
"Aku baru tau" keluhku bergumam. Selesai memotong buah, aku dan Zara bersiap membawanya ke ruang tamu. Aku juga sempat memotong beberapa buah lain untuk teman-teman kakakku.
"Ra kamu tolong bawain yang di mangkuk putih ya!" pintaku sambil membawa dua mangkuk besar berisi berbagai macam buah potong untuk di suguhkan.
"Ayay".
"Kalian lagi ngapain?" aku mendongak untuk melihat si pemilik suara walaupun aku sudah tau sebelum melihatnya bahwa itu pasti ibu. Dan benar saja, ketika aku melihat siapa yang bertanya. Memang ibu lah pemilik suara.
"Abis potong buah mau di bawa ke ruang tamu. Ibu sendiri mau ngapain ke sini?" tanyaku.
"Ya mau masak lah. Masih ada sayuran nggak di kulkas?" aku mengangguk.
"Ya udah gih katanya mau di bawa ke ruang tamu tuh buah. Ibu mau masak dulu buat makan malam, nanti Zara jangan pulang dulu ya. Kamu juga Ris tolong bilang sama teman-temannya kakakmu untuk jangan pulang dulu. Kita makan malam bareng nanti" Zara mengangguk begitu pula aku.
"Oh ya bu. Nanti masaknya banyakan ya, Lala mau ke sini juga soalnya".
"Lala temennya dipsi?" aku menggeleng.
"Ya bukanlah ibu...Lala temen aku itu lhoh yang pernah ibu cubit pipinya" ibu mengangkat kepalanya dan tersenyum sambil menatapku.
"Owhhh Lala si embul ya?" aku mengangguk. Embul adalah panggilan dari ibu untuk Lala. Ketika ku tanya kenapa ibu memanggil Lala dengan sebutan embul, ibu menjawab 'pipinya Lala itu menggemaskan dan menggembul seperti bakpao'.
"Ya udah kamu bantuin ibu masak nanti" aku mengangguk.
"Berarti ini nggak usah di bawa ke ruang tamu kan Ris?. Ini kan katanya buah-buahan buat yang kita makan, kalau kita bantu ibu berarti kita sambil makan buahnya disini" tanya Zara sambil menunjukkan mangkuk buah yang sudah di pegangnya.
"Kamu mau bantu ibu juga?" tanyaku.
"Kalau ada yang bisa aku bantu, ya aku bantu" aku mengangguk.
"Ya udah gitu aja".
"Apanya yang gitu aja?" aku menggeleng. Kadang otaknya Zara itu lemot banget bikin gemes.
"Ya itu mangkuk buah yang kamu pegang, di taruh sini aja nanti bantuin ibu masaknya sambil makan buah disini" dia menganggukkan kepalanya berulang kali.
"Taruh mana?" aku menatapnya kesal. Sudah mengangguk sampai kaya gigi mau copot, tapi belum paham di taruh mana?? Astagfirullah hal adzim.
"Itu meja" aku menunjuk meja di samping kompor "taruh sana" Zara mengikuti arah tunjukan tanganku, lalu mengangguk ketika melihat meja di sana. Ia kemudian berjalan menuju meja tersebut dan meletakkan mangkuk yang di pegangnya di sana.
"Ris! Kamu siram meja ini pakai air buah naga ya?" aku mengernyit.
"Ya enggak lah".
"Terus ini apa?" tanyanya lagi sambil menunjuk ke atas meja. Aku meletakkan dua mangkuk yang ku pegang lalu menghampirinya di susul ibu.
"Apaan tuh?" aku mengendus cairan di atas meja tersebut.
"Amis" aku mengernyit masam.
"Kamu kenapa Ris?" tanya ibuku.
"Ibu liat ada cairan di atas meja ini nggak?" dia menggeleng. Tubuhku terpaku ketika cairan yang baru ku endus baunya tiba-tiba jatuh tepat di lantai samping kakikku. Aku mendongakkan kepalaku dan melihat makhluk mengerikan dengan darah yang menetes dari sesuatu yang di pegangnya itu sedang menemplok layaknya cicak tepat diatas kepalaku.
"Ra! Ta...tarik..a...aku" tubuhku tertarik tapi pandanganku masih melekat pada makhkuk tersebut.
"Ada apa Ris?" tanya Zara. Aku masih bisa mendengar suaranya. Suara 'tuk' juga sempat ku dengar. Sepertinya itu adalah suara dari mangkuk buah yang di pegang Zara ketika Zara meletakannya.
"Li..li...liat...ke...ke..atas...Ra".
"Ra aku nggak bisa gerak nih" keluhku. Kemudian aku merasakan sesuatu mengusap wajahku. Seketika tubuhku kembali seperti semula, tak setegang tadi.
"Kalian lagi liatin apa sih?" tanya ibu.
"Mending ibu sekarang baca doa banyak-banyak ya" ibu terlihat tak paham.
"Maksudnya?" tegasnya.
"Ikut aja bu" ku dengar suara teriakan panas dari makhluk di atas. Aku tak berani untuk menoleh dengan wajahnya yang menyeramkan siapa saja pasti akan terpaku ketika melihatnya. Wajah dengan penuh belatung yang menggeliat-liat, darah yang mengucur deras, rambutnya yang acak-acakan di tambah benda aneh yang di genggamnya membuatnya tambah mengerikan.
"Udah ilang Ris" aku menatap ke langit-langit tempat berdiamnya makhluk tadi ketika mendengar suara Zara. Darah yang berceceran di atas meja dan juga di lantai kini sudah hilang tak berbekas. Aku menatap Zara yang juga sepertinya selesai membacakan ayat kursi. Aku belum terlalu hafal dengan ayat kursi, jadi jika melihat makhluk mengerikan aku hanya bisa menutup mata sambil membaca suratan pendek seperti an-nas dan lain-lain.
"Rumah kita harus di bersihkan ini" aku mengangguk. Aku menghela nafas, kemudian berjalan menuju tempat di mana aku meletakkan dua mangkuk tadi lalu mengambilnya dan membawanya menuju ruang tamu.
"Nanti kak Bay sama kak Anji jangan pulang dulu ya. Kita makan malam bareng" ujarku sambil meletakkan mangkuk tersebut ke atas meja kaca dengan di selimuti kain transparan.
"Makan bareng sama kamu?" sergah kak Anji. Aku menoleh.
"Makan bareng sekeluarga kak bukan cuma kita berdua" dia terlihat langsung lemas selesai aku menyelesaikan ucapanku. Kenapa dia? Apa dia berharap akan makan malam berdua denganku?.
Tok...tok...tok...
"Assalamualaikum!!...Risaa!! Ini Lala buka dong pintunya!!" aku berjalan cepat menuju pintu dan membukanya. Ketika pintu sudah terbuka sempurna, nampaklah Lala dengan celana jeans panjang yang memilik sobekan di beberapa bagiannya, hody hitam dan juga bunny hat kelinci di kepalanya. Tak lupa, ransel kecil berwarna biru toska juga melekat di punggungnya.
"Haiii" dia mengibaskan tangannya.
"Lhohh ini kan belum mahgrib. Katanya Zara kamu mau ke sini abis maghrib".
"Di cepetin...udah nggak sabar soalnya pengen ketemu kamu".
"Kamu ke sini sama siapa?" tanyaku sambil celingak-celinguk mencari manusia yang mengantarkan Lala, namun yang ku lihat bukanlah manusia tapi tante kun dengan berbagai macam warna dasternya yang sedang asik bercengkrama.
"Di anter mama, tapi mama langsung pulang. Dia titip salam buat kamu sama keluarga" aku mengangguk.
"Waalaikumsalam" aku kemudian mengajak Lala masuk ke rumah.
"Hari ini ada pr nggak?" aku menggeleng.
"Baiklah".
Aku mengajak Lala ke kamarku terlebih dahulu untuk melepaskan ransel mini nya dan juga hody serta bunny hat nya.
"Aku nggak pakai kaos tau... langsung pakai hody aja setelah daleman. Kalau bunny hat nya...aku nggak mau lepas dia. Ntar dia nangis aku lepas" astaga tingkahnya.
"Emang nggak panas?" Lala menggeleng. Ya sudah lah jika tidak panas.
Aku mengendikan bahu lalu mengajaknya pergi ke dapur.
"Ngapain?".
"Bantu ibu masak".
"Owhhh okhhh" dia berjalan menyusulku yang sudah keluar kamar. Langkahnya yang kecil membuatnya bersusah payah menyamakan langkahnya denganku.
"Pelan-pelan dong Ris jalannya!" keluhnya.
"Ini pelan banget lho" aku mempercepat jalanku hingga membuat Lala bertambah kesal dan berjalan dengan mengentak-hentakan kakinya.
"Ehh ada Zara juga?" Zara menoleh.
"Ehhh si cunil udah dateng" Zara tersenyum sekilas lalu kembali ke mode datar dan fokus pada kegiatannya memotong cabai.
"Ehh embul udah dateng, sini nak" Lala menghampiri ibuku.
"Tante lagi masak apa?" tanyanya sambil mengambil tangan ibu untuk di salaminya.
"Mau masak ayam goreng, sambel, cah kangkung, sama gorengan bakwan" aku langsung menelan ludah ketika mendengar ibu menyebut menu masakan malam ini.
"Lala bantuin ya tante?" ibuku mengangguk.
Kami berempat kemudian berkutat di dapur selama dua jam kurang lebihnya. Saling membantu untuk mempercepat proses membuat makanan yang di inginkan. Selesai berkutat di dapur membantu ibu. Aku pergi ke kamar untuk mandi tentunya dengan di ikuti Zara dan Ais.
"Kalian mau mandi juga nggak?" mereka berdua mengangguk.
"Tapi aku nggak bawa baju, gimana dong?" tanya Zara.
"Pakai aja baju aku, pilih mana yang muat sama kamu. Secara kan...tubuh kamu gede sedangkan aku kecil" aku langsung berlari masuk ke kamar mandi ketika Zara bersiap akan melemparkan bantal ke arahku. Selesai aku mandi, Zara dan Ais kemudian mandi secara bergantian. Selesai mandi, kami bertiga pergi ke ruang makan dan pergi makan malam bersama.
Bersambung...
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.