
Lala dan yang lain datang bersamaan. Suasana menjadi riuh karena teriakan Lala ditambah suara tawa lima mbak kunti di atas pohon.
"Orens!!" teriak Raihan senang melihat kedatangan orens bersama Zara. Ia segera menghampiri orens dan bermain dengannya.
"Jangan berisik Lala, nanti kamu kualat lhoh kalau sampai lima mbak kunti nya keganggu" ucapku. Lala segera berhenti ngoceh dan menatapku serius.
"Lima mbak kunti? Serius? Dimana? Gw ngganggu mereka ya? Aduh.. gimana nih? Kalo gw kualat gimana? Nanti kalo kualatnya dikasih lihat hantu gimana? Atau kalau enggak kualatnya kecemplung got? Aduh... ginana nih? Gw khawatir" oceh Lala sambil berjalan mondar-mandir. Ekspresi seriusnya sudah tergantikan oleh rasa gelisah yang ia rasakan. Alisnya menekuk kebawah, ia juga menggigit kuku ibu jari nya.
"Aduh... Lala ku sayang. Bisa nggak lo diam?!" ucap Glen yang mulanya lembut lalu tiba-tiba meninggi. Membentak lebih tepatnya, wajahnya memandang jengah Lala yang masih gelisah tanpa memedulikan bentakkannya.
"Mbak kunti!" panggilku yang membuat tante Putri menoleh kearahku.
"Ada apa Ris?".
"Ini temen aku ngganggu mbak sama temen-temen apa nggak?".
"Nggak Ris, nggak ngganggu".
"Nggak ngganggu La" ujarku sambil menatap Lala yang diam menatapku dengan raut wajah yang masih sama seperti tadi.
"Seriusan?" aku mengangguk.
"Kamu mau mastiin sendiri?" Lala tampak berfikir.
"Boleh deh" ia mengulurkan tangannya. Aku menyentuh tangan Lala dan berkonsentrasi.
"Mbak.. mbak kunti yang cantik-cantik.. yang baik-baik.. Lala minta maaf sejuta maaf ya kalau Lala udah ngganggu kalian, Lala nggak ada maksud. Mohon maklum nya ya.. kan Lala nggak bisa lihat kalian.." aku menatap wajah Lala sambil mengernyit. Matanya terpejam kuat, tangannya bergetar hebat.
"Nggak papa La, kami maklum-in kamu kok" sahut tante Putri.
"Nama kamu Lala?" tanya tante Putri.
"I-iya ta-tante.. na-nama Lala, Lala. Lebih lengkapnya Lala Chalista" mataku membelalak tak percaya, begitupun yang lain. Sontak saja aku melepaskan sentuhanku pada tangannya.
Lala membuka matanya dan menatapku.
"Ris? Kok kamu kaya kaget gitu?" tanya Lala.
"Kamu... kamu beneran namanya Lala Chalista?" tanyaku balik dengan gemetaran.
"Iya beneran, kenapa si?" Lala memutar pandangan dan bertanya-tanya kenapa dengan kami semua.
"Ada apa si? Jangan bikin gw panik dong" ujar Lala mulai panik.
"Ada apa sih? Ayo dong jawab? Ada apa? Kenapa sama nama gw?" desak Lala saat kami malah terdiam.
"Cha.. Chalista" aku, Glen, Ais, dan Zara memeluk Lala bersamaan dengan isak tangis yang mengiringi.
"Hei.. ada apa si?" tanya Lala.
Aku dan yang lain melepaskan pelukan dan menatap Lala penuh kerinduan.
"Kamu beneran namanya Chalista?" tanya Lala.
"Iya, gw dirumah suka dipanggil Chalista. Sebenarnya nama Lala itu cuma tambahan doang, yang asli itu Chalista".
"Serius lo Chalista?" tegas Glen.
"Ok! Gw mulai bosen denger kalimat itu" sahut Lala jengah.
Kami semua masuk dan duduk diruang tamu, pandangan mata kami menuju pada Lala seorang.
"Hehe, jangan pandangin gw begitu dong. Kan gw jadi kikuk" aku mengambil hpku ditas dan masuk kedalam aplikasi galeri.
"Waktu kami merencanakan 'Indigo Team' dibuat. Kamu adalah perempuan yang paling antusias menyambut beritanya. Kamu selalu membahas tentang kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan saat team tersebut belum dibuat. Begitu antusias. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk membuat team tersebut dan memasukanmu menjadi salah satu anggotanya.."
"..Dulu.. kamu adalah perempuan yang sangat culun, berkacamata dan selalu dikepang satu, rambutmu panjang seperti saat ini. Wajahmu bulat, begitupun matamu. Kamu adalah perempuan yang sangat disayangi oleh anggota 'Indigo Team'. Entah apa yang membuat kami begitu menyayangi dan melindungi kamu. Rasanya, kamu itu adalah bunga didalam pohon mawar yang harus dilindungi. Tepat hari ke lima puluh 'Indigo Team' dibuat. Kamu mengalami kecelakaan dan meninggal di lokasi" jelasku lalu menunjukkan foto Lala dan foto kami bersembilan dulu.
"Hah?" Lala terkejut menatap foto tersebut.
"Tapi.. bukannya hanya orang-orang dengan kemampuan indra keenam dan semacamnya yang hanya bisa masuk ke team ini. Lalu kenapa aku dimasukkan?" tanya Lala masih menatap foto yang tertera di layar hpku.
"Kamu dulu juga seperti kami. Memiliki indra keenam dan kekuatan spesial. Kekuatan spesial mu adalah memiliki cahaya putih menyilaukan yang akan membuat para hantu menghindar" sahut Ais.
"Gw.. gw nggak inget tentang semua itu" keluh Lala.
"Kecelakaan gw kaya apa sampai gw bisa mati?".
"Ditabrak truk. Lo terpental sampai tiga meter. Truknya nabrak tiang listrik. Supirnya ikutan mati" sahut Glen.
"Eumm... kenapa gw sekarang nggak punya kekuatan spesial itu dan indra keenam ya?".
"Sepertinya kamu reinkarnasi" sahut Zara.
"Reinkarnasi?" tegas Lala.
"Reinkarnasi atau titis adalah kepercayaan bahwa seseorang itu akan mati dan dilahirkan kembali dalam bentuk kehidupan lain. Yang dilahirkan itu bukanlah wujud fisik sebagaimana keberadaan kita saat ini" terang Wisnu.
"Nama.. nama gw. Nama gw waktu itu siapa?" desak Lala.
"Chalista" sahut Reza.
"Jangan-jangan gw beneran reinkarnasi nya Chalista" gumam Lala.
"Tadi lo bilang kalau nama Chalista itu nama asli lo, dan nama Lala itu cuma nama tambahan. Kenapa bisa gitu?" tanya Rey.
"Gw.. gw sebenarnya bukan anak kandung orang tua gw yang sekarang. Gw dateng dari desa, nama gw asli Chalista. Saat sampai di ibu kota, gw kena rampok. Semua yang gw bawa habis dirampas rampok itu, hingga akhirnya gw ketemu sama orang tua gw yang sekarang. Dia nolongin gw dan ngangkat gw jadi anaknya, nama Lala disematkan ke nama gw kata bunda supaya mereka bisa mengenang kak Laza yang udah meninggal beberapa tahun yang lalu" jelas Lala kemudian menyerahkan hp yang dipegang olehnya padaku.
"Fikss!! Elo! Elo! Chalista!" seru Glen senang lalu memeluk Chalis.
"Gimana kalau kita panggil Lala, Chalis aja? Kaya dulu" usul Adam. Kami semua mengangguk setuju.
"Entah itu benar atau tidak kalau gw reinkarnasinya Chalis. Tapi gw bersyukur banget bisa sahabatan sama kalian, bisa ketemu sama manusia-manusia baik kaya kalian. Terima kasih udah mau jadi temen gw" Chalis memelukku dan Glen yang ada disampingnya. Ais dan Zara ikut berpelukan.
"Gw pengin buka mata batin" celetuk Chalis.
"Hah?".
Bersambung...
Ok para readers tersayang dan tercinta author. Jadi mulai bab ini, panggilan Lala akan diganti menjadi Chalis ya... jadi nanti jangan bingung kalau ada kata Chalis.
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka. Author masih menerima bunga dan kopi dari kalian.
Terima kasih.