
Happy Reading...!!!
Sesampainya kami semua di kolam, team kami yang lelaki terkejut ketika kami datang dengan diikuti lemet putih ini.
"Siapa Ris?" tanya Reyyan.
"Gak tau, belum kenalan." sahutku, Reyyan lalu menatap lemet putih tersebut yang sedang berusaha untuk berdadah.
"Gak usah dipaksain met kalo kamu gak bisa." ujarku.
"Met?" tanya Reyyan.
"Lemet putih, sebutan darikku untuknya. Aduhhh.... Jadi pengin makan lemet." aku lalu melakukan pemanasan sesuai instruksi yang diberikan pak pembina.
"Hai." sapa lemet putih pada Reyyan akhirnya dengan menggoyangkan tubuhnya kekanan dan kekiri setelah usahanya gagal untuk berdadah menggunakan tangan. Aku yang jadi gagal fokus karena tingkahnya itu.
"Ha.. Hallo." Reyyan tentu menyapanya balik dengan gagap. Mungkin ini pertama kalinya ia disapa makhluk seperti lemet putih.
"Woi!! Rey!!" pekikku ketika melihat kaki Reyyan sudah bergetar. Apa si yang membuatnya takut?
"I... Iya... o- otw." otw? Orang tinggal ngelangkah dua kali aja di bilang otw. Reyyan lalu dengan tubuh kaku dan bergetar berjalan kearahku, sesampainya di sampingku dan duduk ditepi kolam renang, dia segera mengambil udara sebanyak-banyaknya. Mengeluarkannya dan menariknya kembali.
"Kelompok pertama Risa, bersama Adam, Wisnu, dan Reza!" ujar pak pembina. Kami berempat bersiap-siap ditepi kolam renang dan ketika pak pembina sudah meniupkan peluit, kami berempat segera menyeburkan diri dan melakukan gaya sesuai dengan apa yang sudah pernah diajarkan.
Selesainya kami berempat, lalu kini tinggal Reyyan, Zara, Ais, dan Glen. Dan Lala bersama tiga kawannya yang lain adalah yang ketiga, dan seterusnya sampai semuanya menyebur.
"Kalian tadi melakukan gaya renang sesuai dengan yang bapak ajarkan, dan gaya renang yang kalian lakukan sangat baik." puji pak Tarta--pak pembina olahraga praktik kepadaku dan tujuh teamku yang lain.
"Terima kasih pak, kami hanya melakukan sesuai ajaran bapak dan ternyata kami dapat melakukannya dengan baik." ujarku membuat pakTarta mengangguk.
"Pak!! Pak Tarta!! Ada yang tenggelam pak!!" teriak salah satu siswi serayaberupaya membantu temannya yang timbul dan kembali tenggelam. Aku menelisik lebih jauh kedalam kolam dan menemukan makhluk yang sedang berusaha untuk menarik kaki siswi yang tercebur ke kolam. Sepertinya siswi tersebut adalah teman sekelasku, jika didengar dari suaranya.
Pak Tarta dan kami semua yang tadi berkumpul dengannya segera berlari menuju kolam dan melihat.. Lala!!!??? Bagaimana bisa aku hampir tidak mengenali Lala! Aku segera menceburkan diri dan menarik kaki Lala dari genggaman makhluk tersebut. Butuh waktu sekitar dua menit untuk melepaskan cengkramannya karena tangannya begitu kuat, setelah dapat dilepaskan aku segera membawa Lala keluar kolam dan menekan-nekan dadanya beberapa kali hingga dirinya terbatuk mengeluarkan air kolam. Aku lalu membantu Lala untuk duduk.
"Tenang ya La, sekarang udah ada kita semua. Kamu aman." ucapku ketika melihat Lala bergetar bahkan patukan giginya terdengar jelas di telingaku.
"Ris!" dia menangis dan menghamburkan diri memelukku, aku membalas pelukannya untuk menenangkannya. Pak Tarta lalu menyudahi pelajaran olahraga praktik ini dan mengatakan padakku untuk menenangkan Lala. Kami semua kembali keruang ganti dan berganti menjadi baju osis. Lala terus-terusan menempel padakku dan dia akan tersentak ketika ada gerakan dikakinya walaupun hanya sedikit dan itu sudah terjadi beberapa kali.
"La.. Tenang, ya, 'kan ada aku." dia menggeleng, bibirnya biru, tangannya dingin, dan wajahnya sangat pucat.
"Apakah dia makhluk yang sedunia denganku? Tapi... Kenapa dia tidak diikat dan pakaian nya pun sama denganmu?" tiba-tiba lemet putih datang dan bertanya sambil mengamati wajah serta tubuh Lala. Aku mendengus.
"Hishhh kau ini bisa biasa saja, 'kan?" tanyanya.
"Enggak kalau bicaranya sama kamu, mah, lagian maksudmu tanya begitu tu apa?"
"Ya karena wajahnya pucat, bibirnya biru." sahutnya.
"Tapi bukan berarti dia sudah sedunia denganmu bod*h." ujarku geram. Aku merangkul bahu Lala dan membawanya menuju kantin namun saat di pertengahan jalan tiba-tiba Lala terjatuh dan pingsan, aku segera berteriak meminta bantuan dan saat bantuan datang aku segera meminta mereka untuk membawa Lala ke uks.
Sesampainya di uks, Lala dibaringkan secara perlahan di atas kasur kecil dan diperiksa oleh Dokter Lyly--Dokter uks.
"Bagaimana, Dok?" tanyaku.
"Apa dia baru mengalami kejadian yang baru dirasakannya pertama kali? Dan kejadian itu terkesan memberikan kesan seram untuknya?" tanyanya.
"Sepertinya iya, Dok."
"Sepertinya dia syok berat dengan kejadian tersebut, detak jantungnya memburu walaupun sedang pingsan."
"Nanti setelah dia bangun saya akan memberikan obat penenang untuknya, sebaiknya jangan bawa dia ketempat dia mengalami kejadian tersebut." aku kembali mengangguk. Aku berjalan kearah Lala yang terbaring, tiba-tiba tubuhnya tersentak dan ia terbangun langsung terduduk seraya berteriak 'tidak'.
"La!" sapaku, namun dia belum dapat meresponnya.
"Lala!" pekikku lumayan kencang kali ini. Akhirnya Lala pun dapat dikendalikan sebelum disuntikkan obat penenang. Lala menatapku dan memelukku sangat erat.
"Gw takut Ris! Gw takut! Gw belum siap mati!" ujarnya. Leherku tercekat, mulutku mengatup dan terasa sangat susah dibuka hanya untuk sekedar menenangkannya dengan ucapan.
Aku berusaha untuk menenangkan Lala dengan mengusap punggungnya, setelah Lala tenang dia menceritakkan apa yang dia rasakan tadi.
"Gak tau gimana, tiba-tiba gw ada ditepi kolam renang yang keadaannya kosong, ga ada airnya. Baju yang gw pake pun baju renang. Saat itu gw liat tulisan 'Kamu yang kesembilan belas' di dasar kolam. Setelah itu kolam yang semulanya kosong menjadi penuh dengan cairan berwarna merah yang ternyata darah, gw lalu ditarik sama tangan yang keluar dari kolam darah tersebut..."
"...Gw berusaha buat lolos, setelah gw bisa keluar dari kolam darah tersebut tiba-tiba kolam darah itu berubah jadi kolam air bening biasa dan gw liat bayangan wajah gw diair dengan rupa yang menyeramkan. Dahi, sudut bibir, serta hidung gw berdarah, rambut gw basah, dan pipi gw pun sobek. Gw langsung teriak sekencang-kencangnya hingga gw liat.. Adam! Iya! Adam! Adam narik tangan gw dan bawa gw gak tau kemana. Gw gak kepikiran buat tanya..."
"... Saat adam bawa gw, kami terus dikejar-kejar sama makhluk yang keluar dari kolam yang airnya berubah lagi jadi merah darah. Makhluk itu ngejar gw sambil teriak 'Kamu yang kesembilan belas' berulang kali. Ketika gw lagi panik-paniknya, ternyata Adam bawa gw kelantai tiga dan saat itu Adam tarik tangan gue dan kita terjun dari situ." jelas Lala. Adam? Apa dia...
"Apa, ya maksudnya dari ucapan makhluk tersebut?" gumamnya.
"Apa itu makhluk yang sama dengan yang menarik kaki Lala di kolam tadi?" aku terus bergumam hingga Lala menyapaku dengan suara keras.
Bersambung...