
Happy Reading...
"Itu bukannya si Sedah ya?" gumam Glen.
"Iya" sahut Risa.
"Kenapa bisa gini?" gumam Wisnu.
"Kalian mengenal wanita itu?" tanya salah sesosok jin yang berada disisi Rey.
"Kenal pak, dia teman kami" sahut Rey.
"Bapak kenal dengan lelaki itu?" tanya Wisnu seraya mengajak mereka untuk menjauh dari kerumunan.
"Kenal, dia adalah laki-laki yang sudah beberapa kali akan memperkosa wanita-wanita yang datang ke desa ini. Tapi, saat itu juga kami berhasil menggagalkannya".
"Lalu kenapa dia bisa melancarkan aksinya, pak?" tanya Risa.
"Kemarin malam, bertepatan dengan malam tumbal. Tidak ada yang berani untuk keluar, hanya jin-jin tertentu saja yang diperbolehkan".
"Kami gagal menjaga desa ini, desa ini telah kotor. Kami gagal..." setetes air mata berwarna biru air laut dangkal jatuh mengenai tanah.
"Kami pasti akan dihukum".
"Pak... tenang ya, raja pasti akan mengerti" ujar sosok jin remaja, seusia Risa seraya mengusap punggung bapaknya.
"Kita akan dihukum, nak".
"Nggak pak, kita nggak akan dihukum".
"Kamu tahu dari mana?".
"Raja berkata tadi".
"Kamu mendatangi kerajaan?" anaknya menggeleng.
"Dia yang menyampaikannya pada Lisna, pak".
"Bagaimana bisa? Kamu jangan bercanda, Lisna!"
"Aku nggak bercanda pak, memangnya bapak bisa menduga apa yang akan dilakukan raja?".
"Maaf, bukankah kalian jin islam? Tapi, mengapa kalian...".
"Itu sebutan kami untuk pemimpin desa ini, semacam presiden disuatu desa. Tuhan kami tetaplah Allah" potong bapak tersebut.
"Owh..." Risa dan yang lain mengangguk.
"Kami selaku teman korban wanita, meminta maaf yang sebesar-besarnya. Karena kelakuannya sudah mengotori desa ini" ujar Wisnu.
"Iya, prabu".
"Kami izin menelfon ambulans untuk membawa kedua jenazah dan dimakamkan secara layak?".
"Boleh. Untuk jenazah laki-laki nya, kalau prabu berkenan. Prabu tolong telfonkan ambulans rumah sakit daerah sini saja ya".
"Baik pak".
Wisnu lalu berjalan sedikit menjauh untuk menghubungi rumah sakit tempat tinggal Sedah dan rumah sakit didaerah setempat untuk mengirimkan ambulans.
Petugas ambulans rumah sakit setempat, seperti menatap miris pada kedua korban. mereka lalu menatap sekeliling, dimana yang mereka tatap adalah desa Mati. Andai mata batin mereka terbuka, akan seberapa anehnya perasaan mereka tatkala melihat desa Mati. Puas memandang, mereka bergegas membawa jenazah laki-laki.
Setelah jenazah laki-laki dibawa, beberapa jam kemudian terdengar suara ambulans yang langsung membawa jenazah Sedah.
"Terima kasih atas bantuannya pak" ujar Risa, petugas ambulans tersebut menjawabnya dengan anggukan.
...----------------...
Sore hari tiba, matahari mulai menampakkan sinar orens menenangkannya. Risa dan yang lain setelah selesai mandi dan sholat, duduk-duduk santai diteras sambil menikmati camilan yang disediakan.
"Kira-kira, dari kalian ada yang tahu tentang arti kalimat dari kak Ligo semalam nggak?" tanya Adam.
"Aku nggak tahu" sahut Risa, dianggukan setuju yang lain. Namun, tidak untuk Zara. Ia terdiam menatap langit. Memikirkan arti dari kalimat yang dikirimkan Adam semalam.
"Kecil, namun berguna... dapat membuka... dan perannya sangat penting untuk suatu kepentingan? Kunci? Obeng? Jepit rambut khusus?... akhh...." gumam Zara.
"Kayaknya beneran kunci, kunci kan digunakan untuk mengunci, kalau ngunci pasti di buka, perannya sangat penting untuk suatu kepentingan... seperti... waktu... nenek Risa meninggal, kunci yang dicari... waktu itu menjadi benda yang sangat penting untuk membuka pintu.. ishh... beneran kunci bukan si? Tapi, semalam Glen, Ais, Chalis, Rey, dan Reza ngirim pesan dengan inti kata 'kunci'. Kalau benar kunci... berarti itu jawaban untuk kalimat pertama...".
"..Sedangkan kalimat kedua... terbelah menjadi dua karena melahirkan anak berbeda jenis kelamin. Risa dan Adam? Terbelah menjadi dua? Bukankah mas Gege pernah bercerita, bahwa ada batu suci ditubuh Risa dan Adam, masing-masing setengah karena mereka berbeda jenis kelamin. Apa... beneran batu suci? Bunga teratai disampul buku batu suci juga terbelah? Batu suci dan bunga teratai?. Kalimat ketiga mengapung ya... apa... teratai? Indah? Bukankah teratai indah?" gumam Zara. Masih berfikir untuk mencari jawaban dari tiga kalimat tersebut.
"Kunci yang digunakan untuk mengunci atau membuka batu suci dan sampul bukunya yang terbelah, buku batu suci yang bersampul teratai, teratai yang indah" seru Zara, saat semua dugaannya dirangkum.
"Benarkah?" tanya Risa.
"Hish... coba pikirkan sendiri, rambutku sampai rontok buat mikir, dan kamu malah nggak percaya. Kapan si aku bohong?" kesal Zara seraya menyomot pisang goreng disampingnya dan melahapnya, lalu mengambilnya lagi.
"Bukan itu maksudku, maksudku itu... kamu yakin sama ucapan kamu itu?".
"Yakin? Nggak tahu juga sih".
"Kalau benar kunci, berarti kita harus cari kunci itu" gumam Adam.
"Masalahnya... di mana?" seru semuanya, termasuk Adam sendiri.
...----------------...
Di rumah ibu Mawar dan suaminya. Ibu Mawar duduk menonton tv bersama anak pertama dan suaminya. Keaadaan semula tenang, namun berubah saat suara benda jatuh terdengar di telinga mereka.
"Apa itu yah?" tanya ibu. Ayah menggeleng tidak tahu.
"Suaranya kayak dari ruang tamu, Ang cek aja ya. Siapa tahu ada maling" ujar kak Ang.
"Jangan Ang, kalau beneran maling gimana? Maling itu nekat Ang, ibu nggak mau kamu diapa-apain" cegah ibu.
"Ang bawa tongkat bisbol" kak Ang pergi ke salah satu sudut ruang keluarga dan mengambil satu tongkat bisbol. Ibu dan ayah memutuskan untuk mengikuti, tentunya dengan membawa senjatanya masing-masing. Berjalan mengendap, bagaikan maling yang akan beraksi.
Sesampainya diambang pintu ruang tamu. Mereka bertiga diam mengamati ruangan dengan cahaya samar tersebut, akibat cahaya dari ruang keluarga yang menembus.
"Nggak jelas, nyalain lampunya gih?" ujar ibu. Kak Ang mengangguk dan segera menyalakan lampu, alangkah terkagetnya mereka dengan apa yang dilihat. Barang-barang banyak yang pecah. Beberapa buntal kain putih dengan ikatan dibeberapa bagian juga nampak ikut serta membuat ketiga manusia tersebut melongo. Ketakutan semakin terasa, saat buntalan kain putih tersebut menoleh ke arah ibu, ayah, dan kak Ang.
"Wuaaaaa..... pocong...!!!" teriak ketiganya serempak. Mereka kemudian berlari tunggang langgang menuju lantai dua, dikamar kak Anglah mereka bersembunyi.
"Ka-ka-kala-au po-po-cong-nya ne-nem-bu-bus pi-pin-tu at-au te-em-bo-ok gi-gi-ma-na?" tanya ibu gagap, segagap-gagapnya.
"Kita terjun" sahut kak Ang.
"Nga-ngawur! Sa-sana ka-kamu aja ya-yang ter-terjun! I-ibu ngga-nggak mau, na-nanti ma-malah nyu-nyusul po-po-cong po-pocong di-diluar" kesal ibu.
Tepatnya diruang tamu, pocong-pocong dengan berbagai ukuran dan keseraman melompat-lompat mengelilingi ruang keluarga. Salah beberapanya berusaha melompat menaiki tangga, namun nihil. Kesialan berkali-kali terjadi, mulai dari kawan dibelakang yang menginjak kain temannya didepan, terpeleset, menginjak kain sendiri, dan lain-lain.
Di luar rumah, seorang pemuda tampan yang berekspresi seperti Adam dan Wisnu melintas didepan pagar rumah ibu Mawar. Ia lantas berhenti dan mengendus aroma disekitarnya.
"Teror?" gumam pemuda tersebut seraya mengernyit. Ia kemudian memutuskan untuk memasuki rumah tersebut, setelah memencet bel berkali-kali namun tidak ada sahutan.
Pemuda tersebut membuka pintu dan langsung membelalakan matanya kaget, ia lantas masuk dan berlari menyusuri rumah. Mengusir pocong-pocong tersebut dengan doa-doa yang diajarkan oleh guru ngajinya. Ia kemudian pergi ke lantai dua, dan mengetuk pintu kamar kak Ang. Ia merasakan energi ketakutan dari kamar tersebut yang juga bercampur dengan energi kegelisahan, dan khawatir.
Didalam kamar kak Ang. Mereka bertiga terdiam, menatap daun pintu yang terdengar ketukan.
"Jangan-jangan itu pocongnya" bisik ayah.
"Mana ada pocong ngetuk pintu si, yab?" sahut kak Ang.
"Kak Ang.. apa kakak didalam? Ini aku, Arjana... kakak ada di dalam?" teriak Arjana dari luar. Ang yang mengenali suara tersebut berdiri, hendak membuka pintu.
"Hati-hati, Ang. Siapa tahu pocongnya lagi nyamar" ujar ayah.
"Enggak mungkin" kak Ang lalu membuka pintu.
Bersambung...
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka. Bunga dan kopi dari kalian sangat membantu keberhasilan Author.
Thank You All...
❣️❣️❣️❣️