INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Yang sebenarnya (Season 2)



Happy Reading...


Flashback on.


Setelah Rey pulang dari rumah Ais, ia langsung pergi tidur. Niatnya, mulai besok ia akan mulai membawa Ais menuju tempat terapi okupasi. Letaknya lumayan jauh, ada sekitar dua jam-an untuk sampai ke sana. Walaupun letaknya masih di dalam kota. Rey, memutuskan untuk pergi ke tempat okupasi yang sudah ayah Ais katakan tadi.


...----------------...


Keesokan harinya, Rey terbangun dengan kondisi tubuh yang berkeringat. Matanya membola dan jantungnya terpacu lebih cepat. Seperti seorang pencuri yang dikejar polisi, atau seperti manusia yang dikejar hantu.


"Huh... cuma mimpi" gumamnya senang. Ia kemudian turun dari atas kasur dan berniat akan pergi mandi. Tapi, tangannya yang menyentuh sesuatu membuatnya berhenti bergerak secara mendadak. Ia ambil benda tersebut dan seketika ruangan yang sepi akan suara itu, muncul suara yang nampak berdengung.


"Suaranya mirip sama dukun yang gue lihat di mimpi" gumam Rey.


"Itu memang benar, aku adalah dukun itu. Taburkan atau usapkan bubuk cinta itu di wajah wanita yang kau incar, lalu taburkan garam gaib kepada makhluk halus yang mencoba menyadarkan wanita incaranmu dari pengaruh bubuk cinta" ucap si dukun.


"Enggak, gue nggak mau. Waktu ngaji dulu, gue nggak diajarin buat pake yang begituan, itu melenceng dari ajaran islam" tolak Rey dengan tegas.


"Kenapa kau menolak? Bukankah kau menginginkan wanita itu? Sekarang sudah ada caranya, apa yang harus kau tunggu? Waktu? Bukankah dia sudah bilang bahwa tidak ada saat untuk menjawab? Itu sama saja dengan waktu bukan? Tidak ada waktu untuk menjawab karena hatinya sudah terpikat pada laki-laki lain. Kini, kau dapat dengan mudah mendapatkan wanita itu dengan caraku".


Kalimat terakhir si dukun terus terulang-ulang. Si dukun yakin, bahwa sasarannya kini pasti akan berhasil.


"Enggak, gue enggak mau!" tolak Rey lagi tegas. Ia melemparkan kedua kantung yang dipegangnya ke lantai.


"Kenapa?" kaget si dukun.


"Lo mau maksa gue ya kun? Mending lo cari sasaran lain aja lah, gue udah tahu kok kalau lo itu punya niat terselubung, lo itu mau jadiin gue tumbal kan?" si dukun kaget bukan kepalang. Di pikirannya ia bertanya-tanya, darimana Rey tahu.


"Lo diem, pasti lagi mikir kan kun? Kenapa gue bisa tahu niat terselubung lo? Pergi aja sana kun, gue mau mandi" usir Rey.


"Hei... kau itu tidak ada sopan-sopannya ya dengan saya, panggil saya kun-kun, kamu kira saya kunti!" bentak si dukun.


"Sebenarnya si, gue juga diajarkan untuk sopan sama orang tua, berhubung gue nggak tahu lo tua apa kagak, jadi terserah gue dong".


"Lalu, rupa dukun yang kamu anggap liat di mimpi itu, bagaimana? Kamu kira itu tidak tua hah?".


"Owh... jadi situ ngaku kalo situ udah tua" Rey sedikit terkekeh. Ia mulai mengganti bahasa lo menjadi situ pada si dukun tersebut.


"Hih.... dasar bocah nyebelin".


"Jangan buang-buang waktu gue, sana pergi, hushh hushh" usir Rey lagi layaknya mengusir ayam.


"Kau mau saya kutuk ya?" ancam si dukun.


"Ya Allah, ya tuhanku. Maafkanlah hambamu ini yang sudah jahat kepada si dukun pemaksa, maafkanlah hamba, semoga... suatu saat nanti, dukun ini bertemu dengan ganjarannya karena sudah memaksa manusia untuk melenceng dari ajaranmu" Rey menengadahkan kedua telapak tangannya ke wajahnya lalu ia usapkan kedua telapak tangannya itu ke wajahnya.


"Dasar bocah nyebelin" si dukun kemudian merapalkan suatu mantra yang membuat Rey langsung terjerat karenanya. Rey kini dalam pengaruh si dukun, tandanya.. dengan diselimuti aura hitam arang dan sosok penjaga serupa mbak kunti.


"Kau harus usapkan bubuk ini ke wajah wanita yang kau cintai, temui dia di taman Indah" bisik si dukun. Ia kemudian mengirimkan pesan ke Risa dengan kalimat ajakan bertemu di taman Indah dan waktu yang sudah ditentukan. Si dukun kemudian menyuruh Rey untuk mandi, dan Rey menuruti perintah yang muncul di otaknya. Setelah itu, ia segera berpakaian dan rapih-rapih lalu pergi ke taman Indah.


Flashback off.


Di rumah Ais.


Ais kini sudah duduk-duduk manis di depan meja riasnya. Ia merapikan rambut, make up tipis, dan pakaiannya. Ia sudah mengakui bahwa bunda, ayah, dan kakeknya adalah keluarganya.


Tok... tok... tok....


"Ais... sayang... sudah bangun belum?" tanya bunda Ais di balik pintu kamar anaknya.


"Cantiknya anak bunda" bunda Ais memeluk leher anaknya dan menaruh dagunya di pucuk kepala Ais.


"Kayak bunda nya dong..." sahut Ais. Mereka kemudian tertawa bersama.


"Kamu mau kemana pagi-pagi gini?" tanya bunda.


"Mau jalan-jalan sama Reza bunda".


"Owh... okeh, hati-hati di jalan ya? Pulang sebelum pukul dua belas siang, bunda pengin makan siang bareng sama anak dan calon mantu bunda" kelakar bunda membuat Ais yang sekarang menjadi lebih nyaman berada di dekatnya.


"Okh bunda".


Bunda Ais lalu pamit turun, di luar ternyata Reza sudah menunggu. Ia menyuruh Reza untuk pergi ke kamar Ais sendiri saja.


Reza menurut dan bergegas pergi ke kamar Ais. Saat ia membuka pintu, ia melihat Ais sedang duduk di depan meja riasnya.


"Ai.." panggil Reza lembut.


"Reza, kamu udah dateng? Mau berangkat sekarang kan?" Reza terdiam. Ia benar-benar sedang dilema saat ini. Entah kenapa, ia merasa jantungnya lumayan berdegup ketika Ais mendekatinya. Seperti sekarang, Ais sedang memeluknya. Tanpa Reza sadar, ia membalas pelukan wanita yang tak, atau belum ia cintai.


"Kita mau ke mana?" tanya Ais setelah melepaskan pelukannya.


"Taman Indah".


"Apa seindah namanya?" Ais menggandeng tangan Reza dan mengajaknya keluar setelah mengambil tas.


"Tentu, kamu pasti akan suka".


Lagi-lagi, untuk kesekian kali. Tanpa Reza sadari, ia menggunakan kata kamu saat berbicara dengan Ais.


Mereka berdua langsung melesat menuju taman Indah setelah berpamitan. Sedangkan di taman Indah sendiri, Rey dan Risa kini sudah tidak ada disana lagi. Mereka berdua memutuskan untuk berkeliling kota.


...----------------...


Di markas Indigo Team. Chalis, Zara, Glen, Wisnu, dan Adam sedang berkumpul. Mereka sedang membahas masalah baru tentang Rey dan Risa.


"Dukun itu pemaksa, dia akan tetap melakukan berbagai cara untuk melancarkan niatnya. Ia pasti merapalkan suatu mantra yang langsung membuat Rey terjerat, gue yakin itu. Soalnya, dulu tetangga gue juga ada yang begitu. Dia kena mantranya si dukun, dua hari setelah ia berhasil mendapatkan hati wanita incarannya, dia hilang entah kemana, sampai kini belum juga ditemukan" ujar Glen.


"Dijadiin tumbal?" celetuk Chalis.


"Kayaknya" sahut Glen.


"Ihhhh... serem" gumam Chalis.


"Terus gimana cara nyadarin mereka berdua?" tanya Wisnu.


"Pakai ini, jika cara ini tidak berhasil. Maka kita panggilkan ustadz" sahut Adam seraya menunjukkan kantung ekstra sari bunga mawar merah pemberian ibundanya.


Bersambung...


Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka. Bunga dan kopi dari kalian sangat membantu keberhasilan Author.


Thank You All....


❣️❣️❣️❣️