
"Gw nggak nyangka banget kalau temen gw ternyata pelaku tabrak lari sampai korbannya meninggal" ucap Andre.
"Lo emangnya nggak kerasa ada yang janggal sama mobil tersangka?" tanyaku sambil terus fokus mengemudi.
"Ada sih, saat gw beli mobil itu dari dia... gw liat ada bercak warna merah dibadan mobil bagian bawah. Saat gw tanya, dia jawabnya kalo itu pewarna makanan. Gw si enggak percaya tapi karena Rasdan terus ngeyakinin gw, akhirnya gw mau aja" jelasnya.
"Berapa harganya?" tanya Ais.
"Dibawah sepuluh juta".
"Itu mahal beg*!" sentakku sambil menoyor kepalanya.
"Gak pake noyor segala kali!" kesal Andre namun aku cuek saja dengan kekesannya itu.
Sesampainya di cafe tempat aku menemui Andre tadi, ia turun dan pamit pergi.. ia juga mengucapkan terima kasih. Aku dan Ais pergi kerumah sakit untuk menceritakkan hal ini pada Risa.
"Hai Ris, gimana kondisi lo?" tanyaku.
"Sudah membaik, abis mandi nih" sahut nya sambil mengangkat sebuah handuk yang terasa basah saat aku sentuh.
"Mandi di sini?" Risa mengangguk.
"Kok sepi Ris?" tanya Ais.
"Iya, kakak nya Adam sama kak Ang udah pulang tadi".
"Lo udah deket sama kakak nya Adam?" Risa menggeleng.
"Deketin Ris, siapa tahu lo bisa dapet restu dari dia".
"Enggak lah, belum waktunya".
Aku menggeleng dan memilih untuk menceritakkan tentang Cinta hari ini.
"Dia nggak pamitan sama aku" ucap Risa sedih.
"Nggak usah sedih, gw tahu itu sulit. Tapi sebaiknya lo do'a in dia aja supaya tenang dan bahagia menjalani hidunya di alam sana" Risa mengangguk lemah. Mungkin karena pertemanan mereka yang sudah lama, membuat Risa seolah belum rela jika Cinta pergi tanpa pamit padanya.
"Cinta nggak lupa sama lo Ris, tapi saat itu cahaya silau sudah menjemputnya. Pahamin ya Ris" Risa kembali mengangguk dengan seulas senyum yang terukir di bibir tipisnya.
Pov End Glen.
Ais dan Glen menemaniku hingga malam. Mereka pamit pulang saat waktu berkunjung sudah selesai. Akukini tengah duduk dikursi samping bed sambil membaca sebuah buku novel yang dibawakan oleh kak Ang
"Adam... kamu kapan sadar" gumamku sendu menatap harap wajah Adam.
Wushhh...
Bulu kudukku seketika meremang sesaat seteleh sebuah angin terdengar lewat begitu cepat. Aku segera berbalik untuk melihat kondisi di belakangku. Nihil, tidak ada apa-apa dibelakangku. Aku yakin seyakin-yakinnya bahwa angin itu bukan angin biasa, angin memang bisa bergerak sekilas tapi tidak sekilas itu kan? Apalagi sampai membuat bulu kuduk meremang.
Wushh...
Suara angin yang sama terdengar lagi disalah satu sisi. Dari sudut netraku tadi, aku melihat sesuatu yang mengenakan baju merah lusuh dan rambutnya yang gimbal acak-acakan. Firasatku mulai tak enak.
Aku menunduk takut, hanya aku seorang diri yang terjaga di ruangan ini. Tidak ada seorang pun selain aku dan Adam. Walaupun pikiranku sekarang tentang sesuatu yang aku lihat tadi memiliki kemungkinan besar, aku mencoba untuk berpikiran positif. Aku tidak ingin menakut-nakuti diri sendiri dalam kondisi sepi seperti ini.
"Kamu cari saya ya?" mataku membola saat suara sedikit serak terdengar ditelingaku. Tubuhku mulai bergetar membayangkan rupa makhluk yang bertanya tadi, membayangkannya saja sudah tidak kuat... apalagi melihatnya.
"Hei..." sosok tersebut kini sudah berdiri disampingku. Bau busuk yang menyengat mulai berangsur masuk ke hidungku. Jika bisa, aku ingin segera muntah!!.
"Coba liat dulu" ucapnya lagi. Dia kenapa suka sekali berbicara si, apa dia tidak tahu bagaimana takutnya aku.
Dengan kepala yang menunduk dan mata yang tertutup, aku mulai memutar tubuh perlahan. Tubuhku saja sudah seperti mati gerak.
"Hei... kelebihan, saya disini" sosok tersebut memegang pundakku dan menggesernya. Mungkin menghadapnya. Apa ada yang bersedia membantuku, aku merasa ingin pingsan sekarang. Bau busuk darinya membuat kepalaku pusing seperti melihat benda yang diputar-putar.
Aku mulai membuka satu mata dan mengamati kakinya yang tertutupi kain merah. Kakinya tidak menapak ke lantai, kain yang menutupi kakinya menjadi terjuntai mengambang.
Satu mataku yang terbuka mulai menilik sosok didepanku mulai dari bawah hingga pinggul, setelah sampai di pinggul. Aku menutup kembali mataku yang terbuka tadi dan terus mendongak. Kepalaku berhenti mendongak saat perasaanku mengatakan sudah cukup.
"Kenapa malah tutup mata si? Pipiku! Mataku!" sosok tersebut terdengar panik meneriakan dua kata yaitu 'pipiku dan mataku'.
"A-aku.. ta-takut".
"Nggak usah takut, kan belum lihat" sahut sosok tersebut. Entah bagaimama rupanya, aku masih menutup mata setelah melihat tubuhnya sampai pinggul.
Aku membuka mata saat makhluk tersebut berbalik badan untuk mengambil sesuatu yang terjatuh menggelinding di belakangnya.
"Sundel bolong!!" pekikku histeris saat melihat punggungnya yang memiliki lubang besar dengan benda putih kecil yang menggeliat di mana-mana dan juga darah yang menghitam. Setelah penampakan mengerikan tersebut, semuanya terasa menjadi gelap.
Aku mengerjap beberapa kali. Kepalaku terasa berdenyut berkali-kali, ku pijit pelan-pelan hingga denyutan tersebut berangsur hilang.
Aku mencoba mengingat kejadian yang membuatku pingsan. Di sisi lain aku bersyukur karena pingsan, tapi di sisi lain lagi aku merasa menyesal telah membuka mata hingga melihat punggung bolongnya. Aku sudah mengingat kejadian mengerikan yang membuatku pingsan. Punggungnya saja seperti itu, bagaimana wajahnya? Saat aku membuka mata aku juga melihat bahwa makhluk tersebut bergerak mengambil sesuatu yang jatuh menggelinding, sebelum itu aku mendengar ia panik sambil berteriak 'pipiku, mataku'. Jangan-jangan yang diambilnya tadi matanya yang copot, mata kan bulat, dia bisa menggelinding. Tak mungkin kan itu pipi. Hih!! Amit-amit ketemu makhluk begitu lagi, mati kenapa dia kiranya.
Tiba-tiba kantung kemihku terasa penuh. Aku berlari kecil ke kamar mandi untuk mengosongkan kantung kemih. Saat aku mengambil air dengan gayung merah di bak, aku melihat sesuatu didalamnya. Sebuah kepala menyeringai dengan rambutnya yang keriting acak-acakan. Aku seketika terlonjak kaget dan membalikan gayung tersebut membuat isinya tumpah.
Aku menilik gayung merah yang kosong, setelah dipastikan aman. Aku mengambil air lagi untuk membasuh milikku. Setelah semuanya selesai, aku bergegas keluar dari kamar mandi. Saat aku keluar, aku melihat sosok berbaju putih bersih dan rambutnya yang lurus seperti direbonding. Ini setan berbeda dengan setan-setan sekawannya yang lain, kalau yang lain rambutnya biasanya gimbal, lah ini.... lurus seperti direbonding, mana bawahnya rada merah lagi. Dia sedang memeluk Adam yang terbaring di bed. Hih! sebel banget aku sama hantu ganjen macam dia!.
Aku menghampirinya dengan langkah tergopoh menahan kesal kemudian mencolek bahunya.
"Siapa sih? Ada apa? Aku lagi seneng nih bisa peluk cowok ganteng" sahutnya.
"Heh! Kamu itu sadar diri sedikit kenapa sih?" tanyaku sedikit membentak. Ia menoleh yang membuatku sedikit terlempar ke belakang. Bibirnya sumbing, tapi sepertinya sudah dioperasi, giginya juga ada yang maju.
"Makhluk apaan kamu?" tanyaku kaget. Baru pertama kali lihat makhluk rupanya begini.
"Katanya sih aku junior mbak Merah, tapi aku versi putih. Namaku Meme, salam kenal ya. Nama kamu siapa?" ia mengulurkan tangannya sambil berdiri.
"Na-namaku Risa panggil aja Intan, eh salah salah... panggilnya Risa aja, Intan panggilan ketua geng resah, jangan diambil nanti dia malah marah. Salam kenal juga, tapi nggak usah salaman. Ngomong-ngomong kamu kenapa mata sama giginya begitu?" tanyaku setelah menolak ajakan salamnya. Bukan sombong, hanya saja aku tidak suka yang terlalu dingin. Setan kan banyak-banyak tubuhnya dingin, dia pasti salah satunya.
"Kelainan" sahutnya menunduk sedih.
"Aku mi-minta maaf, a-ak..."
"Enggak papa" sergahnya.
"Laki-laki itu... dia kekasihmu?" tanya Meme sambil menunjuk Adam. Harus aku jawab apa? Dia tidak pernah menyatakan perasaannya padaku? Jika aku bilang aku kekasihnya lalu aku menceritakannya setelah dirinya sadar, apa dia akan marah? Adam kalau sudah marah sangat menyeramkan. Tapi kalau aku bilang aku bukan kekasihnya.... bagaimana kalau nanti si Meme ini ganjen padanya seperti tadi, terus kalo dia cecar aku pertanyaan lain?.
"A-ak..."
"Aku?"
"Iya! Iya, aku pacarnya" ucapku mantap setelah gugup dan bingung akan menjawab apa nanti. Masalah Adam akan marah atau tidak setelah ia sadar jika aku menceritakannya akan menjadi urusan belakangan, palingan juga aku sudah lupa atau malah akan menjadi kenangan yang berharga.
"Owhhh... kekasihmu, kalian cocok. Sayangi dan cintai dia setulus mungkin ya? Selagi dia masih ada, jangan sia-siakan cintanya. Jangan seperti aku, yang menyia-nyiakan lelaki yang mencintaiku apa adanya" ucapnya yang membuatku terbawa suasana.
"Nyia-nyiain gimana?" tanyaku.
"Namanya Hanif, dia tunanganku, dia mencintaiku tanpa memandang rupa wajahku. Dia sering dihina karena mau-maunya bertunangan denganku, keluarganya pun menentang keras pertunangan itu, mereka tidak hadir saat Hanif melamarku. Aku yang tidak pede dan merasa tidak cocok menjadi tunangannya menjadi menjauhi dirinya, ia kesal dan marah karena tingkahku..."
"...Seolah apa yang dilakukannya hanya angin lalu dihidupku, hingga akhirnya ia mengalami kecelakaan dan meninggal dirumah sakit ini setelah tiga hari perawatan. Aku merasa bersalah, begitu bersalah, aku merasa hidup pun tidak lagi ada gunanya. Aku memutuskan untuk momotong urat nadiku setelah tujuh hari kematiannya sampai menjadi arwah yang bergentayangan mencari tunangannya supaya bisa tenang" jelasnya panjang lebar dengan suara yang sedikit tidak jelas karena bibirnya sumbing walaupun aku masih bisa memahaminya.
"Berarti kamu disini karena kamu ingin menemukan tunanganmu?" Meme mengangguk.
"Maka dari itu aku menjadi menyayangi laki-laki yang mau menerima dengan tulus keadaan kekasihnya. Apalagi kamu indigo, buktinya kamu bisa melihatku, orang indigo biasanya akan dianggap aneh dan akan dijauhi oleh orang sekitar" ucap Meme.
"Sayangi dan cintai dia dengan tulus, karena jarang sekali ada seseorang yang bisa menerima kekurangan pasangannya apalagi kekurangan tersebut adalah indigo" tambah nya yang membuatku terdiam.
"Adam juga indigo. Bisa saja dia mencintaiku hanya karena kita memiliki kekurangan yang sama" sahutku. Tiba-tiba sudut hatiku terasa nyeri dan sesak saat aku mengucapkan hal tersebut. Air mataku mengalir begitu saja, saat sadar ada Meme di sini, aku segera mengusap bulir bening tersebut.
"Owhh... jadi lelaki yang terbaring di atas kasur itu namanya Adam?" Meme menatap Adam.
"Iya".
"Entah kenapa aku merasa bahwa ucapanmu tentang Adam yang mencintaimu karena memiliki kekurangan yang sama salah. Entah lah, aku tidak tahu apa artinya itu. Itu hanya perasaanku saja. Aku pergi dulu ya, mau cari tunanganku, kalau sudah ketemu aku akan kembali ke sini lagi untuk pamitan sama kamu" aku mengangguk.
"Hati-hati" Meme mengangguk kemudian berlalu pergi. Bertemu dengan Meme membuat perasaanku pada Adam semakin tidak karuan dan sulit untuk digambarkan.
Bersambung...
Seburuk apapun wajah Meme di mata Hanif, karena dia mencintai dan menyayangi Meme dengan tulus, membuat Meme bagai bidadari yang diturunkan oleh Tuhan untuk ia jaga, sayang, cinta, hargai, dan pedulikan. Mencintai seseorang bukan dari fisiknya, tapi dari hatinya.
Wajah cantik mungkin bisa membuat orang jatuh cinta padamu. Kepribadian cantik, Insya Allah akan membuat orang setia bertahan disisimu. Duniamu tidak berakhir.. hanya karena kamu disebut tidak cantik. Duniamu baru akan benar-benar berakhir.. jika kamu sibuk mencela dirimu sendiri.
Wajah cantik tidak menjamin kepribadian cantik, tapi kepribadian yang cantik akan senantiasa membuat wajah cantik.
Tetap semangat dengan kondisi fisik saat ini, entah itu buruk ataupun baik di mata orang lain. Yakinlah.. bahwa tuhan menciptakan manusia dengan sebaik mungkin.
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.
Terima kasih.