
Hihihihihihi.
"Siapa si Ris yang telfon?" tanya Glen.
"Nggak ada".
"Terus itu suara cekikikan siapa dong?" tanya Glen lagi dengan suara yang mulai melemah.
"Oh iya ya. Nada dering hp-ku udah diganti, bukan tawa mbak kun lagi".
Tiba-tiba sebuah wajah menyeramkan dengan rambut pirang gimbalnya muncul dikaca bagian depan. Membuat kami semua yang sedang mencari suara tersebut terkejut dan berteriak seketika. Kecuali Lala. Aku tak mendengar suara teriakannya.
"Wuaaaaaaaaa setan mana tuh serem banget?!!" pekik Glen.
"Hei Glen, ada apa si?" tanya Lala. Aku memalingkan wajahku ke belakang.
"Mau lihat mbak kun La?" tanyaku. Sontak Lala langsung menggeleng dan bergerak memeluk Glen yang duduk disampingnya.
Teriakku berhenti. Mbak kun tersebut sudah tidak ada dikaca depan, tapi malah pindah ke kaca jendela disamping Zara.
"Wuaaaa.... Zara!! Disamping kamu!!" pekikku sambil menunjuk-nunjuk kaca jendela tersebut. Zara menoleh perlahan dan langsung berteriak.
"Wuaaaaaaaaaa..... dasar setan sialan!!" pekik Zara kemudian menginjak rem mobil dan menyuruhku untuk pindah sebentar karena dia akan turun. Aku berusaha untuk mencegahnya, tapi sepertinya dia sudah terbakar emosi karena diganggu mbak kun itu.
"Udah nggak papa. Minggir aja, aku kesel inih" aku pasrah dan menurut. Kemudian dengan perlahan pindah ke belakang. Nyelip diantara tiga sahabatku yang lain. Zara membuka pintu dan menghampiri mbak kun yang tadi, mbak kun tersebut masih asik menempel dikaca jendela dengan sesekali menjulingkan matanya.
Aku memutuskan untuk ikut turun, takut jika Zara kalap dan bertindak diluar batas. Ketika aku turun. Mobil kak Ang berhenti sekitar dua meter dari mobil merah ini. Mungkin kak Ang melihat dari spion, ketika Zara keluar.
Penghuni dimobil kak Ang keluar dan menghampiri kami, begitupun dengan Ais, Glen, dan Lala.
"Pergi gak mbak?!" pekik Zara.
"Kalau nggak mau, gimana?" sahut mbak kun pirang itu. Warna rambutnya pirang, tidak seperti kebanyakan mbak kun yang aku jumpai. Maka dari itu, aku menyebutnya mbak kun pirang.
"Saya do'a in mbak!".
"Silahkan. Aku kan islam, nggak bakal kepanasan".
"Mana ada jin islam modelan begini, ada-ada jin masuk selokan kali bukan jin islam" celetuk Ais.
"Sembarangan! Saya itu dulunya model tahu!".
"Tahu bulat atau tahu pong?" sahut Glen.
"Tahu putih!" balas mbak kun pirang.
"Udah lah, sana turun!. Saya nggak peduli, mau mbak model, mau mbak pedagang kaki lima, mau mbak tukang bubur naik haji lagi pas hidup. Atau apapun itu. Saya gak peduli, intinya kalo mbak sekarang gak mau turun. Saya bakal paksa mbak buat turun sampai mau turun" ujar Glen dengan nada tinggi. Sepertinya ia sudah benar-benar kesal sekarang.
"Nggak mauuuu, saya mau numpang. Jalan capek tahu" keluh mbak kun pirang saat dirinya mulai ditarik oleh Zara.
"Lo kan setan! Napa nggak terbang aja si?" ujar Glen. Saat ini Glen dan Zara pasti benar-benar sudah naik pitam. Wajah buruk rupa si mbak kun pirang ini saja sudah tidak mereka pedulikan. Aku masih terdiam, bingung akan melakukan apa. Sedangkan saat ini, keramaian mulai tak terkendali. Bahkan suara mobil polisi pun kini mulai mendekat.
"Ada apa sih itu?"
"Nggak tahu, dia bicara sendiri. Gila kali"
"Mungkin dia keluaran rumah sakit jiwa, hahaha"
Itulah bisikan-bisikan yang mencakup pendengaranku. Mendengar mereka bertiga terus mencemooh Zara dan Glen yang sedang memarahi mbak kun pirang, aku mulai terbakar emosi. Aku berbalik dan menunduk sebentar kemudian menengadah. Saat itu pikiranku hanya satu "Jangan biarkan tiga manusia ini mencemooh Zara dan Glen" setelah itu. Aku tidak tahu apa yang terjadi.
.
.
.
.
.
"Ris... kamu udah sadar?" sayup-sayup aku mendengar suara Ais dan juga tepukan dipipiku. Aku mengerjap, berusaha menyadarkan diri seratus persen. Setelah betul sadar, aku berusaha bangun dengan dibantu Ais.
"Kamu udah sadar?" tanya Ais lagi.
"Iya. Apa yang terjadi?" tanyaku balik membuat Ais kian menghela nafas.
"Kamu... kerasukan" aku tercengang.
"Serius?" tanyaku memastikkan yang langsung mendapat anggukan cepat dari Ais.
"Kamu hampir aja habisin nyawa anak orang Ris" ujar Ais.
"Tapi kamu tenang aja. Kak Ang, kak Adam, kak Wisnu, Reyyan, sama Reza udah ngurusin semuanya kok".
"Terus sekarang Glen, Lala, sama Zara dimana?" tanyaku sambil celingak-celinguk. Aku baru sadar kalau sekarang aku dan Ais sedang didalam mobil.
"Mereka pergi cari makanan ringan sama buah dan minuman" aku mengangguk kemudian termenung.
"Aku ingin tahu apa yang terjadi..." pintaku.
"Okh, aku ceritain".
Flashback.
Pov Ais.
Owh... tiga orang ini memang sayup-sayup tadi aku dengar membicarakan Zara dan Glen. Pasti Risa kerasukan karena emosi yang sudah tidak terbendung. Sedangkan, tanganku panas saat akan menyentuhnya itu karena makhluk yang merasuki Risa juga merasakan emosi yang sama. Emosi dijiwa mereka menyatu, bukan berbenturan.
Jika sudah begini, tinggal panggil kak Adam dan kak Wisnu. Aku memanggil mereka kak, karena usia mereka dua tahun diatasku. Usiaku enam belas tahun sedangkan mereka berdua delapan belas tahun. Dianggota Indigo Team, ada tiga orang yang usianya sudah delapan belas tahun yaitu; kak Adam, kak Wisnu, dan Zara. Sedangkan untuk yang usianya tujuh belas tahun hanya Glen selain itu usianya enam belas tahun. Aku tidak memanggil Zara dan Glen kak, karena aku dipaksa oleh mereka. Awalnya aku memanggil mereka kak, tapi jika aku terus memanggil kak. Aku diancam akan dikeluarkan dari Indigo Team. Karena tidak mau, akhirnya aku menurut saja.
Sedangkan pada kak Adam dan kak Wisnu. Mereka berdua tidak masalah dengan panggilan tersebut, makannya bertahan hingga sekarang.
Aku berjalan menemui kak Adam dan kak Wisnu yang juga sepertinya tengah berjalan ke arah Risa.
"Tolong Risa.. tanganku panas saat akan menyentuhnya" pintaku saat sampai dihadapan mereka berdua.
"Panas?" tegas Adam, aku mengangguk mengiyakan.
"Bahaya dam, ayo kesana sekarang" ujar kak Wisnu yang langsung mendapat anggukan dari kak Adam. Mereka berdua menuju tempat dimana Risa berdiri. Aku mengikuti mereka, sebelumnya aku telah menyuruh Lala untuk menenangkan Zara dan Glen.
"Risa..." panggil kak Adam lembut.
"Sekarang bukan Risa, tapi Anel" sahut makhluk ditubuh Risa.
"Anel. Boleh bicara sebentar?" tanya kak Wisnu.
"Biar kumusnahkan dulu mereka bertiga, baru kita bisa bicara".
"Lo ada masalah sama mereka?" tanya kak Wisnu. Anel mengangguk. Aku yang berada disamping Risa, melihat bahwa ada air mata yang keluar. Makhluk ini menangis?.
"Mereka.... adalah orang yang menghina sahabatku dan juga membunuhnya. Hihihi. Sekarang, aku ingin membalaskan rasa sakitnya. Sahabatku namanya Gisa. Kau Adam, kakak yang dibilang Gisa kan?" Makhluk itu berbalik menatap Adam yang tertegun atas ucapannya.
"Gisa Ayu Pratama. Anak ini, tubuh ini, adalah kakak dari Gisa. Iya kan.... Adam?" Anel melembutkan suaranya ketika menyebutkan nama kak Adam kemudian tertawa melengking.
"Anel Ranjaya?" tegas kak Adam, Anel mengangguk.
"Sudah bicaranya ya Adam. Sekarang aku ingin membalaskan rasa sakit Gisa" ujar Anel dengan air mata yang kembali terjatuh.
"Nel.... nggak perlu. Lo nggak perlu balas dendam" ujar kak Adam, ia berjalan mendekati Anel yang sedang merasuki Risa.
"Tapi Gisa menginginkan ini. Dia bilang padaku sebelum meninggal. Bahwa aku harus membalaskan rasa sakitnya".
"Nggak perlu Anel, kejahatan mereka pasti akan terungkap suatu saat nanti. Kalau kamu bunuh mereka dengan tubuh ini, tubuh ini yang akan kena jetahnya, kasian dia. Jangan ya Nel" ujar Adam. Aku memandang kak Wisnu yang menggeleng tidak tahu. Kami berdua memutuskan untuk diam.
"Satuuu saja, kalau nggak boleh tiga-tiga nya. Biar temannya takut gitu, terus gila, terus bunuh diri. Sama kayak aku" ujar Anel, nada bicaranya seperti orang yang sedang dalam gangguan kejiwaan. Dia senyum-senyum, kadang nangis, kadang cekikikan.
"Adam nggak ngomong. Berarti boleh satu aja" Anel mendekati pemudi yang ditengah dan mencekiknya.
"Anel cukup!" bentak Adam membuat Anel segera melepaskan cekikkannya. Pemudi yang dicekik, kini sudah jatuh pingsan.
"Keluar lo sekarang. Kita bicara nanti, lo ikut gw. Lo jangan ganggu mereka, kita bongkar kejahatan mereka perlahan" ujar kak Adam kemudian bergerak memeluk Risa. Aku tahu bahwa niatnya bukan memeluk sahabatku, tapi Anel sahabatnya. Anel yang didalam tubuh sahabatku, membawa tangan Risa bergerak untuk membalas pelukan Adam. Setelah itu, Risa terjatuh dan polisi datang.
Flashback off.
Pov end Ais.
Nyutttt...
Entahlah. Aku tidak tahu perasaan apa ini. Kenapa sudut hatiku terasa pedih ketika Ais menceritakkan bagian Adam memeluk Anel. Bulir bening yang memenuhi pelupuk mataku mengalir begitu saja membasahi pipi. Kenapa aku menangis?? Apa yang menyebabkan aku menangis??.
Tapi, tunggu dulu. Dicerita Ais tadi, Anel yang merasukiku bilang kalau aku kakak dari Gisa. Gisa adalah sahabat Adam dan Anel dulu. Gisa Ayu Pratama. Pratama, marga yang sama denganku dan juga kak Ang. Apa itu benar, bahwa Gisa adalah adikku?.
Aku mengernyit disela-sela tangisku. Hatiku hari ini benar-benar terasa aneh. Ada rasa sakit, lelah, bingung, penasaran dan lainnya. Hingga sebuah sentakan mengejutkanku dari lamunan.
"Risa! Kamu nggak kerasukan lagi kan?" aku menggeleng. Kemudian mengusap air mata ini.
"Risa... apa kau baik-baik saja?" aku terkejut dan menoleh ke sumber suara. Seorang wanita cantik sedang berdiri diluar pintu mobil yang terbuka sambil menatapku khawatir. Ibu kak Bay.
"Risa baik-baik saja tante" ujarku. Aku kemudian menyuruh ibu kak Bay untuk masuk. Kami berdua bergeser untuk menyediakan tempat bagi ibu kak Bay duduk.
"Syukurlah kalau kau baik-baik saja. Ini tante ada buah, disuruh sama Zara sama Glen buat bawain buah ini dan kasih ke Risa untuk dimakan. Mereka berdua masih ada urusan" ujar ibu kak Bay.
"Makasih tante" sahutku sambil menerima keranjang buah yang diberikan.
"Sama-sama. Ya udah tante keluar dulu ya" ibu kak Bay mencium keningku kemudian keluar.
"Ulululululu, jangan-jangan ibunya kak Bay mau jadiin kamu calon mantu Ris" aku tersentak dengan ucapan bocah ini.
"Ngawur!" balasku kemudian menggigit buah apel didalam keranjang buah yang diberikan tadi.
"Dek! Kamu nggak papa kan?" sedang asik-asik makan. Kakakku datang dengan wajah paniknya.
"Aku nggak papa kok" kak Ang menghela nafas lega.
"Jangan kasih tahu keluarga dirumah ya? Aku nggak mau mereka khawatir" kak Ang mengangguk kemudian memelukku.
"Khemmm.... ini masih manusia lhoh" aku dan kak Ang tersentak, melepaskan pelukan kemudian tertawa melihat Ais yang manyun.
"Kakak keluar dulu ya?" aku mengangguk. Kak Ang kemudian mencium pipiku dan keluar.
"Coba kamu cium aku Ris, aku mau ngerasain juga ciuman dari abang ganteng" ujar Ais.
"Apaan si, aku mau turun. Kamu ikut nggak?".
"Ikut lah, masa enggak" aku turun diikuti Ais kemudian berjalan mencari dimana orang-orang berada.
Bersambung...
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.