
Setelah nyawa terkumpul seratus persen. Aku turun dari ranjang dan membuka korden. Ku regangkan tubuh sambil tersenyum memandang langit dan rumah-rumah komplek yang berjajar rapi.
"Selamat pagi dunia" sapaku lirih.
Setelah puas berdiri di depan jendela, aku bergegas mengambil handuk dan pergi mandi. Berendam sebentar di bath up adalah kebiasaan ku saat mandi minggu pagi.
Setelah puas berendam. Aku keluar dari air dan mengambil handuk lalu melilitkannya hingga menutupi lututku.
Aku lalu keluar dari kamar mandi dan berpakaian santai. Selesai berpakaian dan membereskan ranjang. Aku keluar kamar untuk pergi ke dapur. Membuat segelas coklat panas dan camilan mungkin enak kali ya.
"Ibu!" teriakku menggema memanggil sosok wanita yang sudah merawatku selama ini. Kemana dia? Kenapa tak kunjung menyahut? Apa ibu..?
Pikiranku langsung kacau. Hal-hal buruk yang entah terjadi atau tidak memenuhi ruang kepalaku. Segera ku langkahkan kaki menuju kamar ibu sambil meneriakki namanya.
"Ibu! Ibu dimana?!".
Kubuka pintu kamar ibu. Lampu terang langsung menyapa indra penglihatanku. Nampak ibu sedang terbaring lemas diatas kasur sambil memegangi perut bagian bawah. Ayah yang baru keluar dari kamar mandi menatapku terkejut.
"Risa?".
"Ibu! Ibu kenapa?" tanyaku panik, menyergah masuk lalu duduk disamping ibu. Keringat dingin mengucur deras membasahi wajah ibu.
"Ibu... ibu kenapa yah?".
Aku usap bulir keringat yang terus mengalir tiada henti membasahi dahi, pelipis, hingga leher ibu. Ibu menggigit bibir bawahnya sambil terus memegangi perut bagian bawah.
"Ibu nggak papa nak.. cuma nyeri aja, biasa.. kalau lagi datang bulan" ujar ibu yang membuatku langsung menatapnya.
"Tapi ibu sampai keringat dingin gini lhoh?".
"Hehe. Kamu bisa tolong bantu ibu?" aku mengangguk cepat.
"Bantu apa bu?".
"Tolong beliin kiranti di warung".
"Berapa bu?".
"Satu aja dulu, sama pembalut yang sayap dua bungkus ya" aku mengangguk lagi.
"Ibu tahan bentar ya.. Risa akan cepet-cepet beli nya".
"Ayah tolong jaga ibu sebentar, Risa mau ke warung".
Setelah mendapat anggukan dari ayah, aku bergegas melangkahkan kaki keluar kamar dan berlari menunu kamarku untuk mengambil uang dan kunci motor. Kemudian berlari lagi menuju halaman.
"Pakai motor aja lah, kalau jalan akan memakan waktu lebih lama pasti" batinku sambil menyalakan mesin motor. Setelah hangat, segera ku pacu kuda besi ini menuju warung langganan.
Sesampainya di depan warung, aku memarkirkan motorku menepi supaya tidak menghalangi lalu lalang pengendara yang lain atau pejalan kaki.
"Assalamualaikum nek! Kiranti nya satu, pembalut bersayap nya dua, seperti biasa" ucapku pada nek Armi. Dia adalah pemilik warung langgananku dan ibu. Usia nya mungkin sudah mencapai lima puluh tahunanan. Karena begitu akrab nya aku dengan bu Armi, aku jadi menganggapnya sebagai nenekku. Ia juga begitu hangat, perhatian dan juga sayang padaku.
"Buat siapa nduk?" tanya nya seraya menyerahkan sekantung kresek hitam.
"Buat ibu nek" aku menerima kantung kresek tersebut sambil menyerahkan uang total nya.
"Owh.. semoga cepet baikan ya ibu mu".
"Amin, makasih nek, Risa pamit dulu. Assalamualaikum".
"Waalaikumsalam, hati-hati di jalan nduk, jangan ngebut".
"Iya nek".
Ku pacu lagi kuda besi kesayanganku setelah menggantungkan kantung kresek hitam tadi di gantungan barang.
Setelah sampai di halaman rumah dan memarkirkan motor. Aku berlari memasuki rumah seraya berseru salam. Tujuan lariku adalah kamar ayah dan ibu, dimana ibu sedang terbaring lemas di atas ranjang. Aku pernah merasakan yang namanya nyeri haid. Rasanya benar-benar menyiksa. Tapi kata ibu, aku tidak boleh mengeluh.. karena itu kodrat nya wanita. Meminum kiranti untuk meredakan rasa nyeri haid sering ibu lakukan, tapi aku belum pernah mencoba nya sama sekali. Biasanya ketika aku nyeri haid, makan adalah hal yang mampu meredakan nyeri haid ku. Itu aku, jika di kalian mungkin akan berbeda.
Aku buka pintu kamar yang membuat ibu langsung menatapku. Ia tersenyum simpul.
"Bentar bu Risa ke dapur dulu, lupa belum ambil gelas" aku berlari lagi untuk kesekian kali nya. Setelah tujuanku di dapur terpenuhi, aku segera kembali ke kamar ibu dan menuangkan kiranti di dalam botol ke dalam gelas kaca yang sudah aku ambil.
"Biar Risa bantu, duduk dulu bu" aku membantu ibu bersender di headboard ranjang nya lalu membantu nya meminum kiranti yang tadi baru aku beli.
"Itu apaan si?" tanya ayah.
"Itu yang lagi diminum sama ibu".
"Tak mungkin lah ayah tak tahu".
"Beneran ayah nggak tahu, itu namanya apa?".
"Kiranti".
"Karanti?".
"Kiranti!" tegasku.
"Owh.. kiranti".
"Masa sih ayah nggak tahu, ibu kan sering minum ini kalau lagi nyeri haid" heranku.
"Iya, baru tahu sekarang. Dulu... ibu, nenek, dan saudara-saudara ayah yang perempuan kalau kesakitan pas lagi haid, ya cuma dipijet-pijet doang. Kok ibu nggak pernah ngomong sama ayah kalau ibu suka minum kiranti?" tanya ayah.
"Harus gitu?" tanya ibu, ayah menggeleng.
"Eh.. kondisi ibu udah mendingan?" tanya ayah lagi.
"Udah".
"Kalau ayah berangkat kerja, nggak papa?" ibu mengangguk yakin.
"Beneran?" ibu mengangguk sekali lagi.
"Serius nih? Emang nggak papa? Ayah rela kok nggak kerja demi buat njagain istri tercinta".
"Kan ada Risa yang jagain ibu" ucap ibu seraya tersenyum.
"Tapi ayah nggak papa kok kalau cuti aja".
"Enggak papa kok ayah... ibu udah mendingan, kan juga ada Risa" tegas ibu.
"Lagian nih ya yah, masa weekend gini berangkat kerja si?" tanyaku heran.
"Emang ini hari apa?" tanya ayah dengan wajah polos nya.
"Minggu" sahutku datar.
"Lhoh.. hari minggu to? Pantesan tadi ayah mimpi kalau hari ini nggak berangkat kerja, kok ayah bisa sampai lupa ya? Dasar ayah, mana udah pake baju lengkap rapih begini lagi" gerutu ayah tidak jelas lalu meletakkan tas persegi panjang nya di atas meja dan atribut-atribut lain seperti jas, dasi, sepatu pantofel, sabuk, kemeja dan celana. Aku tertegun melihat celana yang melekat di tubuh ayah setelah celana hitam panjang khusus kantor ia lepaskan.
"Sponsbob?".
Aku melongo saking tidak percayanya. Mulutku terbuka, terasa hembusan angin memasuki mulutku hingga terasa kering. Mungkin sebentar lagi, lalat akan masuk dan mampir di mulutku.
Apa yang membuatku terkejut? Yang membuatku terkejut adalah... ayah ternyata mengenakan daleman celana pendek selutut bermotif sponsbob yang sedang tersenyum lebar bersama patrik, sandi, dan tuan krab. Oh iya, tak lupa squidward juga hadir dengan wajah masam nya disamping sandi. Warna celana tersebut juga kuning.
"Ayah..." lirihku sambil terus mengamati celana yang ia kenakan.
"Kenapa? Lucu kan?" ia berputar layaknya peserta talkshow.
"Nggak nyangka.. nggak nyangka.. Risa nggak nyangka.. ternyata.. yang berwibawa sangat di dalam keluarga, celana dalemannya gambar sponsbon dkk" keluhku lirih.
"Yeee... emang nya ngaruh? Ayah kan juga penggemar nya sponsbob dan kawan-kawan. Selagi ini tidak mengurangi kewibawaan ayah, ayah rasa nggak papa, ya kan bu?" ayah menaik turunkan kedua alis nya menatap ibu yang menatap nya datar.
"Ayah nggak malu lepas pakaian di depan anak?" tanya ibu dengan wajah datar nya.
"Malu? Ayah kan menutupi aurat bu, aurat laki-laki kan hanya dari pusar sampai lutut. Nah... celana ini kan menutupi aurat ayah, pusar sampai lutut" ayah menyentuh pusar dan lutut nya secara bergantian.
"Pakai gih baju nya, aneh-aneh aja" titah ibu yang membuat ayah langsung merengut.
Dengan wajah masam tak bersemangat, ayah memakai pakaian santai yang di ambilnya dari lemari. Atribut kantor nya ia simpan kembali. Celana sponsbob nya juga ia ganti dengan celana jeans pendek selutut.
"Risa keluar ya bu, mau siram tanaman" ibu mengangguk. Aku bergegas keluar lalu pergi ke halaman.
Bersambung...
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka. Bunga dan kopi dari kalian sangat membantu keberhasilan Author.
Terima kasih.