INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Ulah si dukun (Season 2)



Happy Reading...


Kini, Ais dan Reza sudah berada di taman Indah dan sedang duduk di salah satu bangku yang berada di bawah pohon berdaun lebat yang mampu menaungi mereka berdua hingga tidak kepanasan sambil menikmati ice cream.


"Aku pengin jalan-jalan ke desa Lawang, Za" ucap Ais membuka pembicaraan, setelah beberapa menit terdiam.


"Desa Lawang? Itu di mana?" tanya Reza.


"Kecamatan Sirayu, sekitar... enam jam perjalanan dari sini".


"Buset...! Lama bener".


"He'eh, tapi aku pengin... sama kamu, sama Risa, Adam, Glen, dan yang lain. Di sana katanya mau ada acara pentas seni yang diadakan tiga tahun sekali. Pasti meriah banget" Ais menatap langit biru yang sedang cerah hari ini, membayangkan betapa ramenya saat hari dimana pentas seni itu berlangsung di desa Lawang.


"Kamu tahu kayak gitu dari mana?".


"Dari internet".


"Yah... mau yah, nanti kita kumpul di rumah ku" ucap Ais memelas dengan mata berbinarnya.


"Heh... te**rnyata tingkah anak kecilnya gak berubah juga" batin Reza terkekeh geli.


"Kamu kenapa sih?" kesal Ais.


"Nggak kenapa-napa, kita bicarain di markas aja ya, jangan di rumah kamu, takutnya ngganggu keluarga kamu".


"Kamu bicaranya sama aku udah mulai pakai aku-kamu, aku seneng deh, Za... keep up ya.." Ais memeluk lengan Reza dan bersandar di pundaknya.


"Lah...? Iya yak? Kok gue sampai nggak sadar kalau gue ngomong pake aku-kamu sama ni bocah. Ada apa ya sama gue?.." Reza membatin seraya merenung menatap pucuk kepala Ais.


"Ngomong-ngomong, tadi kamu bilang markas. Markas apa ya?" tanya Ais penuh rasa keingintahuan.


"Markas Indigo Team, lo kan juga salah satu anggotanya".


"Owh... eh tuh kan, lo lagi... tadi aja aku-kamu" rajuk Ais.


"Gue biasa pake lo-gue, Ai bukan aku-kamu".


"Ya biasain lah, kamu kan lagi ngomong sama aku, bukan sama yang lain".


"Mas, pacarnya lagi ngambek ya?" celetuk salah seorang lelaki yang lewat bersama kekasihnya di hadapan mereka berdua.


"Hah?" lelaki tadi menunjuk Ais melalui tatapan matanya.


"Pa-pacar?" lelaki tersebut mengangguk lalu menyergah saat Reza akan mengklarifikasi tentang hubungannya dengan Ais.


"Kalau ada masalah, dibicarain baik-baik ya mas. Perempuan itu emang suka gitu, apa yang kita lakukan kadang nggak ada benernya, mending nurut aja selagi itu belum keluar batas. Pacar saya juga gitu mas, cuma karena saya nggak mau makan es krim coklat, dia minta putus. Karena masih ada sayang, jadinya saya nurut aja deh. Semoga langgeng ya mas, saya sama pacar saya pergi dulu" bisik lelaki tersebut sambil sedikit membungkuk untuk menyetarakan tingginya dengan Reza yang sedang duduk dengan menambahkan sedikit curhatan. Ia kemudian menegakkan kembali tubuhnya, membuat Reza menghela nafas. Apa gue sama Ais udah kaya pasangan kekasih? Begitulah pikiran Reza.


"Pergi dulu mbak, ayo sayang.." ia mengangguk sedikit ke arah Ais yang tersenyum ke arahnya kemudian menggandeng tangan kekasihnya dan mengajaknya pergi ke lain lokasi.


"Tuh... dengerin mas-mas itu ngomong" seloroh Ais. Reza hanya terdiam menatapnya sekilas. Ais kemudian pergi dan mengajak Reza ke salah satu penjual es krim.


Keesokan harinya, Ais dan Reza pergi bersamaan ke markas setelah semalam memberi informasi pada yang lain. Rey dan Risa datang bersamaan, ada rasa cemburu di hati Glen dan Adam akan kedatangan mereka berdua. Yang satu sudah jelas, rasa cemburu itu pasti muncul karena memang Adam sudah menyimpan rasa cinta dan sayang pada Risa. Tapi, bagaimana dengan Glen? Bahkan ia masih mengharapkan bahwa Rayhan akan kembali, tapi dia merasa cemburu akan kedatangan Rey dan Risa yang bersamaan.


Semuanya berkumpul di ruang tengah, membentuk lingkaran dan mulai membahas rencana jalan-jalan ke desa Lawang sesuai keinginan Ais sambil menyetel tv. Sebuah siaran berita langsung terpampang di layarnya. Seorang reporter muda berusia dua puluh tujuh tahunan berbicara di depan sebuah rumah yang nampak dipagari garis polisi.


"Apa itu?" gumam Chalis.


"Seorang gadis muda berusia tujuh belas tahun, ditemukan tewas di dalam kamarnya. Anehnya, tak ada luka atau pun hal-hal janggal di tubuh dan kamarnya. Gadis tersebut ditemukan duduk membenamkan wajahnya di meja belajar oleh adiknya yang bernama Kinan, saat sang adik minta di ajarkan tugas sekolah" nampak juga di layar tv, seonggok jasad yang sudah dibungkus kain kuning dengan res sleting di tengahnya. Para wartawan yang menyiarkan langsung ke tv, berjubelan memenuhi kamar yang ukurannya cukup besar itu. Jasad gadis tersebut kemudian di bawa ke rumah sakit.


"Mungkin punya penyakit dalam" ujar Glen. Semuanya mengangguk setuju.


"Jadi, gimana nih? Pada mau nggak? Jalan-jalan ke desa Lawang?" tanya Ais. Tv kini sudah dimatikan.


"Boleh deh, mumpung liburan" sahut Zara.


"Rey, Ris, gimana?" tanya Zara tertekan. Energi yang diciptakan oleh Rey dan Zara sangat berlawanan dengan energinya sekarang. Itu pun dirasakan oleh yang lain, termasuk Chalis. Rey dan Risa hanya mengangguk kaku.


"Lebih cepat pasti lebih baik" batin Adam, ia bersiap dengan bubuk ekstra sari bunga mawar ditangannya. Ia memberikan kode pada yang lain lewat kontak mata.


"Maaf" Adam menuangkan bubuk ekstra sari bunga mawar tersebut ke telapak tangannya yang kemudian ia usapkan ke wajah Risa.


"Hah..." Risa mengerjap beberapa kali. Iris matanya kini kembali ke hitam kecoklatan. Adam tersenyum lalu beralih ke Rey yang mulai memberontak.


"Jangan...!" teriakan itu berakhir saat ia pingsan setelah Adam mengusapkan bubuk di telapak tangannya.


"Dasar pengacau...!!! Awas kalian" suara dukun Parno terdengar memenuhi ruangan.


"Aku harus mendapatkan satu lagi tumbal untuk bulan ini..." makhluk serupa mbak kun yang sebelumnya menjaga Rey, kini terbang dan merasuki tubuh Chalis. Chalis secara tidak sadar pergi ke dapur dan mengambil sebilah pisau buah. Ia lalu kembali ke hadapan teman-temannya dengan pisau yang sudah siap menusuk dadanya. Rambutnya berterbangan ke belakang, matanya putih semua dan urat-urat di tubuhnya menonjol seolah memberontak akan keluar.


"Jika tidak bisa mereka berdua, maka akan saya ganti dengan yang ini.. hahahaha...." ujar si dukun.


"Chalis..... sadar...!!! Ayo sadar...!!! Lawan makhluk jahat di tubuh lo, Lis...!!!" teriak Glen.


Chalis tidak memperdulikan ucapan Glen, makhluk jahat yang kini tengah mengendalikannya siap membuat pisau buah tersebut bersarang di jantung Chalis.


Glen berdiri lalu menggoyang-goyangkan tubuh Chalis dan berusaha membuat jarak antara si pisau dengan dada Chalis.


"Berusahalah... jika kau bisa" ucap si dukun.


"Sekarang...!".


Bersambung...


Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka. Bunga dan kopi dari kalian sangat membantu keberhasilan Author.


Thank You All...


❣️❣️❣️❣️