkan dua dunia. Tangis sedih langsung meluncur deras dari kakak serta orang tua Ranres.


Ranres berjalan kearah keluarganya. Aku sudah membuat tali aura supaya mereka masih dapat saling berpelukan ketika mereka melepasku nanti.


"Jika kalian ingin berpelukan, lakukanlah, itu tidak akan membuat kondisi berubah." ujarku membuat mereka berempat segera berpelukan, melepaskan rindu yang sudah beberapa hari ini tertekan.


"Bu, pak! Maafin Ranres, Ranres belum bisa bahagiain Ibu sama Bapak. Ranres belum bisa jadi anak yang berbakti buat ibu sama bapak. Ranres minta maaf." ujarnya sambil menatap Ibu, Bapaknya. Keduanya tak dapat berkata-kata, mungkin untuk saat ini hanya isak tangislah yang dapat menceritakkan semuanya.


"Mbak.. Ranres minta maaf belum bisa jadi adik yang baik buat mbak.. Ranres bangga bisa punyak Kakak kaya mbak Sekar." Ranres beralih kepada mbaknya dan menatapnya dengan penuh sayang.


"Ranres mau ngucapin terima kasih banyak buat Ibu, bapak yang sudah bersama-sama kerja keras buat ngebesarin Ranres dan mencukupi kebutuhan Ranres. Terima kasih juga buat mbak Sekar karena udah sabar ndidik Ranres dan ngajarin banyak hal termasuk baca, hitung, tulis." lanjutnya.


Aku ikut menangis saat itu, air mata mengalir deras di pipiku. Ranres tersenyum singkat dan mengucapkan terima kasih, tubuhku kemudian terjatuh di atas lantai.


Bersambung...


Hwaaa... Kalian sedih ga si?