INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Baikkan (Season 1)



Pov Author.


Malam semakin larut. Sebuah mobil hitam masih melaju menembus gelap dan dinginnya malam. Sesekali Ang memberhentikan mobilnya untuk mampir ke warung. Pukul satu dini hari, Ang pergi kerumah temannya setelah janjian. Ia menceritakkan apa yang membuatnya marah dan sempat bersitegang dengan ayahnya pada teman curhatnya, Muhammad.


"Lebih baik lo pulang dan minta maaf sama dia. Dia pasti sekarang paham dan menginginkan lo pulang untuk dia bisa minta maaf dan membenari semuanya. Dia perempuan Ang, bukannya adik lo adalah salah satu perempuan penting di dalam hidup lo selain ibu dan nenek lo? Kalau lo begini, gw yakin kalau lo buat dia nangis" ujar Muhammad.


"Tapi gw kesel mad, dia udah SMA tapi sikapnya bener-bener kaya anak kecil kalo gw ngajarin tugasnya dia. Gw susah-susah putar otak cari jawaban dari soal yang tertulis sedangkan dia enak-enakan mainan game di komputer gw" sahut Ang.


"Seperti yang gw bilang tadi, kalo adek lo pasti sekarang udah paham dan ingin lo pulang supaya dia bisa minta maaf dan membenari semuanya. Orang tua dirumah pasti kasih nasehat buat dia supaya dia paham" ucap Muhammad sambil menyesap kopi susu miliknya.


"Enggak yakin gw mad".


"Coba dulu Ang".


Setelah berfikir lama, akhirnya Ang memutuskan untuk pulang dan berterima kasih pada Muhammad karena mau memberikan nasehat dan menerima curhatan darinya.


Sesampainya di rumah. Ang terkejut saat melihat perempuan yang membuatnya kesal sedang meringkuk diatas sofa dengan selimut yang menutupi tubuhnya hingga ke leher. Dinginnya ruang keluarga yang menggunakan AC membuat Risa masih tetap kedinginan walaupun sudah memakai selimut.


Ang tersentuh, saat melihat Risa mengigau dalam tidurnya. Sepertinya apa yang di ucapkan Muhammad memang benar adanya.


"Kak! Risa minta maaf! Risa minta maaf! Risa janji kalau Risa akan selalu memperhatikan penjelasan kakak mengenai pelajaran mulai dari sekarang".


Ang melihat buku yang terbuka dan pulpen yang belum ditutup serta beberapa alat tulis lain yang berserakan diatas meja. Ia menilik kolom jawaban yang masih kosong, ia mengecek terlebih dahulu jawaban-jawaban yang sudah ditulis. Senyumnya lantas mengembang saat melihat lima nomor diantara nomor tiga puluh lima sampai lima puluh yang kata ayah susah, dapat Risa jawab dengan benar dan tepat.


Ia mengambil pulpen dan mulai menuliskan jawaban demi jawaban dari soal-soal yang masih tersisa. Setelah selesai, ia membawa Risa ala bridal style ke kamarnya di lantai dua. Ia membaringkan Risa dengan perlahan dan mengecup kening adik kesayangannya itu. Walaupun bukan kandung, tapi Ang sangat menyayangi adiknya.


Saat Ang akan pergi, tangan Risa tiba-tiba bergerak mencekal pergelangan tangan Ang hingga jalan Ang terhenti.


"Kak... jangan tinggalin Risa kak" ngigau Risa. Ang lantas tersenyum tipis. Ia menghampiri Risa dan berbaring lebih tinggi disamping Risa sambil mengelus rambut hitam itu. Rambut yang terkadang ia jambak saat sedang main karena Risa kalah. Rambut yang memberikan sejuta kenangan indah.


"Kakak disini dek" karena Ang juga merasa matanya lelah dan berat, ia akhirnya terlelap disamping Risa dengan tangannya yang berada diatas tangan Risa.


Keesokan paginya. Ang bangun lebih dulu dan pergi dari kamar Risa untuk bersiap-siap kuliah.


Risa yang sudah terbangun segera mandi dan memakai seragam lalu turun untuk sarapan. Ia sudah membawa tas nya yang terbuka meminta di isi buku pelajaran dan teman-temannya.


"Pagi yah! Bu! Nek! Kak..." sapa Risa lalu menunduk saat menyapa kakaknya.


"Duduk Ris" ucap Ang membuat mata Risa membola tak percaya.


"Duduk" Risa menurut. Dengan tubuh kaku, ia duduk disamping kakaknya dan mulai memakan sarapan pagi ini. Selesai sarapan ia memasukan buku tugas matematika kemarin ke tas nya tanpa mengeceknya terlebih dahulu dan juga pulpen serta kawan-kawannya. Ia pamit dan berlari keluar rumah.


"Kakak anter dek" ucap Ang. Risa menurut lagi, ia masuk ke mobil yang akan membawanya menuju sekolah.


"Risa mau ngomong sesuatu sama kakak".


"Kakak mau ngomong sesuatu sama Risa".


Mereka berdua mengucapkan kalimat dengan inti yang sama secara bersamaan. Keduanya saling tatap lalu terkekeh kemudian.


"Enggak, Risa aja dulu" ucap kak Ang.


"Kakak dulu".


"Risa aja dulu".


"Kita aja barengan" ucap Ang dan Risa bersama lagi.


"Risa mau minta maaf sama kakak, setiap kakak ngajarin Risa, Risa jarang perhatiin penjelasannya. Risa sekarang sadar, Risa mau berubah. Risa minta maaf sekali lagi" ucap Risa penuh rasa bersalah.


"Kakak juga minta maaf karena udah marah sama Risa. Kakak janji, selagi kakak masih bisa, kakak akan ajari Risa supaya jadi anak yang pinter" ucap Ang.


"Kita baikan?" tanya Risa, Ang mengangguk. Mereka berdua mengaitkan jari kelingking masing-masing dan tertawa bersama.


Pov End Author.


Setelah kak Ang pulang, aku masuk ke kelas. Tugas matematika kemarin dikumpulkan hari ini. Kemarin aku belum selesai mengerjakan semuanya. Bagaimana jika aku dihukum.


Aku dengan lesu menyerahkan buku tugas matematika yang langsung diperiksa oleh bu Ley. Bu Ley seketika terkejut dan tersenyum senang.


"Woahhh.... gak sia-sia bu guru ajarin kamu Ris, jawaban kamu bener semua" ucap bu Ley.


"Be-bener?" bagaimana bisa benar semua sedangkan aku semalam tidak menyelesaikan semuanya?.


"Iya, tugas matematika kamu dapet satu bintang" teman sekelas langsung bertepuk tangan. Jangan-jangan yang mengerjakan tugasnya kak Ang? Sepertinya memang benar dia.


Pelajaran di mulai hingga bel istirahat berbunyi. Semua siswa siswi di kelasku berhamburan keluar kecuali aku dkk.


Aku menceritakan kejadian semalam pada kawan indigo team dan juga Lala. Mereka semua tercengang tidak percaya.


"Jadi selama ini kalo lo ngerjain tugas dapet bintang karena dikerjain sama kak Ang?" tanya Glen.


"Enggak kok, cuma matematika aja. Tapi mulai sekarang, aku akan memperhatikan kak Ang saat ia menjelaskan supaya aku bisa mengerjakan soal-soal di kelas".


"Risa, Adam, Wisnu, Zara, Glen, Ais, Reza, Reyyan dan Lala diminta untuk datang ke perpustakaan" seru bu Eri. Kami semua yang merasa dipanggil segera datang ke perpustakaan. Ternyata kami diminta untuk membantu membereskan perpus dan menata buku-buku baru atau lama.


Bersambung...


Kesalahan Risa bisa dijadikan pelajaran ya.... kalau lagi diajarin, ya diperhatiin.


Jangan malah dicontoh kesalahan Risa... wkwk.


Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.


Terima kasih.