INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Go to bathroom (Season 1)



Happy Reading…!!!


Bay temanku kini sedang duduk menatapku dan Anji. Lalu siapa Bay yang dikatakan Glen? Aku bukan manusia indigo seperti adikku, benar-benar tidak mungkin jika aku dapat melihat makhkuk halus. Jadi dapat dipastikan bahwa orang yang kini sedang duduk sambil menatapku dan Anji, memanglah temanku Bay. Bay masih hidup, dia belum meninggal.


"Kalian ada apa datang kemari?" tanyanya. Apa dia tidak tau bahwa aku menghawatirkannya? Apa dia tidak sadar sebabnya kenapa aku dan Anji datang menemuinya?


"Gw sama Anji dateng kesini buat mastiin kondisi lo, kata satpam rumah, lo lagi sedih. Sedih kenapa?"


"Gak tau alasannya, gw cuma ngerasa sedih dan galau. Gw juga gak mau kedatangan orang walaupun itu keluarga gw sendiri. Gw ngerasa keganggu jika ada yang ngelakuin itu, maka dari itu gw sering nyuruh orang yang masuk kekamar gw buat keluar lagi." terangnya. Apa mungkin.. Jika kedua orang tuanya pun sering ia usir ketika mereka masuk.


"Lalu kenapa kami berdua gak lo suruh keluar?" tanyaku.


"Gw ngerasa.. Kalo lo berdua bisa bantu gw buat keluar dari kesedihan sama kegalauan ini. Terutama elo Ang." aku tertegun.


"Kenapa gw?" dia mengendikan bahu. Aku jadi teringat dengan kejadian tadi pagi.


"Lo asli Bay, 'kan? Bukan makhluk halus yang nyamar jadi sahabat gw itu?" tanyaku membuat Bay dan Anji terkesiap. Mungkin heran dengan pertanyaanku.


"Ya bukanlah, gw ini asli Bay. Sahabat nya Anggres sama Anji." sahutnya. Owh berarti benar, dia masih hidup.


"Kenapa emang?"


"Tadi pagi, si temennya Risa yang namanya Glen ketemu pocong yang namanya itu Bay di rumah. Katanya, pocong itu baru mati. Jadi gw khawatir apalagi saat gw tau lo gak berangkat kampus."


"Jadi lo ngira kalo yang mati itu gw?" aku mengangguk.


"Tapi sempet gw tampik karena gak mungkin kemaren kita ketemuan masa kemaren juga lo matinya, terus juga masa nyokap bokap lo sama temen-temen kampus gak ngabarin gw." sahutku. Dia mengangguk.


"Aneh ya.. Glen ketemu sama pocong yang namanya sama kaya nama gw, sedangkan gw ngerasa sedih mulai dari kita pulang ketemuan. Seolah-olah ini itu memang sudah dihubungkan." ujar Bay.


"Maksudnya gimana?" tanya Anji yang langsung kuanggukan. Dia tak paham sama sepertiku.


"Gak tau dah, gw juga bingung." sahutnya.


"Gw punya ide!"


"Apa?" tanya Bay dan Anji bersamaan.


"Gimana kalo siang nanti, lo ikut gw ketemu sama Risa dan juga temennya." usulku, Bay mengangguk. Entahlah.. Aku benar-benar bingung dengan hal ini.


Pov End Anggres.


...----------------...


Aku melamun memikirkan tentang kejadian di kolam renang dan mimpi yang dialami Lala. Hingga akhirnya aku mendengar teriakan keras tepat di samping salah satu telingaku. Aku yang terkejut langsung beranjak spontan dan bergaya layaknya seorang pesilat. Lala yang melihatku justru tertawa sambil memegangi perutnya.


"Hahaha gayanya." Lala tertawa terus menerus hingga mengusap sudut matanya. Aku yang kesal hanya bisa menatap Lala kesal sambil menarik bangku yang kududuki tadi dan mendudukinya kembali.


"Hishhhh kamu ni malah ketawa." sungut Risa.


"Hahahaha maaf... Maaf... Abisnya lucu." aku menghela nafas lalu menyangga daguku dengan satu telapak tanganku yang sikunya bertopang pada kasur putih yang kini diduduki Lala.


"Untuk beberapa waktu sebaiknya kamu nggak usah kekolam renang dulu, ya La." Lala terdiam.


"Gw.. Gw.. Boleh nginep di rumah lo Ris?" tanya Lala ragu.


"Tentu." sahutku membuat Lala segera memelukku erat. Aku paham bahwa dia masih merasa takut.


"Makasih." ucap Lala setelah melepaskan pelukannya. Aku mengangguk sambil tersenyum


"Astagfirullah haladzim aku baru inget! Istirahat jam pertama, 'kan aku ada urusan sama tante kunti di kamar mandi. Aku ke kamar mandi dulu, ya?" aku segera beranjak membuat Lala juga ikut beranjak.


"Ikut!" pintanya.


"Enggak usah.. Keadaan kamu, 'kan belum pulih total. Kamu istirahat aja di sini." sahutku mencegahnya.


"Apaan si Ris? Kondisiku udah baik-baik aja kok." aku berfikir untuk memanggil Dokter Lyly saja daripada nantinya malah jadi berdebat. Setelah kupanggil beberapa kali, akhirnya Dokter Lyly pun datang.


"Ada apa?" tanya Dokter Lyly. Ia berparas manis, begitupun senyumnya. Tak payah menambahkan gula lah kalau begini, minum teh pahit sambil liat senyumnya pasti langsung jadi manis.


"Bagaimana kondisi teman saya?" tanyaku. Dokter Lyly berjalan kearah Lala dan memeriksa kondisinya.


"Semuanya normal, tapi jangan bawa dia ketempat dia mengalami syok." aku mengangguk


"Kalau begitu berarti dia boleh dong ke kamar mandi? Dia, 'kan kecelakaannya di kolam renang." kataku berbisik yang di jawab anggukan Dokter Lyly.


"Boleh, tapi jika Lala merasa pusing, histeris, atau sebagainya, kamu cepat bawa dia ke sini, ya? Supaya tidak terlambat ditangani." Dokter Lyly ikut berbisik juga, aku pun mengangguk. Setelah itu aku mengucapkan terima kasih begitupun dengan Lala, kami berdua lalu pergi berjalan bersama keluar uks menuju kamar mandi.


"Ris! Ris! Risa.. Ke kantin dulu, ya." ujar Lala saat kami melewati kantin.


"Boleh." aku mengikuti langkahnya. Di sana aku melihat Zara dan Adam yang sedang duduk di salah satu sudut ruangan. Aku lalu memutuskan untuk menghampiri mereka berdua setelah pesanan Lala diterima.


"Hai." sapaku ketika sudah sampai di hadapan mereka berdua. Zara dan Adam saling terdiam ketika aku menyapa mereka.


"Lah kok diam?" tanya Lala. Zara menggeleng.


"Hai juga." Zara akhirnya angkat bicara.


"Kalian ngapain mojok di sini?" tanyaku. Mereka berdua sangat serasi dengan ekspresinya yang sama-sama datar.


"Engga ada." sahut Adam, dia lalu beranjak dan menatap Zara sebentar sebelum akhirnya melangkah pergi.


"Ada apa si?" tanya Lala. Zara memberikan jawaban yang serupa dengan Adam. Tentu hal ini membuatku jadi curiga dengan Adam dan Zara.


"Kondisi kamu gimana La?" tanya Zara sambil menatap Lala. Apa dia sedang mengalihkan topik pembicaraan?


"Mendingan."


"Owh.. Yaa.. Kalian mau kemana?"


"Kami mau kekamar mandi." sahutku.


"Aku ikut kalian, ya? Boleh?" aku mengangguk. Kami bertiga lalu pergi bersama ke kamar mandi. Telat belum yah?? Tante kunti pasti sudah menungguku di sana. Aku berhenti ketika berada di depan pintu ruang guru. Aku mengetuknya dan mengucapkan salam, setelah salam dijawab aku masuk dan meminta izin pada Bu Ley untuk kembali meminjam peralatan yang digunakan untuk merapikan rambut. Setelah diizinkan, kami bertiga kembali melanjutkan jalan.


Berasambung....