
Happy Reading...
Zara menggeleng heran dan membantu Risa berdiri lalu membawanya ke mobil.
"Risa kenapa, Ra?" Zara menggeleng.
Mobil pun Ang lajukan menuju sekolah. Sesampainya di sekolah, Zara membawa Risa keluar dan berterima kasih pada Ang.
"Ini anak kenapa si?".
"Zara!" sapa salah seorang guru.
"Ada apa, Bu?".
"Bu Guru minta tolong antarkan jurnal kelas ini ke kelas 10 IPS 2, ya?" Zara menatap jurnal tersebut seraya menerimanya.
"Baik, Bu".
"Terima kasih, ya? Bu guru tinggal dulu" Zara mengangguk dan melanjutkan jalan menuju kelasnya terlebih dahulu.
"Chalisnya mana? Risa kenapa?" tanya Rey.
"Chalis temenin Glen di rumah sakit, kalau Risa aku juga nggak tahu kenapa nih, tadi waktu aku keluar rumah, aku liat dia duduk di atas paving. Wajahnya cengo gitu, waktu aku tanyain dia kenapa, dia malah bilang 'Aku kenapa, ya?'".
"Risa" sapa Adam lembut, Risa menoleh lalu ia langsung mengerjap dengan wajah takut seperti seseorang yang terbangun dari mimpi buruknya.
"Aku di mana?".
"Kamu di sekolah" sahut Zara.
"Zara?" Zara mengangguk, namun Risa malah menjauh.
"Dia bukan Zara! Dia bukan Zara!".
"Heyyy... Tenang dulu, kamu kenapa?" tanya Ais.
"Aku tadi di rumah Zara, lihat dia berubah wujud berkali-kali".
Ais, Rey, Reza, Adam, dan Wisnu ikut menatap Zara yang mengangkat alisnya meminta penjelasan.
"Kayaknya dia kebawa ke alam lain" kata Wisnu.
"Pasti dia lagi nggak fokus waktu itu".
"Dia bukan Zara, Damm..." Risa menatap Adam.
"Tenang, ya, Ris. Dia Zara kok temen kita, coba kamu ke sini, terus pegang tangan dia" Risa menggeleng lalu menatap Zara masih dengan wajah takut.
Adam terpaksa menarik Risa supaya ia segera sadar dan tidak lagi ketakutan dengan Zara, ia mengangkat tangan Risa untuk memegang tangan Zara.
"Dia Zara, kan?".
"Hmmm... Iyaa! Dia Zara! Huhuhuhu... Zara... Zara... Hik..." Risa langsung memeluk Zara seraya menangis sesegukan.
"Tenang, ya, nanti pulang sekolah ceritain semuanya ke kita, apa yang terjadi sama kamu saat kamu ke rumahku" Risa melepas pelukannya dan mengangguk.
"Aku ke kelas 10 IPS 2 dulu, ya? Disuruh nganter jurnal kelas".
Sesampainya di depan pintu kelas yang ia tuju, Zara terdiam seraya memperhatikan kelasnya yang benar-benar sunyi, di tengah kelas, seorang siswi duduk menunduk seraya melipat tangannya di atas meja, sedangkan siswa siswi yang lain hanya duduk menunduk tanpa melipat tangannya di atas meja. Baju mereka semua, kecuali siswi tadi, kumal dan warnanya sudah memudar.
"Apa aku salah kelas?".
Zara menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, ia mengetuk pintu tiga kali membuat siswa siswi di kelas menoleh ke arahnya, wajah mereka semuanya pucat dan bibirnya pecah.
"Assalamu'alaikum" seketika suasana kelas berubah drastis, dari yang sunyi menjadi sangat ramai, dari siswa siswinya yang berpakaian kumal, wajah pucat, bibir pecah menjadi sebaliknya, bahkan ada yang pakaiannya ngepres di tubuh. Siswi yang duduk di tengah pun sudah pindah ke pojok belakang sebelah kiri.
"Assalamu'alaikum" Zara mengulang salamnya membuat siswa siswi yang berisik terdiam dan menatap Zara.
"Kamu kelas apa?" tanya salah seorang siswa.
"11 IPS 1" sahut Zara datar.
"Kakak kelas bro".
"Maaf, Kak, ada apa, ya?" tanya siswi yang berada paling dekat dengan Zara.
"Ngantar jurnal kelas" Zara memberikan jurnal kelas tersebut pada siswi tadi masih dengan eskpresi datar. Tanpa sengaja matanya bertemu dengan siswi yang duduk di tengah tadi, saat kondisi kelas sangat sunyi.
"Terima kasih, Kak".
"Sama-sama" Zara pun langsung pergi meninggalkan kelas tersebut, kelas yang berada paling pojok sebelah kiri, kelas yang memiliki paling sedikit murid, kelas yang dicap sebagai kelas horor, siswa siswi yang masuk ke sana kebanyakan karena mereka ingin membuktikan tentang berita yang bersliweran tentang kelasnya, atau hanya mengikuti teman-temannya.
"Apa mataku tidak salah lihat? Aku melihat siswi tadi sangat mirip dengan Risa, apa dia... Gisa?!".
...----------------...
Di kampus Ang.
"Ehh.. Ang! Lo kenapa?" tanya Bay.
Ang terkesiap dan menatap Bay dengan mengangkat alisnya.
"Enggak apa-apa".
"Nggak mungkin, kalau lo diem begini pasti karena ada masalah, cerita aja sama gue, siapa tahu gue bisa bantu masalah lo".
"Bay..".
"Ya?".
"Cemburu sama orang yang kita cinta itu.. Wajar, kan?" Bay mengangguk.
"Asal cemburunya masih dalam batas normal. Emang lo cemburu sama siapa?".
"Miskha" mata Bay membulat.
"Cewek pendiem itu?" Ang mengangguk lalu menenggelamkan kepalanya di lipatan tangannya.
"Gue... Kemarin malam ke taman, gue lihat Muhammad nembak Miskha".
"Lo liat Miskha nerima Muhammad?" Ang menggeleng.
"Miskha!" kini giliran mata Ang yang melebar, ia mengangkat kepalanya dan melihat Miskha sudah berada didekatnya.
"A-ada apa, Bay?" Miskha menatap Ang sebentar dengan wajah bersemu merah.
"Lo kemarin ditembak sama Muhammad?" Miskha mengangguk.
"Lo terima dia?" Miskha menggeleng.
"Kenapa?" sergah Ang.
"Karena gue... Nggak ada perasaan lebih dari sekedar teman ke dia. Gue cinta sama cowok lain" kata Miskha seraya menundukkan kepalanya.
"Siapa dia?" Ang semakin penasaran.
"Gue malu mau ngomongnya, orangnya ada dideket gue sekarang" Ang yang sedari tadi memperhatikan mata Miskha, melihat Miskha menatap Bay saat berbicara tadi, Ang langsung menatap Bay yang juga menatap Miskha dan berpikir bahwa Bay lah cowok yang dicintai Miskha lalu pergi tanpa berkata apapun.
"Ang" gumam Miskha, Bay menatap Miskha.
"Jadi cowok itu Ang?" Miskha mengangguk.
"Kayaknya dia salah paham, Kha. Kita cepet kejar dia, sebelum pikirannya semakin ke mana-mana" Miskha mengangguk dan mengikuti Bay mengejar Ang.
"Ang!" teriak Miskha, Ang berhenti laku menoleh.
"Apa lo pikir cowok yang gue cinta itu Bay?" Ang hanya terdiam.
"Jawab Ang".
"Emang bener, kan kalau dia cowok yang lo cinta?" Miskha tersenyum dan menghampiri Ang, ia berdiri di depan Ang dan mendongakkan kepalanya. Tinggi badannya hanya sekitar seratus lima puluh tujuh, sedangkan Ang seratus tujuh puluh.
"Coba bayangin, kita jadi kayak anime-anime di film romansa, ya? Guenya pendek, lonya tinggi, lalu gue natap lo... Dan gue akan bilang, bahwa lo... Cowok yang gue cinta. Entah apa yang buat gue cinta sama lo, sejak pertama kali gue lihat lo, gue udah ngerasain cinta itu tumbuh. Gue yakin banget sama perasaan ini. Apa lo... Cinta juga sama gue Ang?" Ang terpaku mendengar penuturan Miskha, semudah itu ia mengatakan rasa cintanya pada dirinya? Miskha memang orang yang sulit terkena tremor mendadak karena hal-hal seperti mengungkapkan perasaan atau penilaian percakapan bahasa inggris.
"Kalau lo cinta sama gue, kenapa tadi waktu lo bilang cowok yang lo cinta ada di deket lo, lo liatnya Bay?" Ang menatap sinis Miskha untuk menyembunyikan rasa senangnya.
Miskha terkekeh "Karena gue malu kalau harus lihat wajah lo".
"Jadii... Gimana kawan? Akan jadian, kah?" tanya Bay.
"Ya! Jadian!" seru Ang dan Miskha.
"Kha.. Gue.. Niatnya mau lamar lo setelah kuliah kita selesai" mata Miskha membulat, namun tak dapat dipungkiri bahwa ia sangat senang mendengar itu. Ia berharap bahwa kisah cintanya tak seperti kebanyakan kisah cinta yang ia baca di novel online ataupun offline-nya.
Miskha hanya tersenyum senang membalas ucapan Ang, ia pun memeluk Ang sebentar lalu melepaskannya.
"Traktir donggg... Gue ga ada guit!" seru Anji saat belum menyadari kondisi, ia pun langsung ditatap tajam oleh Bay yang membuatnya segera meringis malu.
...----------------...
Sepulang sekolah, di markas Indigo Team.
"Ris... Kamu udah bisa ceritain apa yang terjadi di rumah Zara tadi pagi ke kita sekarang?" tanya Ais perlahan, Risa mengangguk lalu perlahan menceritakan semuanya.
"Kalau Risa kebawa ke alam lain, seharusnya lebih banyak penampakan yang ia lihat, karena ia dibawa ke alam 'mereka'" kata Reza.
"Iya, yah" sahut Rey.
"Di rumahku emang ada si genderuwo yang kepalanya suka putus, sama perempuan yang jatuh dari jendela kamarku lalu ketusuk pisau di dadanya" kata Zara.
"Mungkin ada yang sedang mencoba menjauhkan Risa dengan Zara dengan apa yang dialami Risa tadi di rumah lo, Ra, mereka membuat Risa takut dengan Zara hingga secara perlahan akan menjauhkan kalian, merenggangkan persahabatan kalian, dan bisa saja sampai Risa tidak tahu lagi Zara" kata Adam.
"Mantap! Dijadiin kompilasi video Adam bicara panjang bagus kali, yak" seru Rey seraya memutar lagi rekaman suara di hp-nya.
"Itu bisa terjadi sama kita-kita juga, Rey. Lo yang bakal buat pertemanan kita merenggang kalau lo nggak sadar apa yang lo lakuin itu benar apa enggak, temen kita yang nggak suka sama tindakan lo bisa bikin konflik sama lo, lalu temen kita yang bela lo bakal konflik sama gue, lalu secara perlahan, pertemanan kita bukan hanya merenggang, tapi hancur" lanjut Adam, Rey menatapnya dan menatap kembali rekaman suara di hp-nya.
"Benar juga, maaf, Dam" Rey pun langsung menghapus semua rekaman suara Adam di hp-nya.
"Cool! Kita harus bisa jaga persahabatan kita baik-baik, banyak yang suka sama kita, tapi nggak sedikit yang juga benci sama kita" timpal Wisnu.
"Ris... Lo tenang, ya?" Risa mengangguk.
"Ke rumah sakit, yuk" ajak Ais.
Click (pesan masuk di hp Ais).
💬 Chalis : "Lo mau ke rumah sakit gak? Kalau iya, tolong ke rumah gue, ya? Bawain pakaian ganti buat gue, makasih banyak".
"Ke rumah Chalis dulu, ambil pakaian ganti buat dia" kata Chalis.
...----------------...
Di rumah sakit.
"Lo gak mau pulang apa? Emang gak jenuh disini nungguin gue?" Chalis menggeleng.
"Risa sama yang lain gak mau kesini apa?" kesal Glen.
"Mereka kesini kok nanti".
"Seriusan?" Chalis mengangguk.
"Eh! Lihat Glen, kok perempuan itu banyak yang ngikutin, ya?" Glen melihat apa yang Chalis tunjuk.
"Coba tanyain".
"Ide konyol".
...----------------...
Di rumah Aler.
Tok tok tok!
Tok tok tok!
Tok tok tok!
"Siapa?!" teriak Aler seraya menatap pintu kamarnya yang terus diketuk.
Tok tok tok!
Tok tok tok!
"Berisik woyy!!".
Tes..
Tes..
Tes..
"Si*l*n! Kayaknya 'mereka' yang ribut" gumam Aler.
Gludak! Gluduk! Brak!
"Aaaaaaaaaaaaa!!!!"
"Alen!" Aler bergegas keluar kamar dan melihat adiknya sudah tergeletak di depan pintu kamarnya, ia pun segera membawanya masuk dan menutup pintu, ia mendekatkan ujung botol minyak kayu putih pada hidung adiknya itu.
Brak!
"Si*l*n jangan gang-!" ucapan Aler terputus saat melihat Nina masuk disusul Elven.
"Alen kenapa, ***?!" tanya Nina seraya menghampiri Alen yang belum juga sadar.
"Kamu apakan dia, ***?!!" tanya Elven.
"Percuma aja si Aler jawab, ujung-ujungnya Aler salah walaupun bukan Aler yang buat Alen pingsan. Mending tanya langsung aja nanti sama Alen kalau dia udah sadar".
Beberapa menit kemudian, mata Alen perlahan mengerjap, ia langsung memeluk Aler dengan berurai air mata seraya berbisik.
"Aku lihat dia, Kak".
"Bigo?" Aler membalasnya dengan berbisik juga.
Alen mengangguk masih dengan memeluk Kakaknya. Ia sangat ketakutan untuk saat ini.
"Kamu tenang dulu, ya, Dek. Dia nggak akan berani apa-apain kamu setelah ini" gumam Aler.
"Alen..." lirih Nina, Alen pun melepaskan pelukannya dan menatap Nina.
"Kamu kenapa, Sayang?" Alen menggeleng pelan.
"Jangan bohong, Len, katakan yang sebenarnya" timpal Elven.
"Alen butuh istirahat, Yah. Sebaiknya Ayah sama ... pergi dulu" Aler menatap Elven dan Nina bergantian.
"Dia masih belum mau memanggilku mama" batin Nina sendu, ia pun menatap Elven dan mengajaknya keluar.
Di ambang pintu, Nina menatap Alen dan Aler sebentar.
"Istirahat, ya, Sayang?" serunya pada keduanya.
Ia pun menutup pintu dan menyusul Elven.
"Bigo sudah lama tidak muncul, Dek, kenapa dia bisa muncul lagi, ya?" Alen menggeleng tidak tahu, ia kembali memeluk Aler dan meminta izin untuk tidur bersamanya.
"Iya, kamu tidur sama Kakak aja".
"Dek, sebentar jangan tidur dulu" Alen pun membuka matanya malas.
"Kenapa, Kak?".
"Apa kamu yakin yang kamu lihat itu Bigo? Bisa saja dia hantu iseng".
"Bigo harimau, kan, Kak?" Aler mengangguk.
"Aku yakin dia Bigo, Kak."
"Hmmm... Baiklah, sekarang kita tidur saja" Aler menatap Alen yang langsung memeluknya lagi.
...----------------...
Di jalan menuju rumah sakit.
"Nu, klakson tiga kali" titah Rey.
Wisnu menurut tanpa pembantahan, sedangkan yang lain kecuali Adam dan Zara langsung heboh mencecar Rey dengan berbagai pertanyaan.
"Kenapa harus klakson?."
"Itu pantangan, kah?."
"Jembatan ini horor, ya?."
"Hustttt!!! Berisik, kalau kalian tanyanya gitu gimana Rey bisa jawab!" seru Zara.
"Jawab Rey!" seru Ais, Risa, dan Reza.
"Iya! Gue jawab nih! Kenapa harus klakson? Karena salah satu pantangan sebelum melewati jembatan tadi, jembatan tersebut memang dikisahkan horor, banyak penunggunya, menurut cerita-cerita orang yang tidak mematuhi pantangan tersebut perjalanannya sering tersendat, karena ban bocor ataupun bensin habis mendadak."
"Woahhhh... Serem juga, ya?".
Beberapa menit kemudian, Risa dkk sampai ke rumah sakit. Ia segera menuju ke kamar Glen melalui lift.
"Tunggu sebentar, lift ini hanya dapat menampung maksimal lima orang, kalian bertiga tunggu disini sebentar ya? Atau kalau nggak lewat tangga" ucap Zara ketika hampir semua teman-temannya masuk ke lift.
"Siapa yang nunggu?" tanya Reza.
"Kamu, Adam, sama Wisnu."
"Lewat tangga, Za, Nu" ujar Adam.
"Ok."
"Gue ikut lewat tangga aja, yaaaa?" melas Rey.
"Lo jagain cewe-cewe, takut ada apa-apa di lift" sahut Reza.
"Nggak usah, kalau Rey maunya lewat tangga ya udah ga apa-apa, kita bisa kok jaga diri" sergah Zara.
"Tapi Ra".
"Jangan bergantung pada orang lain" Zara tersenyum semanis mungkin dan mengerlingkan satu matanya pada Wisnu lalu mengajak kedua temannya masuk ke lift.
"Seperti akan tumbuh bibit cinta diantara keduanya" ledek Rey.
"Aku juga pengin lo, Mas, bibit cinta tumbuh diantara kita" seraya menyolek lengan Rey.
Bersambung...
Hayy Readers!!!👋