
Aku dan Glen langsung saling bertatapan. Aku memanggil Reza dan meminta foto yang pernah ia ceritakan sebelumya. Setelah foto terkirim, aku, Glen dan Zara memperhatikannya secara seksama.
"Iya! Ini! Benar tempat ini!" seru Zara.
"Bukankah... tempat ini adalah tempat yang sekarang berdiri kamar mandi ya?" ucap Glen.
"Eh.. iya bener, jangan-jangan lelaki ini adalah kakak tiri mbak Zena, lelaki yang sudah membunuh dan menguburkan mbak Zena" terkaku.
"Sepertinya" sahut Glen dan Zara bersamaan.
"Kita bawa lelaki ini ke markas" ucapku.
"Adam sadar!" seru Wisnu. Aku segera menghampirinya dan membantu Adam bangun.
"Bagaimana kondisimu?" tanyaku pelan.
"Baik setelah melihatmu".
"Aku serius".
"Aku sangat serius".
Aku mendengus mendengar ucapan Adam. Apa dia sudah mulai gila?.
"Sepertinya kita sebentar lagi akan menemukan pelaku dibalik meninggalnya mbak Zena" ucapku.
"Serius? Siapa? Dimana orangnya?" cecar Adam.
"Baru akan bisa dibuktikan benar salahnya jika sudah bertemu dengan mbak Zena, kita urus besok. Sekarang kita pulang. Kamu bisa nyetir Dam?" tanyaku.
"Bisa, asal sama kamu" aku menjitak kesal kepala Adam hingga dia meringis kesakitan.
Aku menghampiri Ais yang sedang sibuk menyuapi lelaki genit ini. Pipinya bahkan sudah menggembung besar, wajahnya juga sudah nampak kesal.
"Aemm... enak nggak? Aemm.. lagi-lagi, yang banyak biar kuat" Ais menyuapkan potongan demi potongan roti yang berukuran besar ke mulut lelaki genit dan menjejelkannya dengan penuh penekanan.
"Nih minum, minum nya susu ya" Ais mengambil botol susu putih dan meminumkannya ke mulut lelaki genit yang penuh dengan roti.
"Coba kunyah? Kok nggak ngunyah si? Ayo kunyah" Ais memegang dagu dan batang hidung lelaki genit dan berusaha menyatukannya. Apa maksudnya ia ingin lelaki ini mengunyah roti yang ada dimulutnya? Ada-ada saja tingkah Ais ini, bisa-bisa dia akan membunuh orang jika seperti ini.
"Jangan dipaksa Ai, nanti juga ngunyah sendiri kok" ucapku sedikit terkekeh.
"Tolong bantu aku bawa masuk lelaki ini ke mobil nya Adam ya?" ucapku.
"Kamu nggak boleh sentuh dia" sergah Adam menarik tanganku.
"Nu! Tolong kamu bawa dia, Rey sama Reza juga tolong bantu ya. Gw yang buka pintu" Adam menghampiri mobilnya dan membuka pintu belakang.
"Yuk pulang" ucap Glen.
"Mbak Sekar mau bareng siapa?" tanyaku sebelum masuk mobil.
"Mbak berangkat pake motor, mbak ikut kalian dari belakang aja nggak papa".
"Beneran?" mbak Sekar mengangguk yakin.
"Ya udah kalau begitu" mbak Sekar pergi menuju motornya diparkirkan dan bersiap untuk mengikuti kami dari belakang. Setelah mbak Sekar siap, aku masuk ke mobil dan duduk disamping lelaki genit yang masih saja menatapku genit dan mengedip-ngedipkan matanya seperti kelilipan. Mungkin dia memang kelilipan, kelilipan kecantikanku. Eaaa!! Becanda.
"Kok lo disitu si Ris?" tanya Adam.
"Terus dimana?".
"Ya samping gw lah".
"Owh.. bentar" aku membuka pintu dan berganti duduk disamping si kemudi.
.
.
.
.
.
"Selamat menikmati kesendirianmu, kawan" ucap Reza dan Rey. Kami semua lalu pulang menuju rumah masing-masing, setelah mengantarkan mbak Sekar sampai dirumah.
Sesampainya dirumah, aku bergegas pergi ke kamar dan bersih-bersih lalu pergi tidur.
.
.
.
.
.
Sepulang sekolah, aku dan kawan-kawan pergi ke markas. Kami mendapati lelaki genit masih menutup mata.
"Mungkin dia begadang jadi bangun kesiangan" ucap Ais lalu menepuk pipi lelaki genit hingga ia terbangun.
"Lepas! Jangan macam-macam kalian dengan gw!".
"Wuooooo... sabar aja broo, kita nggak mau ngapa-ngapain kok" sahut Reza.
"Lepas nggak?-".
"Kalau enggak mau apa?" sergahku.
"Hehe, Zara. Kamu coba ngomong sama mbak Zena, suruh dia kemari" ucapku sambil menyiapkan mental.
"Ok..." Zara berlalu dan kembali lagi dengan mbak Zena yang melayang dibelakangnya. Aku menghembuskan nafas lega saat penampilannya sudah lebih baik.
"Mas Kaka?" ucap mbak Zena terkejut. Aku menghampiri lelaki genit dan menyentuh pundaknya.
"Wuaaaa!! Setan!!".
"Saya Zena mas, Zena!".
"Ze-Zena?".
"Iya, Zena. Wanita yang sudah kau aniaya, perkosa dan bunuh".
"Maaf Zen, maaf, aku khilaf".
"Tangis palsu" celetuk Ais dan Reza bersamaan.
"Maafin aku Zen.. aku khilaf waktu itu".
"Mau maafin kamu rasanya gimana, nggak maafin kamu apalagi. Kamu harus tanggung jawab mas, keluarga korban tidak rela jika anak perempuannya dirusak. Jika kamu tidak bisa bertanggung jawab dengan menikahi, maka kau harus bertanggung jawab dengan mendekam di penjara!!"
"Pasti Zen!, pasti!, aku pasti akan bertanggung jawab dengan mendekam di penjara".
Pertemuan berakhir. Aku dan kawan-kawan membawa lelaki yang dipanggil mas Kaka tadi oleh mbak Zena kepenjara. Ternyata, mas Kaka ini adalah buronan polisi yang kabur. Ia menjadi buronan polisi karena selain melakukan pemerkosaan dan pembunuhan, ia juga merampok dan membegal. Para polisi berterima kasih pada kami karena sudah dapat menemukan mas Kaka ini.
"Mbak kok belum pergi?" tanya Ais.
"Saya ingin jasad saya dimakamkan dengan layak".
"Saya harus konfirmasi dulu sama ayah mbak buat melakukan penggalian, tapi hp saya dirumah. Sekarang kita pulang dulu" ucapku yang langsung mendapat persetujuan dari mbak Zena. Sesampainya dirumah aku segera mengatakan semuanya pada ayah, ia setuju jika aku melakukan penggalian. Setelah mendapat persetujuan, aku langsung menghubungi tukang gali.
"Kami menemukan tulang!" seru salah satu tukang. Selesai penggalian dan menyatukan kerangka. Aku menghubungi pihak keluarga mbak Zena sesuai nomor telepon yang ia berikan.
Setelah pihak keluarga mbak Zena datang, kami langsung melaksanakan pemakaman.
"Terima kasih nak Risa, terima kasih.. akhirnya saya bisa menemukan anak saya walaupun sudah tidak lagi bernyawa" ucap ibu mbak Zena sendu. Aku menyentuh tangannya supaya dia bisa melihat mbak Zena. Ibu mbak Zena langsung memeluk anak nya sambil menangis. Setelah berpelukan, mbak Zena pamit pergi.
"Terima kasih Risa!".
Bersambung...
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.
Terima kasih.