INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Pulang



Happy Reading!


Ting!


Pintu lift perlahan terbuka, Risa dan yang lain segera keluar dan menuju ruangan yang dihuni Glen.


"Assalamu'alaikum, bestie!" sapa Ais seraya berjalan mengayunkan kedua kaki dan tangannya menghampiri Chalis.


"Wa'alaikumsalam, kunti!" Chalis tersenyum meledek membuat Ais merengut.


"Jangan salahkan aku kalau nanti dia datang... Hahahaha." Chalis berbisik lalu tertawa puas, ia menduduki kasur di samping kaki Glen.


"Gimana kondisimu, bestie? Mau pulang malem ini?" Ais menatap Glen menunggu jawaban.


"Penginnya gitu, di sini gak asik tahu." Glen menghembuskan napas bosan.


"Kalau gitu nanti aku yang bilang dokternya, yes?" Glen tersenyum dan mengangguk lalu mengacungkan kedua ibu jarinya.


"Ini baju gantimu, Lis." Risa menyerahkan dua paperbag pada Chalis yang segera menerimanya, ia kemudian pergi ke kamar mandi dan bebersih di sana, sedangkan Risa menuju sofa dan memainkan hp-nya.


Ceklek.


Risa mendongak dan melihat semua teman laki-lakinya sudah memasuki ruangan. Ruangan yang awalanya sepi sekarang menjadi begitu ramai, mungkin sebentar lagi akan ada teguran dari suster.


"Btw jadi rame banget ni ruangan, kalian kesini jenguk gue emang ga ada batasan jumlah orang yang jenguk? Rumah sakit ini nggak menyalahi aturan ke rumah sakitan, 'kan?" ucap Glen.


"Bener juga, udah lah ga usah dipikirin yang penting jangan berisik aja." sahut Reza, nampak begitu tenang wajahnya seolah tidak peduli akan yang dikhawatirkan oleh Glen.


"Chalis mana?" tanya Wisnu.


"Kenapa nih cariin dia?" celetuk Rey yang sudah mengambil posisi duduk di kursi samping kasur Glen.


"Masalah buat lo? Orang gue yang cari kenapa lo yang ribet." Wisnu melirik Rey akan tetapi kepalanya sedikit menunduk, kemudian ia perlahan menaikkan sudut bibirnya.


"Berbahaya!" seru yang lain.


Ceklek.


Semerbak aroma bunga mawar langsung tercium seketika saat pintu kamar mandi terbuka membuat semua mata memandang ke sumber aroma wangi tersebut.


"Chalis?! Gue kira setan putih, sejak kapan lo pake parfum bau mawar gini, biasanya juga bau bunga bangkai." Rey kemudian mendengus tawa karena ucapannya sendiri.


"Nggak bunga bangkai juga kali! Aneh, ya, bau parfum gue?" Chalis mengangkat kedua lengannya secara bergantian dan mengendusnya.


"Enggak aneh si, cuma, ya, gitulah, udah lupain aja." ujar Ais.


Chalis mengangguk lalu menghampiri Adam, spontan Risa langsung menegakkan duduknya dan memperhatikan kedua temannya. Telinganya seolah menajam melihat gelagat Chalis, walaupun ia yakin kemungkinan besar apa yang dibicirakan oleh Chalis adalah pintanya beberapa waktu lalu untuk mengatakan pada Adam supaya mempertemukan Chalis dengan tante Adam. Sayangnya ia baru mengingat hal itu beberapa menit yang lalu.


"Tante gue lagi pergi ke luar negeri beberapa hari lalu, dia bilang minggu depan pulangnya." ucap Adam tiba-tiba.


"Lu-luar negeri? Minggu depan? Satu minggu lagi gue harus nunggu waktu buat nutup mata bat-" Chalis reflek menutup mulut dengan kedua tangannya saat Adam mengangkat alis.


"Bat-? Batin? Mata batin?" Chalis menelan ludanya dengan susah payah.


"Haduhhh... Lemes kaki gue."


"Lo mau nutup mata batin lo?" Adam bertanya lagi, yang lain pun jadi ikut penasaran dan menatap Chalis dengan intens.


"Bukan sikap seperti itu yang Chalis butuhkan saat ini, kawan, dia akan merasa terintimidasi jika kalian menatapnya intens seperti itu." ucapan Wisnu perlahan membuat Chalis mengendurkan bekapan tangannya sendiri. Temannya yang lain kecuali Adam yang memang sedari tadi hanya berekspresi datar juga merubah sikap menjadi lebih santai.


"Hwaaaa.... Gue nggak tahan sama penglihatan gue! Mereka wujudnya aneh. Nyeremin, walau ada yang lucu, tapi tetep aja serem. Gue nggak mau lihat mereka lagi. Kalau seandainya bisa... Gue pengin secepatnya tutup lagi mata batin ini. Ok! Gue akuin gue salah dengan pemikiran gue waktu itu. Gue bener-bener nggak kuat." Chalis terduduk dengan kedua kakinya menekuk ke belakang, ia menunduk dan perlahan air matanya menetes.


Adam menghela nafas "Sesuai pemikiran gue, ini pasti terjadi."


"Tunggu aja satu minggu lagi." Adam menghampiri Risa dan duduk didekatnya.


"Kamu udah tahu soal ini, 'kan?" bisiknya tepat di samping telinga Risa membuat bulu kuduknya menegang.


"Nggak usah dijawab, aku cuma tanya kosong aja kok." Risa menatap wajah Adam yang nampak manis malam ini.


"Gimana kondisi lo Glen?"


"Pengin pulang."


"Selamat malam semua, kami akan memeriksa perkembangan keadaan pasien dulu, ya." seorang suster datang bersama dokter lalu menghampiri Glen dan melakukan beberapa tindakan pengecekan.


"Oh baik, dok, terima kasih." sahut Risa, suster dan dokter tersebut keluar ruangan, tak lama suster tadi kembali lagi dan menaruh sebuah botol di dalam plastik yang perlu dikonsumsi nantinya oleh Glen.


"Keluar rumah sakit harus minum obat.. Kenapa jadi gini sii.. Ck! Nyebelin!" Glen ngedumel kesal di dalam hatinya seraya menatap botol vitamin yang diberikan suster.


"Kalau begitu saya permisi." suster itu kembali keluar.


"Ya udah, yuk keluar, urus administrasi terus pulang, gue udah muak di sini." seru Glen, Glen lalu menyingkap selimut yang dipakainya dan terkejut bukan main ketika sesosok tubuh kerdil dengan kepala yang besar berseru kepadanya.


"Mama.."


Tubuh Glen terpaku, matanya bergetar, dan jantungnya berdegup kencang.


"Dia datang lagi...."


Glen mengulum bibir dan menatap teman-temannya yang diam membeku.


"Kaki gue, ga bisa, digerakkin, tolong dong..." dengan nada bergetar Glen mencoba mengabaikan makhluk kerdil itu.


"Mama.." seketika Glen menelan saliva nya seraya menatap makhluk kerdil itu.


"Pergi kamu, dia buka mama-mu." seorang perempuan berbaju hijau yang tidak menutupi semua bagian tubuhnya berseru seraya mendekatkan pergelangan tangannya pada tubuh makhluk kerdil tersebut. Nada bicaranya terkesan dingin dan kejam.


"Radar..?"


Semua mata langsung memandang Rey, namun beralih pada perempuan dan makhluk kerdil tersebut yang tiba-tiba berteriak lalu menghilang.


"Hay, kak Ray, jumpa lagi kita." Radar tersenyum tipis seraya melambaikan tangan mungilnya.


"Dia Radar pemilik gelang alam yang pernah kamu ceritain itu, Ray?" Ais menatap Radar dari atas sampai bawah.


"I-iya."


"Perasaan dulu pakaiannya dia nggak begini dah, bisa salah paham nih bocah-bocah.." Ray mengulum bibirnya seraya menunduk.


"Adam ih!" Risa segera berdiri di depan Adam hingga pandangan lelaki yang disukainya itu menjadi ke arahnya.


"Nggak baik buat matamu." Zara pun dari belakang menutupi kedua mata Wisnu.


"Zaaaa... Aku kurang cantik apa?" pandangan Reza akhirnya mengarah pada Ais yang nampak sedih dan merengut.


"Ma-maaf... Tadi aku sedang berada di pentas busana." ujar Radar, ia pun segera menjetikkan jarinya dan dalam sekejap pakaiannya berubah dari yang kurang bahan menjadi yang tipis transparan.


"Belum berubah!" seru Risa, Zara, dan Ais bersamaan. Mereka bertiga seolah kompak kesal pada Radar.


"Aduh, ma-maaf, aku ganti lagi deh." Radar kembali menjetikkan jarinya, sekali lagi pakaiannya berubah, dari yang tipis transparan menjadi ketat menggoda.


"Apa pakaianmu cuma kayak gitu? Celana jeans longgar dan hody panjang? Apa nggak ada?!" Risa berseru geram.


"Maaf sekali lagi, ya, kakak-kakak, Radar pamit pulang dulu mau ganti baju yang bener, ternyata stok baju yang ada cuma baju buat pentaaaaaaasss.....!!!" teriakannya perlahan meredup bersamaan dengan wujudnya yang menghilang.


"Dasar! Pentas di mana si pakaiannya begitu?" Ais memajukan bibirnya seraya beberapa kali mengumpati Radar.


"Udah si udah. Aman ga cowok kalian?" Glen menatap ketiga teman perempuannya.


"Aman lah.." sahut Zara yang pastinya mewakili kedua temannya yang lain.


"Daritadiiiiiii kuhanya diiiiam terpakuuuuu... Merenungiiii siikap kaaaalian semuaaaaa...🎵" Chalis bernyanyi asal sembari memainkan hp-nya, bahkan ia tak mengangkat kepala ketika semua teman menatapnya.


"Masalahnya ada mata yang harus kita jaga." kata Zara, Ais dan Risa pun langsung mengacungkan jempolnya.


"Udah beres, 'kan sekarang? Kita keluar, yuk." Chalis berdiri seraya menggendong sebuah tas


...----------------...


"Aku urus administrasinya dulu, kalian tunggu di depan aja." kata Chalis seraya membuka tas nya.


"Aku temenin, yaa.." ujar Ais, Chalis hanya mengangguk sebagai jawaban setuju.


Zara berjalan mengikuti Wisnu diikuti yang lain, baru beberapa langkah maju tiba-tiba semerbak aroma kemenyan tercium di hidung Risa.


"Bau kemenyan?"


Bersambung...