INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Pulang (Season 1)



Tiga ambulans dari pihak kepolisian sudah datang untuk membawa jenazah almarhumah Ibu Nira, almarhum pak Tino dan supir minibus. Disusul ambulans rumah sakit daerah setempat untuk membawa jenazah almarhum kak Ardani. Ibu kak Bay menginginkan jenazah anaknya dimakamkan dekat dengan tempat tinggalnya.


Kami semua kecuali bapak polisi pergi ke pemakaman Emas Kasih untuk membongkar makam kak Ardani dan memasukannya ke ambulans yang sudah dipesan.


"Ayo anak-anak kita pulang" ajak ibu kak Bay. Matanya sebab akibat menangis disamping jenazah kak Ardani.


"Kita pulangnya agak terlambat tante. Tante duluan aja" sahutku.


"Ya sudah kalau begitu. Kalian hati-hati ya" aku mengangguk. Ayah dan ibu kak Bay pergi ke mobilnya di susul kak Argani dan kak Anji.


"Terima kasih atas bantuannya. Aku ingat sekarang tentang kakak dan kedua orang tuaku, aku senang sekali. Sekali lagi terima kasih, aku pamit dulu. Dadah Raihan, dadah Cinta" aku mengangguk sambil tersenyum. Kak Ardani kemudian pergi masuk ke dalam mobil ambulans yang di dalamnya terdapat jenazah raganya.


"Kenapa kakak tidak pulang?" tanyaku pada kak Ang yang sedang berdiri menatap para polisi yang sedang bertugas.


"Bareng kalian nanti".


"Cari kafe yang deket sini ada nggak?, biar enakan gitu santai-santainya" tanya Zara.


"Ada, tadi gw liat. Gak jauh kok dari sini" sahut Wisnu. Aku mengangguk, mengikuti langkahnya begitupun yang lain. Reyyan setia sekali disisiku bahkan dia terus menanyai keadaanku.


Setelah sampai di kafe yang dituju. Kami semua masuk ke dalamnya dan memesan makanan serta minuman yang diinginkan. Sedangkan aku? Aku duduk dipojokan bersama Reyyan yang sudah membawa kotak P3K.


"Sakit nggak?" tanyanya disela-sela dirinya membersihkan area luka.


"Lumayan, tapi masih bisa aku tahan kok. Kamu obatin aja, jangan banyak tanya ya, soalnya nanti kalau jawab pertanyan kamu saat diberi obat merah kan pipinya ikut gerak, jadi sakit" pintaku.


"Ok".


Dengan telaten, lelaki yang seumuran denganku ini membersihkan tiap luka dan memberikan obat merah setelahnya. Lalu ditempel kapas dan hansaplast supaya merekat.


"Makasih ya" ucapku setelah selesai di obati.


"Sama-sama. Aku pesenin makanan ya, kamu mau makan apa?" tanyanya sambil menyerahkan buku menu kafe ini padaku. Aku menerimanya kemudian menunjuk makanan dan minuman yang aku inginkan, setelah itu Reyyan pergi untuk memesan. Seperginya Reyyan, Adam datang dan menanyai kondisiku.


"Gimana kondisi lo?" tanyanya dingin tapi raut wajahnya nampak jelas guratan khawatir disana.


"Lebih baik".


Kami saling terdiam hingga akhirnya Reyyan datang membawakan makanan dan minuman pesananku dan juga pesanannya. Ia kemudian menaruhnya dimeja.


"Adam, lo udah pesan makanan?" tanya Rayyen.


"Udah".


Reyyan mengangguk lalu ikut duduk di samping Adam, setelah pesanan Adam datang. Kami bertiga menikmatinya dengan tenang. Setelah itu kami berkumpul dan duduk-duduk santai sambil berbincang sebelum melanjutkan perjalanan pulang.


"Nanti sampai rumah malam dong?" aku bergidik ngeri, membayangkan betapa lamanya berada di jalan tol yang sepi.


"Iya" sahut Zara.


"Ais pernah cerita sama gw, kalo lo liat penampakan kaya Miss K di deket pintu kamar mandi markas Indigo Team sampai masuk klinik, emang bener?" tanya Reza.


"iya, bener" sahutku membenarkan.


"Beberapa waktu yang lalu saat gw jalan-jalan, gw denger ibu-ibu lagi ngomong sesuatu".


"Kamu nguping pembicaraan orang?" Reza menggeleng cepat.


"Enggak... enggak nguping, tapi enggak sengaja denger aja. Jadi gw dengerin".


"Sama aja Reza!" bentak Ais sambil menoyor kepala Reza hingga Reza terjatuh.


"Main toyor aja lu syah!".


"Ibu-ibu itu ngomongin apa?" selidiku.


"Mereka ngomong begini...."


Flashback


Pov Reza.


Hari senin ini aku memutuskan untuk pergi jalan-jalan sebentar menikmati sejuknya udara pagi. Walaupun resikonya, aku akan terlambat berangkat sekolah dan mendapat hukuman.


Ku langkahkan kaki ini mengelilingi komplek sampai tiba di depan markas Indigo Team. Niatnya, aku ingin masuk ke dalamnya dan mengambil air minum tapi niatku terhenti tatkala mendengar suara ibu-ibu yang membicarakan tentang Risa yang melihat penampakan seperti Miss K di dekat pintu kamar mandi markas Indigo Team. Aku sudah mendengar cerita tersebut dari Ais semalam lewat chat. Aku sempat heran, dari mana ibu-ibu itu tahu tentang kejadian waktu itu.


Aku memutuskan untuk menghampiri kumpulan ibu-ibu tersebut yang sedang mengerubungi tukang sayur keliling dengan kedok ingin membeli jajanan yang ada padahal ingin mendengarkan apa yang sedang di bahas. Biasanya tukang sayur keliling ini, juga membawa jajanan seperti nasi kuning dan sebagainya.


"Eh... ibu-ibu tau gak, kemarin anak angkatnya ibu Mawar pingsan sampai di bawa ke klinik karena lihat penampakan kaya kuntilanak di deket pintu kamar mandi markas Indigo Team" ujar ibu-ibu berbadan tambun dan rambutnya yang di gerai.


Aku tertegun. Bukan karena ibu-ibu ini sudah tahu tentang berita itu, tapi tentang bahwa Risa anak angkat ibu Mawar.


"Iya bu bener. Kan anak angkatnya ibu Mawar kalau lihat penampakan yang energinya jahat, dia bakal pingsan dengan keringat di sekujur tubuhnya dan mimisan. Nah, penampakan yang di lihat anak angkatnya bu Mawar itu, energinya jahat" lagi-lagi aku tertegun karena ucapan ibu berbadan tambun ini. Sedetail itu dia tahu tentang kejadian yang di alami Risa?.


"Ngomongnya nak Risa aja nggak usah anak angkatnya ibu Mawar!" sergah ibu-ibu di samping penjual sayur keliling itu. Wajahnya lumayan cantik, kulitnya putih, rambutnya berwarna coklat pada bagian bawahnya.


"Lah kan emang kenyataannya anak itu anak angkatnya ibu Mawar, kalau Anggres lah anak kandungnya. Kasian ya Risa, ternyata orang yang selama ini dia sayang bukan orang tua kandungnya" sahut ibu berbadan tambun. Lama-lama aku gregetan juga nih di sini.


"Tunggu dulu bu-ibu, tadi bu Murni bilang kalau nak Risa lihat penampakan kaya kuntilanak di dekat pintu kamar mandi markas Indigo Team?" tegas wanita berjilbab di sampingku. Ini kenapa jadi pada negesin si, emangnya tadi nggak denger apa ya.


"Iya ibu Riniiii. Telinganya itu lhoh, ya mbok di bersihin biar nggak budeg" sahut ibu berbadan tambun. Owhhh... jadi dia namanya bu Murni, sedangkan ibu berjilbab di sampingku namanya ibu Rini.


"Terserah lah kamu mau ngomong apa. Yang sekarang mau aku bahas itu.... apa kalian nggak inget tentang kejadian beberapa tahun yang lalu. Saat hujan deras mengguyur komplek ini, saya kan pernah cerita sama ibu-ibu kalau saya lihat orang lagi nggali tanah terus masukin orang ke galian itu terus di kubur lagi. Nah, tanah yang di gali itu kan, tanah yang sekarang berdiri markas Indigo Team..." terang ibu Rini


"Apa jangan-jangan penampakan yang di lihat nak Risa itu.... arwah nya orang yang di kuburin sama orang yang nguburin?" lanjut ibu Rini sambil menerka kemungkinan besar memang benar bahwa penampakan yang di lihat Risa memang orang yang di kuburkan beberapa tahun yang lalu. Sepertinya bunda tahu akan hal ini, sebaiknya aku tanyakan nanti. Biarlah, berangkatnya telat nanti.


"Ohhhhh iya, aku ingat bu Rini. Bahkan ibu Rini ngirimin fotonya ya sama kita-kita?" ibu Rini mengangguk.


"Bisa jadi itu".


Setelah itu topik pembicaraan berganti. Aku pun langsung melenggang pergi setelah mengambil dua bungkus nasi kuning dan membayarnya.


Flashback off.


Pov end Reza.


"Pas gw pulang, terus gw tanyain sama bunda. Ternyata bener dugaan gw kalau bunda juga tahu akan hal itu dan saat gw minta foto yang kata bu Rini, dia juga punya. Dia ngirim foto itu sama gw" Reza menunjukan foto pertama di mana seseorang yang mengenakan jubah sedang menggali tanah, foto kedua. Orang yang mengenakan jubah tersebut sedang menaruh sesuatu ke dalam galiannya sedangkan untuk foto ketiga orang yang mengenakan jubah itu sedang mengubur sesuatu yang di taruhnya dalam galian buatannya.


Aku mengangguk. Ternyata ibu-ibu juga tahu bahwa aku adalah anak angkat ibu Mawar dan kejadian yang menimpaku waktu itu.


"Kalau gini cari pelakunya gimana?. Itu kan kejadian beberapa tahun yang lalu" tanyaku bingung. Apa ibu tahu tentang kejadian ini ya.


"Gimana kalau kita coba komunikasi sama arwah itu?" usul Zara.


"Takut lah, wajahnya serem" keluhku.


"Nanti aku aja yang ngomong" ujarnya yang membuatku langsung mengangguk senang.


"Ya udah kalo gitu".


Aku terdiam kemudian teringat akan kiriman manekin yang di buka oleh Ibu. Aku mengahadap semuanya lalu menceritakan akan hal itu.


"Kayaknya kita harus ke rumah Ayu" ujar Reyyan.


"Iya".


"Coba deh besok. Dia sekolah apa nggak" ucap Ais.


"Ya udah yuk pulang" ajakku yang langsung semuanya anggukan. Kami semua bergegas pergi ke mobil yang akan kami tumpangi.


"Gantian Dam, gw juga pengen bareng Risa" ujar Reyyan.


"Ogah".


"Dam".


"Hm".


"Gantian" rengek Reyyan.


"No!".


"Berisik!! Tidak usah ribut, buruan naik" titahku. Layaknya titah seorang ratu pada para dayangnya, Adam dan Reyyan langsung masuk dan duduk berdampingan. Setelah mereka berdua masuk, aku pun ikut masuk dan menutup pintu.


"Lo tengah Ris" pinta Reyyan. Aku menoleh ke arah Reyyan dengan penuh tanda tanya.


"Plissa Ris. Nanti kalau ada polisi tidur, terus mobilnya keguncang dan kepala elo kena kaca mobilnya gimana? Gw nggak mau lo kenapa-kenapa setelah sayatan di pipi sama leher lo. Setidaknya kalau lo di tengah, terus ada guncangan kan ada gw sama Adam yang jadi bantalannya" rengek Reyyan. Benar juga apa yang Reyyan katakan, apalagi mataku sudah mulai seperti perangko dan surat yang sulit untuk di pisahkan. Setelah berfikir beberapa detik, aku akhirnya menurut dan pindah duduk di tengah. Di antara Reyyan dan Adam.


"Nanti kalau ada toko oleh-oleh apapun itu, berhenti ya dan bangunin aku tidur" pintaku pada Zara yang langsung mengiyakannya. Karena mataku terasa berat akhirnya aku memutuskan untuk tidur dan bersender pada sesuatu yang terasa nyaman di samping kananku.


Bersambung...


Ayo.... mana nih dukungannya untuk Risa dan kawan-kawan.


Ajak saudara, teman, sahabat, keluarga, kaka dan adik kalian untuk baca karya author ini dan berikan dukungan supaya author tambah semangat dalam up.


Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.


Terima kasih atas dukungan kalian selama ini🤗.