INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Kakek penjual arum manis (Season 1)



Setelah drama yang membosankan. Aku, Glen serta Raihan berjalan menuju pintu gerbang. Aku tidak melihat Ais dan Zara sejak keluar kelas ekstra tadi. Kemana mereka?. Aku memutar kepalaku dan juga mataku untuk mencari kemana Ais dan Zara pergi. Mereka pergi tidak mengajak ku?.


"Glen! Ais sama Zara kemana ya? Kok aku nggak liat mereka berdua sejak keluar kelas ekstra tadi?" tanyaku akhirnya karena mataku tak kunjung melihat keberadaan mereka berdua.


"Owh....tadi mereka izin pergi ke kamar mandi".


"Kok aku nggak tau?".


"Tadinya mau izin juga sama lo, tapi si Ais nya udah nggak tahan pengen pipis jadi Zaranya cuma izin sama gw dan bilang nanti kalau Risa tanya mereka berdua kemana jawab aja ke kamar mandi gitu" terangnya. Aku mengangguk-anggukan kepalaku.


"Risa!!...ini apa?!" tiba-tiba Raihan memekik bertanya padaku. Aku lalu mencari keberadaannya dan melihat dirinya sedang berada di depan penjual arum manis sambil menunjuk-nunjuk sebuah arum manis berbentuk bola yang di bungkus cup besar. Aku menyebutnya gula kapas, karena rasa manisnya dan bentuknya yang seperti kapas.


Aku kemudian mengajak Glen menuju tempat Raihan berdiri. Raihan yang melihat aku dan Glen akan menghampirinya hanya berjingkrak-jingkrak senang. Aku hanya menggeleng melihat tingkahnya sedangkan Glen....menatap jengah ke arah Raihan. Secepat itu kah ekspresi nya berubah pada Raihan?? Padahal baru beberapa menit yang lalu dia menangis-nangis sambil memeluk Raihan.


"Aku mau! Aku mau!".


"Kek...ini harganya berapa?" tanyaku sambil menunjuk arum manis yang sempat di tunjuk oleh Raihan.


"Sepuluh ribu neng" aku kemudian menyerahkan selembar uang sepuluh ribu kepada kakek penjual arum manis tersebut. Kakek tersebut lalu mengambil arum manis yang ku beli dan menyerahkannya padaku. Aku menerimanya sambil mengucapkan terima kasih lalu mengajak Glen pergi. Tak perlu mengajak Raihan, karena secara otomatis dia akan mengikuti langkahku.


Baru akan berjalan tiba-tiba aku mendengar suara Ais memanggil ku dan menyuruh ku untuk menunggunya. Aku berhenti membuat Raihan menabrak ku dan mengeluh setelah itu. Aku kemudian menengok ke gerbang sekolah dan melihat Zara sedang berdiri di sana dengan Ais yang melambai-lambai. Mereka berdua lalu berjalan menghampiri kami bertiga.


"Apa tu?" tanya Ais sambil melihat arum manis yang ku pegang. Raihan yang menyadari kemana tatapan Ais langsung menarik cup arum manis tersebut dan memeluknya.


"Raihan!!...nanti kalo ada orang liat gimana??" desisiku. Dia menggeleng sambil memeluk erat arum manis pilihannya.


"Owhhh...arum manis. Punya kamu Han?" tanta Ais. Raihan mengangguk berkali-kali.


"Tenang aja...aku nggak bakal rebut arum manis kamu kok" ujar Ais membuat Raihan tersenyum dan terlihat mengendorkan pelukannya.


"Beli di mana?" tanya Ais lagi. Aku lalu menunjuk tempat di mana aku tadi membeli arum manis untuk Raihan. Ais mengikuti arah gerakan tanganku. Aku melihat tubuhnya seperti tersentak. Ada apa?.


"Kenapa Ai?" tanyaku. Zara pun sepertinya terlihat heran, berarti dia juga melihat ketika tubuh Ais tersentak.


"Itu kakek!!" pekik Ais sambil berlari menghampiri penjual arum manis tadi. Apa maksudnya kakek?. Apa kakek penjual arum manis itu kakeknya?.


"Kakak?" tegas Raihan. Aku menyelis. Apa gendang telinganya rusak?.


"Kakek bukan kakak" ujarku membenarkan sambil menekan tiap katanya.


"Hampir sama. Sebelas dua belas lah" aku mengabaikannya dan memilih untuk menghampiri Ais dan Zara di ikuti Glen berikutnya.


"Kek! Kakek inget aku kan? Aisyah kek!!...cucu kakek" Ais memeluk penjual arum manis tersebut sambil tersenyum senang sedangkan orang yang di peluknya terlihat bingung karena tidak merespon pelukan Ais dan menggaruk tengkuknya.


"Maaf...neng siapa ya?" tanya kakek penjual arum manis di sela-sela Ais memeluknya. Ais yang mendengar kalimat itu keluar dari orang yang di panggilnya kakek langsung melepaskan pelukannya dan menatap sedih wajahnya.


"Kakek nggak inget aku??" kakek penjual arum manis itu menggeleng. Ais yang melihatnya langsung menitikan air matanya.


"Aisyah Raina kek, kakek nggak inget?" lagi-lagi orang yang di panggilnya kakek menggeleng.


"Ais mungkin kamu salah orang" ujar Zara sambil memegang pundak Ais.


"Nggak mungkin salah orang. Orang aku inget banget gimana wajah kakek, aku punya fotonya" rengek Ais. Glen kemudian menarik hp yang di pegang oleh seorang pemuda yang kebetulan sedang berdiri tidak jauh dari kami semua. Ia lalu memfoto wajah kakek penjual arum manis dan mengetik kan nomornya di bagian kontak baru di aplikasi hijau milik pemuda tersebut dan mengirimkan foto yang baru di ambilnya ketika nomornya sudah tersimpan. Aku mengamati terus gerak-geriknya begitupun Raihan dan Zara.


"Woiiiii!!! Gw keplak lo yah kalau begitu terus!" Glen kemudian menepukan benda pipih milik pemuda tersebut ke pipi pemiliknya hingga sang pemilik terkesiap sadar.


"Makasih" ujar Glen.


"Sam..sama-sama" sahut pemuda tersebut gagap.


"Apa dia keturunannya Aziz Gagap? Atau malah burung gagap?" bisiku bertanya pada Glen.


"Gila lo Ris! Mana mungkin dia keturunannya Aziz Gagap apa lagi burung. Mana burung gagap lagi, ada-ada burung gagak bukan burung gagap!" aku cengengesan mendengar sahutan Glen.


"Terus kalau bukan keturunan dua tadi apa dong?".


"Ya mana gw tau".


"Maaf ya adek-adek semua. Kakek tinggal pergi dulu mau lanjut jualan" ujar sang kakek tiba-tiba. Kami semua menoleh.


"Iya kek" sahutku, Glen dan Zara bersamaan.


"Kek!! Kakek beneran nggak inget sama aku?" tanya Ais sekali lagi.


"Kakek nggak tau kamu siapa jadi tolong jangan panggil kakek. Kakek ya?".


"Tapi kan kakek emang kakek. Kalau di panggilnya bukan kakek terus apa?" tanyaku.


"Maksud kakek jangan panggil kakek seolah-olah kakek adalah kakek dari adek manis ini" sahutnya sambil menunjuk Ais.


"Tuh kan..kakek itu emang kakek aku. Soalnya sebelum hilangnya kakek aku, dia tuh sering panggil aku adek manis" ujar Ais. Jadi kakek Ais itu hilang??. Pantesan aku tak pernah melihat kakeknya ketika bermain ke rumahnya.


"Tapi saya bukan kakek kamu. Maaf ya...kakek tinggal dulu. Assalamualaikum..." dia kemudian berlalu pergi sambil mendorong gerobak arum manis nya.


"Dia kakek aku!! Aku yakin itu" seru Ais.


"Kenapa kamu bisa seyakin itu?" tanyaku.


"Kakek aku tuh udah tua...sama banget kaya kakek tadi. Terus kakek aku itu suka panggil aku tuh adek manis, kakek itu juga tadi panggil aku gitu. Lagi...kakek aku tu ada t*i lalatnya di dagunya" terang Ais. Ehhh t*i lalat di dagu?? Aku juga sempat melihatnya tadi.


"Ku kira itu kumbang" ujarku membuat Ais menatap kesal ke arahku.


"Mana mungkin!".


"Ehh!! Lo kenapa masih ada di sini?!" tanya Glen pada pemuda yang hp nya di tarik tadi olehnya.


"Nggak-nggak apa-apa. Kalau begitu g..gw pergi dulu" ia kemudian berjalan cepat pergi kami berlima.


"JANGAN DI HAPUS!!! KALAU LO HAPUS. LO BAKAL TAU GIMANA AKHIRNYA!!" pekik Glen. Ya elah kagak usah teriak-teriak juga dia pasti denger kalau gendang telinganya masih bagus.


Bersambung...


Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.