
Happy Reading...
Disaat Zara akan memencet tombol di lift untuk menuju lantai dua. Tiba-tiba sebuah kepala tanpa rambut, dengan ekspresi seperti tercekik muncul mengahalangi.
"Bagiku, manusia memang lebih mengerikan daripada hantu. Tapi... Jika hantunya munculnya mendadak gini, apalagi pas mau pencet tombol, mengerikan juga. Tolonglah... Apa tidak ada yang mau ke lantai dua juga?" tak lama setelah itu, satu pria berpakaian serba hitam yang membawa sebuah gunting rumput masuk ke lift yang sama dengan Zara disusul seorang wanita berpakaian kantoran, ia memencet tombol ke lantai dua.
Pria itu hanya terdiam, begitupun Zara dan wanita disampingnya, tanpa dia sadari. Hantu kepala botak tadi sudah menghilang dengan menjerit ketakutan. Setelah lift terbuka, Zara segera keluar dan menuju kamar Glen dengan sedikit berlari, wanita kantoran disampinya tadi berjalan ke lorong kiri, sedangkan pria berpakaian serba hitam itu berjalan santai seraya melihat-lihat ruangan.
"Aku tidak yakin pria tadi manusia" pikir Zara.
"Assalamu'alaikum, nih pesenanmu, ini ada roti bakar juga, Glen mau?" Glen menggeleng seraya menerima roti pesanannya. Sedangkan, Risa, Chalis, dan Zara memakan roti bakar dengan berbagai rasa itu. Di sela-sela makannya, Zara menceritakkan kejadian yang dia alami dari toko roti sampai di lift tadi.
"I-itu, ya?" Chalis menunjuk ke pintu yang memiliki sedikit kaca, pria yang ditemui Zara tadi melewati pintu tersebut, tak lama ia kembali, menatap pintu ruangan Glen dan menembusnya. Ia mendekati Zara dan yang lain yang langsung berpura-pura tidak menyadari kehadirannya.
"Du-dugaanku benar! Dia bukan manusia! Jangan-jangan dia hantu psikopat yang sedang mencari korban! Korbannya hantu juga atau manusia, ya!" pikir Zara.
Hantu pria itu mengarahkan gunting rumputnya yang sudah ia buka pada leher Zara, lalu bergerak layaknya akan menggunting rumput lalu menariknya secara perlahan.
"Bukan" kata hantu itu, ia lalu beralih pada Chalis, Risa, dan terakhir Glen.
"Tidak ada" hantu itu kemudian keluar ruangan bersamaan dengan seorang suster yang membuka pintu, suster tersebut masuk tanpa menutup pintu yang tidak secara otomatis akan menutup sendiri. Zara, Chalis, Risa, dan Glen memperhatikan kepergian hantu tersebut, yang ternyata sedang menggunting leher seorang wanita yang bersama dengan Zara di lift tadi. Disaat guntingnya ia tarik, hantu lain muncul, ia memiliki rambut sepanjang bahu dengan perut, leher panjang dan kaki yang pendek, tingginya sekitar seratus empat puluh centimeter. Hantu pria itu memasukkan buruannya ke dalam tas yang ia bawa.
Kaki mereka ber empat seketika lemas menyaksikan kejadian tersebut.
"Jangan dilihat" kata suster itu.
...----------------...
Di rumah Risa. Adam, Wisnu, Rey, dan Reza berkumpul. Titik fokus mereka terletak pada kamar Risa, disana ia menyimpan buku dan batu suci itu.
Tiba-tiba sebuah asap berwarna merah dan putih muncul. Awalnya tipis, lalu sedikit demi sedikit menebal membuat keempat lelaki itu awas.
"Bunda? Ratu Ila?" kaget Adam.
"Tadi aku merasakan auranya disekitar sini, Nam" ujar Ratu Ila.
"Maaf menyela, Ratu, maksud Ratu aura apa?" tanya Wisnu.
"Aura Ratu dan Agas, Kakak Risa dan Adam".
"Tapi, sedari tadi kami disini, kami tidak merasakan aura apapun" timpal Reza.
"Mereka mengikuti orang lain yang membuat auranya tercampur dengan aura orang itu, jadinya tidak terasa" sahut Ratu Nami.
"Di mana Risa?" tanya Ratu Ila.
"Dia di rumah sakit, Ratu, bersama dengan Zara dan Chalis menemani Glen yang masih sakit akibat kejadian beberapa waktu lalu" sahut Rey.
"Kasihan Glen" gumam Ratu Nami.
"Bunda ada ide" Ratu Nami lalu mengumpulkan keempat lelaki di ruangan itu bersama dengan Ila membentuk sebuah lingkaran kecil, ia membisikkan apa yang ia tadi ia katakan dengan Ila.
"Apa tidak apa-apa, Bunda?" tanya Adam.
"Mereka pasti akan mengira bahwa kedua benda itu masih disini".
"Baiklah, kalau begitu kami pergi dulu" Ratu Ila dan Ratu Nami pergi membawa buku dan batu suci.
"Kita disini saja, jaga rumah ini" kata Wisnu, yang lainnya mengangguk setuju.
...----------------...
Di belakang semak berbunga, Tri dan Nino berjongkok mengamati Via yang sedang duduk termenung di kursi taman.
"Lagi-lagi dia termenung disana, Kak" ujar Tri.
"Dia pasti sedang memikirkan sesuatu".
"Apa benar kita akan menculiknya, Kak? Menculik saudara sendiri? Terdengar lucu sekali, lebih baik dijadikan judul novel. 'Menculik Saudara'" Tri kemudian terkekeh dengan ucapannya.
"Kau itu berisik sekali. Jika kita tidak segera membawanya pulang, kita juga tidak bisa pulang, kita tidak bisa terus menginap di rumah teman Kakak. Jangan-jangan kau naksir, ya sama dia? Dan ingin berlama-lama di rumahnya supaya bisa terus lihat dia?" Tri langsung mencubit lengan Nino.
"Bodoh! Bagaimana dirimu bisa berpikir seperti itu?".
"Bisa saja, kau sangat memperhatikannya kemarin, hahahaha, kau itu memang naksir dengannya, ya, kan?".
"Berisik!".
Mereka berdua kembali mengamati Via yang masih saja melamun.
"Kita jalankan sekarang".
"Kau berikan ini padanya dengan lembut" Nino menyerahkan sebuah gelas plastik pada Tri, Tri mengangguk dan berjalan menuju ke arah Via.
"Kak Vi, ini ada minuman untukmu, minumlah, siapa tahu kau kehausan" Via tidak merespon, Tri pun menoleh pada Nino.
"Paksaaa" kata Nino sedikit ditekankan.
"Ayolah, Kak Vi... Apa kau mau mati karena tidak minum?".
"Justru aku akan mati karena meminum minuman darimu itu".
"Kak? Apa yang kau pikirkan? Apa aku sejahat itu?".
"Apa kau tidak berpikir?" Via berjalan meninggalkan adiknya.
"Kak! Ayolah!".
"Jangan memaksaku!".
Nino segera bertindak, setelah menyemprotkan cairan kuning tidak berbau dari saku celananya ke saku tangannya, ia berlari menghampiri Via dan membekap sebagian wajahnya, Via seketika pingsan dalam pelukan Nino dan segera membawanya menuju mobil yang ia pinjam dari temannya.
"Modal dong, Kak, beli mobil sendiri" ejek Tri.
"Sini duit kau, nanti gue beli mobil 'sen-diri'".
Mobil pun Nino lajukan menuju rumahnya, sesampainya di rumah ia menaruh Via di kamarnya.
"Kita apakah dia, Kak?" tanya Tri seraya menatap wajah tenang Via.
"Pikir sendiri".
Tak lama setelah itu kedua orang tuanya datang, ia menghampiri Tri dan Nino menanyakan Via.
"Dia tidak apa-apa, Bunda" sahut Nino.
"Bunda sama Nanda dari mana?".
"Kamu nggak perlu tahu".
Tri hanya tersenyum kecut seraya mengangguk, ia kemudian pergi ke dapur untuk membuat makanan.
...----------------...
Pagi hari, pukul enam di rumah Risa.
"Assalamu'alaikum!" salam Ang seraya menjelajahi ruangan di lantai satu.
"Risa masih di rumah sakit atau di lantai dua, ya?" pikirnya, ia pun bergegas menuju lantai dua dan menemukan tiga remaja laki-laki tengah duduk di kamar Risa.
"Bisa-bisanya mereka disini? Hmmm... Heyyy... Bangun".
"Ehh.. Kak Ang, pagi, Kak".
Pintu kamar mandi terbuka, nampak Adam keluar dari sana lengkap dengan seragam hari ini, ia pun menyapa Ang dengan ekspresi andalannya.
"Kalian ngapain disini? Adik gue mana?".
"Kita lagi jaga rumah ini, disuruh Risa" sahut Reza.
"Risanya masih di rumah sakit" timpal Rey.
"Aman rumah?".
"Aman" sahut Wisnu.
"Ayo turun, sarapan" Adam, Wisnu, Rey, dan Reza mengangguk serentak
...----------------...
Di rumah sakit, Risa dan Zara sedang bersiap untuk pulang ke rumah. Chalis memutuskan untuk tidak berangkat sekolah supaya bisa menemani Glen.
"Udah, Lis, lo sekolah aja sana" paksa Glen untuk kesekian kali.
"Enggak, gue mau temenin lo, nanti kalau lo kejang gegara liat hantu terus ga ada suster gimana?".
"Tau lah, capek gue paksa lo buat sekolah".
"Kita pulang dulu, ya, nanti pulang sekolah diusahain bisa kesini" kata Risa, Glen dan Chalis mengangguk.
"Oh ya, Ris, jangan lupa, ya ngomong sama Adam buat ketemuin gue sama tantenya. Tapi, jangan ngomong kalau gue mau tutup mata batin gue" Risa mengangguk paham lalu pergi bersama Zara setelah mengucap salam.
"Ra, nanti berangkat bareng aja, ya, nanti Kak Ang ke rumah kamu dulu".
"Ok".
Sesampainya di rumah Risa, ia masuk menemui Kakaknya sedang duduk santai di ruang keluarga. Ia menyapa dan menanyakan keempat teman lelakinya yang menjaga rumahnya tadi malam.
"Pulang mereka".
"Ohhh... Kakak udah makan?" Ang mengangguk.
"Kok Kak Ang kayak cuek, ya? Apa perasaanku aja?".
"Emm.. Risa ke.. Kamar dulu, ya, Kak. Nanti, kerumah Zara dulu, ya? Aku mau berangkat bareng sama dia" Ang mengangguk lagi.
Risa kemudian menuju kamarnya. Sekian menit kemudian, Risa turun dan mengambil dua roti yang lalu ia balut dengan selai. Ia memakannya sambil duduk, setelah selesai ia minum dan mengajak Kakaknya berangkat.
"Kak.." Kakaknya menoleh tanpa suara, menatap Risa yang bingung akan mengucapkan kalimat selanjutnya.
Dua menit berlalu.
"Mau ngomong apa?" tanya Ang akhirnya.
"Anu... Itu... Nanti malam Kakak jangan pergi, ya? Risa... Pengin video call sama Ayah, Ibu, bareng Kakak. Risa kangen mereka".
"Ya, emangnya kamu ga ke rumah sakit temenin Glen?" Risa menggeleng.
"Ada Chalis".
Sesampainya di depan rumah Zara, Risa segera turun memanggilnya.
"Awas kejatohan kepala" kata suara di atas Risa, ia mendongak bersamaan dengan sebuah benda bulat dengan rambut gondrong. Risa pun segera menyingkir lalu menatap bulatan tersebut yang kemudian berbalik memperlihatkan mata merahnya yang melotot dan gigi taringnya yang sampai dagu.
"Ekkhh!" Risa beringsut mundur dengan ekspresi terkejut dan takut, apalagi saat pemilik kepala itu mengambil kepalanya dan memasangnya layaknya memasang sebuah lampu.
"Hohohoho, maaf, ya? Kepala saya suka putus emang, ini mata merah juga karena begadang semalaman jagain anak baru saya.
Risa terdiam seribu kata, ingin berbicara percuma saja, mulutnya seakan terkunci untuk saat ini.
"Saya pergi dulu".
Saat Risa memalingkan kepalanya menatap depan rumah Zara, ia melihat seorang perempuan hendak terjatuh dari jendela kamar Zara, secara reflek kaki Risa berlari menghampiri perempuan tersebut yang sudah bergelantungan di jendela. Risa bingung akan melakukan apa, hingga akhirnya perempuan tersebut kehilangan pegangannya dan terjatuh tepat di depan Risa, dua detik setelah itu sebuah pisau daging jatuh dan menancap dengan kuatnya tepat di dada perempuan tersebut.
"Ini... Apa lagi??".
Risa kembali beringsut mundur hingga ia menabrak seorang perempuan, ia berbalik dan melihat Zara yang berekspresi sangat datar. Berbeda dengan Zara yang biasanya, walaupun suka datar, tapi tidak sedatar saat ini. Risa tersenyum dan menghela nafas lega.
"Raa... Berangkat, yuk" Zara tersenyum kecil, perlahan melebar hingga mencapai bawah telinganya, kedua bola matanya terlepas dan wujudnya berubah-ubah selama lima detik.
"Aaaaaaaa!!!!" Risa berteriak kencang lalu jatuh terduduk dengan kaki yang langsung melemas selemas-lemasnya.
"Apa benar ini rumah Zara? Kenapa jadi serem banget begini? Apa aku tersesat ke alam lain? Apa rumah Zara ini hanya ilusi?".
Makhluk tadi masih berada di depan Risa, ia tak berusaha menggapainya, ia hanya terdiam sambil sesekali mengubah wujudnya, saat teriakan Zara terdengar makhluk itu menghilang tiba-tiba bersamaan dengan sebuah suara yang mirip dengan bisikan.
"Good... Bye.... Hihihihihihi".
"Risa?! Kamu ngapain duduk di atas paving block?" Risa mengangkat alisnya.
"Kamu kenapa?" Risa menggeleng lemah.
"Aku kenapa, ya?".
Bersambung...
SIAPA YANG MASIH SETIA DENGAN INDIGO TEAM CEKK!! AYOOO KOMENTAR...!!!