
"Ini tol yang katanya ayahnya kak Bay, kalo malam penghuninya suka cari tumbal ya?" tanyaku sambil mengamati jalur dan sekitar tol.
"Iya" sahut Zara.
"Auranya nggak enak banget ya disini" gumam Ais yang langsung saja aku anggukan.
"Namanya juga tol sering memakan korban" sahut Glen.
"Tapi kok nggak ada arwah yang gentayangan ya?" tanyaku heran.
"Masih siang. Takut sama matahari, jadi nggak keluar" jawab Glen.
"Kamu kira vampir" balasku ketus.
"Ais! Keranjang buah yang tadi dikasih ibunya kak Bay, aku taruh dimana ya? Aku lupa" tanyaku sambil menoleh ke belakang.
"Ini sama aku" sahut Glen, aku menoleh ke depan dan menerima keranjang buah yang diserahkan oleh Glen.
"Makasih buah Anggur nya ya?"
"Sama-sama".
.
.
Dibawah rimbunnya pohon Mangga, mobil merah ini Zara parkirkan. Kami semua turun dan bergabung dengan yang lain.
"Rencana selanjutnya apa?" tanya Zara.
"Kita grebek rumah tujuan. Semoga orang yang kita cari ada ditempat" seru ayah kak Bay. Kami semua mengangguk setuju, sebelumnya ibu kak Bay telah menghubungi kepolisian setempat untuk datang ke lokasi. Jaga-jaga saja jika terjadi apa-apa, yang menyangkut hukum dan sebagainya. Beberapa menit, setelah polisi sampai ditempat kami semua berdiri. Dengan langkah yang dibuat sebiasa mungkin, kami semua berjalan menuju rumah tante Nira dan om Tino dengan dikawal beberapa anggota kepolisian yang berjalan beberapa meter dibelakang kami.
"Rumahnya yang mana kak?" tanyaku berbisik pada pocong kak Bay yang melompat-lompat disampingku sambil mengamati setiap rumah yang kami lewati.
"Itu... iya itu... aku masih hafal. Pagar tinggi berwarna bendera indonesia dan cat rumah merah maroon" jawab pocong kak Bay dengan berbisik pula. Aku memutar mataku, menatap setiap rumah dan mencari ciri-ciri rumah yang disebutkan oleh pocong kak Bay.
"Rumah yang indah" gumamku saat melihat rumah yang disebutkan ciri-cirinya oleh pocong kak Bay. Dihalaman rumah tersebut terdapat dua pohon buah yang salah satunya adalah pohon Rambutan. Daunnya lebat, rantingnya panjang sampai mengenai atap rumah.
"Yakin ini rumahnya kak?" tanyaku lagi untuk memastikan. Rumah dengan cat merah maroon pada tembok luarnya ini terlihat tidak berpenghuni. Tapi, aku tidak melihat ada penampakan makhluk halus disekitarnya.
"Yakin. Pagar sama cat rumahnya, aku hafal banget kok" pocong kak Bay mengangguk-anggukan kepalanya sambil menelisik bagian rumah tersebut.
"Yang mana rumahnya nak Risa?" aku menoleh ke sumber suara. Menatap ayah kak Bay yang juga sedang menatapku setelah matanya berkeliling menatap setiap rumah yang berjejer rapi dikomplek ini.
"Itu om" sahutku sambil menunjuk rumah yang tadi disebutkan ciri-cirinya oleh makhluk berbalut kain putih disampingku.
"Seperti rumah tak berpenghuni" komen ayah kak Bay.
"Mari kita cek dulu, siapa tahu ada orangnya?" usulku yang langsung mendapat anggukan dari teman-teman dan yang lain. Kami semua berjalan menghampiri rumah tersebut, sesampainya didepan pagar rumah tersebut. Aku memencet bel yang terpasang disamping pagar beberapa kali.
"Kalian siapa ya?" aku terkejut ketika muncul sebuah suara. Aku menoleh ke arah seorang wanita yang sepertinya seumuran dengan ibu kak Bay sedang berdiri sambil mengamati pakaian kami semua.
"Ibu... maaf, saya mau tanya. Rumah ini ada orangnya tidak ya? Kami kerabatnya, tujuan kami kemari karena kami ingin bersilaturahmi" tanyaku sopan berdalih. Jika aku mengatakan tujuanku yang sebenarnya, bisa-bisa kami diusir paksa dari sini.
"Owhh... kerabatnya, ibu Nira sama pak Tino mungkin sedang didapur. Masuk saja, nanti ketok pintu yang didekat pohon buah Naga, pintu itu mengarah ke dapur. Mereka biasanya tidak dengar jika ada bel" sahut ibu berbadan agak tambun itu. Rambutnya tergerai lurus, sedikit make up menghiasi wajahnya.
"Begitu ya bu? Baiklah, terima kasih sebelumnya".
"Iya, apa ada yang ingin ditanyakan lagi?. Jika tidak ada saya izin pamit, mau beli sayur".
"Oh.. tidak ada bu".
"Ya sudah, kalau begitu saya pergi dulu, Assalamualaikum" ibu tersebut kemudian melenggang pergi.
"Waalaikumsalam" gumamku.
"Ya sudah, ayo masuk saja" ajakku yang langsung membuka pagar tinggi dihadapanku.
"Berat ding, ada yang mau bantuin tidak?" tanyaku malu-malu. Aku kira pagar ini sama ringannya dengan pagar dirumahku, ternyata tidak.
"Gayanya gede, geser pagar doang nggak bisa" celetuk Adam dingin dengan wajah datarnya sambil berjalan menghampiriku dan mendorong pagar tersebut.
"Makasih!" ketusku. Adam tidak membalas, dia hanya melenggang masuk setelah pagar terbuka sempurna.
Aku ikut masuk disusul yang lain kemudian pergi mencari pohon buah Naga.
"Itu pohonnya kan?" aku menunjuk sebuah pohon yang merambat disamping sebuah pintu kayu.
"Kayaknya iya" sahut Glen.
Aku mengangguk kemudian berjalan mengikuti Adam yang sudah berjalan lebih dulu. Sok sekali dia, jika kenapa-kenapa, baru tahu rasa!.
Tok... tok... tok...
Hening. Tidak ada sahutan.
Tok... tok... tok...
Masih sama.
Tok... tok... tok...
Pintu terbuka, nampak seorang wanita yang tampaknya lebih muda dari ibu kak Bay menatap kami heran disusul seorang laki-laki tinggi, tegap dibelakangnya.
"Lhoh... Ani, Drian. Kalian la? Lama nggak ketemu, gimana kabarnya? Sehat?" tanya wanita tadi bertubi-tubi kemudian berjalan menghampiri ibu kak Bay dan bergerak memeluknya. Sepertinya ini yang namanya ibu Nira dan pak Tino.
"Kabarku baik, kamu sendiri gimana kabarnya?" tanya ibu kak Bay dengan senyum terpaksa. Terlihat jelas dari raut alisnya yang bergerak seolah meminta pertolongan dan tanda tidak nyaman dengan perlakuan ibu Nira dan juga senyum yang tidak mengembang sempura, seperti saat dia bertemu denganku.
"Kabarku baik juga An" sahut ibu Nira.
"Ini siapa?" tanyanya sambil menunjuk kami semua. Sekejap dirinya terpaku dan alisnya mengernyit, saat aku ikuti arah gerakan matanya. Dia seperti itu saat menatap kak Bay. Mungkin dia terkejut karena dua kali melihat kak Bay.
"Ini Risa, ini kakaknya, dan ini teman-temannya. Kalo ini anakku, namanya Bay Arganitara" ujar ibu kak Bay sambil menunjukku, kak Ang, kak Anji dan teman-teman kemudian kak Bay secara bergantian.
"Anakmu?" tegas bu Nira.
"Iya anakku" sahut ibu kak Bay.
"Ba-bagaimana bisa?" ibu Nira berjalan mundur dan berbisik dengan suaminya, tingkahnya itu membuat aku semakin yakin bahwa merekalah pelakunya. Aku mengernyit saat secara tidak sengaja mendengar percakapan mereka.
"Bagaimana bisa Bay ada dua? Bukannya sudah kita bunuh minggu kemarin?" bisik ibu Nira pada suaminya yang juga mengernyit saat ibu kak Bay mengatakan bahwa kak Bay adalah anaknya.
"Aku juga tidak tahu, bukankah kau juga melihatnya. Saat aku mengecek apakah dia sudah mati atau belum" sahut pak Tino.
"Coba kamu kasih liat ke mereka wujud pocong kak Bay" titah Zara yang langsung mendapat anggukan setuju dariku. Aku berjalan mendekati mereka yang langsung tersenyum ke arahku. Aku memegang tangan mereka berdua dan menyuruh pocong kak Bay untuk mendekat. Setelah pocong kak Bay mendekat, aku mulai berkonsentrasi supaya ibu Nira dan pak Tino bisa melihat wujud kak Bay alam ghaib.
"Ba-bay?" tanya ibu Nira gagap memastikan bahwa yang sedang di lihatnya sekarang memang kak Bay alam ghaib.
"Ke-kenapa Bay ada du-dua?" tanya pak Tino kepadaku, saat itu aku langsung melepaskan peganganku pada keduanya.
"Langsung saja ya. Saya malas berlama-lama disini, maaf jika saya tidak sopan" sergah Zara sambil berjalan menghampiri ibu Nira dan pak Tino.
"Apa kalian yang bernama ibu Anira Scartira dan pak Tino Handoyo?" tanya Zara layaknya seorang pak polisi yang melakukan investigasi.
"I-iya".
"Apa kalian yang selama ini merawat laki-laki bernama Bay Ardanitara?" keduanya hanya bisa mengangguk saat dicecar berbagai macam pertanyaan oleh Zara. Mata tajamnya memang bisa membuat nyali orang langsung ciut begitu saja.
Teman-teman tak terkecuali kak Ang, kak Anji dan orang tua kak Bay serta kak Bay panik melihatku sedang disandra. Aku pun sama paniknya, tapi aku berusaha untuk tetap tenang. Karena kepanikanku adalah kesenangan bagi penyandra, semakin aku panik, maka semakin besar pula kemungkinan aku celaka ditangan ibu Nira. Apa dia gila?? Bisa-bisanya menyandra orang. Dari belakang beberapa anggota polisi yang tadi mengikuti kami, sudah bersiaga dengan pistol ditangan masing-masing. Wahhh, macan film action saja ya.
"Jika kalian mendekat maka anak ini saya bunuh" ucap ibu Nira kemudian tertawa.
"Jangan gila kamu Ra!" bentak ibu kak Bay.
"Percuma tante, itu tidak akan berguna, tante Nira sudah terhasut oleh jin jahat" ujar Zara.
"Tapi, tapi sahabat kamu dalam bahaya" bantah ibu kak Bay.
"Tante jangan panik. Kepanikan tante adalah hal yang ditunggu-tunggu oleh tante Nira, kalau tante panik, Itu malah akan membahayakan nyawa Risa. Tante tenang ya".
"Baiklah kalau begitu, tante akan berusaha untuk tetap tenang".
"Kayaknya kulit gadis ini bagus juga untuk dibuat kerajinan tangan" ucap ibu Nira sambil menyayat pipi dan leherku membuat darah segar langsung mengucur deras dari sana. Perih!.
Aku harus berbuat sesuatu, jika tidak. Ibu Nira pasti akan melakukan hal yang lebih dari ini, bisa-bisa aku pulang tinggal nama.
Aku memberi isyarat pada Zara untuk menampik pisau yang sedang dipegang oleh ibu Nira dan mengarahkannya pada ibu Nira. Jika seperti itu, genggamannya pasti akan mengendur dan aku akan dengan mudah membalikan posisi. Aku juga memberi isyarat pada Adam untuk memberitahukan rencanaku. Adam seharusnya paham.
Jadi, nantinya dua bapak polisi yang disuruh oleh Adam akan masuk melalui pintu utama dan langsung berada dibelakangnya pak Tino, supaya pak Tino tidak bisa lari. Dipintu utama, juga akan ada beberapa bapak polisi yang berjaga.
Aku melihat pagar, banyak anggota kepolisian disana. Sepertinya bapak polisi tadi menyuruh yang lain untuk ikut turun tangan. Bagus! Dengan begini, semoga semuanya berjalan dengan lancar.
Aku mengangguk, pertanda bagian Zara dimulai. Untuk bagian Adam, dia sudah lebih dulu menjalankan tugasnya.
"Kalian diam dulu. Jangan bertindak gegabah!" ingat Zara sebelum menjalankan aksinya.
Ia kemudian melangkah secepat mungkin dan merampas pisau yang dipegang oleh ibu Nira lalu menodongkan pisau tersebut pada ibu Nira yang sekarang mulai panik dan bingung akan melakukan apa. Dan benar saja, sekian detik dari Zara yang menodongkan pisau tersebut ke arahnya. Pegangan ibu Nira pada kedua pergelangan tanganku mengendur. Aku langsung memanfaatkan hal ini untuk memutar balikan kondisi. Aku tarik tanganku dan mengambil tangan kiri ibu Nira untuk diputar ke belakang lalu ditahan.
Setelah tangan kirinya aku pegang kuat-kuat, barulah aku mengambil tangan kanannya dan meminta sebuah tali yang kuat untuk mengikatnya.
"Mana tali? Tali yang kuat" Glen berlari menuju mobil merah Zara dan kembali lagi dengan sebuah tali panjang.
"Bagus! Makasih!" Glen mengangguk. Aku kemudian mengikat kedua pergelangan tangan ibu Nira dengan benar. Walaupun terlihat sederhana, tapi itu akan lumayan sulit untuk dilepas.
"Pak polisi!" panggilku pada salah satu bapak polisi yang sedang jaga-jaga. Bapak polisi tersebut menoleh dan menghampiriku.
"Tolong amankan dia pak, jangan sampai lepas. Masih ada hal yang harus kami tanyakan pada ibu ini" ucapku yang langsung mendapat anggukan dari bapak polisi itu. Dia memegang tubuh bu Nira dengan kencang.
"Luka lo Ris?" ujar Reyyan. Aku tahu, dia pasti khawatir denganku. Darah segar masih menetes dengan cepatnya dari luka yang timbul.
"Tidak papa, aku harus membantu Adam. Luka ini, biarkan dulu. Nanti diobati jika sudah selesai semuanya, kamu yang obati ya?" aku mengerlingkan satu mataku membuat Reyyan mengangguk senang. Aku kemudian berlari lewat pintu dapur untuk mencari keberadaan Adam.
"Ini rumah apa roller coaster si, serem amat" gumamku saat mengamati keadaan sekitar.
"Emphhh" tiba-tiba seseorang membekap mulutku dari belakang, dia menyeret tubuhku dan membawanya entah kemana. Saat tiba disebuah ruangan yang ada tiga bapak kepolisian, orang yang membekapku melepaskan bekapannya. Aku menoleh ke arah orang tersebut yang ternyata itu Adam.
"Gila kamu!? Tadi kalo aku mati gimana?!" tanyaku dengan volume keras, sedikit membentak.
"Berisik, nggak usah teriak-teriak" jawabnya dingin nan datar. Tadi saja saat aku nangis karena tahu aku bukan anak kandung ibu Mawar dan ayah Zidan, dia manis sekali denganku. Tapi kenapa sekarang malah berubah, dasar.
"Lo itu kenapa malah nyusul gw si?" tanya Adam jutek sambil mengamati keadaan sekitar. Dimana pak Tino?.
"Disusul sama cewek cantik bukannya seneng malah jutek gitu!" balasku kesal.
"Ge'er banget lo, ngomong lo cantik. Cantikan Gisa daripada lo tahu nggak?"
"Gisa aja terus!" Adam menatapku heran.
"Kenapa?" tanyaku.
"Lo cemburu?" aku terkesiap.
"Mana ada, ogah banget aku cemburu sama cowo tembok kulkas kayak kamu!".
"Terus tadi apa?, kenapa nada bicara lo kaya orang nggak suka lagi pas gw bilang lebih cantikan Gisa daripada lo".
"Eh cowok!, dimana-mana perempuan itu tidak suka kecantikannya dibanding-bandingkan dengan perempuan lain apalagi ngomongnya dihadapannya" balasku ketus.
"Jadi lo termasuk kriteria cewek yang nggak suka kecantikannya dibanding-bandingkan apalagi dihadapannya?" aku mengangguk.
"Tenang aja, walaupun Gisa cantik. Tapi lo manis kok apalagi tomboy, gw suka sama cewek kaya begitu" ujar Adam kemudian mengusap pucuk kepalaku.
"Bodo amat, sekarang dimana pak Tino nya?" tanyaku.
"Dia sekarang sedang bersembunyi diruang bawah tanah" sahut salah satu bapak polisi diruangan ini.
"Ruang bawah tanah? Lalu kenapa tidak ditangkap saja pak?" tanyaku heran.
"Ruang bawah tanah itu sempit, tadi salah satu teman bapak sudah masuk ke dalamnya sebelum tersangka masuk dan mengeceknya. Jika salah satu yang masuk dan melakukan penangkapan, dikhawatirkan jika tersangka membawa sajam (senjata tajam) dan akan melukai orang lain. Tapi jika semuanya masuk itu malah akan lebih menyulitkan lagi karena akan susah bergerak dan kemungkinan kita untuk terluka lebih besar" terang pak polisi tersebut. Badannya tegap, tatapannya hangat tidak seperti manusia disampingku ini.
"Lalu rencana selanjutnya apa?" tanyaku lagi.
"Begini" pak polisi tersebut berjalan menuju pintu ruang bawah tanah dan berseru.
"Lima menit lagi bom yang dipasang akan meledak, hanya tersisa dua pilihan. Mati dengan kondisi tubuh hancur atau masuk penjara dan menanggung jawabkan semuanya bersama istri bapak".
"Ma-masuk penjara saja pak, saya tidak mau mati dengan kondisi tubuh hancur!" sahut pak Tino membuat ingin tertawa.
"Kalau begitu silahkan anda keluar, waktu anda tidak banyak" tak lama setelah itu pak Tino keluar dengan menunduk, dua pergelangan tangannya langsung disatukan dan diborgol kemudian dibawa keluar disusul kami semua.
"Dimana kalian menguburkan jenazah Ardani?" tanya ibu kak Bay pada bu Nira dan pak Tino. Namun tidak ada jawaban dari keduanya. Bu Nira tertawa.
"Jawab!" bentak ayah kak Bay pada pak Tino.
"TPU Emas Kasih" sahut cepat pak Tino.
"Apa... apa yang membuat kalian dengan tega membunuh saudara kembar anakku?!" tanya ibu kak Bay dengan nada tinggi.
"Bertahun-tahun bisnisku hancur karena ulahmu. Ketika aku bertemu dengan Ardani, itulah saatku untuk membalaskan rasa sakit ini. Aku membunuhnya bersama dengan Tino, mulai saat itu kami merasa puas dan bahagia, kami fikir bahwa kalian telah gila dan masuk rumah sakit jiwa karena kehilangan buah hati" bu Nira menjeda sebentar keterangannya kemudian terkekeh.
"Tapi, ternyata kalian punya anak lagi ya? Itu berarti aku harus membunuhnya lagi, supaya balas dendamku lebih memuaskan, hahahahaha" lanjut bu Nira kemudian berdiri dengan tangannya yang diikat ke belakang, ia mengambil sebilah pisau dan berusaha untuk menusukan pisau tersebut pada kak Bay, namun usahanya gagal. Pisau tersebut terjatuh dari genggamannya, tepat saat ujung pisau tersebut mengarah ke atas. Tubuh ibu Nira terpeleset dan jatuh diatas ujung pisau tadi. Pisau tersebut menusuknya hingga dirinya mengalami sakaratul maut yang mengerikan. Pak Tino meraung melihat kondisi istrinya, beberapa detik setelah tertusuk pisau yang dipegangnya. Ibu Nira mulai tak bergerak, perutnya pun terlihat sudah tidak naik turun lagi.
Bapak polisi berperut buncit menghampiri ibu Nuri dan memeriksa kondisinya.
"Inalillahi wa inalillahi raji'un. Beliau sudah tiada" bapak polisi buncit tersebut mengusap pelan wajah bu Nira karena mata dan mulutnya masih terbuka.
"Nira!! Jangan tinggalin aku Nira!!" pekik pak Tino sambil berjalan menghampiri jenazah istrinya dan menggoyang-goyangkan kepala almarhumah ibu Nira.
"Engga... saya engga mau masuk penjara sendiri!!" pekik histeris pak Tino sambil berlari keluar halaman. Aku mengikuti langkahnya, tepat saat dirinya sedang ditengah jalan, sebuah minibus melaju kencang tak terkendali ke arahnya. Pak Tino sudah berusaha berlari, namun dia kalah cepat. Minibus tersebut sudah sangat dekat dengannya kemudian menabraknya hingga terpental tiga meter jauhnya sedangkan minibus tadi menabrak beberapa rumah warga komplek Daun Ijo.
Aku menghampiri pak Tino dan mengecek kondisinya.
"Inalillahi wa inalillahi raji'un" gumamku sendu. Aku kemudian menghampiri supir mininus yang menabrak pak Tino dan mengecek kondisinya.
"Inalillahi wa inalillahi raji'un" lagi-lagi kalimat itu terucap dari mulutku. Supir minibus ini tidak tertolong.
"Semuanya meninggal" ucapku saat bertemu dengan pak polisi buncit.
"Baiklah, saya akan menghubungi ambulans. Terima kasih atas bantuannya" aku mengangguk.
Bersambung...
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.