INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Alergi Risa kambuh (Season 1)



Happy Reading...!!


Aku bisa melihat 'mereka', bahkan sampai berkomunikasi. Entah ini anugerah atau malapetaka.


Kata ibuku 'Apapun yang diberikan oleh Allah, kita harus menerimanya dengan ikhlas. Karna menyesali apa yang tidak bisa diubah, hanya akan membebani hidupmu.'


...----------------...


Tok! Tok! Tok!


Samar-samar aku mendengar suara ketukan pintu. Karna kondisiku yang masih antara sadar dan tidak, aku hanya terdiam sembari menunggu ketukan itu terdengar kembali. Aku berusaha untuk mengumpulkan nyawaku diatas kasur empukku ini.


Tok!! Tok!! Tok!!


Ketukan itu kembali terdengar, bahkan terasa lebih keras. Dengan sempoyongan aku beranjak dari berbaringku untuk membuka pintu dan melihat siapa yang mengetuk pintu sepagi ini.


Ketika aku sudah sampai di depan pintu, aku mendengar suara Ibu memanggilku sembari terus mengetuk pintu kamarku. Jika dibiarkan, ketukan tersebut akan berubah menjadi gedoran.


"Nak! sudah bangun belum?!." tanya Ibu di balik pintu kamarku.


"Hmm." aku hanya berdehem kecil yang tak akan mungkin di dengar oleh Ibu disana. Aku mengarahkan tanganku untuk membuka pintu.


Ceklek


Terlihat Ibu sudah rapih dengan pakaiannya yang terlihat anak muda sekali. Mau kemana ya? Bukannya ini hari Minggu? Ibu biasanya kan enggak suka pergi-pergi kalo enggak weekend, kecuali kalau memang penting sekali.


Aku menatapnya yang juga sedang menatapku. Tatapan kesal? Kenapa kesal?.


"Sholat subuh nggak?." tanyanya. Aku mengangguk.


"Tidur jam berapa?." tanyanya lagi. Aku menaikkan bola mataku keatas untuk mengingat pukul berapa aku tidur.


"Kalo enggak salah jam satu dini hari, Bu, kenapa?." tanyaku setelah menjawab pertanyaan ibuku.


"Kamu itu jangan mentang-mentang mau hari minggu jadi tidurnya malem-malem, itu gak baik buat kesehatan kamu. Terus.... Kalo habis subuhan... Jangan tidur lagi." ujar ibu menasehatiku sembari menyelonong masuk kekamarku.


Ia lalu berdecak ketika melihat kondisi kamarku. Aku mengikuti langkahnya, hingga sampai ia berhenti tepat di depan meja yang diatasnya terdapat komputer dan beberapa buku, serta kabel yang berserakan. Tak lupa bungkus camilan dan minuman disana. Aku menabrak belakang tubuhnya, membuatnya menyelis sekejap sedangkan aku hanya meringis.


"Main apaan kamu semalem?." tanya Ibu.


"Balap mobil."


"Ck! Ck! Ck." ibu berdecak sambil geleng-geleng kepala.


"Udah gih buruan sana mandi." titah Ibu seraya mengambil bungkus makanan dan minuman di atas meja.


Aku lalu berjalan mundur menuju kamar mandi seraya menatap Ibu seperti gerakan penguin.


"Apa maksudnya?." tanyanya sembari mengerutkan alisnya.


"Nggak ada maksud apa-apa, Bu, cuma keinget penguin." jawabku lalu nyengir.


"Dih! Udah buruan sana mandi, jangan kelamaan, nanti sebelum turun ke bawah kamu beresin dulu meja, kasur, pokoknya yang berantakan ini kamu beresin. Awas kalau enggak! Uang jajan potong 90%." Ibu kemudian keluar dari kamarku seraya membawa bungkus makanan dan minuman yang sudah di ambilnya dari meja.


Selesai mandi dan berpakaian, aku lalu membereskan kamarku. Setelah itu aku menuju ruang makan di lantai satu.


Aku menyapa Kakak, kedua orang tua serta Nenekku. Mulai minggu kemarin, Nenek memutuskan untuk tinggal dirumah kami karna Kakek sudah meninggal. Maka dari itu ia memilih untuk tinggal disini, almarhum Kakek juga dimakamkan di TPU kota tempat aku sekeluarga tinggal.


"Pagi." sahut mereka semua. Aku lalu ikut bergabung dan menikmati sarapan yang tersedia.


"Sereal? Susu?" tanyaku bingung. Kan gak biasanya makan beginian.


"Iya, kenapa?" Ibu menatapku.


"Tumben?" tanyaku menatap kearahnya.


"Itu sereal keluaran terbaru, Ibu coba beli karna katanya enak." aku lalu menyendok sereal yang sudah dicampur susu tersebut dan memasukannya kemulutku.


Wahhh... Rasanya memang enak!


"Emang enak ini mah, kalau bisa beli lagi aja, Bu." seruku senang.


"Tapi yang enak yang mana, yah? Serealnya atau susunya? Atau malah keduanya?" gumamku sembari memperhatikkan semangkuk sereal campur susu di hadapanku. Ehh... Tunggu sebentar, setelah diperhatikkan.... Kenapa warna susunya putih?


"Dua-du-" Kakakku menyahut namun terhenti ketika aku mulai bereaksi mual.


"Huekkk." secara kilat aku memuntahkan apa yang sudah kutelan tadi, aku juga terbatuk berulang kali. Sembari memegangi tenggorokanku, aku terus terbatuk. Alergiku kambuh!.


"Ayah! Cepet ambilin susu kedelai di kulkas." titah Ibu panik.


"Huek." Ibuku lalu memegangiku yang hampir menutup mata. Aku belum memakan apapun dari tadi, dan ketika aku makan, malah harus kukeluarkan kembali.


Beberapa detik kemudian Ayah kembali dan menyerahkan sebotol susu kedelai yang di ambilnya dari kulkas kepada Ibu, Ibu dengan cepat membantuku untuk meminumnya. Perlahan aku menenggak susu kedelai tersebut hingga tersisa setengah dibotol.


"Gimana?" tanya Ibu menatapku khawatir.


"Mendingan" sahutku lalu mengambil botol susu kedelai tersebut dan meminumnya lagi beberapa teguk.


"Ibu lupa? Kalo Risa alergi susu putih?" tanyaku.


"Maafin gue ris, tadi gue yang isengin makanan lo. Susu cokelat lo padahal masih banyak didapur. Tadi gw nyoba ngetes, apa lo masih alergi apa enggak." sergah kakakku. Jadi dia? Ngetes? Nyoba? Apa kira alergi ku ini main-main? Aku suka geram dengan tingkahnya.


"Hhe." aku hanya terkekeh lemah, tak menjawab permintaan maafnya. Aku lalu berjalan menuju wastafel dapur untuk mencuci mulutku. Kudengar Ibu memarahi Kakak.


Tak berapa lama, datang Nenek menemuiku, ia mengusap lembut pundakku membuatku merasa tenang kembali. Ia menyuruhku untuk pergi ke kamar dan istirahat.


Saat aku sedang beristirahat seraya menatap kosong langit-langit kamar. Pintu kamar diketuk.


"Masuk."


Pintu terbuka, aku menatap siapa yang masuk yang ternyata Ibu. Ia menanyakan kondisiku seraya mengusap lembut rambut hitam panjangku.


"Udah mendingan, Bu."


"Bagus kalau gitu, ini Ibu ada bawakan roti, makanan ringan, sama air putih buat ngisi perut kamu." aku bersander pada headboard dengan sedikit bantuan dari Ibu. Hah... Jujur saja, aku paling tidak suka di perlakukan seperti ini, bukannya aku tidak perlu bantuan orang lain ketika sedang sakit, tapi rasanya aku sangat tidak berdaya di mata orang yang membantuku, padahal hanya untuk bersandar pada headboard.


"Makasih, Bu." Ibu mengangguk lalu keluar kamar, membiarkanku kembali bersama mereka yang sedang sibuk menatapku.


Bersambung...


Gimana dengan para pembaca Risa? Ada yang alergi juga sama susu? Kalau author untungnya tidak, tapi kalau sama susu putih enggak suka, lebih suka yang butek.