INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Petak umpet (Season 2)



Happy Reading...


Dalam hitungan detik, jiwa Zara sudah berpindah lokasi. Jiwanya kini berdiri ditepi jalan menuju terowongan tempat angkot yang mengalami kerampokan beberapa waktu lalu terjadi.


"Tempat yang tadi ada jambret, 'kan?" gumamnya.


Tiba-tiba sebuah kejadian muncul di depannya, di mana ada sebuah angkot yang mengalami oleng setelah seorang pria keluar dari angkot tersebut, angkot tersebut kemudian masuk ke dalam terowongan dan ledakan terdengar dari sana. Beberapa pecahan kaca terlempar ke arah Zara. Kejadian tersebut terjadi begitu cepat, setelah itu, jiwa Zara kembali ke tubuhnya dan ia tersadar. Matanya terbuka terbelalak seraya mengatur nafas.


"Minum dulu, Ra" Ais memegang kedua pundak Zara dan mendudukannya di sofa samping Chalis, ia memberikan sebotol air mineral dan membantu Zara meminumnya.


Setelah Zara tenang, ia menceritakkan apa yang ia lihat tadi pada semuanya.


"Aku pernah lihat laki-laki itu di pasar" lanjutnya.


"Lagi ngapain?" tanya Rey.


"Dia minta uang sewa".


"Hmm... Gimana kalau kita coba ke pasar itu, siapa tahu dia ada disana" usul Ang.


"Kak? Masih disini?!" seru Risa.


"Masihlah".


"Kok nggak pulang?".


"Nanti lah, bareng kamu aja".


"Ohh.. Okh deh".


"Usulan Kak Ang ada benarnya juga, gimana kalau kita ke pasar itu? Ada kemungkinan dia disana" ucap Reza.


"Monoton usulan gue lu" seloroh Ang.


"Hehe".


"Okh deh" sahut Zara. Sedangkan yang lain mengangguk setuju.


"Assalamualaikum" tiba-tiba terdengar salam dari seorang wanita, Nauval langsung berseru 'ibu' dan wanita yang tadi menyerukan salam langsung menghampiri Nauval dan memeluknya, disusul seorang lelaki dan seorang gadis kecil.


"Pocong" ucap gadis tersebut seraya menunjuk ke arah Risa. Wanita yang memeluk Nauval beserta lelaki disampingnya menoleh ke arah yang ditunjuk gadis tersebut.


"Maaf ya, Dek atas ucapan anak saya, nggak usah digubris, 'ya? Dia emang suka ngawur ngomongnya" ucap wanita tersebut.


"Maaf, 'ya, Kak, adek aku emang suka gitu" timpal Nauval.


"Kenalin, Kak. Ini mama, ayah, dan dia adek aku" lanjut Nauval memperkenalkan keluarganya, ia menunjuk wanita yang memeluknya tadi, lelaki disamping wanita yang memeluknya, dan gadis kecil yang menunjuk Risa seraya berucap 'pocong'.


"Owhh.. Iya" sahut Risa dkk.


"Terima kasih, 'ya semua, sudah nolong anak saya" ujar ibu Nauval.


"Iya, Tante, sama-sama" sahut Risa disambut anggukan teman-temannya dan senyum ramah kedua orang tua Nauval.


"Bu, maaf, bisa kita bicara sebentar di luar" ujar Risa.


"Oh iya" ibu Nauval mengikuti Risa ke luar.


"Ada apa, Nak?" tanya ibu Nauval dengan rasa penasaran di dalam dirinya.


"Anak ibu yang perempuan indigo?" ibu Nauval mengernyit dan menatap anak gadisnya di dalam lewat pintu ruangan Nauval yang ditengahnya terbuat dari kaca.


"Anak ibu sering ngomong yang bersangkutan dengan hal-hal gaib tidak?" ibu Nauval mengangguk masih dengan wajah penasarannya yang kini bercampur rasa khawatir.


"Anak gadis saya indigo?" tanya ibu Nauval.


"Ada kemungkinan, Bu. Sebaiknya, Ibu dan sekeluarga lebih banyak ibadah. Jika dia menangis karena melihat sesuatu, tenangkan saja dan bacakan surat-an. Anak gadis Ibu rentan diganggu makhluk halus" jelas Risa hingga membuat air mata ibu Nauval menetes.


"Eh, Ibu kenapa nangis?".


"Saya sedih, Nak. Saya benar-benar tidak menyangka bahwa anak gadis saya memiliki indra ke enam, apa mata batin-nya bisa ditutup?".


"Jika itu saya tidak tahu, Bu. Memangnya kenapa, Bu?".


"Saya sedih dan tidak tega dengannya, Nak. Dia sering pulang sekolah dalam kondisi menangis, matanya sembab dan hidungnya merah. Saat dia cerita, katanya dia dibully sama teman-temannya di sekolah karena suka berkata aneh, padahal apa yang ia katakan, apa yang ia lihat. Dulu waktu dia masih berumur sekitar satu tahun, memang sering menangis dan tertawa sendiri, saat usianya mulai menambah, ibu mulai merasa ada yang aneh dengannya. Saya, suami, dan Nauval mencoba untuk tidak mempermasalahkannya dan menganggap ucapan anak gadis saya hanya halusinasi semata" papar ibu Nauval.


"Anak gadis Ibu namanya siapa?".


"Nely".


"Saran saya mulai dari sekarang, Ibu harus lebih memperhatikannya, 'ya? Memiliki indra ke enam berpengaruh besar bagi kondisi mental dan jiwanya, apalagi dia masih kecil" ibu Nauval mengangguk dan berterima kasih.


"Mari, Bu.. Masuk" ajak Risa yang kemudian dianggukan oleh ibu Nauval.


"Bu, Pak, Val, Nel, kami semua pamit pulang dulu, 'ya? Semoga Nauval lekas sembuh" ujar Risa.


"Iya, terima kasih" sahut ibu Nauval.


"Terima kasih, Kak" sahut Nauval.


"Itu apa, Kak?" Nely menarik ujung kaos yang dikenakan Risa dan memintanya untuk menatap apa yang ia tunjuk.


"Astagfirullah, kuyang!" seru Risa.


"Kuyang? Owhh... Kuyang, temen aku pernah cerita tentang makhluk itu. Dia serem, 'ya, Kak?" Risa menanggapinya dengan senyum kecut, begitupun keluarga Nely.


"Kakak pamit dulu, 'ya, Dek? Kamu kalau ketemu yang serem-serem jangan dipeduliin, ok?" Nely menyahutnya dengan menyatukan ibu jari dan telunjuknya membentuk lingkaran.


"Assalamualaikum" Risa dkk kemudian pamit pulang.


"Anak kecil yang lo ajak bicara tadi indigo, Ris?" tanya Glen.


"Iya".


"Namanya siapa?"


"Nely".


"Owh...".


"Ke kantor polisi, 'ya?" tiba-tiba pak Rizki datang di depan mereka semua dan meminta pergi ke kantor polisi seraya memelas.


"Iya" sahut Zara.


"Nggak bisa besok aja apa?" keluh Chalis disetujui Ais.


"Nggak bisa!".


"Ya udah deh".


...----------------...


Sesampainya di kantor polisi, mereka bertemu dengan Arjana disana yang sedang berbincang dengan salah seorang anggota kepolisian. Melihat kedatangan Risa dkk, ia menyelesaikan pembicaraannya dan menanyakan keperluan ia datang ke kantor polisi.


"Saudara lo yang kecelakaan namanya siapa, Ar?" tanya Ang.


"Pak Rizki".


"Ada fotonya?".


"Ada, nih" Arjana menunjukkan selembar foto kecil pada Ang.


"Mirip" gumam Zara.


"Berarti bener bahwa saudara Kak Arjana yang kecelakaan itu pak Rizki, hantu ganjen yang minta bonekanya" lanjutnya.


"Kakak ngapain disini?" tanya Risa.


"Kakak ngelaporin plat nomor motor yang nabrak lari saudara saya itu, ternyata dia jadi korban tabrak lari".


"Innalillahi, Kakak tahu nomor platnya dari mana?".


"Oh iya, Kak. Lihat boneka beruang warna biru?".


"Lihat, tuh" Ar menunjuk sudut meja pak polisi yang tadi berbincang dengannya.


"Boleh di ambil nggak?".


"Buat apa?" tanya Ar.


"Pak Rizki minta boneka itu dikasihkan ke anaknya di desa Aman" sahut Glen.


"Coba tanya pak polisinya".


Setelah ditanya, ternyata jawabannya tidak diperbolehkan karena alasannya sebagai barang bukti.


"Plisss... Pak, nanti kalau nggak kesampean maunya kita yang diteror, bapak mau juga diteror hantu?" ujar Chalis.


"Tapi ini sebagai barang bukti".


"Barang bukti gimana sih, Pak? Bapak tega amat sama korban".


"Bicara sendiri aja deh kalau Bapak nggak percaya" kesal Chalis. Ia kemudian menarik tangan Risa dan disentuhkan pada lengan bapak polisi lalu menyuruh Risa untuk fokus mempertemukan makhluk dua dunia.


"Astagfirullah" seru pak polisi terkejut.


"Pak... Saya minta tolong, 'ya, Pak? Saya sudah janji sama anak saya bakal kasih boneka itu waktu saya pulang kampung, anak saya pasti nungguin, Pak... Ayolah, Pak..." rengek pak Rizki.


"Aduhhh... Ngeri juga, 'ya? Hantu memelas gini, mana kondisinya begini lagi" gumam pak polisi. Pak Rizki yang mendengar hal tersebut tersenyum jahil dan menarik kulit pipinya hingga terlepas lalu ia pasangkan lagi dengan ditepuk sangat keras hingga ia berteriak dan menangis karena ulahnya sendiri.


"Anak saya nanti bakal nangis kaya gini lhoh, Pak, kalau bapak nggak nurutin kemauan saya. Coba Bapak bayangin, kalau Bapak jadi saya lal-".


"Ok! Boneka itu boleh dibawa!" potong pak polisi.


"Bisa-bisanya saya dibayang-bayangin jadi dia, amit-amit" batin pak polisi.


"Nahh... Gitu dong, Pak, makasih" Risa lalu melepaskan pegangannya dan langsung bertumpu pada Chalis.


"Hweee... Laper..." keluh Risa.


"Pak, izin keluar mau cari makan" ucap Reza yang langsung mendapat anggukan dari pak polisi. Tak semuanya keluar dari ruangan, Adam, Wisnu, beserta Ang dan Ar masih di dalam untuk berbincang sedikit dengan pak polisi.


...----------------...


Hari ini MOS kembali dilaksanakan untuk yang terakhir selama tiga hari berlangsung.


"Mencintai materi itu penting, karena apa? Karena disana ada banyak sekali hal yang bisa membuat kalian melesat dan meraih prestasi, membanggakan keluarga dan semua pendukung kalian dalam meraih prestasi tersebut. Belajar tidak akan sia-sia, tapi.. Belajarlah hal yang baik, yang menjadikan kalian manusia yang berguna. Teruntuk siswa siswi baru, semangat belajar! Dan jangan lupa berdo'a, semoga kalian betah di sekolah baru kalian" kira-kira seperti itulah pidato yang Adam sampaikan selaku ketua panitia MOS, ketidakpiawaiannya dalam merangkai kata membuatnya hanya mengeluarkan unek-uneknya yang bersangkutan dengan tema MOS kali ini 'Cintai Materi, Raih Prestasi'.


Selesai berpidato sebagai penutup MOS, Adam pergi ke kantin bersama Risa dkk untuk menikmati makan siang.


"Kak Adam, boleh minta foto bareng nggak?" tiba-tiba salah seorang siswi baru dengan hp ditangannya menghampiri Adam bersama seorang temannya untuk meminta foto bersama, ia tersenyum senang penuh harap bisa berfoto dengan Adam. Lelaki yang menjadi pujaan hati sebagian besar siswi baru.


"Bareng mereka, 'ya?" Adam menunjuk Risa dkk. Siswi tadi menghela nafas dan memanyunkan bibirnya, ia berharap bisa berfoto dengan Adam, hanya dengan Adam, bukan dengan Adam dan teman-temannya. Ia menjadi kesal, namun hanya bisa ngedumel di dalam hatinya.


"Daripada nggak dapet foto" batin siswi tersebut. Tertulis di name tag-nya, Airin. M.


"Ya udah deh, Kak" ucap Airin akhirnya.


"Dam, kita mau coba makanan disana, kita nggak usah ikut foto, 'ya?" ujar Risa.


"Rewel" ia menarik lengan Risa dan mendirikannya disisinya disusul yang lain karena paksaan dari Adam.


"Jadi nggak fotonya?" tanya Adam hingga membuat Airin tersentak.


"O-okh" ia berdiri di samping Rey, sedangkan temannya berdiri disamping Zara. Setelah kamera diaktifkan, mereka bersiap dengan pose-nya masing-masing. Seperti biasa, Adam hanya berekspresi datar seraya menggenggam tangan Risa.


"Ma-makasih, Kak, kami pergi dulu" Airin menyeret lengan temannya untuk pergi dari sana.


"Sumpah ya! Gue sebel banget sama cewek tadi! Dia siapanya sih? Pacarnya?!" dumel Airin.


"Sabar, Rin.. Mungkin emang cewek tadi pacarnya, udahlah nggak usah berisik ngomongin mereka. Katanya mereka itu punya temen hantu, nanti kalau lo diganggu sama teman hantunya karena ngomongin mereka gimana? Nggak mau, 'kan? Ya udah diem aja, yang penting udah dapet fotonya. Kapan-kapan coba ajak lagi foto bareng, tapi pas nggak ada temen-temennya" sahut teman Airin, name tag-nya tertulis Luis.


"Ya udah deh".


Sedangkan di kantin, Risa hanya menunduk setelah foto bareng tadi, ia memilin bajunya dengan tangannya yang sudah berkeringat.


"Ris, kenapa?" tanya Zara.


"Siswi siswi baru sering deketin Adam, setiap mereka ngajak foto, makan, atau nonton, pasti selalu ditolak alasannya aku, kalau nggak ditolak pasti jawabnya harus ada aku. Aku ngerasa, para siswi itu bakal ngelakuin sesuatu ke aku, mereka pasti nggak seneng dengan kehadiran aku. Gimana, 'ya, Ra? Aku takut... Apa aku jauhin Adam aja, 'ya untuk sementara waktu?" curhat Risa.


"Lo mau jauhin gue?" suara Adam tiba-tiba terdengar dibelakang mereka berdua, Zara menoleh sedangkan Risa kembali menunduk.


"Emang bisa lo jauh-jauh dari gue?".


"Sok-sok'an banget mau ngejauhin gue".


"Gue nggak mau lo ngjauhin gue karena perempuan lain, apalagi siswi baru, awas lo".


"Tuh, 'kan, Ra? Gimana, 'ya? Aku nggak mau ada masalah lagi".


"Kak, main aja, yuk" ajak Hanar.


"Lhoh Hanar? Ikut ke sekolah?" Hanar mengangguk menjawab pertanyaan Risa.


"Main aja yuk, Kak".


"Kak Ara ikut juga, 'ya? Ajak semuanya kalau bisa, biar seru".


"Katanya kamu bakal tenang kalau udah bisa main, tapi kok sampai sekarang belum pulang ke alam-mu yang seharusnya?" tanya Zara.


"Sebenarnya aku bisa pulang ke alamku yang seharusnya kalau aku main petak umpet dulu, bukan cuma mainan sepak bola, badminton, dan semacamnya aja, hehe".


"Ya udah, yuk. Main petak umpet" ajak Risa.


"Tapi... Kalian harus patuhi omongan aku yah? Ajak orang yang aku pilih aja, 'ya?".


"Lhoh, kenapa?".


"Petak umpet yang akan kita mainan taruhannya nyawa, siapa yang ketahuan akan mati dibunuh Luci (ratu petak umpet)".


"Di dalam permainan ini, siapapun yang tidak tahan nafas saat Luci mendekati mereka, akan dinyatakan ketahuan. Caranya biar tidak ketahuan adalah dengan menahan nafas, dengan begitu Luci akan mengira kita yang menahan nafas sudah tidak ada" sambung Hanar.


"Kok serem sih?" keluh Ais.


"Maaf, Kak... Tapi... Aku pengin banget mainan itu, nanti sebelum permainannya dimulai kita akan melakukan sebuah ritual pemanggilan Luci dulu".


"Aku nggak mau ikut, 'ya?" ucap Ais.


"Maaf, Kak. Tapi aku pilih Kakak".


"Ganti aja deh".


"Nggak bisa, Kak, maaf, 'ya?".


"Aduhhh... Ya udah deh".


"Kakak bakal selamat kalau Kakak dengerin semua perintah aku, semua Kakak anggota team Indigo ikut, 'ya? Kak Ghisella sama kedua temannya ikut juga, satu lagi... Dia!" Hanar menunjuk seorang gadis berkacamata yang rambutnya dikepang dua.


"Kenapa harus dia?" tanya Risa.


"Enggak apa-apa".


"Nanti kita mainnya di markas team Kakak, 'ya?" Risa mengangguk mengiyakan lalu memberi informasi tersebut kepada orang yang sudah Hanar tunjuk. Juga semua peraturan yang harus dipatuhi. Tanpa mereka tahu, Venile mendengar apa yang Risa katakan, tapi tidak semuanya ia dengar. Akhirnya ia tanpa memberi tahu kedua sahabatnya, sepulang sekolah mengikuti Risa dkk ke markas team Indigo. Disana Risa dkk melakukan ritual pemanggilan Luci, setelah Luci datang, satu persatu dari mereka yang ditunjuk Hanar beserta Hanar sendiri mulai membubarkan diri untuk mencari tempat perlindungan.


Venile yang mulai kebingungan hanya berlari untuk sembunyi.


"Kenapa bukan manusia biasa yang jaga? Kenapa makhluk mengerikan seperti itu? Gue yakin... Ini bukan permainan petak umpet biasa, apa gue bisa selamat?" batin Venile ketakutan.


"Ketemu" mata Venile terbelalak mendengar sesuatu, ia membekap mulutnya kuat-kuat dan memejamkan mata.


Bersambung...