INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Taman Indah (Season 2)



Happy Reading...


Dirumah Rey. Rey kini tengah berbaring seraya memainkan hpnya. Bukan scrool tok tok ataupun baca facebook. Tapi diputar-putar lalu dilempar lembut. Berkali-kali.


"Gue harus minta maaf sama Ais" batinnya.


Saat ia akan beranjak dari kasur, suara notif hp nya berbunyi. Ia buka pesan tersebut, dan melihat salah satu teman dunia maya nya mengirimkan sebuah pesan.


Bertuliskan.


Cara ampuh mendapatkan hati wanita.


Salah satunya dengan cara menggunakan ilmu mbah dukun


Jika berminat, datanglah ke tempat ini


Desa Megah Sari. Pukul sebelas lima puluh sembilan.


Alis Rey tertekuk membaca pesan tersebut. Didalam hatinya ia bergumam bahwa teman dunia maya nya itu sedang kurang kerjaan atau bahkan sakit jiwa.


"Kayaknya, perkembangan jaman tidak memengaruhi orang-orang yang gila akan cinta menggunakan mbah dukun" gumamnya.


"Mbah dukun... mbah dukun...".


"Assalamualaikum..! Rey! Buka pintunya! Gue mau ngomong!".


"Glen?" Rey mematikan hp nya dan pergi untuk membuka pintu. Berdirilah Glen seorang diri ekspresi marah setelah pintu dibuka.


"A-ada apa Glen?" tanya Rey gugup. Glen tidak langsung berbicara. Ia justru mengangkat tangannya dan menampar pipi kiri Rey cukup keras hingga timbul tanda merah.


"Mampuss lu Rey.." batinnya seraya memegangi pipinya yang memerah.


"Lo tahu nggak?!" Glen mulai menitikan air mata, sedangkan Rey langsung menarik tangan Glen untuk masuk ke dalam. Ia lalu mendudukan Glen diatas sofa ruang tamu, ia pun ikut duduk berhadapan dengan Glen. Mereka berdua terdiam, hanya terdengar isak tangis Glen yang belum mereda.


"Lo tahu nggak? Kalau apa yang lo lakuin tadi siang, buat Ais amnesia" lirih Glen.


"Hah? A-amnesia? Lo nggak bercanda kan? Lo serius?".


"Wajah gue, apa wajah gue ada tanda-tanda gue bohong, apa wajah gue kurang meyakinkan bahwa apa yang gue omongin tadi seriusan! Dia nganggap Reza pacarnya. Dia cuma inget Reza, dan Reza itu pacarnya. Bahkan keluarganya pun nggak dia inget!" Glen meninggikan suaranya, membuat Rey yakin bahwa Glen sedang tidak bercanda.


"Gue.. minta maaf".


"Gue nggak minta lo minta maaf sama gue, minta maaf sama Ais, tapi percuma sih... dia juga nggak bakal inget lo. Dasar beg*!".


"Lalu... di mana Ais sekarang?" tanya Rey.


"Di rumahnya".


"Bimbing gue kesana, gue lupa jalan ke rumahnya".


Glen mengusap air matanya, lalu keluar tanpa sepatah kata menjawab permintaan Rey. Ia melemparkan kunci mobilnya kepada Rey yang langsung menangkapnya. Mereka berdua masuk ke mobil dan melesat menuju rumah Ais


......................


Di rumah Ais. Ia sedang duduk bersisian dengan Reza. Kedua orang tua dan kakeknya pun turut serta disana. Mama dan papa Ais tak habis pikir tentang apa yang menimpa anaknya.


"Assalamualaikum!" teriakan salam dari Glen dan Rey membuyarkan kediaman mereka semua. Mereka bersahutan menjawab salam.


Rey menatap sendu Ais yang sangat ceria berada disisi Reza, sedangkan Reza-nya malah seperti orang risih dan menatap Glen penuh rasa ingin menjelaskan.


Glen dan Rey duduk setelah mendapat perintah.


"Tante, om, kek.. saya Rey... saya.. minta maaf atas kejadian ini" ujar Rey.


"Kami sudah memaafkan nak Rey, hanya saja kami takut jika amnesia nya tidak dapat disembuhkan" sahut papa Ais yang mendapat anggukan dari istrinya.


"Saya akan bertanggung jawab sepenuhnya untuk membantu Ais mendapatkan lagi ingatannya" sergah Rey mantap.


"Saya yakin itu, terima kasih sudah mau bertanggung jawab".


"Dulu... Ais pernah bercerita, bahwa ia menyukai laki-laki di team indigonya yang berawalan dari huruf R. Sayangnya, dia tidak mengasih tahu lengkapnya tentang laki-laki itu" ujar mama Ais.


"Ai..." panggil Rey, Ais menoleh lalu mengernyit.


"Kamu siapa?".


"Berarti bukan gue" batin Rey.


"Reza... atau Rey" guman Risa.


"Rey mungkin" sahut Chalis.


"Nggak mungkin! Pasti Reza! Gue yakin itu, kalau Rey yang dia suka, pasti Rey yang dia ingat" sergah Glen.


"Kenapa lo ngomong gitu, Glen.." batin Reza sendu. Hatinya terasa pecah berkeping-keping karena mendengar ucapan wanita yang di cintainya.


"Kenapa lo ngomong gitu?" tanya Wisnu.


"Nggak tahu, gue ngerasa aja. Atau mungkin.... Reza memiliki posisi terpenting di hati Ais dan berharga dihidupnya. Hingga akhirnya, saat ia amnesia seperti saat ini pun, dia akan terus mengingat Reza, bahkan sampai mengatakan bahwa Reza itu pacarnya. Kemungkinan, dulu ia memang benar menyukai Reza, rasa suka itu kemudian berkembang menjadi rasa cinta dan menimbulkan perasaan ingin memiliki" jelas Glen sepemikirannya.


"Penjelasan lo udah kaya pakar cinta aja" seloroh Chalis.


"Masa sih dia suka sama gue" ucap Reza.


"Itu kemungkinan nak Reza" sahut mama Ais.


"Tante baru ingat, pernah empat kali tante dengar Ais ngigo, dia bilang 'Reza..' sambil senyum-senyum" lanjutnya.


"Kalau dia beneran suka sama gue gimana ya..?" batin Reza bingung.


"Tante, om, sekali lagi saya minta maaf ya" ucap Rey.


"Iya nak Rey, nggak papa. Musibah toh itu, siapa yang tahu" sahut mama Ais. Risa, Chalis, Glen, Zara, Rey, Reza, Wisnu, dan Adam pamit pulang.


"Dadah..." ucap Ais senang, ia lambai-lambaikan tangannya ke arah teman barunya. Ya, setelah Risa dan yang lain memperkenalkan diri waktu di rumah sakit kala itu, Ais menganggap Risa dan yang lain adalah teman barunya. Ia juga melambaikan tangannya pada Reza.


...----------------...


Pagi yang indah bagi sebagian orang, menjadi pagi yang tidak indah bagi Risa dan yang lain. Teringat kembali kejadian kemarin dan kondisi Ais.


"Good morning kakak...." sapa Hanar.


"Yeee... kamu, gayanya pake bahasa good morning-good morning segala"


"Tapi ngomong-ngomong good morning too".


"Kamu tahu dari mana bahasa inggris good morning?" tanya Risa seraya bangkit dari tidurnya.


"Tuh, di layar hp kakak yang nyala. Ada tulisan 'good morning, sayang...' gitu, jadi aku ikut-ikutan, terus kata sayangnya aku ganti kakak" jelas Hanar, hal itu membuat Risa penasaran dengan kata tersebut. Ia lalu mengambil hp nya, dan benar saja. Sepatah kalimat sapaan yang terkesan romantis nampak di layar hpnya. Ia berharap itu Adam, namun kenyataannya salah. Itu adalah dari Rey.


"Rey apa-apa an si? Kok nyapa aku begitu?" batin Risa heran.


Ia buka pesan dari Rey, sebuah pesan terkirim lagi.


Bertulis.


Jam delapan, taman indah.


Risa menghela nafas berat.


"Apa dia masih berusaha untuk mendapatkan hatiku?" batin Risa. Ia kemudian menilik jam di layar hp nya, pukul tujuh pagi. Ia pun bergegas mandi dan turun ke bawah untuk sarapan.


Hanar mengikutinya.


Pukul delapan pagi. Risa pamit kepada kedua orang tua dan kakaknya untuk pergi ke taman dengan izin akan bertemu Rey.


Dinyalakanlah motor kesayangannya. Ia menyalakan motornya selama beberapa waktu untuk menghangatkan mesin.


"Motornya bagus, aku beli boleh kak?" celetuk Hanar.


"Mau beli pake apa? Pake daun? Apa pake kertas? Lagian buat apa juga kamu beli motor, aneh-aneh aja" sahut Risa.


"Iya juga ya, aku kan udah mati, buat apa beli motor" guman Hanar. Setelah dirasa mesin motor sudah panas, Risa menaikinya begitupun dengan Hanar. Dilajukanlah motor tersebut di jalan raya menuju taman Indah.


Bersambung...


Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka. Bunga dan kopi dari kalian sangat membantu keberhasilan Author.


***Thank You All...


❣️❣️❣️❣️***