
Happy reading!
"Lis, ini cuma aku doang atau kamu juga." bisik Ais seraya mencolek lengan Chalis.
"Apa?" Chalis menoleh setelah memasukkan dompet nya ke dalam tas. Pembayaran telah selesai beberapa saat yang lalu, kini mereka sedang berjalan menuju parkiran, di mana semua temannya berkumpul termasuk Risa.
"Bau kemenyan."
"Kemenyan?" Chalis mengendus untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia mengangguk, matanya berputar sambil mengendus mencari sumber bau tersebut.
"Eh liat deh, cowok itu kok ada bayang-bayang hitam yang mengelilingi tubuhnya?" Ais menunjukkan penglihatannya pada Chalis.
"Eh iya, ya, eh cowok nya ke sini, bau kemenyan nya juga makin kuat. Jangan-jangan dia.." ucapan Chalis terpotong ketika lelaki yang mereka bicarakan menyapa keduanya.
"Hai? Daritadi aku lihat kalian memperhatikanku, ada apa?"
"Enggak, enggak ada apa-apa, maaf sebelumnya, tapi kami buru-buru permisi." Chalis segera menaik lengan Ais tuk menjauh dari lelaki tersebut.
"Ai.." Chalis berhenti tepat di depan Ais dan menggoyangkan kedua pundak temannya itu.
"Ai!"
"Aisyah...!!"
"Hah? Apa?"
"Lo kenapa?"
"Laki-laki tadi... Mempesona, ya?" ekspresi terkejut nampak di wajah Glen "Hahhh? Mempesona? Mempesona lu kata?! Kena pelet lu, ya?!" Chalis membaca do'a seraya tangannya ia tangkupkan, beberapa saat kemudian ia mengusapkan kedua telapak tangannya pada wajah Ais yang seketika langsung terbengong.
"Dah sadar lu? Lu inget laki-laki tadi? Mempesona kah dia?"
"Mempesona apaan si?"
"Fiks dah lu kayak orang linglung, bila perlu gue bawa lu besok ke rumahnya pak ustadz buat dirukiyah, kita sekarang ke parkiran dulu." Chalis menarik lengan Ais dengan terburu-buru, apalagi saat langkah lelaki tadi terdengar mengikuti keduanya.
Sesampainya di parkiran keduanya langsung di cecar berbagai pertanyaan.
"Husssttt... Diem dulu napa si! Gue jelasin nanti di mobil atau besok aja, yang pasti kita harus pergi sekarang, kita diikutin cowok aneh." Chalis segera membuka pintu mobil di sampingnya.
"Weh salah mobil bod*h! Mobil kita yang hitam bukan putih!" seru Rey.
"Astagfirullah salah, ya, ya udah mobil kita yang mana?"
Ray menepuk badan mobil di sampingnya yang sudah terbuka pintunya, sebagian masuk mobil hitam, sisanya masuk mobil milik Zara yang dikemudikan Adam.
"Sebentar!" seorang lelaki memegang pintu mobil yang hampir tertutup, ia menatap wajah Ais yang langsung bersemu merah, ia tersenyum malu sampai mengalihkan pandangan.
"Ada apa?" dengan ekspresi datar Reza bertanya, firasat nya mengatakan bahwa lelaki di sampingnya itu bukan lelaki baik-baik.
"Saya mau minta nomer hp nya cewek yang tadi dong. Yang ketemu saya berdua." mata Reza seketika menatap Chalis dan Ais. Matanya sedikit melotot memberikan kesan seram.
"Ini." Ais mengulurkan hp nya, namun dengan cepat Reza mengambil hp tersebut yang niatnya akan diambil oleh lelaki di sampingnya.
"Kami buru-buru." Reza menarik pintu mobilnya hingga tertutup rapat, begitupun dengan kaca mobil yang langsung ia naikkan semua.
"Lu kenapa Ai? Nggak biasanya lo kasih nomer lu ke sembarang orang."
"Aku cuma mau kenalan sama lelaki itu aja kok. Sini hpku."
"Lu suka sama dia?"
"Kalau iya kenapa?! Masalah buat kamu? Suka-suka aku dong mau suka sama siapa!"
Reza terdiam, bingung akan menjawab apa perkataan Ais. Kini yang ada dipikirannya adalah tentang sikap Ais yang berubah menjadi lebih sensitif. Ia dapat merasakan perubahan mood Ais yang terasa aneh, akhirnya ia pun mengembalikkan hp perempuan manis itu.
Suasana di mobil hitam yang dikemudikan Wisnu terasa dingin, berbeda jauh dengan suasana di mobil yang Adam kendarai, terasa sangat hangat.
"Jadi obat nyamuk dah aku." Zara menatap ke luar jendela sembari memikirkan banyak hal.
"Nanti jalan-jalan dulu mau nggak?" Adam menatap Risa sebentar.
"Mau, ke mana?"
"Keliling aja ngabisin bensin mobil nya Zara sambil cari makanan buat kak Ang."
"Boleh, 'kan bensin mobil lu gue habisin?" Adam menatap Zara dari cermin kecil di samping atasnya.
"Barter sama makanan."
"Minggu besok pergi nonton mau nggak, Sa?" tawaran yang kedua kalinya dari Adam.
"Boleh aja kalau nggak sibuk, tapi kalau nontonnya sama kamu aku usahain luang waktu deh.. Hihi."
"Kalau nikah sama aku mau nggak?"
"Uhuk! Khem! Aduh perih tenggorokanku.."
"Nih minum." Zara dari kursi belakang memberikan sebotol air minum tanpa memperhatikan kondisi di depannya.
"Makasih." Risa segera meminumnya hingga tenggorokannya terasa lebih baik, Adam terkekeh akan hal itu.
"Jadi tambah cantik cewek-ku kalau salting gitu, aduh pipinya merona..." Adam kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Apaan si, Dam! Diem deh.. Jangan gitu lagi, ya, awas kamu."
"Emang mau di apain kalau gitu lagi? Hahahahaha..." Adam kembali tertawa ketika melihat Risa tak mampu menjawab pertanyaannya dan jadi merengut.
"Jarang sekali aku mendengarkan tawamu yang selepas itu, Dam.. Kamu nampak sangat bahagia dengan Risa, semoga kalian bisa bersama nantinya.." Zara tersenyum manis di kursi belakang setelah sekilas melihat wajah Adam, pandangannya kembali tertuju ke luar jendela.
Zara melenguh lemas di kursi belakang lalu merengek minta makanan, memecahkan suasana romantis di kursi depan, untuk saat ini Zara benar-benar butuh asupan.
"Makaaaaaaaann..."
"Cari resto dulu." Adam nampak celingak-celinguk mencari resto yang dekat dengan lokasinya saat ini.
"Nggak usah resto-restoan. Ketoprak, sate ayam, sate sapi, sate telur puyuh, sate usus , nasi goreng, sempol, cimol, martabak manis, roti bakar semua rasa, jus buah, es buah. Itu aja juga bisa, ga perlu resto. Duit buat makan di resto bisa buat makan itu semua sampai puas."
"Aaanu... Itu... Kamu laper apa lagi kerasukan setan nggak pernah makan si?" Risa nampak terheran-heran dengan keinginan makan Zara.
"Energiku kesedot ga tau sama setan mana. Tiba-tiba lemes banget. Cepetan si cari makanannya, lemes banget ini, laper tau!" Adam langsung menginjak pedal gas hingga mobil melaju kencang, Risa teriak ketakutan, sedangkan Zara tersenyum tipis.
Ciiiiiiit...
Setelah menginjak pedal gas tiba-tiba, kini Adam menginjak pedal rem tiba-tiba pula, bahkan Risa dan Zara sampai terdorong ke depan.
"Bod*h... Bod*h... Kamu bod*h, Dam..." dengan lemas Zara mengumpat.
"Ada kecelakaan, liat tuh." Zara mendongak begitupun Risa.
"Innalilahi wa innalilaihi roji'un... Ada jalan lain nggak? Aku udah nggak kuat lagi.. Perlu makan."
"Jangan!" Risa tiba-tiba berteriak seraya mengulurkan kedua tangannya seolah ingin menyentuh sesuatu. Tatapannya nanar pada seorang perempuan muda yang memeras jeruk nipis di atas genangan darah yang lumayan dekat dengan mobil yang Risa naiki.
"Menurut cerita yang beredar dia dalam bahaya karena kelakuannya." ucap Zara sebelum akhirnya dia pingsan.
"Ra! Zara!" beberapa setik Risa menggoyangkan pundak Zara, namun tidak ada respon sama sekali, akhirnya Risa turun untuk pindah ke belakang dan memposisikan Zara dengan benar.
"Cepat putar balik dan cari minimarket." Adam bergegas melakukan perintah Risa, sedangkan Risa sendiri masih mencoba menyadarkan Zara dengan minyak kayu putih yang ia ambil di dashboard.
...----------------...
"Adam misah, ya?" ujar Wisnu seraya melihat kaca spion di sampingnya, hal itu membuat Rey yang duduk di sampingnya melakukan hal serupa, Glen dan Chalis yang duduk di belakang ternyata juga mengikuti kedua temannya yang di depan.
"Paling jalan-jalan dulu. Btw ini kalian nggak laper apa? Gue laper banget, apa bisa cari kedai makanan dulu?" kata Chalis.
"Nggak apa-apa Glen?" tanya Rey "Nggak apa-apa, lagian gue juga laper kok."
...----------------...
"Adam berhenti!" mobil kembali berhenti mendadak.
"Ada apa, Sa?"
"Apa kamu nggak lihat? Di depan ada penggembala sama kambing-kambingnya mau lewat."
"Penggembala? Hah penggembala?" untuk kesekian kalinya Adam menginjak pedal gas tiba-tiba.
"Kamu nabrak mereka, Dam!" Risa menoleh ke belakang untuk memastikkan kondisi penggembala dan kambing-kambing yang dilihatnya tadi.
"Loh? Kok nggak ada apa-apa?"
"Kamu pasti tahu apa yang sebenarnya kamu lihat."
Bersambung...