
"Suka gimana?" tanyaku bersama dengan teman-teman lagi.
"Saya suka sama mas Into. Bapak ini namaya mas Into, saya kan pengin lihat dia setiap hari tanpa ia sadari. Akhirnya saya mutusin buat jadi kuyang, saya jadi bisa lihat dia tanpa dia sadari. Saya pun bebas jika ingin tidur dengannya, padahal dia sudah punya istri".
"Astagfirullah mbak... mbak" aku geleng-geleng kepala mendengar ceritanya.
"Mbak tahu resikonya kan?" dia mengangguk.
"Kenapa masih lakuin? Harus nya mbak ngomong baik-baik sama bapak ini, kalau seandainya takdir memang menyatukan mbak dan bapak ini. Nggak perlu yang namanya jadi kuyang buat bisa lihat dia setiap hari. Tapi jika takdir berkata lain, ikhlaskan mbak. Mungkin tuhan sudah menyiapkan laki-laki yang lebih baik buat mbak. Lagian ya mbak, kalau mbak jadi kuyang, bapak ini pasti akan keluar-masuk rumah sakit. Mendingan mbak tobat" ujar ku memberikan nasihat.
"Bener juga kata kamu, huaaaa... saya nyesel ngambil keputusan ini. Padahal saya harus menahan sakit saat pelepasan, tapi nggak ada guna nya jika dipikir-pikir. Wujud saya yang seperti ini bukannya buat mas Into jatuh cinta sama saya, yang ada malah ilfiel. Huaaaaaa... makasih nasihatnya.. saya pergi dulu. Mau tobat, terus minum obat. Kepala saya rada pusing. Byeee girlss.., boy.." ia terbang entah kemana membawa organ-organ tubuhnya yang menggantung, meneteskan darah segar ke lantai.
"Astagfirullah.. ada aja kuyang macam begitu" gumam Ais geleng-geleng kepala.
"Pak.. oy.. pak.. bangun pak!!" teriak Glen.
"Bangun.. bangun.. mana handuk nya? Mana? Mana sepatunya?" bapak yang kata mbak kuyang namanya mas Into terbangun seraya bergerak meraba-raba lantai seolah sedang mencari sesuatu. Hingga tangannya mengenai darah yang menetes dari organ-organ mbak kuyang.
"Bau apa nih?" ia mengendus telapak tangannya dan langsung menjauhkannya dari hidung.
"Pak! Sadar pak!" ujar Glen menggoyang-goyangkan badan pak Into. Walaupun tubuhnya sudah terduduk, tapi matanya belum terbuka.
"Hah?".
"Ini bau apa ya? Kok amis?".
"Itu darah organ nya mbak kuyang, dia ngintilin bapak setiap hari. Dia katanya suka sama bapak" terang Ais.
"Jangan-jangan dia Sari" gumam pak Into.
"Ihhh jijik saya" ia menjauhkan telapak tangannya.
"Oh iya, kalian rame-rame disini mau ngapain?" tanya pak Into.
"Mau ke ruang jenazah diawetkan" sahut Reza.
"Mau ngambil jenazah?".
"Iya" sahutku.
"Atas nama siapa?".
"Anel" sahut Zara.
"Owh.."
Pak Into manggut-manggut. Ia lalu berdiri.
"Silahkan masuk, jenazah ada didalam".
Kami meninggalkannya dan masuk ke dalam. Ada sekitar sepuluh jenazah diawetkan disini. Salah satu nya jenazah Anel.
"Nel.. ini gw" Adam memeluk Anel sambil menangis. Aku ingin mengusap pundaknya, tapi entah kenapa merasa ragu.
"Langsung komunikasi sama ambulans aja" usulku.
Setelah ambulans dan adsminitrasi diurus. Jenazah Anel di bawa ke TPU. Dia dimakamkan disamping makam Gisa. Setelah usuran di pemakaman selesai. Kami semua pulang ke rumah mama Via terlebih dahulu. Sebelum melanjutkan perjalanan pulang yang sebenarnya.
"Kamu punya kemampuan indra keenam Ris?" tanya mama Via.
"Iya ma".
"Kalian juga?" mama Via menatap teman-temanku.
"Iya tante, kecuali Chalis" sahut Zara. Chalis yang merasa namanya disebut mengangkat tangan.
"Owh... kalian kuat kalau setiap hari lihat penampakan?" tanya mama Via.
"Kuat-kuatin aja ma" sahutku.
"Iya" sahut yang lain menyetujui.
"Oh ya, kita makan malam dulu. Tapi mama belum masak, ada yang mau bantuin mama masak?" aku, Ais, Glen, Zara, Chalis, ibu Mawar, dan nenek mengangkat tangan.
"Yang laki-laki nggak ada?" tanya mama Via.
"Nggak! Mau main bareng".
Para perempuan termasuk aku pergi ke dapur untuk membuat makan malam. Berbagai macam jenis sayur dan daging ada di kulkas yang memiliki dua daun pintu. Kulkas ini berwarna merah maroon.
"Ayah kemana Ma?" tanyaku. Sedari tadi aku tidak melihat keberadaan lelaki yang notabene nya suami mama Via.
"Ayah sudah meninggal beberapa tahun yang lalu".
"Ma-maaf ma, Risa nggak bermaksud untuk mengungkit masalah itu lagi" ucapku penuh rasa bersalah.
"Enggak apa-apa sayang, yuk dilanjut lagi masaknya".
Setelah selesai membuat makan malam dan ditata diatas lantai. Kami semua menikmatinya. Makan malam kali ini di rumah mama Via dilakukan di ruang keluarga. Lesehan, di lantai. Ini menambah kenikmatan tersendiri bagiku. Sudah lama sekali aku tidak makan lesehan seperti ini.
Waktu sudah mulai menunjukkan pukul delapan malam. Takut akan lebih malam sampai di rumah, kami semua memutuskan untuk pamit pulang.
"Aku ambil Anggana nya, makasih yah udah boleh singgah sebentar disini" ucap Chalis.
"Iya sama-sama".
Setelah Chalis pulang. Aku segera naik ke lantai dua dan pergi menjalankan rutinitas malam sebelum tidur seperti biasanya. Barulah tidur.
Bersambung...
Author beberapa hari yang lalu bikin cerpen, cerpennya author ikut serta kan ke lomba cerpen baru-bari ini di desa berkabut. Buat yang minat, silahkan mampir. Pencet hati dan tulis komentar nya jangan lupa ya...
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka. Bunga dan kopi dari kalian sangat membantu keberhasilan Author.
Terima kasih.