
Kak Reja menoleh ke arahku.
"Ada apa Ris?".
Aku menceritakkan pasal Anel yang meminta bantuanku untuk menguburkan jasad nya yang ada di rumah sakit tempat ia dilahirkan. Masalahnya aku tidak lupa untuk menanyakan dimana rumah sakit itu dan Anel pun tidak memberi tahu nya.
"Anel.. dia dilahirkan di rumah sakit Bahagia" sahut tante Via. Ia melempar senyum saat aku menatapnya.
"Ris.. boleh tidak tante anggap kamu seperti Gisa, seperti anak tante sendiri. Kamu boleh main ke rumah tante. Pintu rumah tante terbuka lebar untuk kamu sayang, nanti tante kasih nomor telepon tante ya" aku menunduk berfikir. Walaupun aku belum pernah menemui ibu kandungku, tapi aku bersyukur sekali, bisa bertemu dengan wanita-wanita baik seperti tante Via dan ibu Mawar yang mau menganggapku sebagai anak nya dan menyayangiku dengan tulus. Aku juga bersyukur, tuhan mengirimkan teman-teman yang mau menerima latar belakangku dan berteman baik denganku. Menjadi pelangi di mendungnya hatiku dulu. Terima kasih tuhan.
"Boleh tante, tante boleh anggap Risa sebagai anak tante sendiri" sahutku akhirnya.
"Panggilnya jangan tante, mama. Panggil saya mama, seperti Gisa".
"Iya. Ma" tante Via memelukku. Aku membalas pelukannya.
"Jangan cemburu bu, Risa masih tetep jadi anak ibu juga kok" aku membuka mata sambil mengernyit mendengar celetukan kak Ang. Aku melepas pelukan dengan mama Via dan menatap ibu Mawar.
"Mama Via dan ibu Mawar sekarang jadi ibu angkat Risa. Risa sama-sama sayang kok sama kalian. Jangan ada yang cemburu ya.." ibu Mawar dan mama Via saling memandang lalu tersenyum dan memelukku erat.
Terima kasih tuhan. Terima kasih atas semua kebahagiaan yang Risa terima. Terima kasih atas semuanya. Termasuk kesedihan yang pernah Risa alami. Risa ingin, biarkan mereka selalu bersama Risa. Untuk menemani Risa menjalani keras nya hidup. Ibu.. ibu kandung Risa. Risa sekarang bahagia sekali... Risa mempunyai dua ibu angkat sekaligus yang menyayangi Risa dengan tulus. Dan teman-teman yang selalu ada disaat dua hal terjadi, luka dan duka. Semoga kita dapat bertemu bu.. aku rindu ibu.
Tak terasa, saat aku mengerjap. Bulir bening mengalir membasahi pipi. Bendungan isak tangis sudah tidak dapat lagi menahan.
"Hiks... hiks".
"Ehh.. kenapa nangis?" ibu Mawar mengusap air mata yang membasahi pipiku. Entah kenapa air mataku malah tambah deras mengalir saat ibu Mawar mengusap pipiku.
"Hikss.. bu.. ma.. makasih.. makasih sudah menyayangi Risa. Makasih untuk semuanya. Kalian hadir memberikan terang di gelap nya hati Risa. Ma-makasih" ucapku sesegukan.
"Jangan nangis dong.. masa perawan nangis, mana sampai hidung, wajah, mata nya merah lagi" mama Via sedikit terkekeh sambil mengelus rambutku.
"Huaaa....."
"Ampun dah" ujar Glen. Aku bisa mendengar suaranya walaupun dalam kondisi menangis.
"Adam, maafin tante ya.. soal tadi, tante tadi mbentak-mbentak kamu" Adam mengangguk.
Tangisku perlahan mereda. Setelah benar-benar reda dan sesegukanku hilang. Kami segera meluncur ke rumah sakit Bahagia.
Setelah kendaraan diparkirkan. Kami semua menuju ruang resepsionis.
"Sore mbak" sapaku.
"Sore, ada yang bisa saya bantu?" tanya nya ramah.
"Iya, saya mau tanya. Apa di rumah sakit ini pernah ditemukan korban bunuh diri?" mbak resepsionis sedikit mengernyit.
"Sebentar mbak" aku mengangguk. Mbak resepsionis yang terlihat bernama Susan dari name tag nya itu menggerakan jari-jari nya mengetik papan keyboard.
"Atas nama Anel Ranjaya?" aku mengangguk lagi.
"Ada mbak, jenazah mbak Anel diawetkan karena tidak ada pihak keluarga yang dapat dihubungi".
"Diawetkan?" mataku membola, mulutku menganga.
"Iya mbak".
"Mbak keluarganya?" tanya mbak Susan.
"Saudara jauh".
"Lantai dua, pintu kaca yang buram. Yang ada tulisannya 'ruang jenazah diawetkan' ".
"Owh.. terima kasih mbak. Yuk" mbak Susan mengangguk menjadi akhir pembicaraan kami. Aku dan yang lain bergegas menuju ruangan di lantai dua yang kami tuju.
"Neng!".
"Makan cilok, dicampur saus
Makannya sambil merem
Astagfirullah ada usus
Ihhhhh seremmm".
"Cakep!!" seru semuanya kecuali bapak-bapak dihadapanku.
"Itu beneran ada usus nggantung!" seruku ketakutan sambil memandang usus yang menggelantung itu.
Teman-teman mengikuti arah pandangku. Ais, Glen, Zara, Reza dan Rey langsung berteriak hingga jatuh terduduk.
"Mas-mas, mbak-mbak jangan berisik! Ada apa sih?" tanya bapak dihadapanku.
"Ha-ha-ha-hacim!".
Sialnya! Mau mengasih tahu ada hantu menyeramkan dibelakang bapak ini malah jadi hacim.
"Ada apa sih neng?".
"Hantu pak" sahutku dengan lancarnya sambil mengusal hidung.
"Se-se-serius neng?" bapak ini mulai gemetaran.
"Serius pak" aku meraih tangan bapak tersebut dan menyuruhnya berbalik.
"Wuaaaaaaaaaa!!! Aaaaaa! Aaaa... aaa.. aa.. a.. kuyang" teriak bapak tersebut dari nada tinggi lalu menurun dan jatuh berbaring di atas lantai sambil menyebutkan sebuah kata yang masih bisa aku dengar.
"Kuyang?" aku mendongak, menatap makhluk mengerikan didepanku. Ia terlihat kebingungan melihat reaksi bapak tersebut.
"Kuy!" si makhluk mengerikan menoleh.
"Panggil saya?" aku mengangguk.
"Kamu perempuan kan?" dia giliran mengangguk.
"Kamu.. mbak maksudku, mbak kenapa ada di belakang bapak ini?".
"Saya kan suka sama dia".
"Hah? Suka?!" tanyaku menyeru bersamaan dengan teman-teman yang bisa melihat kehadirannya.
Bersambung...
Author beberapa hari yang lalu bikin cerpen, cerpennya author ikut serta kan ke lomba cerpen baru-bari ini di desa berkabut. Buat yang minat, silahkan mampir. Pencet hati dan tulis komentar nya jangan lupa ya...
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka. Bunga dan kopi dari kalian sangat membantu keberhasilan Author.
Terima kasih.