
Sesampainya dikamar mandi, aku segera menyapa tante putih yang sedang duduk menunduk dan menggoyang-goyangkan kakinya.
"Hai tante" dia menengadah dan senyum merekah langsung ditampakannya ketika melihatku.
"Hai juga, lama banget si?" tanyanya setelah balik menyapaku.
"Owh...maaf tante tadi ada insiden" sahutku, dia mengernyit.
"Insiden apa?" aku lalu menceritakkan kejadian dikolam renang tadi hingga mimpi Lala.
"Dia sudah mulai kembali mencari tumbal" gumam tante putih namun aku masih bisa mendengarnya.
"Tumbal apa tante?" tegasku. Dia terkesiap dan menatapku. Seram si kalau begini, masa ditatap hantu kuntilanak mana mukanya lumayan serem lagi, mending dah kalau ditatapnya sama cowok ganteng.
"Saya meninggal saat seusia kalian karena suatu tragedi pada waktu saya berenang di kolam renang sekolah. Saat saya menjadi arwah yang tak tenang, saya langsung berada disekolah ini. Saya tidak bisa keluar dari area sekolah, karena saya sudah terikat dengan tempat ini...terutama kolam renang sekolah. Saya berkeliling ke seluruh penjuru sekolah ini tapi tidak ke kolam renang.
Dan ketika saya melewati perpustakaan, saya melihat banyak arwah yang berkumpul, saat saya menghampiri mereka. Mereka langsung bertanya apakah saya meninggal di kolam renang atau tidak dan ketika saya menjawab iya...mereka langsung memberitahu bahwa saya adalah korban kelima dari sembilan belas nyawa yang diinginkan penghuni kolam renang. Makhluk kolam renang akan terus membuat korban setiap satu tahun sekali, tepatnya pada bulan November tanggal sembilan belas" terangnya. Bukankah sekarang bulan November tanggal sepuluh? Berarti sembilan hari lagi akan ada korban di kolam renang?.
Aku seketika bergidik mendengar ceritanya, aku jadi teringat dengan mimpi Lala, di mimpinya bukankah dia juga mengatakan bahwa makhluk di kolam renang berkata 'kamu yang kesembilan belas'. Berarti.....bisa jadi Lala adalah target korban penutup dari sembilan belas nyawa yang di inginkan makhluk kolam renang.
"Tahun berapa tante meninggal?" tanya Zara sambil bersender pada pinggir wastafel dekat Lala.
"Kalau tidak salah tahun 2003" sahut tante putih setelah cukup lama berfikir. Sudah lama juga ya tante putih menjadi arwah.
"Kalau tante korban ke lima yang meninggal tahun 2003, berarti mulai jatuhnya korban itu pada tahun 1998?" tanya Zara.
"Katanya iya, makhluk kolam renang itu meninggal pada tahun 1997. Setahun setelahnya ia mulai membuat korban hingga tahun lalu. Itu yang mati tahun lalu" ujarnya sambil menunjuk ke arah depan pintu utama masuk ke kamar mandi. Gyahhhhh!!! Mukanya serem banget, masa otaknya meleleh ke wajah kaya ice cream mana di campur darah lagi. Di sana aku melihat ada makhluk yang mukanya sangat menyeramkan. Aku segera berpaling ketika sekontak dengannya.
"Tante masuk sekolah ini tahun berapa?" tanya Zara.
"2001".
"Emangnya tante nggak tau tentang kolam renang itu?" tante putih menggeleng.
"Saya itu dulu penyendiri dan tidak terlalu tertarik dengan hal-hal seperti itu makannya gak tau tentang misteri kolam renang. Tapi ternyata malah saya yang jadi korbannya" ujarnya lalu terkekeh seperti geli.
"Saya juga pindahan, kata korban kolam renang senior. Berita tentang kolam renang sekolah yang selalu memakan korban setiap satu tahun sekali itu di tutup semenjak kematian korban ketiga. Karena takutnya akan merusak reputasi sekolah di mata murid baru" lanjutnya.
"Owh....tante pindahan?" tegas Zara, tante putih mengangguk. Sembari zara menggali informasi dari tante putih, aku bersusah payah merapikan rambut tante putih.
"Nahhh dah lah lumayan" ujarku ketika melihat rambut tante putih sudah lebih baik dari sebelumnya. Tante putih lalu meraih rambutnya dan menciuminya.
"Wahhhhhh wangi terima kasih!!"serunya, aku mengangguk. Aku lalu pamit pada tante putih, sebelumnya aku telah mencuci bersih dahulu alat yang di gunakan. Aku lalu pergi diikuti Zara dan Lala.
"Ris! Aku duluan ya!?" Ucap Zara, aku mengangguk mengiyakan. Aku berjalan bersama dengan Lala yang tidak mau berjauh-jauh denganku menuju ruang guru untuk mengembalikan barang-barang yang ku pinjam dari bu Ley. Aku bertemu dengan pak Rano di depan pintu ruang guru. Dia di kenal dengan guru killer di sekolah. Tatapannya sungguh buat keringat dingin langsung mengucur deras di pelipis.
"Eh...pa...pak...Ra...Rano...saya...ma...mau...tanya...bapak...li...liat....bu...bu Ley...tidak?" tanyaku gagap ketika melihatnya menatap kami berdua dingin. Alisnya tak bergerak sama sekali ketika aku bertanya gugup seolah-olah dia tidak menyadari bahwa kegugupanku berasal dari tatapannya.
"Bu Ley sedang keluar" sahutnya "ada perlu apa?" lanjutnya.
"Mana barangnya?" Aku segera mengarahkan kotak hitam kecil ke arahnya.
"Berikan saja pada saya, nanti saya yang menyerahkannya pada bu Ley" ujarnya.
"Serius pak?" Dia mengangguk.
"Kalau kamu gak percaya, nanti saat saya menyerahkannya akan saya foto dan saya tunjukkan sama kamu" aku terkesiap.
"Ha...ha...ha...tidak usah pak...tidak perlu...saya percaya. Kalau begitu ini" aku menyerahkan kotak tersebut padanya yang langsung menerimanya.
"Ketika bertemu dengan bu Ley, tolong langsung kasihkan kotak itu segera. Jika tidak....saya tidak mau tau dan tidak mau di hukum. Lala saksinya bahwa saya sudah menyerahkan kotak itu....La! kamu jadi saksi kalau aku udah kasih kotak ini ke pak Rano" ujarku sambil menatap tajam pak Rano, aku lalu menarik lengan Lala dan menyuruhnya menjadi saksi. Aduh....berani banget ya aku natap tajam pak Rano.
"Iya" aku dan Lala lalu pergi dari tempat setelah aku mengucapkan terima kasih.
Kami berdua berjalan menuju kelas karena jam istirahat pertama sebentar lagi akan usai.
"La! kamu laper nggak?" tanyaku sambil menatap Lala yang sedang asik berjalan dengan mengangkat satu kakinya ke atas secara bergantian.
"Enggak, tadi kan udah makan roti" sahutnya.
"Serius" ia mengangguk.
Sesampainya di kelas aku langsung menempati kursiku yang semeja dengan Glen. Begitupun Lala, tapi dia malah berjalan mengambil tasnya di belakang bangku ku dan menyuruh Glen pergi.
"Pergi Lo sofenir pecah!" usir Lala dengan menghempaskan tasnya ke wajah Glen. Aku hanya memperhatikkan dahulu apa yang akan terjadi.
"Ehhhhh enak aja main nyuruh-nyuruh pergi. Yang duduk di sini dulu itu siapa?? Hah?? Sembarangan aja main usir. Lagian lo ngapain juga pake pindah-pindah segala?" sahut Glen dengan sedikit meninggikan suaranya sambil menepis tas Lala yang terus Lala kenakan pada mukanya.
"Gw takut....jadi gw pengen duduk sama Risa!" rengek Lala.
"Wehhhh Risa itu sama-sama manusia. Jadi apa bedanya coba orang lo aja duduknya sama manusia juga" balas Glen sambil menunjuk Ais yang duduk di samping Lala yang juga memperhatikan Glen dan Lala.
"Gw maunya sama Risaaaa! Ga mau yang lain!!" rengeknya sambil menarik bahu Glen hingga ia terjatuh.
"Astaga!!! Pergi gak lo!!" pekik Glen lalu melakukan hal yang sama dengan apa yang di lakukan Lala padanya hingga terjatuh. Mereka lalu bertengkar dan saling dorong. Huh...suka sekali si mereka berdebat. Aku dan Ais saling tatap dan memberikan isyarat dengan menggerakan bola mata. Ais mengangguk jengah. Ia lalu menarik Glen untuk duduk di bangkunya sedangkan dirinya duduk di bangku sampingnya. Begitupun denganku, aku menarik lengan Lala hingga ia jatuh terduduk di atas bangku yang sempat di duduki Glen.
Mereka berdua saling terdiam hingga guru bahasa indonesia datang dan memulai pelajaran. Ku kira pertengkaran mereka sudah berhenti, namun ternyata belum. Glen yang duduk di belakang Lala menarik rambut Lala hingga Lala kesal dan membalas perlakuannya dengan menarik buku milik Glen hingga jatuh. Pak Jio, guru bahasa indonesia yang kini sedang mengajar di kelas ketika mendengar suara ribut Lala dan Glen langsung berbalik dan menyuruhku untuk bertukar tempat dengan Lala.
Aku dan Lala melakukan pertukaran tempat. Sejenak perkelahian mereka berhenti, tapi Lala malah memulainya lagi dengan mencorengkan tinta pulpen yang luber pada lembar buku yang sedang Glen tulisi materi pelajaran pak Jio berkali-kali. Glen yang emosi karena harus mengulang menulis materinya lalu berjalan ke bangku Lala dan mengambil buku bahasa indonesia Lala lalu menyobeknya beberapa lembar.
Setelah kertas buku milik Lala di sobek, Glen meremasnya kuat-kuat dan melemparkannya tepat di wajah Lala. Pak Jio yang sudah jengah lalu menyuruh Lala serta Glen keluar kelas. Di luar sepertinya pak Jio memberikan hukuman yang sudah-sudah. Pak Jio masuk kembali ke kelas dan memulai pelajarannya lagi. Akan tetapi baru saja dia akan berucap, salah satu siswi yang duduk di dekat pintu berseru dan mengatakan bahwa Lala dan Glen beradu mulut. Aku menepuk jidatku.
Bersambung...
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.