INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Adam sadar! (Season 1)



Karena sudah mengantuk dan jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Aku tidur dengan posisi duduk diatas kursi samping bed yang ditiduri Adam. Gangguan demi gangguan dari 'mereka' bermunculan setelah kepergian Meme, hingga baru sekarang lah aku bisa mengistirahatkan tubuh dan pikiran ini.


***


Aku menginjakkan kaki di sebuah padang rumput yang luas tanpa terlihat ujungnya dengan berbagai macam jenis bunga dan warna disekelilingku. Suara gemericik air yang mengalir melewati bebatuan terjal juga tertangkap indra pendengaranku. Tempat apa ini? Kenapa begitu indah, apa ini surga? Apa aku sudah mati?.


"Aku memberikan nyawa terakhirku untuk membalas budi kebaikanmu dulu padaku, terima kasih atas bantuanmu saat itu. Aku akan selalu mengenangnya, di luar sana.. semua orang menanti kesadaranmu, terutama wanita yang selalu menemanimu hingga tertidur disamping kasurmu" ucap seorang perempuan berbadan setara dengan Adam yang memiliki kumis, telinga, gigi seperti kucing, ia juga memiliki ekor.


"Aku pergi dulu" setelah itu cahaya putih menyilaukan datang dibelakangnya membuat perempuan tersebut berjalan mundur masuk kecahaya tersebut.


"Aliene!!" pekik Adam pada perempuan tadi yang mengembangkan senyum manisnya. Bola matanya berwarna ungu. Cantik sekali dia.


***


Aku terbangun lalu melakukan peregangan yang sangat mengenakan jika dilakukan.


"Mimpi apa itu semalam" batinku melamun memikirkan tentang mimpi yang aku dapat. Aku mengusap sudut mataku lalu pergi ke kamar mandi, sepulangnya aku dari kamar mandi. Aku terkejut saat melihat ada pergerakan ditangan dan mata Adam yang mengerjap. Aku segera berlari menghampirinya.


"Dam!" seruku senang. Matanya mulai terbuka sempurna. Ia berusaha untuk berdiri, namun aku mencegahnya.


"Jangan duduk dulu".


"Ris" panggilnya.


"Iya?".


"Udah! Jangan kebanyakan ngomong dulu, kamu baru sadar lhoh" ucapku saat Adam malah terdiam setelah memanggil namaku.


"Kok cuma ada elu Ris, yang lain mana?" tanya Adam.


"Mereka termasuk kakak kamu datang pagi dan pulang malam, terkadang menginap. Aku yang nemenin kamu terus Dam saat mereka pulang atau belum datang".


"Aku... nggak bisa ninggalin kamu".


"Eumm... minum dulu Dam" aku menyodorkan segelas air sambil membantunya untuk sedikit duduk. Ia menengguknya sedikit.


"Semalam aku mimpi Dam. Aku lagi ada di padang rumpu yang ada suara gemericik airnya dan juga bunga berbagai jenis dan warna. Aku denger ada perempuan ngomong kalo dia nyerahin nyawa terakhirnya buat kamu sebagai balas budi atas kebaikan kamu dulu. Dia kaya kucing Dam, namanya... Aliene" Adam tertegun.


"Jadi yang semalam itu beneran elo?" aku mengernyit.


"Maksudnya?".


"Di bawah alam sadar gw Ris, gw ketemu sama Aliene. Dia adalah manusia setengah kucing, gw bantu dia lagi pas dia kebawa selokan air yang deres waktu hujan. Dia punya tiga nyawa, semalem dia bilang nyawa terakhirnya buat gw. Disitu gw juga lihat ada orang yang mirip banget kaya elo Ris, ternyata emang elo" jelasnya.


"Kalau Aliene menyerahkan nyawa terakhirnya, itu berarti kamu membutuhkan nyawa. Jadi kalau Aliene nggak kasih nyawanya, kamu nggak bangun dong?" Adam mengendikan bahu.


"Mungkin".


"Jangan! Aku nggak mau kamu begini lagi, lain kali jangan nglakuin hal bod*h seperti itu lagi" ucapku yang mulai terisak menatapnya.


"Bukankah itu memang tugas seorang laki-laki? Melindungi wanitanya?" aku mengernyit lagi.


"Wanitanya?" Adam mengangguk dan tersenyum aneh.


Tak lama, suara kakak Adam terdengar disusul suara kak Ang, ayah, ibu dan teman-teman.


"Adam!" semuanya terkejut bukan main. Mata mereka membola, mulut mereka menganga.


"Udah sadar?" tanya mereka lagi kompak.


"Udah" sahut Adam.


"Kapan?".


"Kayaknya baru aja".


Mereka menghampiri kami berdua dan memberikan pertanyaan konyol bin aneh seperti.


"Kalian ngapain setelah Adam sadar?"


"Lo nglakuin apa biar Adam sadar?"


"Lo nggak macem-macem kan Ris?"


"Apaan sih kalian! Aku nggak mungkin apa-apain Adam buat dia sadar ataupun setelah sadar" kesalku.


"Bang! Kesini juga lo" ucap Adam tersenyum sinis.


"Maafin abang dek!" kakak Adam menghampiri Adam dan memeluknya.


"Drama lo bang" ucap Adam.


"Sok peduli banget lo sama gw, kerjaan bukannya lebih penting daripada nyawa adeknya" ucap Adam lagi dengan senyum yang masih sinis.


"Sekarang abang janji kalau abang akan luangin waktu biar bisa cek selalu kondisi adek abang ini".


"Nggak usah janji-janji segala bang, kalo nggak bisa menuhi. Bakal jadi utang dunia".


"Maafin abang dek" kakak Adam memeluknya adiknya lagi dengan tangis yang sudah pecah.


"Nggak usah nangis bang, nyesel nggak ada gunanya. Kalo lo mau janji, yang serius, tepatin janji lo".


"Khem.. khem.. mohon dikondisikan, kalau mau mesra-mesraan, bisa cari tempat makan yang lebih aman" ucap Reza.


"Masa mau mesra-mesra an di tempat makan si Za?" tanya Ais polos.


"Ah elu bocil, apa si yang elu paham?. Gw itu ngomong begitu biar akhirannya sama" kesal Reza.


Tingkah Reza dan Ais membuat gelak tawa diruangan. Kebahagiaan pagi ini terasa lengkap karena Adam yang sudah sadar dan kehadiran kawan-kawan serta keluarga.


Adam belum diperbolehkan pulang oleh dokter. Kondisinya belum pulih sempurna. Aku masih akan setia menemani dirinya sampai bisa masuk sekolah kembali.


"Makan dulu, aaaaa" aku mengangkat sendok lumayan tinggi dan meliuk-liukannya sambil menyuruh Adam untuk membuka mulut. Setelah mulutnya terbuka, suapan demi suapan olehku masuk ke mulutnya.


"Udah, rasanya nggak enak" aku berhenti menyuapkan bubur khusus pasien padanya. Aku meletakannya diatas meja kecil disamping bed dan mengambil buah apel merah yang sudah dipotong-potong.


"Nih makan".


"Makasih".


"Makan yang banyak, biar cepet sembuh" ucapku sambil menyuapi Adam bertubi-tubi dengan buah apel.


Adam mengangkat tangannya dan menunjukan telapak tangannya saat aku akan kembali menyuapi dirinya.


"Kalian ini romantis banget sih" celetuk ibu.


"Romantis apanya bu? Risa cuma nyuapin Adam biar cepet sembuh" sahutku menoleh sekilas.


"Oh iya Ris, kemarin ada tugas, lo mau nyalin nggak?" tanya Glen.


"Iya nanti".


"Ok".


"Makasih ya".


"Ok".


Hari semakin siang. Kawan-kawan, kak Ang, kakak Adam serta ayah dan ibu pamit pergi. Kawan-kawan tadi juga sudah rapih mengenakan seragam hari ini, ayah pun tak kalah rapihnya dengan jas hitam, celana senada, kemeja biru muda dengan warna dasinya biru tua, dan sepatu pantofel mengkilap. Benar-benar sudah seperti bos saja dia.


"Kakak kamu namanya siapa?" tanyaku menatap Adam yang sedang berbaring.


"Rasya".


"Namanya bagus" Adam menatapku kesal.


"Kenapa?" tanyaku heran.


"Nama gw nggak bagus gitu?" aku mendengus kesal.


"Baguslah, gini ya, nggak perlu nama bagus-bagus jika hatinya saja tidak sebagus namanya. Nama yang simple, dan terdengar jaman dulu jika pemilik nama tersebut berhati baik pasti akan meng-efek ke namanya" jelasku sambil tersenyum senang. Entah senang karena apa. Aku pun tidak tahu.


"Kalo gw bagus dua-duanya" aku mendengus lagi.


"Aku mau pergi lah" Adam menarik tanganku saat aku sudah berdiri


"Mau kemana?".


"Kesel aku sama kamu, mau curhat sama setan aja" Adam tersenyum lalu menyuruhku duduk. Aku duduk, tapi bukan di kursi melainkan dipinggir bed yang ditiduri Adam.


"Kenapa?" tanyaku mengernyit karena Adam terus-terusan tersenyum.


"Masih dipake gelang dari gw" aku mengikuti arah pandang Adam pada pergelangan tanganku yang terpasang gelang pemberiannya.


"Owh... kamu mau aku lepas gelang ini?" aku melepas genggaman Adam dan bergaya seperti akan melepas gelangnya.


"Jangan dong! Lo kok marah terus si dari tadi, mau datang bulan ya?".


"Bulan terlalu jauh untuk aku datangi" Adam terkekeh.


"Lama-lama lucu juga lo".


"Aku sudah lucu sejak lahir".


"Temenin gw jalan-jalan ke taman yuk".


"Kamu belum boleh jalan-jalan".


"Nggak papa, yuk lah. Bosen gw disini terus".


"Ya udah, kalo ketahuan suster atau dokter. Kamu yang tanggung jawab" Adam mengangguk. Aku berdiri untuk membantunya turun dari bed. Dengan membawa gantungan infus Adam, aku menemaninya jalan-jalan mengelilingi lantai tiga dan berakhir di taman yang penuh dengan tumbuhan hijau dan bunga warna-warni.


Bersambung...


Itu Risa tanya nama kakaknya Adam cuma karena penasaran atau ada hal lain ya?? Positif thinking aja lah ya, wkwk.


Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.


Terima kasih.